4/25/2018

SINOPSIS The Great Seducer Episode 25 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Great Seducer Episode 25 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS The Great Seducer Episode 25 Part 2

Duduk di kafe sendirian, Tae-hee mendesah.. menatap layar ponselnya yg masih memajang foto Shi-hyun sebagai wallpaper-nya...

“Hffft... aku harus menggantinya..”


Kemudian Tae-hee menelpon yayasan untuk bertanya mengenai asrama. Sangat kebetulan, karena akhir bulan ini.. ada seorang mahasiswa yg keluar, maka Tae-hee bisa menepati kamarnya.

Untuk mendiskusikan tanggal kepindahannya, Tae-hee bilang.. dia akan pergi ke kantor yayasan hari ini dan bicara secara lansgung, takutnya ada kesalahfahaman lagi seperti waktu itu.


Setelah telponnya ditutup, Tae-hee melihat sepasang kekasih yg duduk tepat di hdapannya.. dan kebersamaan mereka, membuatnya teringat pada Shi-hyun~


Shi-hyun sendiri, hendak menjenguk ayahnya.. tapi dia tak ingin masuk ke kamar rawat, dan hanya melihatnya dari kaca di pintu saja.


Di lobby, Shi-hyun bertemu dengan dr. Myung. Dia menanyakan kondisi ayahnya, “Apa penyakitnya parah?”

Dokter Myung berbohong, menjelaskan bahwa Tuan Kwon hanya perlu dirawat untuk bisa kembali sehat seperti semula~


Tae-hee datang ke kantor yayasan untuk menyelesaikan administrasi terkait asrama yg akan ditempatinya.

Petugas lantas meninggung mengenai insiden waktu itu, dimana mereka menerima telpon dari Tae-hee yg melakukan pembatalan.. makanya kamar Tae-hee diberikan keapda orang lain.

Tae-hee keheranan, dia yakin bahwa dirinya tak menelpon untuk membatalkan reservasi kamar di asramanya~


Saat berjalan pulang, Tae-hee berpapasan dengan Shi-hyun. Karena ternyata, kantor yayasan berada di RS Myungjung..


Dengan sangat kikuk mereka saling sapa, dan bertanya alasannya berada di tempat ini. 

“Kenapa ke rumah sakit? Kamu sakit?”

“Tidak, aku perlu mengurus sesuatu dengan Yayasan. Kamu sendiri?”

“Ayahku sedang dirawat”

“Begitu rupanya. Kenapa?”

“Entahlah. Kurasa dia tidak sehat”

“Pasti kamu cemas...”

“Kenapa kamu mendatangi kantor yayasan beasiswa?”

“Hmm.. aku mengurus asrama..”

“Kamu memutuskan kembali ke sana?”

“Ya, untungnya ada yang keluar”

“Di mana kamu tinggal sekarang?”

“Di suatu tempat. Aku pergi, ya...”

Dengan suara yg terdengar gugup, Si-hyun bertanya apakah Tae-hee bisa bicara berdua dengannya sebentar?

“Baiklah. Kita harus membicarakan kepindahanku juga...” jawab Tae-hee


Mereka duduk di salah satu spot di Rumah Sakit, yg kelihatannya cukup nyaman dan hangat. Shi-hyun cerita, kalau tempat ini adalah tempat yg sering ia datangi bersama dengan mendian ibunya.. yg kala itu masih dirawat disini.


Teringat pada kejadian ketika dirinya menangis dan Tae-hee datang menjenguknya. Kala itu, Shi-hyun menangis.. karena dia merasa terpukul, atas fakta mengenai ibunya yg ternyata adalah pelaku tabrak-lari..


“Tapi bagaimana kamu bisa tahu bahwa itu ibumu? Bolehkah aku menanyakan itu?”

“Aku mendapati bahwa mobil ibuku tidak pernah terlibat kecelakaan. Aku menanyai seorang detektif. Dia memberitahuku hanya ada satu kasus tabrak lari di Jeongeup pada hari itu. Kutanya Presdir Myung, mungkin saja dia tahu... dan dia bilang ‘Kenapa kamu tidak curiga bahwa bisa saja ibumu pelaku tabrak lari itu? Yang bisa kita lakukan adalah... Berharap siswa itu baik-baik saja’...”


Shi-hyun meminta maaf karena telah membahas kejadian yg mungkin saja, membuat Tae-hee merasa trauma..


Tae-hee tak mempermasalahkan hal itu, dia pun pamit dan tak lupa meminta Shi-hyun untuk merawat ayahnya dengan baik~


Tak langsung pulang.. tiba-tiba Tae-hee memutuskan untuk duduk di salah satu sofa di ruang tunggu. Dia teringat cerita dari Shi-hyun.. bahwa dr. Myung mengucapkan kalimat ‘..Berharap siswa itu baik-baik saja..’

Tae-hee bertanya-tanya, darimana dr. Myung tahu bahwa korban tabrak lari adalah seorang siswa, “Dia tidak punya akses ke informasi pribadi korban. Apa itu berarti Presdir Myung berada di lokasi kecelakaan?”


Maka kemudian, Tae-hee menelpon bibi Geum-sil yg kebetulan tengah berasama dengan ibunya..

“Bibi.. Bisakah aku menanyakan beberapa hal tentang kecelakaanku?”

“Mendadak sekali. Ada apa? Kamu sedang tidak enak badan? Kamu bermimpi buruk?”

“Bukan begitu... aku hanya ingin tahu, Ketika siuman setelah kecelakaan, apa aku mengatakan sesuatu? Atau Bibi tahu mengenai bukti yang ditemukan pada hari itu?”

“Waktu itu, kamu bertanya apa wanita itu baik-baik saja dan sudah dibawa ke rumah sakit. Kamu mengajukan pertanyaan aneh. Karena itulah ibumu mengira kamu tidak mengenali dia. Hatinya hancur karena kamu mengira dia wanita yang aneh...”

“Aku ingat sekarang. Aku memang mengatakan itu...”

“Tae Hee. Jangan coba-coba mengingat kecelakaan itu. Jika itu muncul di benakmu, singkirkan saja, mengerti? Saat korban trauma kecelakaan mobil memikirkan kecelakaan mereka, mereka bisa ingat warna mobil itu setelah beberapa tahun. Itu terjadi kepada sebagian orang, tapi mengingatnya akan sulit bagimu. Lupakan saja...”

“Baiklah..”


Setelah panggilannya diputus, bibi Geum-sil duduk dihadapan Bu Seol yg perlahan mulai menangis. 

“Tidak apa-apa. Beri Tae Hee waktu. Perbaikilah hubunganmu dengannya sedikit demi sedikit...”

“Jika bisa, aku ingin kembali ke 20 tahun lalu...”

“Mana bisa kita kembali ke masa lalu? Kita tidak bisa melakukan itu...”


Advertisement


EmoticonEmoticon