4/05/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 3 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 3 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 3 Part 3

Yoon Joo merasa Jae Wook sedang membalas dendam pada mereka, karena sudah menggosipkannya. Shi Won setuju dan mengatakan bahwa Jae Wook bukan hanya mesin pemberi saran, melainkan juga ahli membalas dendam. Ia juga menyindir Jae Wook yang menyukai Bo Young yang tidak bergosip tentangnya.


Yoon Joo menyadari bahwa selama ini Bo Young bekerja lebih keras dari mereka. Ia juga bilang pasti berat bagi Bo Young untuk bekerja sama dengan seseorang yang sudah menolaknya. Nam Woo langsung tersedak. Sedangkan Shi Eun dan Yoon Hee menertawakan Bo Young. Shi Won lalu mengajak Nam Woo dan Min Ho pergi bersamanya.


Di taman, Shi Won mengatakan bahwa bekerja di runag sakit sangat berat. Ia bilang jika Nam Woo dan Min Ho tidak ingin disingkirkan, maka ada sesuatu yang harus ditanamkan dalam hati mereka. Ia meminta mereka menebaknya.


Nam Woo: “Semangat?”
Shi Won: “Bukan.”
Min Ho: “Pemikiran baru.”
Shi Won: “Bukan, bukan.”


“Berapa lama kalian bisa bertahan kalau tidak tahu apa-apa begitu? Hal yang harus kalian tanamkan dalam hati selama hidup dalam lingkungan ini adalah kartu kredit,” kata Shi Won sambil menunjukkan kartu kreditnya. Nam Woo dan Min Ho heran. “Apa kalian akan menggunakan uang tunai setiap kali keluar untuk melepaskan stress? Cukup gesekkan saja kartu ini! Istriku bekerja di perusahaan kartu kredit. Bagaimana kalau kalian mendaftar? Aku punya formulirnya di mejaku.”


Mereka bertiga menoleh dan terkejut ketika mendengar suara, “Aku akan ambil satu.” Shi Won buru-buru menyimpan kartu kreditnya.


Ternyata itu adalah Myung Cheol yang sebelumnya ternyata sudah memperingatkan agar Shi Won tidak menjual kartu kredit pada peserta pelatihan. Shi Won bilang ia hanya ingin membantu istrinya.


Min Ho memperhatikan mereka dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Nam Woo lalu mengajaknya pergi.


Myung Cheol bertanya kenapa Shi Won tidak bekerja saja di perusahaan istrinya. “Aku tidak bisa mengisi formulir pengajuan kartu kredit, tapi aku bisa menuliskan surat pengunduran diirmu. Ikut aku!’ kata Myung Cheol. Shi Won mengejarnya dan terus meminta maaf.


Nam Woo dan Shi Won sempat merasa kalau mereka harus memiliki kartu kredit agar bisa bekerja disana. Mereka lalu bertemu Bo Young. Nam Woo bertanya kenapa ada serangga di sepatu Bo Young. “Serangga! Serangga! Aku benci serangga melebihi apapun di dunia ini!” kata Bo Young sambil mengibas-ngibaskan sepatunya.


Nam Woo membantu Bo Young dan ternyata itu hanyalah stiker yang sebelumnya Bo Young berikan pada pasien anak yang menangis. Bo Young kesal dan menarik baju Nam Woo karena sudah mengejutkannya.


“Hei. Hei! Buayanya bisa copot!” kata Nam Woo lalu melepaskan tangan Bo Young. “Maafkan aku,” kata Nam Woo kepada buayanya. Ia lalu bicara lagi pada Bo Young, “Kau tahu betapa keluargaku menderita setelah kami bangkrut 10 tahun lalu. Kami mematikan lampu tepat pukul 8 malam untuk menghemat listrik, jadi kondisi mataku bruuk.”


Min Ho kesal karena lagi-lagi Nam Woo mengungkit masalah kebangkrutan keluarganya. Ia lalu bertanya apa yang dilakukan Bo Young.


Bo Young baru saja mengipaskan tangannya untuk mengusir air matanya. Ia bilang ia jadi sedih saat mendengar cerita Nam Woo. Ia juga meminta maaf, karena mengungkit kenangan menyakitkan Nam Woo. “Semangatlah,” kata Bo Young dan Nam Woo mengangguk. Bo Young lalu pergi.


Min Ho heran karena Bo Young bisa sedih seperti itu padahal sebelumnya sangat histeris. Nam Woo bilang ia tidak tahu kalau emosi Bo Young sangat labil. Min Ho merasa Bo Young memiliki humor tubuh dan reaksi yang bagus.


Di lorong rumah sakit, Min Ho menyapa Joo Yong. Tapi Joo Yong bilang tidak mengenal mereka dan langsung pergi. Min Ho menahannya dan mengingatkan bahwa mereka berada di tim yang sama di universitas. Ia lalu menyuruh mereka tidak menyebut Universitas Woosung lagi.


Joo Yong melihat sekeliling, lalu mengatakan bahwa tidak ada seorang pun disana yang tahu kalau Joo Yong kuliah disana. Ia lalu masuk ke toilet dank arena penasaran, Min Ho dan Nam Woo mengikutinya.


Min Ho bertanya apa Joo Yong semalu itu dengan kampusnya. “Tentu saja. Kampus itu benar-benar sampah. Aku berakhir disana karena kondisiku kurang sehat saat ujian masuk. Tapi takdirku yang sebenarnya bukan di kampus sampah itu,” kata Joo Yong setelah menuci tangannya.


Nam Woo bilang Joo Yong masih sesombong dulu. Min Ho berkata, “Benar. Dia bahkan mengatakan pada semua orang kalau dia akan masuk kampus ternama dan berhenti kuliah. Jadi, sekarang kau seorang dokter? Kami disini sebagai peserta pelatihan di Departemen Fisioterapi.”


Joo Yong mengatakan iya, lalu mengangkat buku soal TOEIC-nya. Tapi Nam Woo mengambil buku itu dan menemukan bahwa Joo Yong adalah seorang Radiografer. “Kau bahkan berhenti kuliah untuk jadi Dokter. Kau masuk lagi tanpa sepengetahuan kami?” tanya Min Ho.


Joo Yong: “Tidak, aku masuk kembali mengambil program Sarjana.”
Min Ho: “Kenapa buang-buang uang?”
Joo Yong: “Program Diploma tidak akan berhasil jika aku ingin menjadi professor. Sarjana adalah standarnya. Bagaimanapun, mulai sekarang, jangan sok kenal denganku.”


Setelah Joo Yong keluar dari toilet, Min Ho bilang bahwa Joo Yong masih saja menjengkelkan. “Ya. Itu sebabnya kenapa semua orang di kampus membencinya. Dia bahkan tidak punya teman,” kata Nam Woo. Min Ho bilang itu tidak aneh, siapa juga yang mau berteman dengan Joo Yong. Mereka lalu tos.


Dae Bang ternyata ada di dalam bilik toilet dan mendengarkan pembicaraan mereka bertiga tadi. “Apa? Selain orang buangan di tempat kerja, teman pun dia tidak punya? Benarkah Joo Yong Joo Yong kami penyendiri? ” katanya dalam hati.


Dae Bang kembali ke ruangannya dan menemukan Joo Yong sedang belajar. Ia kemudian duduk dan membaca komentar di forum yang ia ikuti. Ia bilang ia mengikuti forum itu agar tidak menganggu Joo Yong. Ia bertanya pada forum itu pakaian kerja mana yang cocok untuknya. Tapi komentar yang Dae Bang dapatkan malah ‘Kenapa tidak mengganti wajahmu saja dulu?’ ‘Itu benar. Wkkk.’ ‘Setuju’ ‘Aku sepakat dengan komentar pertama wkkk.’


Dae Bang heran kenapa mereka harus mengkritik wajahnya. “Haruskah kucari dan kuhajar mereka?” kata Dae Bang sambil berdiri. Lalu ia duduk lagi dan berkata, “Atau tidak?” Ia berdiri dari lagi, “Haruskah?!” Kemudian duduk lagi, “Tidak? Harus? Tidak? Harus?”


Joo Yong bertanya kenapa Dae Bang bertanya kepada komunitas soal itu dan bukannya pada teman. Ia juga bertanya apa Dae Bang punya teman. “Ya, ada beberapa,” kata Dae Bang.


Mereka sama-sama saling berpikir bahwa rekannya adalah orang buangan di tempat kerja dan tidak punya teman. Mereka saling mengasihani satu sama lain. 


Joo Yong: “Malangnya Dae Bang sunbae.”
Dae Bang: “Malangnya Joo Yong Joo Yong.”
Joo Yong + Dae Bang: “Sangat memilukan!”


Jae Wook memberitahu Myung Cheol bahwa ia akan berpartisipasi dalam Seminar Staf untuk menunjukkan bagaimana seharusnya dilakukan. Myung Cheol memberitahu bahwa Shi Won-lah yang akan menjadi pematerinya, jadi menyarankan agar Jae Wook pergi bersamanya. “Aku sudah memeriksa materi Park Seonsaeng. Kau menggarisbawahi Pelatihan Nyeri Punggung bawah dengan sangat tebal,” kata Jae Wook.


Shi Won bilang ia tidak tidur sepanjang malam karena menyiapkannya. Jae Wook bertanya buku apa yang Shi Won gunakan sebagai referensi latihan. Shi Won berpura-pura batuk, padahal tujuannya adalah untuk meminta bantuan Bo Young.


Bo Young membisikkan judul bukunya beberapa kali, baru Shi Won dapat mendengarnya. “Kisner and Colby,” kata Shi Won kepada Jae Wook.


Jae Wook, Myung Cheol, dan bahkan Yoon Joo menyadari bahwa ada yang aneh. Jae Wook lalu bertanya kenapa Shi Won bertanya kepada Bo Young untuk menjawab pertanyaannya tadi.


Shi Won bilang ia sangat sibuk, jadi ia meminta Bo Young untuk mengumpulkan materinya. Ia terkejut karena Jae Wook menginginkan Bo Young saja yang menyampaikan seminarnya. Ia ingin menolak.


Jae Wook: “Boleh aku memberimu saran?”
Shi Won: “Tidak.”
Jae Wook: “Akan tetap kulakukan. Jangan menyepelekan Seminar Staf. Bagaimana kalau seseorang bertanya kepadamu? Kau akan mencari Woo Seonsaeng lagi?”
Myung Cheol: “Setuju. Park Seonsaeng ambil alih jadwal terapi Woo Seonsaeng hari ini.”


Bo Young sangat terkejut sekaligus senang, ketika Jae Wook memanggilnya untuk mendiskusikan materinya. Sedangkan Shi Won sangat gelisah, karena Myung Cheol menyuruhnya datang ke ruangannya.


Myung Cheol marah karena sebelumnya Shi Won menyerahkan pekerjaannya kepada Bo Young dan sekarang untuk Seminar Staf, Shi Won juga melakukan hal yang sama. Shi Won meminta maaf. Tadinya Myung Cheol berpikir Shi Won izin tidak hadir dalam makan malam tim untuk menyiapkan malahnya. Ia bertanya apakah malam itu Shi Won sibuk menjual kartu kredit. “Tidak. Hanya saja, ada banyak hal yang harus kukerjakan di rumah,” kata Shi Won.


“Ah, begitu? Kalau begitu, kenapa kau tidak menjadi pengurus rumah tangga dan kerjakan semua pekerjaan rumah saja?” kata Myung Cheol. Shi Won terkejut. “Aku tidak bisa menuliskan makalah untukmu, tapi aku bisa menuliskan surat pengunduran diri untukmu.”


Shi Won merebut amplop itu dan mengakui kesalahannya. Myung Cheol ingin mengambilnya kembali. “Tidak, aku tidak akan menulis surat pengunduran diri,” kata Shi Won sambil memakan amplopnya. Tapi Myung Cheol dengan tenang mengambil amplop baru dan menulis lagi. “Kepala..”


Nam Woo merasa Shi Won akan dimarahi habis-habisan. Min Ho bilang Shi Won pantas mendapatkannya, tapi ia heran kenapa Bo Young terus terlibat dengan hal seperti itu dan mengikuti semua permintaan Shi Won. “Kau tahu betapa baiknya dia. Dia sulit menolak permintaan orang lain. Tapi bukankah kau tahu benar soal itu?” kata Nam Woo.


“Mana mungkin aku tahu tentang itu?” tanya Min Ho. Nam Woo heran dan bertanya bagaimana bisa Min Ho tidak tahu.


Lima tahun lalu Bo Young mengingatkan Min Ho tentang pertemuan kelompok mereka esok hari. Ia juga mengatakan bahwa anak-anak lain marah, karena Min Ho tidak pernah datang. Ia meminta Min Ho datang dengan sudah membawa bagian tugasnya yang sudah lengkap.


Min Ho: “Ah, aku sudah menyelesaikannya.”
Bo Young: “Benarkah?”
Min Ho: “Tentu tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku masuk kesini karena orang tuaku menekanku,  jadi aku bahkan tidak tahu apa yang kupelajari disini. Aku tidak bisa membiasakan diri disini. Hari demi hari terasa seperti neraka.”


Bo Young sedih dan mengusir air matanya. Bo Young mengatakan bahwa situasinya hampir sama dengan Min Ho. Dia juga kesulitan menyesuaikan diri karena sebelumnya mempelajari seni liberal. “Jadi aku tahu benar perasaanmu. Aku akan membantumu, Min Ho,” kata Bo Young. Min Ho sangat senang.


Di pertemuan kelompok, ketua kelompok meminta anggotanya untuk memberikan materinya dan dia akan menyatukannya di Power Point. Ketika Min Ho memberikan tugasnya, Nam Woo merebutnya dan merasa heran karena Min Ho mengerjakannya.


Min Ho berterima kasih karena Bo Young sudah membantunya. Bo Young menyemangati Min Ho dan berkata bahwa dia akan terus membantu Min Ho. “Sungguh? Kalau begitu, bisakah kau membantuku juga dengan laporan fisiologi manusia? Aku mencoba mengerjakannya sendiri, tapi tidak mengerti apa-apa  soal itu,” pinta Min Ho.


Malam harinya, Min Ho malah bermain game online di warnet tempat Nam Woo bekerja paruh waktu. “Hei, bukankah kau harus menyelesaikan laporan fisiologi manusia?” tanya Nam Woo sambil membawakannya ramen. Min Ho bilang ia sudah menyelesaikan tugasnya.


Sementara itu di perpustakaan, Bo Young sibuk mengerjakan tugas Min Ho.


“Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau sungguh tidak tahu kalau Bo Young tidak bisa menolak permintaan orang lain?” tanya Nam Woo kesal. Min Ho sepertinya merasa bersalah, tapi ia tidak suka jika Nam Woo mengungkit itu.


Comments


EmoticonEmoticon