4/26/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 10 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 10 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 10 Part 1

Bo Young meminta air matanya berhenti mengalir, karena ia terus membuat Myung Cheol salah paham. Ia lalu melihat pasien pria tua yang sebelumnya ia tangani. “Ayah, hentikan,” pinta putranya karena ayahnya terus memaksa berlatih berjalan.


Bo Young membantu pasien itu berlatih dan mengatakan bahwa dia tidak bia mengabaikan pasien yang bekerja keras seperti itu. Ia mendampingi pasien berjalan sambil memberikan arahan.


Putra pasien meminta maaf karena menyita waktu Bo Young di luar waktu terapi. Bo Young bilang itu tidak lama, jadi tidak masalah. Ia juga merasa kagum dengan pasien yang bekerja keras padahal pasti sangat kesulitan. Ia menebak pasien pasti sangat mencintai istrinya.


“Ya.. tidak sekalipun mereka bertengkar. Mereka…sungguh sangat akur,” kata pasien itu sambil menahan tangisnya. Bo Young bingung. “Sebenarnya… ibuku sudah meninggal.” Bo Young sangat terkejut. “Saat kecelakaan, ayah langsung tidak sadarkan diri sehingga tidak mengetahuinya. Dan sebenarnya, ibuku meninggal di tempat.”


Bo Young sangat terkejut, sampai tidak bisa bicara apa-apa. Sedangkan, pria itu tidak bisa menahan tangisnya lagi.


Bo Young yang akan kembali ke departemennya mengingat lagi perkataan putra pasien tadi, “Jika ayahku tahu ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil yang beliau sebabkan, aku tahu beliau akan shock dan merasa bersalah. Jadi aku belum sanggup memberitahunya. Aku tidak tahu bagaimana beliau akan mengatasi perpisahan menyedihkan ini.”


Bo Young melihat pasien tadi berlatih berjalan sendirian menyusuri dinding. Ia menangis.


Yoon Joo mengajarkan Dae Bang cara turun dari kasur ke kursi roda dan juga sebaliknya. Dae Bang berlatih beberapa kali.


Dan ketika akan naik dari kursi roda ke kasur, celana Dae Bang sobek. Dae Bang dan Yoon Joo sangat terkejut.


“Suara apa itu? Kalian tidak mendengar sesuatu?” tanya Shi Won pada Shi Eun dan Yoon Hee yang kebetulan lewat. Mereka berdua tidak mendengar apapun.


Yoon Joo melepaskan jas lab-nya lalu menggunakannya untuk menutupi sobekan di celana Dae Bang. Ia berbisik dan meminta Dae Bang tenang saja, karena tidak ada orang lain yang melihatnya. Dae Bang pun melanjutkan terapinya.


Setelah selesai, Dae Bang mengembalikan jas lab Yoon Joo dan berterima kasih hari ini. Yoon Joo bertanya apa maksudnya. “Saat aku buang angin, aku bahkan merasa baunya sangat menjijikan, tapi kau menahan diri sehingga aku tidak merasa malu. Kau juga menutupi pakaianku yang sobek. Padahal kau juga tidak memiliki perasaan positif padaku, jadi aku sungguh tersentuh. Terharu? Tersentuh? Terharu? Tersentuh?” kata Dae Bang.


Yoon Joo bilang tidak penting mau terharu atau tersentuh, karena wajar bagi pasien buang angin atau menyobekkan celana selama sesi terapi dan sudah tugasnya untuk membantu pasien agar tidak merasa malu. Perawat datang untuk membawa Dae Bang kembali ke ruang rawatnya.


Dae Bang merasa Yoon Joo sangat keren, ketika memaki jas lab-nya kembali. “Wah, aku tidak pernah mengira dia begitu profesional dalam pekerjaannya,” batin Dae Bang.


Bo Young akan kembali ke ruangannya untuk mengambil payung, tapi ia berpapasan dengan Jae Wook. Mereka saling menatap, tapi kemudian Bo Young memberi salam, lalu berjalan pergi.


“Woo Seonsaengnim,” panggil Jae Wook dan Bo Young menoleh. Mereka kembali bertatapan.


Rupanya Jae Wook mengajaknya bicara lagi. “Maafkan aku, Woo Seonsaengnim. Aku sudah dengar soal Kepala. Kau pasti sangat antusias akan menjadi pegawai tetap, jadi saat tahu itu tidak akan terjadi, kau pasti mengalami masa sulit. Tapi aku justru memperburuk situasinya.”


“Tidak. Cepat atau lambat aku tetap akan mendengarnya. Sejujurnya, aku ingin pura-pura tidak terjadi apapun, namun aku tidak bisa menahan diriku. Tapi, mulai sekarang aku tidak akan berpura-pura, tetapi benar-benar mencoba semuanya baik-baik saja,” kata Bo Young sambil tersenyum.


Bo Young bilang ada orang di luar sana yang kehilangan orang yang mereka cintai yang sudah hidup bersama sekian lama, jadi masalahnya tidak ada apa-apanya. Ia bilang ia akan mengakhirinya. “Jadi, jangan memperlakukanku dengan baik mulai sekarang. Jangan menyemangatiku saat aku kesal dan jangan menghiburku saat aku kesulitan. Kumohon.” Bo Young lalu pergi.


“Hanya Ada Hujan Setelah Kau Pergi oleh Yeo Rim.”


“Hanya ada hujan setelah kau pergi.”


“Gerimis berubah menjadi hujan deras.”


“Dan aku membayangkan dirimu.”


“Duduk di dalam bus dengan ekspresi kekecewaan di wajahmu.”


“Aku merasa hatiku menjadi sakit.”


“Ada saat dimana seseorang tidak dapat dihibur dengan kata-kata.”


“Aku duduk melamun.”


“Sembari menatap keluar jendela.”


“Dan bahkan saat aku menutup mataku sebagaimana saat aku lelah.”


“Sebagian dari kesadaranku justru menjadi semakin jelas.”


“Hanya ada hujan setelah kau pergi.”


“Di setiap sudut jalan dimana aku melepasmu.”


Advertisement


EmoticonEmoticon