4/15/2018

SINOPSIS My Mister Episode 6 PART 1

Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 5 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 2

Dong-hoon duduk menyendiri si sebuah kafe... Padahal, berulang-kali bawahannya mencoba untuk menghubunginya, tapi dia sengaja tak mengangkatnya.


Kondisi kantor sangat hektik, karena beberapa orang dari tim audit mengobrak-abrik mejanya Dong-hoon, tanpa memberikan alasan yg jelas pada pegawai yg berada disana.


Dong-hoon temenung, mengingat obrolannya dengan Manajer Park, juga teringat sikap istrinya belakangan ini...


Ternyata.. beberapa saat sebelumnya, Dong-hoon sempat makan siang bersama dengan istrinya di tempat ini. Namun di awal, dia tak bisa marah atau bahkan mengatakan apa pun dan hanya fokus pada makanannya.. hal itu, membuat istrinya bertanya: “Kenapa kau tidak bicara apa-apa? Bukankah kau datang karena ada yang ingin kau katakan?”

“Aku cuma mampir saja”

“Kau sudah mempertimbangkannya? Buka usaha maksudku. Jika ini karena uang, kau tak usah khawatir. Kita bisa menggadaikan apartemen kita sebagai jaminan buat cari pinjaman uang... setelah itu, kita bisa mengurus sisanya”


“Kalau istri orang lain, pasti menyarankan suaminya, tetap kerja di perusahaan selama mungkin..”

“Tapi itu karena suami mereka tak punya keahlian. Dan kurasa, ahli teknik sepertimu pasti selalu bisa dapat pekerjaan. Kau punya keahlian, jadi kenapa kau harus bekerja dibawah juniormu? Aku jelas tahu bagaimana kau diperlakukan di kantor, meskipun aku tak melihatnya sendiri...”

“Kau tidak perlu khawatir apa kata orang, di seusia segini...”


Kembali ke realita, akhirnya dengan mata kepalanya sendiri.. Dong-hoon melihat istrinya masuk kedalam box telpon umum untuk menelpon seseorang..

Yeon-hee menepon Joon-young, untuk memberitahunya bahwa Dong-hoon akan segera mengundurkan diri.. jadi tak perlu repot-repot mencari cara untuk memecatnya~


Untuk memastikannya sendiri, Dong-hoon sengaja menelpon Joon-young menggunakan telpon umum tersebut.. dan betapa hancur hatinya, ketika dia mendengar Joon-young menjawab telponnya, bahkan tanpa bertanya siapa yg menelponnya..


Hari berubaha malam.. ibu memasak makan malam yg lumayan banyak. Maka dia menyuruh Ki-hoon untuk menelpon Dong-hoon.

Tapi setelah di telpon,, dengan suara yg lesu Dong-hoon bilang di amasih ada kerjaan, jadinya dia tak bisa datang..

“Walau sibuk bekerja, tetaplah makan..” pesan Ibu dengan suaranya yg lembut


Dong-hoon berjalan melewati sebuah gedung hotel. Seketika.. dia teringat, momen ketika dirinya sempat meminjam mobil istrinya.. dan ada kotoran yg menempel di kaca depan. Dia membersihkannya menggunakan kartu parkir dari hotel yg kini berada di sebrangnya..


Dan sangat kebetulan.. karena tak lama kemudian, dia melihat mobil istrinya.. disusul mobil Joon-young, yg masuk ke area parkir hotel tersebut~


Ponselnya terus berdering, ada telpon masuk dari Direktur Park, tapi dia sengaja tak mengangkatnya..


Untuk memastikan bahwa mereka tengah berduaan.. Dong-hoon yg kini tengah berada di sebuah bar, meminjam ponsel barista untuk menelpon Joon-young, ketika dirinya sendiri tengah berbicara dengan istrinya via telpon..

Dan dugaannya itu, terbukti jelas.. karena terdengar bunyi telpon masuk di dekat istrinya berada. Joon-young sendiri, tak menaruh curiga apa pun, karena ketika menelpon balik nomor yg menghubunginya barista itu menjawab kalau dia  salah nomor..


Direktur Eksekutif Wang, menelpon Direktur Park untuk menanyakan keterlibatannya dalam insiden penggeledahan meja kerja Dong-hoon..

“Begini, belum lama ini.... aku kasih riwayat panggilan telepon Do Joon Young ke Park Dong Hoon. Kurasa karena itu meja kerjanya digeledah”

“Jangan hubungi Manajer Park untuk sementara waktu ini. Orang tim Pengawasan Internal masih tidak tahu kalau kau yang memberikan riwayat itu. Kau tak perlu lakukan apa-apa. Akan kucaritahu sebanyak apa yang diketahui oleh Tim Pemeriksaan Internal. Kenapa pula kau ceroboh seperti itu?”

“Tapi... kurasa Manajer Park menemukan sesuatu dari riwayat panggilan itu...”


Di rumahnya, Dong-hoon duduk di ruang tengah dalam kondisi ruangan yg gelap gulita. Dia mengingat ulang, momen disaat Joon-young mulai bersikap aneh padanya.. tepatnya, sekitar musim semi tahun lalu~


Ketika istrinya pulang, Dong-hoon kelihatannya tertidur pulas di sofa ruang tengah. Padahal nyatanya, dia masih bangun.. dia mendengar suara langkah kaki Yeon-hee yg masuk ke kamar, kemudian masuk ke toilet untuk mandi~


Esok paginya, Dong-hoon pergi ke lapangan olahraga dimana para ajusshi tengah berkumpul, ‘katanya’ sih untuk bertanding bola.

Setibanya disana, dia menaruh tas.. lalu izin ke toilet dulu.


Dalam toilet, Dong-hoon terduudk lesu. Dia mengingat kejadian, dulu ketika dia bertengkar dengan istrinya..


“Melihatmu membuatku merasa sangat sedih, dan marah! Keluarlah dan lihatlah! Keluarlah dan lihat bagaimana pria lain seusiamu menjalani hidup mereka!”

“Mereka semua bekerja, sama seperti aku. Demi masa depan!”


Kembali ke lapangan, Jae-chul menyuruh para ajusshi untuk ikut bermain.. karena memang mereka yg menginginkan pertandingan ini. Namun Ki-hoon dan Sang-hoon malah asyik minum soju, padahal ini masih sangat pagi..


Maka pada akhirnya, hanya Dong-hoon yg turun ke lapangan. Tapi disana, kebanyakan anak SMA.. dan mereka sibuk main sendiri, seakan mengabaikannya..


Tiba-tiba, Dong-hoon teringat momen ketika dia berdebat dengan istrinya, yg kali ini mengeluh: “Siapa nomor satu dalam hidupmu, Oppa? Jangan cuma jawab keluarga! Karena harusnya, Keluargamu terdiri dari kau, aku, dan Ji Seok! Hanya tiiga orang!”

“Bagaimana mungkin cuma kita bertiga?”


Di lain waktu, istrinya juga marah karena masalah serupa, “Aku merasa hanya ada tubuhmu di sini bersamaku sekarang. Hatimu masih belum meninggalkan keluargamu. Zaman Joseon memang yang terbaik. Kau bisa bawa pulang istrimu, dan tinggal bersama di sana. Ya, 'kan?”


Kemudian di waktu yg lain.. kita melihat Ji-seok yg masih kecil dirawat oleh neneknya. Kala itu, Yeon-hee baru saja diumumkan lulus ujian hukum..

“Kau pasti sangat senang ibumu seorang pengacara..” ujar Ki-hoon

“Maaf karena ibumu menganggur..” tukas ibu

“Bukan cuma dia saja yang senang. Kita semua juga senang..” lanjut Dong-hoon

“Apa senangnya? Mencari pengacara berarti kau membuat masalah..” ujar Ibu


“Inilah maksudku. Inilah kenapa para perempuan itu menyedihkan. Coba.. Bagaimana jika Hyung yang lulus ujian hukum? Keluarga Kakak Ipar pasti akan mengadakan pesta untuknya..” tutur Ki-hoon yg kemudian berjalan meninggalkan ruangan


Ditinggal berduaan, Dong-hoon berkata: “Terima kasih sudah merawat Ji Seok, bu...”

“Kau harus optimis akan naik jabatan. Mau sesukses apa seorang wanita, dia tidak... akan pernah bisa mengambil alih posisi seorang pria. Wanita tidak tahan melihat suaminya hidupnya lebih rendah daripada dia. Jadi pastikan agar kau terus naik jabatan. Jangan didengar saja perkataan Ibu ini, tapi ingatlah terus..” pesan ibu


Kembali ke realita, Dong-hoon memilih untuk melepas rompinya.. dan berjalan ke tepi lapangan, kemudian mengambil tasnya.


Para ajusshi bertanya, ada apa dengannya?

Lalu dengan ketus, Dong-hoon menjawab: “Mana mungkin aku bisa main, mereka saja tak mau oper bola ke aku!”
Advertisement


EmoticonEmoticon