4/07/2018

SINOPSIS My Mister Episode 4 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 4 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 4 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 4 Part 3

Ibu mengadakan ritual `syukuran` sederhana di kantor ‘brother cleaning’. Setlah itu, dia pun masih sempat memberikan bekal makan untuk kedua putranya itu.


“Tak pernah kusangka dua anakku kerjanya bersih-bersih”

“Aku juga tidak... Tapi, Semua orang hidup seperti ini setelah usia melampaui di atas 50 tahun. Jin Bum dulu bekerja di perusahaan mobil, tapi dia mengimpor ikan sekarang. Terus si Kwon Shik, yang dulunya pegawai bank, sekarang... bekerja jadi tukang bersihkan handuk di motel. Sulit bekerja di perusahaan bagus selama lebih dari 20 tahun. Dan juga membosankan melakukan satu pekerjaan selamanya. Lebih menyenangkan mencoba beberapa pekerjaan dalam seumur hidup”

“Sepertinya kau lagi senang belakangan ini. Katanya kau membuka restoran masakan babi?”

“Aku belum yakin buka restoran apa. Warung tteobokki sepertinya boleh juga. Dong Hoon itu terampil, jadi dia tidak akan berakhir seperti itu jika dia dipecat. Dia pasti bisa buka usaha sendiri..”

“Kenapa pula dia dipecat? Dong Hoon akan bekerja di sana sampai umur 70 tahun”


Selesai bersih-bersih, Sang-hoon dan Ki-hoon menikmati bekal makanannya. Tapi Sang-hoon terus mengambil lauk milik Ki-hoon, padahal dia punya sendiri,


“Ini 'kan sama saja!” keluh Ki-hoon

“Menurutku, makanan orang lain selalu lebih enak!”

“Kitano Takeshi, sang komedian, pernah berkata... 'Keluarga adalah orang yang ingin kaubuang di tempat sampah saat tak ada orang melihat' ... dan kurasa itu benar!”


Malam hari, istrinya Sang-hoon membantu ibu dirumah. Tapi dia terus-terusan menangis..

“Jangan menangis! Aku seperti menghirup udara segar melihat mereka berdua pergi bekerja pagi tadi. Jika aku merasa seperti ini, bayangkan bagaimana perasaan mereka. Mereka hanya duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa setiap hari. Bayangkan betapa beratnya perasaan mereka..”

“Tolong jangan beritahu menantuku soal bisnis bersih-bersih itu. Dia tidak tahu kalau kami sudah berpisah”

“Tapi soal perceraian itu, bagaimana?”

“Aku akan tetap bercerai. Aku akan bercerai, kalau anak-anak sudah siap. Menantuku cuma tahu mertuanya bekerja di perusahaan besar. Dia bahkan tidak tahu tentang hutang besar itu. Bagaimana dia bisa melunasi semua utang itu?”


“Kenapa kau terus menangis? Padahal suamimu akhirnya sudah bekerja, tapi kenapa kau menangis?”

“Ya aku mana tahu kalau ternyata dia kerja bersih-bersih!”

“Jangan menangis. Aku juga tidak senang dia kerja seperti itu..”


Dong-hoon menelpon Direktur Park, dia bertanya: “Apa yang terjadi?”

“Menurutmu, apa yang terjadi? Aku sekarang tak bisa melindungimu lagi. Sebaiknya kau berpihak ke pihak lain saja...”

“Sejak kapan aku memihak? Pasti ini rencananya Do Joon Young, bukan?”

“Rencana apaan? Aku hanya membuat kesalahan karena minum terlalu banyak”

“Tapi, anda tak pernah seperti itu sebelumnya..”

“Mungkin karena faktor umurku. Dong-hoon, Aku telah mengawasimu selama lebih dari 20 tahun... jadi tidak masuk akal bagiku untuk tidak mempercayaimu, bukan? Tapi... sekarangpun, aku tak bisa percaya padamu”

“Apa maksudmu?”

“Jangan percaya siapa pun! Jangan percaya pada Kadiv Song atau Wakil Kim! Jangan percaya siapa pun!”


Gwang-il mendatangi tempat tinggal Ji-an, tapi tak ada siapa pun dan bahkan tak ada tanda-tanda bekas kedatangannya sekali pun.


Tepat, ketika dia berjalan keluar.. telah ada Ji-an yg mennunggunya di depan pintu. Dengan sinis, Gwang-il berkata: “Padahal aku akan membunuhmu jika kau tidak datang hari ini. Belajarlah sopan santun, dasar jalang kurang ajar! Apa yang membuatmu berpikir kau bisa bertingkah begini?”


Ji-an menyodorkan uang 10 juta padanya, “Tulis tanda terimanya!” pintanya

“Kau menghasilkan banyak uang hari ini. Kau merampok orang? “Apa kau jual diri? Atau ini bisnismu? Caramu mengganti uangku sangat mencurigakan!” cecar Gwang-il

Ji-an tak peduli dengan omongan itu, dia hanya minta dibuatkan tanda terima, kemudian minta Gwang-il menuliskan satu kalimat janji dalam kertas itu, yg bunyinya: ‘Aku tidak akan sembarangan masuk lagi. Jika aku melakukannya, dia tidak perlu membayar sisa utangnya’

“Kau pikir aku akan melakukan itu?” tanya Gwang-il

“Tulis saja sebelum kubunuh kau! Sebelum aku menyingkirkan bajingan, yang hidupnya hanya untuk menyiksaku!” ujar Ji-an

“Harusnya kau mati saja! Agar aku bisa hidup menyiksa nenekmu!” tukas Gwang-il

“Dasar bajingan bodoh. Apa yang membuatmu mengira aku akan mati sendirian? Tentu saja aku akan membunuh nenekku dulu sebelum aku bunuh diri. Jadi tulislah!” tutur Ji-an


Setelah memeriksa berkasnya, Yeon-hee menemukan fakta mengejutkan tentang Ji-an: “Omo, dia pernah bunuh orang. Dia menikamnya sampai mati. Jika ini terjadi pada 2012... berarti saat dia SMP. Siapa dia ini? Kenapa kau ingin aku menyelidikinya?”

“Dia hanya, salah satu pegawaiku....”


Gwang-il menghajar Ji-an secara membabi-buta. Dia berteriak, mencaci dan memakinya: “Hiduplah kau, dasar jalang! Kau tidak akan pernah mati! Karena kau tidak akan mati, walau kau memohon. Aku akan menyiksamu sampai kau jadi nenek-nenek! Jadi tetaplah hidup, dasar pembunuh!”

“Itulah yang seharusnya kulakukan! Seharusnya aku membuat ayahmu tetap hidup, agar aku bisa menyiksanya seperti ini. Tapi aku terlalu baik, makanya aku langsung membunuhnya! Karena aku terlalu baik!” tutur Ji-an


Sesampainya di rumah, Ji-an membantu nenek pergi ke toilet. Tapi nenek melihat wajah Ji-an yg lebam, dan dengan bahasa isyarat, dia pun bertanya: “Wajahmu kenapa?”

“Tadi aku jatuh..”

“Siapa yang melakukannya padamu? Dia? Orang yang memukul Nenek juga?”

“Orang itu 'kan sudah kubunuh.”


[Tanda terima: Pembayaran 10 juta won: Jika aku sembarangan masuk ke rumahnya, dia tidak perlu membayar sisa utangnya]


Di sebuah kedai. Dong-hoon serta beberapa pegawainya tengah berkumpul, untuk sekadar minum bersama~

“Meskipun senior kita pergi... alkohol tetap masih terasa manis. Padahal kukira Direktur Park akan bertahan lebih lama dari Direktur Yoon”

“Makanya Anda harus pintar memihak.  Aku menghormati Direktur Yoon. Dia tahu pihak mana yang harus dipilih, walau seberapa muda mereka...”

“Tapi Manajer Park, kenapa Anda ingin Lee Ji An berhenti?”

“Siapa memang dia?”

“Itutuh karyawan kontrak yang kerjanya menyusun tanda terima”

“Oh, orang yang mau disuruh-suruh itu...”

“Kenapa Anda menyuruhnya berhenti? Aku saja belum pernah melihatnya berbicara”

“Anak itu mengerikan. Waktu aku minta kertas..., dia buka laci pakai kakinya. Hei, harusnya 'kan dia kasih kertasnya ke aku pakai tangannya seperti ini. Tapi apa? Terus aku sangat bingung, sampai-sampai aku yang mengambil kertasnya sendiri..”

“Tapi, kita penasaran.. Kenapa Anda melakukannya?”


“Sudahlah. Tingkah kalian ini memalukan. Empat pria seharusnya tidak duduk-duduk menjelekkan seorang wanita!”

“Apa yg sebenarnya terjadi antara kalian?”

“Bukan apa-apa...”

“Pasti ada apa-apanya..”

“Kalian tidak merasa kasihan padanya?”

“Kenapa aku kasihan padanya?”


“Aku merasa kasihan sama  orang yang kelihatan kaku. Karena masa lalu mereka tergambar dari penampilannya. Anak-anak cepat dewasa kalau mereka tersakiti. Aku bisa melihatnya. Makanya aku merasa kasihan padanya. Aku takut mengetahui apa yang terjadi padanya”


Menguping pembicaraan mereka, seketika Ji-an berkomentar kesal: “Dasar bajingan!”


Seusai minum mereka berjalan pulang melewati sebuah gedung, “Manajer Park suka gedung ini. Kenapa Anda suka gedung tua seperti itu?”

“Karena gedung ini mirip diriku...”

“Kenapa? Anda mengalami kesulitan belakangan ini?”

“Mirip darimananya?”

“Gedungnya dibangun tahun 1974. Berarti kalian seumuran! Gedung ini juga berada sama dengan tingkat manajer”

“Dulunya ini sungai...  Lihatlah. Ada lengkungannya karena itu mengikuti bentuk sungai. Makanya itu tidak bisa direnovasi lagi. Kalau itu tak bisa bertahan lama,  bangunannya bisa runtuh. Seharusnya tidak dibangun di sini. Sama seperti aku...”

“Apa?”


“Aku juga memilih tempat yang salah. Aku seharusnya tidak dilahirkan di bumi”

“Kenapa Anda sangat sentimental belakangan ini, Manajer Park? Anda bahkan merasa kasihan sama orang-orang yang kelihatan kaku. Jadi Anda ingin dilahirkan dimana selanjutnya?”

“Aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan”

“Bukankah Anda terlalu berlebihan? Anda 'kan bisa terlahir kembali...”

“Manajer Park, kau sama rumitnya seperti lampu jalan itu...”


Ji-an tetap datang bekerja, meski kondisi badannya masih lebam-lebam...


Si pegawai wanita yg kemarin, sengaja duduk bersama temannya di dekat meja Ji-an. Dia bergossip dengan suara keras, sambil terus melirik ke arah JI-an..

“Cara orang berjinjit. Saat dua orang berciuman, dan si wanita... berjinjit seperti ini, berarti si wanita 'kan yang ingin mencium si pria?”

“Ya, sepertinya...”

“Sepertinya aku tahu ada masalah apa”

“Apa maksudmu?”

“Aku mengerti kenapa Manajer Park bertindak seperti itu kemarin. Manajer kita memang sangat keren. Manajer yang mana? Pasti ada yang kautahu, 'kan?”

“Nanti kuberitahu saat makan siang”


Bergegas, Ji-an pergi ke ruangan yg sepi untuk menelpon Ki-bum, “Hapus foto-foto itu. Hapus semuanya!!!!” pintanya


Ki-hoon dibuat muak.. karena harus membersihkan bekas muntahan di tangga. 

“Maaf, Wanita kamar 401 yang melakukannya..”

“Mana mungkin ini muntahan wanita?!”

“Itu muntahan wanita. Dia tinggal sendiri”

“Harusnya kau menyuruh dia membersihkannya. Kenapa Anda meminta jasa kami membersihkan ini?”

“Aku sudah membunyikan bel pintu dan mengetuk... pintunya, tapi dia pura-pura tak ada di rumah. Aku juga mau gila rasanya, karena dia selalu muntah tiap minggu”

“Tapi Anda juga tidak bisa meminta jasa kami tiap kali ini terjadi...”


Ki-hoon menceritakan kejadian barusan pada Jae-chul,

“Itusih sudah biasa.. Tetangganya juga pasti serasa ingin mati..”

“Kenapa dia muntah di tempat yang sama seolah-olah dia punya dendam? Padahal kamarnya hanya selangkah lagi. Harusnya dia bisa muntah di kamar mandinya. Dia malah tidak membersihkan apapun! Aku sangat kesal hari ini!”

“Kau benci 'kan kerja seperti ini?”

“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan  istrimu...”

“Sudahlah. Kakakmu itu lagi makan”


Tiba-tiba, Sang-hoon berhenti makan.. sejenak dia tersenyum, tapi kemudian wajahnya terlihat bersedih.  


“Kenapa, kau tak nafsu makan? Nafsu makanku saja... tak hilang walau aku habis bersihkan muntahan..” ujar Ki-hoon

“Sang Hoon orang yang selalu menghabiskan makanannya..” tutur Jae-chul

“Kenapa? Ada apa? Kau sudah mau berhenti? Kau sengsara karena harus bersih-bersih?” tanya Ki-hoon

“Aku cuma... menurutku ini berat saja. Menurutku ini sangat berat...” jawab Sang-hoon dengan lesu


Berjalan keluar sendirian, Sang-hoon terduduk lemas di depan mesin kopi. Dari belakang, kita melihat punggungnnya yg perlahan mulai bergetar. Yg menandakan, bahwa dia tengah menangis sesegukan~
Advertisement

1 comments:


EmoticonEmoticon