4/24/2018

SINOPSIS Live Episode 12 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Live Episode 12 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 11 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 12 Part 2

Pacar Song Yi yang baru saja dihajar, kemudian disuruh pergi oleh Yang Chon. Pacar Song Yi buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Yang Chon kemudian bertanya pada Song Yi apa maksudnya kalau ia sudah salah paham.


“Aku dulu yang mengajaknya pacaran. Lalu aku putus dengannya. Jadi pacarku... dia orang baik,” isak Song Yi. Yang Chon merasa sedih, karena Song Yi melaporkannya ke Polisi dan memelototinya. 


Yang Chon pergi dan Song Yi menerima telepon balik dari 112. Song Yi mengatakan bahwa tadi hanya kesalahpahaman. Ia lalu masuk ke dalam rumah.


Yang Chon menitipkan tas berisi pakaian Jang Mi kepada petugas jaga di kantor Jang Mi, lalu langsung akan pergi lagi. Tapi ia kemudian menerima telepon dari Jang Mi. Yang Chon menghela napas berat.


Jang Mi: “Song Yi meneleponku sambil menangis. Dia bilang kau jahat.”
Yang Chon: “Dia tidak bilang kalau dia melaporkanku ke Polisi?”


Jang Mi bingung, karena Yang Chon menutup ponselnya begitu saja. Ia kemudian menghubungi Song Yi. “Datanglah ke kantor ibu sekarang,” kata Jang Mi lalu langsung menutup ponselnya. Setelah itu, Jang Mi kembali memperhatikan foto TKP kasus perkosaan siang tadi.


Setelah mengembalikan ponsel Kyung Mi, Jung Oh berkata bahwa Kyung Jin dan Kyung Mi tidak akan bisa melupakan kejadian tadi, karena dia pun belum bisa melupakan kejadian yang menimpanya 12 tahun lalu.


Kyung Jin menoleh dan mendengarkan Jung Oh yang menyebutnya sangat berani karena berani menghubungi Polisi tadi dan melindungi adiknya. Jung Oh bilang dia tidak akan bisa seperti Kyung Jin, tapi itu bukan berarti Kyung Jin baik-baik saja. Ia berharap Kyung Jin dan Kyung Mi meminum pil kontrasepsi darurat untuk mencegah cedera yang lebih parah.


Sang Soo datang menyusul Jung Oh.


Jung Oh mengatakan hal-hal yang mungkin disesali Kyung Jin dan mengatakan bahwa dia membenci dirinya sendiri, bukan pelaku, atas kejadian 12 tahun lalu. Ia menekankan bahwa semua yang hal yang terjadi adalah kesalahan pelaku, bukan Kyung Jin. 


Kyung Jin pergi dan Sang Soo sudah sampai disana. Jung Oh melewatinya begitu saja dan berjalan pulang. Sang Soo beralasan ia tidak bisa tidur, jadi memutuskan untuk berpatroli. Sang Soo menduga bahwa Kyung Jin pasti menolak untuk bicara.


Jung Oh kemudian menerima telepon dari Kyung Jin yang minta dibawakan pil kontrasepsi darurat untuknya dan adiknya.


Kyung Jin mengeluarkan seragam yang dipakainya tadi dari mesin cuci dan akan memberikannya kepada Polisi. Ia menangis dan mohon agar dibawakan pil kontrasepsi. Ia bilang sudah mandi, tapi tidak berani membersihkan bagian fatal. Ia juga sudah mengambil sample dari alat kelaminnya.


“Detektif Jang menduga ini kasus berantai. Dia menggunakan kondom,” bisik Sang Soo. Jung Oh bilang mereka harus tetap meminum pilnya.


“Aku tidak mau hamil. Bantulah kami,” kata Kyung Jin sambil keluar dari ruang cuci. Ayahnya yang mabu melihatnya dan bertanya akan kemana Kyung Jin malam-malam begini. “Aku mau keluar sebentar.” Ayahnya menariknya, tapi Kyung Jin mendorongnya sampai ayahnya terjatuh dan bertambah marah.


Ibu keluar dari kamar dan menahan tangan ayah yang ingin mengejark Kyung Jin. Ayah mendorong ibu sampai terjatuh, menendangnya, dan menarik rambutnya


Kyung Mi membuka pintu kamarnya dan berteriak,“Jangan pukul ibu!” Ayahnya semakin marah. Ibu memintanya agar tidak menganggu Kyung Mi. Ayah memukuli ibu lagi. “Berhenti memukulnya!” Jang Mi keluar dari kamarnya, tapi kemudian ia mundur lagi.


Ayah menyerang Kyung Jin. Ibu secara spontan mengambil panci dari meja dan memukulkannya kepala ayah yang langsung tergeletak tidak sadarkan diri. Ibu ketakutan.


Kyung Jin pergi untuk memberikan bukti seragamnya pada Jung Oh. Sang Soo menerima bukti itu, lalu pergi lebih dulu untuk memesan taksi untuk pergi ke Kantor Polisi. Jung Oh meringkas kesaksian Kyung Jin dan merekamnya, “Pelaku lebih tinggi darimu dan tingginya di bawah 180 cm. Kulitnya cerah dan dia kurus. Berambut pendek dan bermata sipit. Dia mengenakan topi baseball hitam dan pakaian gunung berwarna biru. Hanya itu yang kau tahu?”


“Ketika aku mencoba melawannya, aku memukul topi baseballnya hingga terjatuh. Dan telinganya agak aneh,” kata Kyung Jin. Jung Oh bertanya apakah telinga pelaku seperti pangsit.


“Ya. Tapi aku tidak bisa melihat hidung dan mulutnya, karena dia memakai masker kuning. Aku harus pulang sekarang. Hanya itu yang kutahu. Tolong bawakan pil kontrasepsi darurat untukku dan adikku. Ohya. Bajingan itu juga mengambil label nama kami.”


“Jung Oh! Taksinya sudah kupesan,” panggil Sang Soo. Sambilberlari, Jung Oh mengatakanbahwa pelaku juga mengambil label nama Kyung Mi dan Kyung Jin. ”Dasar bajingan!”


Kyung Jin sampai di rumah dan melihat ibu serta adiknya sedang mengikat kaki dan tangan ayahnya. Ia menangis.


Jang Mi bilang dia sudah mendengar penjelasan Song Yi, tapi dia masih belum mengerti apa kesalahan Yang Chon. “Ibu! Bisa-bisanya ibu memihaknya? Memangnya ayah preman? Ayah bahkan tidak bertanya dulu. Dia langsung memukulnya begitu saja. Kenapa ayah berasumsi kalau dia mencoba menyerangku?” protes Song Yi. 


Jang Mi bilang seorang ayah tidak akan diam saja jika melihat hal seperti itu. Ia  juga bilang bahwa siang tadi, ia dan Yang Chon mendatangi TKP dimana kakak beradik diperkosa bersamaan,juga terjadi kasus perkosaan dua hari dan seminggu yang lalu. “Beraninya kau melaporkan ayahmu ke Polisi. Pikiranmu itu sempit sekali,” kata Jang Mi lalu pergi. “Kabari ibu kalau sudah sampai rumah.


Sang Soo datang dan mengatakan pada Jang Mi bahwa mereka membawa bukti untuk kasus di Gunung Somyeong tadi.


Yang Chon pulang dan ayahnya sedang membuat layang-layang. Ayahnya tidak menjawab dan langsung menyimpan peralatan layang-layangnya dan mengeluaran matras tidur. “Ayah, mau minum makgeolli bersamaku?” ajak Yang Chon.


Yang Chon menuangkan makgeolli untuk ayahnya. Ayahnya merebut botolnya dan menuangkan juga untuk Yang Chon. Setelah minum ayahnya ingin langsung kembali ke kamar. “Ada yang ingin kukatakan. Ayah harus mendengarnya,” kata Yang Chon sehingga ayahnya duduk lagi.


“Soal apa?” tanya ayahnya. Yang Chon menuangkan makgeolli lagi dan meminumnya untuk menahan kesedihannya.


Yang Chon: “Jang Mi... menyarankan melepas alat pernapasan ibu.Ada istilah mati terhormat. Itu legal dan dokter mengizinkannya untuk pasien.
Ayah: “Kalau kau sendiri berat hati melakukannya, maka jangan lakukan. Kita sudah hidup seperti ini dari dulu. Jangan lakukan jika kau tidak yakin.” 
Yang Chon: ”Ayah sendiri yang bilang, kalau ibu menderita.”


Ayah menuangkan makgeolli ke gelasnya, tapi ia menyodorkannya pada Yang Chon. Yang Chon menerimanya dan meminumnya. “Aku... menurutku sudah tugasku untuk memastikan ibu tetap hidup, tapijika Ayah dan Jang Mi yang bijak tidak setuju denganku, maka mungkin kalian berdua benar. Aku pasti salah. Beri aku waktu. Aku juga harus mempersiapkan mentalku. Dan soal tempo hari, aku minta maaf, karena sudah merusak TV seperti itu,” kata Yang Chon.


Yang Chon juga bilang bahwa kedua anaknya tidak menghormatinya, karena dia selalu kasar pada kakek mereka. Dia minta maaf lagi, lalu mencuci gelasnya.


“Kenapa Song Yi dan Dae Gwan tidak menghormatimu?” tanya ayahnya. Yang Chon bilang itu mungkin karena meniru dirinya. “Omong kosong. Mereka harus sama bijaknya denganmu. Kau dendam pada ayah karena dulu ayah sering memukulimu dan ibumu tiap kali ayah mabuk. Apa kau memukul Jang Mi dan anak-anakmu seperti ayah? Dasar anak manja.”


Jung Oh bilang ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang tidak terpengaruh atas kejadian hari itu. Dia bilang dia ingat kejadian itu, tapi ia lebih banyak tertawa dan bersenang-senang sendiri, seolah tidak ada yang terjadi dan dia juga masih ingin menjalankan hubungan sehat dan berkencan. Jang Mi bilang itu bagus dan bertanya apa masalahnya menjadi normal.


Jung Oh: “Di buku-buku, orang normal itu biasanya pernah trauma...”
Jang Mi: “Apa harus trauma? Selain diserang, apa kau harus sengsara juga? Menurutku itu hanya prasangka. Anggap sederhana saja. Kau hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang terjadi. Ada insiden terjadi, dan kau bukan orang yang harus disalahkan. Waktu berlalu dan kau menjadi Polisi.”
Jung Oh: “Walau begitu, aku sering mengingat kejadian itu.” 


Jang Mi bilang itu hal yang biasa. Entah terganggu dengan ingatan itu setiap hari atau kadang-kadang, entah trauma atau tidak, Jang MI bilang semua itu normal, karena tidak semua orang harus  menanggapi masalah dengan cara yang sama.


Jung Oh setuju bahwa dia merasa normal saat itu. Ia bilang saat datang ke TKP dengan kasus yang mirip dengannya, ia bertanya-tanya apakah dia tidak punya perasaan karena tidak merasa takut. Ia sadar bahwa ia sudah berhasil mengatasi masalahnya. “Tapi, Kapten Ahn,  apa Anda tidak pernah ragu kerja seperti ini, jika Anda sering menemukan kasus seperti ini? Bagaimana Anda mengatasinya?”


Jang Mi terdiam sejenak lalu berkata, “Kalau mau jujur, aku juga belum mampu mengatasinya. Perasaanku sakit.” Sang Soo lalu datang dan mengatakan bahwa dia sudah menyerahkan semua buktinya. Ia juga bilang bahwa kesaksian Kyung Jin tadi sudah cukup untuk menggambar sketsa wajah. “Kerja bagus.” Jang Mi menepuk bahu Jung Oh lalu pergi.gm
Advertisement

2 comments

Penasaran sama jung oh.berharap dya balas cinta sang soo

Sang Soo ya,, kasihan bener


EmoticonEmoticon