4/15/2018

SINOPSIS My Mister Episode 6 PART 3

Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 6 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 4

Saat sampai di depan apartemen, Dong-hoon melihat istrinya yg baru pulang. Dia pun bergegas berlari supaya bisa naik lift bersama dengannya..

Yeon-hee terkejtu karenanya, “Aku kaget, tahu! Kau pagi-pagi sudah keluar main bola, tapi kau sekarang baru pulang?”

 Ki-hoon malah bertanya balik: “Kenapa kau bau asap?”

“Mungkin karena aku makan barbekyu di perkemahan....” jawab Yeon-hee dengan begitu tenang


Masuk kedalam, Dong-hoon langsung pergi ke kamar dan duduk di kasur.. dia hanya diam, memerhatikan Yeon-hee yg tegah bersih-bersih di dapur~


Ji-an duduk di pojok kamarnya, sambil mendengar suara Dong-hoon. Wajahnya terlihat sedih, seakan dia memahami betul.. bagaimana perasaannya Dong-hoon. Sementara itu, nenek Bong-ae.. tengah asyik menonton TV.


Tanpa mereka sadari, diluar tengah ada Gwang-il yg sedari tadi berteriak dan menggedor-gedor pintu supaya dibukakan untuknya.


Karena tak ada respon, akhirnya Gwang-il merangsak masuk. Dan kedatangannya itu, berhasil membuat semuanya kaget bukan main..

“Kenapa kaget kau? Aku 'kan sudah daritadi ketuk pintunya! Kaulah yang tak mendengarku!” ujar Gwang-il

Ji-an menyuruhnya keluar, tapi Gwang-il malah duduk di depan nenek Bong-ae dan menyodrkan kue untuknya sambil berkata: “Selamat malam, Nenek! Lama tak bertemu. Aku penasaran bagaimana kabar Nenek atau apa Nenek masih hidup atau tidak. ..”


“KELUAR!” teriak Ji-an

“Memang aku ada melukai nenekmu? Dia juga nanti bakal mati sendirinya. Lucu sekali, karena aku malah bertemu denganmu.. padahal, hari ini.. adalah hari peringatan kematian ayahku. Sekaligus, hari.. disaat cucunya nenek membunuh ayahku! Kata orang, hidangan upacara pemakaman sebaiknya harus dibagikan. Tapi aku tak tahu harus bagi-bagi makanannya ke siapa. Makanlah ini... dan hiduplah selama mungkin... agar cucu Nenek bisa menderita selama mungkin. Makanlah!”


Diam-diam, Ji-an berniat untuk menghantam kepala Gwang-il. Tapi dia gagal, karena Gwang-il berhasir menghindar,

“Kau ini kenapa sebenarnya? Haruskah ayah dan putranya juga memiliki hari peringatan kematian yang bersamaan?!” teriak Gwang-il, yg kemudian menghajar Ji-an secara membabi buta


Beberapa saat kemudian, terlihat Ji-an yg duduk sendirian diluar, dalam kondisi lusuh dan wajah lebam.

Dia tak mengeluh.. atau bahkan menangis sedikit pun. Dia hanya diam, dan berulang-kali mendengarkan rekaman suara Dong-hoon yg menyebutnya sebagai orang yg baik..


Dong-hoon dipanggil tim audit dan diinterogasi terkait sikap mencurigakannya, yg disinyalir berkaitan dengan Joon-young.

“Apa yang Anda lakukan setelah pulang dari kantor Kamis lalu? Anda sepertinya menelepon orang semalaman. Siapa yang kau telepon? Manajer Park Dong Hoon?”

“Apa menggunakan telepon perusahaan melanggar aturan perusahaan?”


“Kami menerima laporan... bahwa Anda tengah mencaritahu tentang CEO Do Joon Young. Bukankah Anda memeriksa nomor yang ada di riwayat panggilan CEO semalaman? Kami sudah menerima laporannya, tapi kami tidak punya bukti. Agak meragukan kalau terus menyelidiki, dan agak... meragukan juga mau berhenti sekarang, tapi... Jika kabar ini tersebar, kedua belah pihak akan terluka. Orang-orang akan bertanya-tanya apa si CEO Do terlibat dalam korupsi. Kenapa bawahannya mencoba menyelidikinya? Apa si Manajer Park Dong Hoon... berbuat begini karena dia marah juniornya sekarang jadi bosnya? Kenapa dia begitu putus asa untuk menyingkirkannya? Orang-orang akan terus bergunjing seperti itu. Jika ada yang Anda temukan, beritahulah kami. Jadi, apa ada yang Anda temukan? Katakan saja...”


“Orang waras mana yang mau memberitahu rahasia... tentang CEO pada Tim Pemeriksaan Internal padahal Tim Pemeriksaan Internal bekerja di bawah kendali CEO..” jawab Dong-hoon dengan santai


Direktur Yoon melaporkan investigasi tim audit terkait gerak-gerik mencurigakan Dong-hoon. Namun Joon-young bersikap santai dan tak terlalu menghiraukannya..

Padahal momen ini, bisa dimanfaatkan oleh Joon-young untuk memecat Dong-hoon. Tapi Jon-young menolak, “Jika kita terus menyudutkan dia seperti ini, malah kita yang kelihatan seolah kita yang melaporkan hal ini. Janganlah bertindak yang  menimbulkan kesalahpahaman. Biar Tim Pemeriksaan Internal saja yang mengurusnya...” jelasnya


Di depan lift, Dong-hoon sempat berpapasan dengan Joon-young.. tapi tak ada interaksi apa pun.. hanya saja, suasananya terasa lebih ‘panas’ diantara mereka


Ji-an diminta untuk mengopy beberapa dokumen.. dia bersedia melakukannya, karena itu memang tugasnya. Namun sikap dan gaya bicaranya, membuat dia terlihat seperti seseorang yg sangat kasar dan terpaksa untuk melakukannya..


Tak lama kemudian, Deputi Kim minta diambilkan kertas. Karena tangannya sibuk mengurus pekerjaannya, Ji-an membuk laci kertas menggunakan kakinya. 


Hal tersebut memicu kesalahfahaman yg sangat fatal, hingga membuat Deputi Kim emosi dan membentak Ji-an dihadapan pegawai lainnya.

“Beraninya kau buka laci itu pakai kakimu! Hei, kau pikir kau bisa seenaknya begini?! Beraninya karyawan kontrak bertingkah di depan karyawan tetap?!” teriaknya


Bersamaan dengan itu, Dong-hoon datang.. melihat insiden barusan, dia pun memanggil dua orang pegwainya untuk berbicara dengannya di rooftop.

Si pegawai wanita tak bisa berlama-lama disana, karena masih ada dokumen penting yg mesti dia urus. Namun sebelum pergi, dia sempat meminta Dong-hoon untuk segera memberikan teguran atau sanksi tegas kepada Ji-an yg tingkahnya sangatlah tidak sopan pada pegawai lainnya..


Tapi si pegawai pria.. kelihatannya punya pemikiran yg berbeda. Dia pun menceritakan kejadian saat Ji-an menampar Deputi Kim, di acara makan malam kantro tempo hari..

“Deputi Kim mengira dia ditampar karena dia meludahi makan malam staf...”

“Siapa yang dia ludahi?”

“Dia tidak meludahi siapa pun, sebenarnya. Dia cuma meludah di mangkuk nasi”

“Terus, siapa yang menampar dia?”

“Lee Ji-an menampar deputi Kim dengan sangat keras, Tapi, saat itu, yang lain sudah pada pulang karena mereka mabuk. Jadi tidak banyak orang yang lihat. Tapi menurutku dia menamparnya karena perkataan Deputi Kim...”

“Memang apa yang dia katakan?”


Beberapa saat berlalu.. kini siang berubah jadi malam, dan saatnya para pekerra pulang kantor. Dong-hoon melihat Ji-an yg tengah berdiri menunggu subway.

Di menghampirinya dan lansgung bertanya: “Apa yang dia katakan sampai kau menamparnya? Bisa-bisanya kau menampar orang?”


Ji-an diam saja, maka Dong-hoon lanjut mencecarnya dengan banyak pertanyaan: “Orang hanya saling menampar muka di drama TV! Pikirmu menampar itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata? Kenapa kau menamparnya? Apa dia menghinamu? Atau menggodamu? Kenapa kau menamparnya!”

“Karena dia menghinamu! Dia bilang jika dia jadi kau, dia pasti sudah berhenti, dan menurutnya sulit bekerja pada atasan yang menyalahgunakan kekuasaan. Dan katanya, situasi ini bukan salahnya si Do Joon Young, tapi salahnya Manajer Park-nya yang payah...” tutur Ji-an


Mendengar jawaban itu, membuat Dong-hoon tak bisa komentar apa pun. Karena subway-nya telah tiba.. mereka pun naik, dan pada momen tersebut, Dong-hoon benar-benar terdiam seribu bahasa~~~


Pada waktu yg bersamaan, Deputi Kim sedang minum di kedai bersama dengan pewagai lainnya. Dia pun kaget dan seakan tak percaya, ketika mengetahui perkataan yg keluar dari bibirnya di malam itu..


Sesaat kemudian, ada panggilan masuk dari Dong-hoon, “Aku dengar semuanya.. Alasan, kenapa mukamu sampai ditampar!”

“Soal itu. Aku tidak begitu ingat, tapi...”

“Jangan katakan kau tidak tahu, sialan. Katakanlah kau menyesal! Katakanlah 10 kali, sekarang juga!”

Maka detik itu juga, Deputi Kim berteriak.. mengucap kata maaf serta menambahkan kata ‘aku menyayangimu’ di akhir kalimatnya. Nampaknya dia memang sangat menyesali apa yg dia katakan dalam kondisi mabuk itu..


Menutup telponnya, Dong-hoon kemudian berjalan menghampiri Ji-an dan berkata: “Semua orang juga saling menghina. Menurutmu mereka tak menghinamu, hanya karena kalian dekat? Manusia tidak sesederhana itu. Aku juga sering menghina orang di belakang mereka. Itu sering terjadi. Terus kita bisa apa? Aku bisa apa? Ini sangat memalukan...”

Sesaat terdiam, lalu Dong-hoon meminta maaf, “Ini semua memang salahku..” tuturnya pilu


Dia berjalan pergi, tapi sejenak berhenti untuk bilang: “Terimaksih.. karena telah menamparnya..”


Tak langsung pulang, Dong-hoon malah mengajak Ji-an minum dengannya di sebuah bar. Dong-hoon menjelaskan pendapatnya: “Jika kau mendengar orang menghina orang lain... kau jangan kasih tahu ke orang yang dihina. Pura-pura saja kau tak mendengarnya. Mungkin untuk orang-orang seumuranmu, wajar bertingkah seperti itu. Tapi untuk orang dewasa tidak begitu. Lebih sopan berpura-pura kau tidak mendengar. Jika kau terlanjur kasih tahu ke orang yang dihina... orang yang diberitahu olehmu malah akan mulai menghindarimu. Karena sulit berada di dekat orang yang melihat betapa rapuhnya dirimu. Dan kau akhirnya tidak ingin melihat mereka...”


Beberapa saat berlalu, suasana sangat hening karena mereka sebiuk menikmati minumannya. Hingga tiba-tiba, Dong-hoon bilang: “Asal tak ada orang yang tahu, itu tak jadi masalah. Hal-hal seperti ini bukan masalah besar...”


“Kalau begitu... orang yang dihina akan terus merasa ketakutan, kalau diluaran sana ada seseorang yg mengetahuinya. Mereka selalu penasaran apa ada orang yang tahu. Dan, setiap kali kau bertemu orang baru... kau akan bertanya-tanya, 'Berapa lama lagi sampai mereka tahu?', atau ‘apa mereka sudah tahu?’. Terkadang... aku berharap aku bisa menayangkannya di papan reklame LED... agar semua orang di dunia bisa melihat. Daripada harus hidup dalam ketakutan seperti itu selama sisa hidupku...” tutur Ji-an sambil membayangkan berita mengenai kasus pembunuhannya dipertontonkan di monitor yg dipasang di gedung perkantoran di tengah pusat kota


[Lee Ji An, pembunuh: menikam seseorang menggunakan pisau...]


“Aku akan berpura-pura tidak tahu. Apapun yang kudengar tentangmu... aku akan berpura-pura tidak mendengarnya. Jadi, berjanjilah. Kalau kau akan berpura-pura tidak mendengarnya....” ucap Dong-hoon, “Aku takut.... karena aku merasa kau tahu segalanya tentangku...” tambahnya
Advertisement


EmoticonEmoticon