4/15/2018

SINOPSIS My Mister Episode 6 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 6 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 6 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 7 Part 1

Di pagi hari, Yoo-ra mendatangi kantornya Ki-hoon dengan membawa beberapa cemilan. Dia berkeliling sambil terus-terusan menunjukkan senyuman manis di wajahnya.


Di kemudian duduk di depan Ki-hoon, “Aku biasanya tidak keluar jam segini. Saat musim dingin, setelah matahari bersinar, aku cuma bangun sebentar. Tapi belakangan ini, aku bangun jam 8 pagi. Aku dulu menderita sekali sampai rasanya ingin mengubur diri dalam salju. Ini sungguh menakjubkan!!! Rasanya seakan ada musim semi di dalam hatiku. Duduk disini seperti ini... membuatku merasa seolah aku orang yang istimewa. Bagaimana mengatakannya, ya? Rasanya seolah aku di sini menyaksikan kehancuran orang yang hebat. Seseorang yang dulunya hebat... walau dia harus hancur... dia tetap kelihatan keren...” tuturnya dengan wajah yg berseri-seri


Sang-hooon merasa ada yg tak beres, maka dia pun pamit keluar.. meninggalkan Ki-hoon dan Yoo-ra berduaan saja..


Daritadi hanya diam, tiba-tiba Ki-hoon melayangkan sebuah pertanyaan mengejutkan: “Kau belum pernah dipukul sama pria, ya?”

“Tak pernah sekali pun...”

“Kau pasti mengira aku ini orangnya baik hati. Padahal aku yakin kau tahu persis orang macam apa aku ini! Jika kau nanti akhirnya sukses sebagai aktris, dan duduk di sini sekarang... aku maklum. Aku akan mendengarkan semua hinaanmu terhadapku. Salahku karena tak bisa merekrut aktris yang mumpuni. Tapi kau... tidak berhasil. Jika kau aktris hebat... kau juga pasti berhasil kalau bekerja dengan sutradara lain! Tapi kau sungguh seorang aktris yang tak becus. Dan sekarang, beraninya kau menyalahkanku karena ketidaksuksesanmu? Kau terus mengatakan kau gagal karena aku... tapi sebenarnya aku yang gagal karena kau! Dan orang-orang terus membicarakanku... kalau aku bahkan tidak bisa menyelesaikan satu film.... dan aku menyebabkan kerugian pada rumah produksi! Kau tahu berapa tahun aku menderita karenanya?”


Dikatai seperti itu.. bukannya sedih, Yoo-ra malah tersenyum dan bilang: “Maaf..”

“Jangan tersenyum!” bentak Ki-hoon


Yoo-ra berjalan keluar, dia sempat menyapa Sang-hoon yg tengah mengambil kopi dari mesin otomatis. Namun Ki-hoon langsung menerikinya: “Jangan berani-beraninya datang ke sini lagi!”

“Kenapa kau seperti itu sama seorang wanita? Dia 'kan tak ada niat jahat...” ujar Sang-hoon


Tim audit menjelaskan laporan beserta hasil investigasi terkait Dong-hoon. Tapi.. seluruh insiden yg belakangan ini terjadi, membuat Presdir penasaran.. mengapa Joon-young, seolah begitu ingin memecat Dong-hoon.. serta mengapa Dong-hoon ingin mencari-cari ‘boroknya’ Joon-young...

Orang-orang, mungkin mengira ini semua karena masalah suap 50 juta won, tempo waktu itu.. namun presdir, merasa ada hal lain yg belum diketahui olehnya.


Presdir berpapasan dengan Dong-hoon, maka dia pun mengajaknya bermain golf bersama. Namun dengan sopan, Dong-hoon menolak ajakan tersebut.. karena dia tak bisa bermain golf dan bisanya cuman bermain sepakbola..

Sayangnya... kondisi presdir, tak memungkinkannya untuk bermain sepak bola. Tapi asistennya bilang, dia masih kuat untuk main voli kaki.

“Baiklah.. biarkan aku berlatih dulu, nanti kuhubungi lagi kau..”


Tak lama kemudian, Joon-young tiba dan dia lansgung berdiri di samping presdir.. mengantarnya keluar, sambil berbicara mengenai perkemahan dan kayu bakar..

Presdir: “Kapan kita pergi? Hari ini?” 

Joon-young: “Jangan hari ini, tapi bagaimana kalau besok saja” tanya 


Dong-hon mendengarnya.. maka dia langsung ingat, kalau malam kematin istrinya bau kayu bakar.


Direktur Yoon, memanggil Dong-hoon keruangannya. Kelihatannya, dia mencoba untuk memperingati Dong-hoon supaya tidak terlalu ‘besar kepala’ hanya karena presdir bersikap baik padanya. Padahal seperrtinya, dia bersikap seperti itu, hanya karena perasaan irinya~


Pulang kantor, Dong-hoon mampir ke apotek untuk memebeli obat..


Dia sempat menelpon Yeon-hee untuk bertanya kapan dia pulang dan mengajaknya makan malam bersama. Tapi Yeon-hee bilang, dia sudah makan.. dan dia pulang terlambat karena pekerjaan.


Padahal seperti biasa.. jam segini, Yeon-hee sedang bersama dengan Joon-young di hotel.

Joon-yong bertanya: “Kau yakin Dong Hoon Sunbae akan mengundurkan diri?”
“Memangnya kenapa?”

“Aku cuma tanya saja. Dia sepertinya bukan orang yang akan berhenti begitu saja...”


“Jadi menurutmu dia akan menulis surat pengunduran dirinya sekarang? Ini saja belum seminggu sejak kita membicarakannya. Ada banyak hal yang harus disiapkan jika dia mau buka usaha. Dia sebentar lagi pasti akan mengundurkan diri. Jadi, jangan bertindak aneh-aneh!”

“Kau pasti masih sangat mencintai Dong Hoon Sunbae. Dari suaramu, aku bisa tahu. Aku jadi kesal dengarnya”

“Jika dia dipecat secara tidak adil, dan memutuskan... bertindak hal jahat, apa yang akan kaulakukan? Inilah pilihan terbaik bagi kita semua. Jangan khawatir. Dia pasti akan segera berhenti...”


Di klub, Yooo-ra berkumpul besama dengan teman-temannya. Yg kelihatannya sangat bahagia melihat kehidupan Ki-hoon yg kini melarat dan menderita.

Awalnya, Yoo-ra hanya diam.. tapi tiba-tiba dia berdiri dan berteriak kesal: “Hentikan! Akulah yang menderita, bukan kalian!”

“Kita semua juga menderita!”

“Akulah yang paling menderita karena dia... makanya kita semua kemari karena aku, 'kan! Agar kalian bisa menghiburku! Tiap kali kita bertemu, yang kalian lakukan malah cuma menghina bajingan itu. Meski begitu, pria itu... pernah berhasil! Sedangkan kalian? Dasar kalian sampah!!!!”


Yoo-ra kemudian berjalan menuju kantornya Ki-hoon. Disana, dia hanya duduk di tangga depan, karena tak dibukakan pintu.. pada usara sangat dingin, malam itu.


Sang-hoon melihatnya, dan dia menyuruh Ki-hoon untuk menemui Yoo-ra. Tapi Ki-hoon menolak, dia malah sibuk menghubungi para klien-nya yg belum membayar jasa mereka.

“Bairkan saja.. ia itu, memang hobinya cari perhatian. Jika aku memedulikannya, dia pasti datang lagi kesini!” ujar Ki-hoon


Meski berkata demikian, namun pada akhirnya Ki-hoon keluar untuk menemui Yoo-ra, “Pulanglah, sebelum kutelpon polisi!”

Mengabaikan ancaman itu, mata Yoo-ra malah berkaca-kaca.. sambil dia bercerita: “Kuharap masa AI (artificial inteligence = kecerdasan buatan), segera tiba.. AI pasti sangat jago aktingnya. AI pasti paling mudah belajar dan mengerti. Dan AI pasti akan menjadi pengacara, hakim, dan dokter terbaik. Jika dunia menjadi tempat dimana tak ada manusia... yang sok hebat dalam hal apa pun... dan tidak perlu bersikap sok seperti itu... hidup kita semua pasti akan begitu bebas. Dan semua manusia hanya...  mencintai orang lain saja. Aku sangat muak dengan dunia ini... yang penuh dengan orang yang sok hebat. Aku memang tidak pandai dalam hal apa pun  dan rasanya aku ingin mati! Tapi aku ingin datang kesini saja!”


Tak memberi komentar apa pun, Ki-hoon malah mengambilkan kopi dari mesin untuk Yooo-ra, “Kau mau kopi hitam,  atau kopi susu?” tanyanya

Yoo-ra tak menjawab, dan dia malah menangis terisak~


Yeon-hee pulang kerumah.. dia kaget melihat Dong-hoon yg pulang lebih awal, tapi kemudian dia melihat bungkus obat, “Pantesan.. karena kamu sakit ternyata.. 

“Kau sudah makan malam?” tanya Dong-hoon

“Sudah...” jawab Yeon-hee, yg kemudian membahas tentang bunga bank, “Kalau kau ada waktu, kita bisa pergi ke bank sama-sama...” ajaknya


Esok paginya, Dong-hoon naik bus dan berhenti di daerah pegunungan. Dia berjalan lumayan jauh..


Hingga akhirnya.. dia sampai, ditempat dimana Joon-young tengah menyiapkan tungku api bersama dengan presdir~~
Advertisement

1 comments:

Lanjut mbk....pengen meluk dong hoon....


EmoticonEmoticon