4/09/2018

SINOPSIS My Mister Episode 4 PART 3

Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 4 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 4 Part 4

Si pegawai sinis, mengajak Ji-an berbicara berduaan dalam ruang rapat, “Menarik juga. Sebagai orang dengan tampang yg polos, kau ahli (berbohong) juga rupanya. Jika aku mengadukanmu, kau  pasti langsung dipecat. Dan Manajer Park tidak akan bisa berkata apa-apa, karena dia orangnya tak tegaan. Aku tidak bisa menjadi orang yang tegaan. Bagaimana kalau kau bekerja lebih giat daripada mendekati atasanmu? Aku tidak pernah melihatmu menuruti perintahku. Apa mulai dari sekarang, aku bisa melihatmu melakukannya?”


Mendengar celotehan itu, Ji-an malah tersenyum,

“Kau tersenyum? Hei, apa yang membuatmu mengira kau bisa seberani itu? Kau mau dipecat?”

“Mari kita dipecat bersama..”

“Apa?!”

“Jika aku dipecat karena ini... bukankah menurutmu kau juga akan dipecat karena berselingkuh dengan rekan kerja?”

“Kaubilang orang yang sudah menikah, lalu selingkuh dengan rekan kerja itu, sampah masyarakat, tapi ternyata kau juga begitu”

“Apa maksudmu?”


“Manajer Park Tim 1, Inspeksi Keamanan. Saat kau sibuk memfitnah orang lain, kau juga sibuk berduaan dengan Manajer Park. Apa kau bersenang-senang berkencan pakai uang perusahaan?”

“Wajar kalau kami berdua selalu bersama, karena kami 1 tim!”

“Tapi kau selalu mengikuti dia ke ruang rapat. Menurutmu kau pasti takkan tertangkap karena tidak ada CCTV di sana, 'kan? Lagipula aku cuma karyawan kontrak, jadi cepat atau lambat aku juga pasti dipecat. Jadi jika kau tidak ingin dipecat bersamaku, sebaiknya kau tutup mulut!”


Mendengar omongan Ji-an, seketika wanita itu tak bisa berkutik. Dari awalnya bersikap sinis, kini tercengang tak mampu berkomentar apa pun~


Ji-an pergi ke apotek, untuk memeli obat. Tapi apoteker malah bicara: “Jika ini tidak diobati, nanti tulangmu bisa fraktur. Sepertinya tangan ini juga terluka. Akan kuberikan obat anti-inflamasi, tapi kau sebaiknya pergi ke RS, ya. Ini harus diobati”


Karena JI-an tak mau mengatakan apa pun, maka apoteker itu mengira Ji-an adalah korban KDRT. Maka dia pun menuiskan sebuah pertanyaan dalam secarik kertas: ‘Kamu butuh bantuanku?’


Berikutnya, Ji-an dan Ki-bum mengobrol di sebuah kedai,

“Kau padahal bukan orang yang menerima pukulan. Kenapa kau membiarkan dia memukulimu? Bisakah kau berhenti dipukuli? Sebagian hutangmu itu'kan karena aku..., jadi aku merasa tak enak”

“Bawa Nenek ke rumahku besok...”

“Terus, Gwang-il bagaimana?”

“Dia tidak akan datang lagi. Bagaimana dengan Park Dong Hoon?”

“Aku tidak bisa menemukan apa pun tentang dirinya. Dia punya anak lelaki yang sekolah di luar negeri jadi kita tidak bisa berbuat apa-apa dengannya. Dan istrinya seorang pengacara, jadi kita mana mungkin berurusan dengannya. Jika dia bisa menyetir, aku pasti bisa merusak mobilnya. Tapi kerjaannya cuma minum dengan saudara-saudaranya tiap hari!”


Obrolan mereka terhenti, karena perhatian JI-an tertuju pada sebuah poster tentang lowongan pekerjaan. Ki-bum menyadarinya, maka dia berkata: “Hentikan. Istirahatlah. Aku belum pernah melihatmu tidur nyenyak di tempat tidurmu... Memang benar aku tidak pernah melihatnya. Kau selalu tertidur dimanapun”

“Mana bisa aku tidur kalau aku tidak lelah?” ujar Ji-an


Si pegawai sinis, diam-diam membuka lagi web kantor. Namun dia benar-benar kesal sekaligus marah karena tak menemukan foto Ji-an disana.. dia pun bertanya pada ‘pacar’ gelapnya, apa dia membocorkan tentang hubungan mereka, tapi dia bilang tidak~


Dong-hoon menerima sms masuk, yg isinya: ‘Ibumu ada di sini. Apa ada masalah? Dia tidak mengatakan apapun...’


Berikutnya, pada Ki-hoon dia pun bertanya: “Tapi, kenapa Ibu pergi ke kelenteng?”

“Ibu pergi ke kelenteng? Wah.. berarti, memang ada sesuatu yg tak beres..” jawab Ki-hoon


Sesaat kemudian datanglah Sang-hoon dalam kondisi mata yg sembap.

“Kau kenapa? Kau menangis?”


“Menangis? Siapa yang menangis? Aku kena flu...”


Hari semakin larut.. kini mereka bertiga, berdiri di depan kedai. Dengan suara yg bergetar, Snag-hoon akhirnya mau bercerita: “Waktu aku bersih-bersih sendiri setelah Ki Hoon naik ke lantai atas... ada seorang pria marah karena debu yang kusapu kena ke dia. Katanya dia lagi sial, jadi dia pergi ke sauna... dan pulang ke rumah mau tidur, saat debu yang kusapu kena ke dia. Katanya dia membangun vila. Dia bilang dia membangun vila itu. Dia bilang dia membangun setengah dari vila di kompleks itu. Katanya, dia akan memecat kami dan menyuruhku meminta maaf dengan benar. Dia berbau alkohol. Ya terus aku bisa apa? Jadinya aku berlutut..”


“Ketika aku kembali ke bawah setelah dimarahi oleh dia... Aku melihat kotak makan siang di bagian bawah tangga... ‘Pasti ibu tidak melihat. Pasti ibu cuma menaruh kotak makannya, habis itu pergi lagi’... Aku memikirkan itu sepanjang perjalanan pulang ke rumah”


“Tapi wanita tua itu tersenyum padaku. Dia pasti sudah melihatnya...”


Mendengar cerita itu, seketika membuat Ki-hon tak bisa meredam emosinya. Dia bertiak, berkata: “Akan kubunuh bajingan itu! Apa yang salah dengan kita? Aku tidak ingin menjadi adik lagi! Aku akan membunuhnya!”


Dong-hoon mengejarnya, lalu memeluknya erta.. untuk enahannya pergi~


Yeon-hee berduaan dengan Joon-young dalam kamar hotel, dia pun bercerita: “Jika Dong Hoon menikahi orang lain, dia pasti tidak akan punya masalah. Dia pekerja keras dan baik hati. Tapi dia pria yang kesepian. Jadi dia juga membuatku kesepian. Aku menyadari aku tidak pernah bisa membuatnya bahagia, sebesar apa usahaku. Dia selalu tampak seperti pria yang kehilangan sesuatu. Sepertinya dia terjebak, karena dia kehilangan sesuatu... tapi dia tidak tahu persis apa yang hilang darinya. Jadi kurasa karena itu aku tak sanggup lagi. Tapi aku tetaplah masih... wanita yang frustasi memenuhi tanggung jawabnya untuk keluarganya. Aku muak...”


“Aku muak mencari alasan kenapa aku berselingkuh. Menurutku, kamu menarik saja. Kenapa kau tidak cerita apa pun tentang mantan istrimu?”

“Tidak ada yang perlu diceritakan. Pernikahan kami cuma bertahan sebentar”

“Ceritakan saja. Aku akan mendengarkan...”


Pulang kerumahnya, Yeon-hee melihat Dong-hoon yg teridam di ruang tengah. Namun ketika ditanya ‘kenapa’? dia enggan memrikan respon atau jawaban apa pun~


Ki-bum menelpon Ji-an, untuk cerita: “Sepertinya adik atau kakaknya Park Dong Hoon lagi kena masalah. Tiga bersaudara itu kelihatannya terlibat pertengkaran hebat kemarin”

“Manfaatkan hal itu..”

“Tak bisa. Tak ada yang kutemukan walau aku sudah berusaha mencarinya”

“Lakukan apa saja, sebisamu!”


Saat kembali ke meja kerjanya, badan Ji-an sangat lemas. Dia tak bisa mengatur keseimbangannya hingga dia pun terjatuh..

Melihatnya membuat pegawai lain kaget, tapi bukannya membantu mereka malah komentar:

“Memangnya semalam apa yang dia lakukan?”

“Apa tadi dia ketiduran? Sungguh aneh”

“Padahal kerja dia juga tak susah...”


Ji-an sendiri terlihat acuh.. meski terjatuh dia bisa bangkit sendiri dan bersikap datar, seolah tak mendengar apa pun yg dikatakan orang-orang~~~~
Advertisement


EmoticonEmoticon