4/09/2018

SINOPSIS Misty Episode 14 PART 4

Advertisement
SINOPSIS Misty Episode 14 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Erika
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Misty Episode 14 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Misty Episode 15 Part 1

Kang Tae Wook menemui Han Myung Woo di sebuah bar. Dia mengatakan Myung Woo tidak perlu berbuat sejauh itu karena persidangannya berjalan lancar. Menurut Myung Woo dari pada dia (Baek Dong Hyun) menjadi hama maka lebih baik disingkirkan saja, Myung Woo berbicara tanpa menatap Tae Wook yang berusaha menahan emosinya.


Tae Wook bertanya sampai kapan Myung Woo akan mengikuti dirinya dan Hye Ran, Myung Woo mengatakan sampai dia yakin Tae Wook akan melindungi Hye Ran. Tae Wook tidak mengeti apa maksud ucapan Myung Woo. Lalu Myung Woo menoleh untu berhadapan dengan Tae Wook “Kamu tahu dari awal bahwa dia saksi palsu. Dari awal kamu tahu Hye Ran akan dibebaskan. Tapi kamu mengulur waktu. Siapa yang menderita saat kamu mengulur waktu? Tentu saja Hye Ran. Kenapa kamu ingin dia menderita? Kamu kesal dengannya. Kamu marah dan benci kepadanya. Kehidupanmu sempurna sampai Kevin Lee hadir.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Aku tahu kamu mencintai Hye Ran. Tapi mencintai dan melindungi dia tidaklah sama. Aku akan mengawasimu untuk sementara.”
“Maksudmu kamu akan terus membuat masalah?”
“Andai kamu lebih sabar, semua itu tidak akan terjadi, Kang Tae Wook.”
Myung Woo lalu pergi dengan sengaja menyenggol bahu Tae Wook dengan bahunya sendiri.


Dengan panik Tae Wook datang ke rumah sakit, Hye Ran masih belum sadarkan diri. Pak Jang memberitahunya, menurut dokter Hye Ran kelelahan kronis dan setelah dia beristirahat dia akan pulih. Sebelum pergi, Pak Jang mengatakan manager Kevin Lee tewas karena bunuh diri, dan jika tidak ada masalah Pak Jang berencana memberitakannya secara singkat besok pagi. Setelah Pak Jang pergi, Tae Wook menunggu Hye Ran sadar sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.

Detektif Kang memberitahu Eun Joo bahwa hasil autopsi tidak menunjukkan tanda-tanda pembunuhan. Tapi sejumlah besar Zolpidem ditemukan di pakaian korban.
“Kami yakin korban bunuh diri akibat situasi yang dialaminya.”
“Itu menurut pemeriksa medis dan detektif. Bagaimana menurutmu, Detektif Kang? Kamu juga berpikir Dong Hyun bunuh diri?”
“Aku tahu Anda pasti putus asa. Maaf jika kinerjaku kurang baik dalam menyelidiki kasus itu. Aku sungguh minta maaf.”
“Aku sudah kehilangan suamiku, sekarang Dong Hyun meninggal. Satu tewas kecelakaan, satu lagi bunuh diri? Kamu ingin aku yakin untuk melanjutkan hidupku? Jawab aku, Detektif. Aku ingin percaya dan melanjutkan hidupku jika itu maumu. Tapi suamiku dan Dong Hyun tiba-tiba tewas? Dia bunuh diri? Aku akan berusaha memercayainya dan melanjutkan hidupku.” Eun Joo berbicara sambil meneteskan air mata.
“Aku akan menghubungi Anda jika ada kemajuan.”
“Kenapa kamu diam saja? Coba... Jawab aku saja agar aku bisa tenang. Apa suamiku tewas karena kecelakaan? Dan Dong Hyun benar bunuh diri? Begitukah?”
“Itu... Kurasa tidak. Aku tidak menyetujui putusan pengadilan. Aku minta maaf. Aku tidak bisa mengatakan bahwa dia tewas kecelakaan ataupun membuat Anda tenang. Aku sungguh minta maaf.”
“Tidak. Terima kasih. Setidaknya, kamu tahu yang sebenarnya. Terima kasih sudah memberitahuku. Aku sangat berterima kasih.”


Di depan gedung JBC, Eun Joo melakukan demo dengan membawa papan bertuliskan “Go Hye Ran membunuh suamiku. Dia bersalah! Aku tidak memaafkan Go Hye Ran”. Di antara kerumunan orang yang melihatnya, ada Myung Woo yang sedang mengamati Eun Joo.


Hye Ran bangun dan tidak melihat Tae Wook di kamar, tapi ada suara di luar kamar lalu dia segera turun dari ranjang. Hye Ran terkejut melihat ibu mertaunya sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Hye Ran pikir Tae Wook lah yang yang ada di sana. Ibu mertuanya lalu meminta Hye Ran untuk berpakaian karena ayah mertuanya juga ada di sana.


Saat Hye Ran sedang berpakaian, Tae Wook masuk ke kamar. Tadi dia sudah pergi tapi karena tahu kedua orang tuanya datang, dia kembali lagi.
“Jika kamu tidak nyaman, haruskah kuminta mereka datang lain waktu?”
“Tidak, tidak apa-apa.”
“Jangan khawatirkan aku. Aku bisa memberi tahu mereka. Katakan saja apa maumu.”
“Sungguh, tidak apa-apa.”


Semua orang makan dengan lahap kecuali Hye Ran yang tidak menyentuh makanannya. Dengan lirih Hye Ran meminta maaf pada ayah mertuanya karena membuatnya cemas. 
“Kami lega hasilnya baik. Bukankah begitu, Sayang?” ibu mertuanya yang menanggapi permintaan maaf Hye Ran.
“Mulai sekarang, aku akan menjadi lebih baik meski aku masih kurang di mata Ayah.”
“Lalu? Sejauh mana kamu akan bertindak? Dari Baja Hwanil dan Jung Dae Han, sampai Firma Hukum Kangyool. Kamu pasti berusaha menyingkirkan para penguasa itu dan menunjukkan pengaruhmu karena kamu mempunyai rencana.” Ayah mertuanya berhenti makan untuk berbicara pada Hye Ran.
“Ayah. Sejauh mana aku akan bertindak? Aku harus setinggi apa agar Ayah menerimaku?”
Ibu mertuanya tampak gelisah dengan pembicaraan Hye Ran dan suaminya, dengan sopan dia meminta Hye Ran tidak membahas hal itu. Tapi suaminya masih terus berbicara.
“Kamu yakin mau menapaki tangga itu?”
“Ya.” Hye Ran tersenyum lalu menjawab dengan yakin.
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
“Beri ayah satu mangkuk sup lagi. Tiba-tiba nafsu makanku kembali.”
Mereka semua tampak lega karena ketegangan perlahan mencair.


Hye Ran dan Tae Wook mengatar kedua orang tuanya ke mobil. Sebelum pergi, ibu Tae Wook memberitahu Hya Ran kalau dia sudah memesan obat herbal untuk Hye Ran.


Saat mereka sudah pergi, Hye Ran bertanya pada Tae Wook apa ini artinya ayah menerimanya. Tae Wook hanya tersenyum lalu meminta Hye Ran masuk karena udara yang dingin. Tae Wook mengatakan dia akan kembali ke kantor, untuk menyelesaikan beberapa hal.
“Sejak menangani kasusmu, aku dibanjiri pekerjaan.”
“Kasusku menjadi promosi untukmu.”
Tae Wook sudah berjalan menuju mobilnya tapi Hye Ran memanggilnya.
“Tae Wook. Hati-hati di jalan. Sampai bertemu nanti sore.”
“Ya.” Ucap Tae Wook singkat.


Sambil menyetir, Tae Wook terngiang ucapan Myung Woo padanya “Andai kamu lebih sabar, semua itu tidak akan terjadi, Kang Tae Wook.”
Kemudian sekelebat kejadian saat Tae Wook sedang memukul seorang pria muncul di ingatannya.


Hye Ran sedang duduk menikmati masa isirahatnya. Dia tampak bahagia. Hye Ran melihat tumpukan surat lalu mengambilnya, saat akan membuka amplop dia mengalami kesulitan dan mencari sesuatu untuk membukanya.


Hye Ran masuk ke ruang kerja Tae Wook, dia membuka laci dan menemukan pisau untuk membuka amplop. Di samping pisau itu Hye Ran melihat sebuah surat yang diselipkan di dalam buku lalu mengambil surat itu.


Eun Joo sedang duduk termenung di stasiun kereta, tiba-tiba Myung Woo menghampirinya dan duduk di sampingnya. Sepotong kalimat menggantung keluar dari mulut Myung Woo “Aku rela melakukan apa pun.”


Di dalam ruang kerja Tae Wook, Hye Ran tampak terkejut membaca surat tilang untuk Tae Wook. Dalam surat itu tertulis nomor polis mobil Tae Wook yang melanggar batas kecepatan dan pelanggaran lampu sein di persimpangan Hannam. Hye Ran sampai jatuh terduduk, tangannya bergetar, dan matanya berkaca-kaca membaca isi surat itu.


Flashback. Mobil Tae Wook sedang berhenti di lampu merah, dia melihat Kevin Lee berada di dalam mobil di sebrangnya, menghadap ke arahnya. Saat lampu sudah hijau, mobil Kevin Lee datang ke arahnya dan lewat begitu saja di sampingnya. Dengan penuh emosi, Tae Wook mengendarai mobilnya dengan kecang dan mendadak memutar balik menuju ke arah mobil Kevin Lee pergi. Dari atas rambu jalan, kamera pengawas menangkap gambar mobil Tae Wook yang memutar arah dengan kecepatan tinggi.
Advertisement


EmoticonEmoticon