4/06/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 PART 1

SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 3 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 Part 2

Bo Young tidur dengan sangat nyenyak. Dan saat terbangun, yang pertama dicarinya adalah ponsel. Ia meraba-raba kasurnya, tanpa  membuka matanya. Karena tidak juga menemukannya, Bo Young terpaksa membuka matanya dan berhasil menemukan ponselnya di lantai.


“Haaah... apa ini?” kata Bo Young dan langsung sadar sepenuhnya. Ia melihat pesan terakhir yang dirimkannya. ‘Kau dengar yang kukatakan kepadamu sebelumnya? Aku menyukaimu, Yee Jae Wook.Itu karena puisi ini mengingatkanku kepadamu’.


Bo Young mengingat kejadian semalam dengan Jae Wook. Ia membaca pesannya lagi, ‘Ye Seonsaengnim, kau bagaikan musim semi yang mencarikan kehidupanku yang beku’.


Bo Young tertawa nelangsa saat menyadari ia mengirimkan beberapa puisi kepada Jae Wook. Puisi itu berjudul ‘Musim Semi Sudah Tiba karena Dirimu yang Hangat’ Bagian 1 dan 2 karya Kim Nam Kwon dan  ‘Kisah Musim Semi’ karya Ok Pil Gyun. Tapi kemudian dia menangis dan memukul kepalanya sendiri. “Aku seharusnya mati saja,” gumamnya.


Bo Young mengguling-gulingkan badannya di kasur, lalu Yoon Joo datang dan mengatakan bahwa semalam Bo Young sangat antusias tentang Barisan Ye. Bo Young masih diam saja, walau Yoon Joo menyemprotkan parfum di atas kepalanya.


A Poem A Day – Episode 6 – Berdiri Berdekatan


Sementara itu, Jae Wook yang akan berangkat kerja mengetik pesan balasan untuk Bo Young. ‘Woo Seonsaeng..” Kemudian ada panggilan masuk, tapi Jae Wook menolaknya.


Ia kemudian menerima pesan dari seorang wanita, ‘Aku memimpikanmu semalam. Aku menghubungimu karena merindukanmu’. Jae Wook menghapus pesan itu dan berangkat ke kantor> ia tidak jadi mengirim pesan balasan untuk Boo Young.


Sesampainya di Rumah Sakit, Yoon Joo mengeluh perutnya sakit. Ia menyuruh Bo Young pergi duluan, sedangkan dia akan pergi ke toilet di lantai bawah terlebih dulu.


Bo Young penasaran kenapa Jae Wook belum merespon pesannya. Tapi kemudian ia melihat Jae Wook keluar dari mobilnya.


Bo Young langsung bersembunyi di belakang pilar dan Min Ho melihat kejadian itu. Min Ho lalu berdiri tepat di sebelah Bo Young.


Bo Young terkejut sampai terjatuh. Min Ho bilang reaksi Bo Young memang luar biasa. Bo Young kesal, tapi Min Ho tidak peduli dan malah bertanya kenapa Bo Young menghindari Jae Wook. “Bukan urusanmu. Jangan ikut campur!” larang Bo Young. Nam Woo berkata ia akan menanyakannya sendiri pada Jae Wook


“Seonsaengniiim...” kata Min Ho dan berakting akan mengejar Jae Wook. Bo Young menariknya dan mengatakan bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Ia juga melarang Min Ho melakukan sesuatu, lalu pergi. “Ada apa ini? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat?” gumam Min Ho. “Hm.. aha!”


Saat keluar dari ruang ganti, Bo Young menerima catatan yang bertuliskan, ‘Ini Ye Jae Wook. Mari kita bicara di atap. Aku ingin memberimu beberapa saran terkait kesalahanmu semalam’. “Bagaimana ini? Dia sepertinya marah,” batin Bo Young sambil menggerakkan kakinya gelisah. “Haruskah aku minta maaf? Bagaimana? Bagaimana?”


Di atap, Bo Young masih menggerakkan kakinya gelisah dan menggigit kukunya. “Boleh aku memberimu saran?”


Bo Young langsung membungkuk meminta maaf dan mempersilakan Jae Wook memberikannya sarannya. Ia juga meminta maaf, tapi kepala Bo Young malah dipegang. Bo Young merasa apa yang dilakukan Jae Wook itu tidak lazim. Ia lalu mengangkat kepalanya.


Ternyata itu adalah Min Ho yang kemudian melepaskan tangannya dari kepala Bo Young. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. Ia bertanya seburuk apa kesalahan Bo Young sampai membungkuk seperti itu. Ia lalu mengakui bahwa ialah yang menulis pesan itu, bukannya Jae Wook.


Bo Young bertanya kenapa Min Ho mempermainkannya, padahal sebelumnya mereka sudah sepakat untuk saling mengabaikan. Min Ho beralasan bahwa sayang jika ia mengabaikan seseorang yang memiliki reaksi tubuh dan ekspresi yang lucu, jadi dia memutuskan untuk menjadi lebih dekat dengan Bo Young.


Bo Young: “Lupakan saja.”
Min Ho: “Kau yang lupakan. Aku sudah memutuskan untuk bersahabat denganmu. Tapi, lebih baik kau tidak menyukaiku lagi. Kalau kau mengirimiku puisi lagi, aku akan melaporkanmu sebagai penguntit.”
Bo Young: “Kenapa kau begitu membenci puisi?”


Min Ho bilang ia lebih memilih surat biasa, karena puisi membuatnya merinding. Ia juga berpesan agar Bo Young tidak mabuk lagi dan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, karena itu sangat menjengkelkan. Ia lalu pergi.


“Apakah kemarin aku menunjukkan dua sisiku yang menjengkelkan padanya?” batin Bo Young khawatir. “Barisan Ye, omong kosong. Saatnya kau muncul si cengeng Bo Young.” Ia mengusir air matanya lagi.


Saat mengganti pakaiannya Joo Yong baru menyadari bahwa ada bekas luka di dadanya, karena perkelahiannya dengan Dae Bang semalam.


Yang terjadi setelah saling menjambak rambut adalah Dae Bang ragu untuk memukul Joo Yong atau tidak. “Aku akan benar-benar memukulmu. Kupukul? Tidak? Kupukul? Tidak?” ujarnya. Sementara Joo Yong terus minta dilepaskan.


“Dae Bang Dae Bang si menjengkelkan Dae Bang sunbae itu pasti melakukan ini padaku,” batin Joo Yong. “Tapi aku tetap bersalah karena berkelahi dengan seniorku. Aku harus minta maaf leih dulu,” katanya.


Joo Yong menyapa Dae Bang, tapi Dae Bang bersikap tidak peduli dan berkata, “Halo Han Joo Yong Seonsaengnim?” Joo Yong heran karena tidak biasanya dae Bang memanggilnya seperti itu. “Kupikir, insiden kemarin adalah akibat dari caraku memperlakukanmu selama ini. Jadi, aku memutuskan mulai sekarang untuk membangun jarak antara kita.”


Dae Bang bilang dengan begitu, Joo Yong tidak akan berlaku seperti kemarin lagi. “Kau bukan lagi anakku Joo Yong Joo Yong, hanya Han Joo Yong Seonsaengnim,” kata Dae Bang.


Joo Yong mengaku bersalah, karena terlalu sensitif. Ia bahkan mengakui kalau dia itu orang buangan, tidak punya teman, jomblo abadi dan mengajak Dae Bang mengakuinya juga. Dae Bang berdiri dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak masuk kategori itu, dan jika dijelaskan Joo Yong akan tahu bahwa dia hanya salah paham.


Bo Young kecewa, ketika Jae Wook berjalan melewatinya, tapi mengabaikannya begitu saja.


Praktek pagi selesai, dan semuanya sangat senang. Tapi kemudian Shi Won menegur Min Ho karena lupa menyeterilkan alat. Ia memberitahu bahwa dengan nilai praktek yang bagus, maka Min Ho bisa saja bekerja di rumah sakit mereka. “Aku akan melakukannya sekarang,” kata Min Ho lalu pergi.


Shi Won bilang ia ingin menendang pant*t Min Ho dan heran bagaimana nanti Min Ho bisa mendapatkan pekerjaan jika terus bertingkah seperti itu. “Dia mungkin akan mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ayahnya,” kata Nam Woo yang membuat Shi Won dan Yoon Joo melotot karena terkejut. “Ayahnya adalah direktur cabang ke sepuluh Rumah Sakit Semangat.”


Shi Won bilang secara teknis berarti Min Ho adalah pewaris konglomerat dan dia sangat iri pada Min Ho. “Aku juga. Pantas saja dia kelihatan santai. Aigo.. bisa kulihat dia tidak peduli dengan nilai yang didapatnya,” kata Yoon Joo.


Shi Won kemudian menyebut Bo Young sangat ambisius, karena berani mendekati putra direktur rumah sakit. Dia ingin memaki Bo Young, tapi Yoon Joo langsung mengangkat kakinya ingin menendang Shi Won. “Kubunuh kau!” kata Yoon Joo.


Di kantor, Nam Woo mengeluhkan parfum murahan yang dipakai pasien terakhir tadi sudah membuatnya sakit kepala. Yoon Joo bertanya tahu apa Nam Woo soal parfum. “Sebenarnya, keluargaku tiga kali lebh kaya dari keluarga Min Ho, sebelum bangkrut 10 tahun lalu. Aku terbiasa dengan parfum mahal, jadi kepalaku pusing saat menghirup parfum mawar murahan,” kata Nam Woo,


“Parfum mawar? Bukankah Kim Seonsaengnim bilang menyukai parfum mawar?” tanya Shi Won dan Yoon Joo ingin memukulnya. Nam Woo bilang tidak mungkin Yoon Joo memakai parfum murahan dan menghampirinya.


Nam Woo langsung menutup hidungnya, ketika menghirup parfum di tubuh Yoon Joo. “Kau mau aku menghajarmu sampai pingsan?” ancam Yoon Joo. Nam Woo melepaskan pegangan hidungnya. “Min Ho mungin tidak mendapat penilaian bagus dari kami, tapi kau juga ikutan. Kau tidak mau bekerja disini? Kau sungguh dalam masalah besar!” Nam Woo meminta maaf, lalu pergi.


Shi Won yang sejak tadi tertawa berkata bahwa sebelumnya Yoon Joo melarangnya memarahi peserta praktek, tapi sekarang Yoon Joo malah melakukannya. Yoon Joo bilang ia berbeda, karena Shi Won marah karena tidak bisa mengontrol emosinya, sedangkan dia sedang mengajarkan tata krama.


“Ah, aku romantis, orang lain erotis. Kentut besar, kentut kecil. Seorang psiko atau omong kosong!” kata Shi Won smabil menggoyangkan tubuhnya. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Yoon Joo sama saja dengan yang dia lakukan, tapi Yoon Joo tidak pernah mengakuinya. Shi Won tertawa terbahak-bahak, lalu pergi.


Di kafetaria saat makan bersama, Bo Young diam-diam memperhatikan Jae Wook yang sedang makan.


Ketika Jae Wook memergokinya, Bo Young langsung memakan supnya dengan terburu-buru. Min Ho memperhatikan itu, dan dia hanya menggeleng-gelengkah kepalanya.


Myung Cheol mengingatkan bahwa besok mereka akan melakukan kerja sukarelawan di desa di gunung. Desa itu tidak punya rumah sakit, jadi akan ada banyak lansia yang jarang mendapatkan perawatan. Ia mengajak anggotanya untuk memberikan perawatan semaksimal mungkin. Myung Cheol bertanya siapa yang akan Jae Wook ajak untuk kunjungan rumah.


Shi Won yakin Jae Wook akan mengajak Bo Young. “Boleh aku memberimu saran? Jangan berasumsi. Barisan Ye tidak pernah ada,” kata Jae Wook lalu pergi.


Bo Young khawatir, sedangkan Min Ho terlihat senang. Myung Cheol bertanya kenapa Shi Won bicara seperti itu. “Kemarin dia menjaga Woo Seonsaeng dengan sangat baik Ada apa dengannya hari ini?” kata Shi Won. Yoon Joo juga menanyakan hal yang sama pada Bo Young.


Myung Cheol akhirnya memerintahkan Shi Won untuk pergi bersama Jae Wook sedangkan yang lainnya akan tetap di pusat bersama Yoon Joo, dan peserta pelatihan akan dibagi tugas. Bo Young memukul-mukul kepalanya.


Bo Young berjalan dengan murung di taman dan tidak sengaja bertemu dengan Jae Wook. Ia memberanikan diri menyapanya. Jae Wook menoleh.


Bo Young meminta maaf atas kejadian kemarin. Dia bilang dia jadi antusias dan banyak minum karena mendengar orang lain menyebutnya Barisan Ye. Dan itu juga menyebabkan dia mengganggu Jae Wook dengan mengirim pesan sepanjang malam.


Jae Wook: “Boleh aku memberimu saran?”
Bo Young: “Apa?”
Jae Wook: “Silakan langsung ke intinya.”
Bo Young: “Oh ya.. Mulai sekarang, aku tidak akan membuat kesalahan dan hanya akan menunjukkan sisi baikku.”
Jae Wook: “Ya, lakukan. Aku permisi.”


Setelah Jae Wook pergi, Min Ho datang dan bertanya apa yang terjadi. Min Ho mengatakan bahwa sangat menjengkelkan saat Bo Young mabuk dan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia bilang dia tidak menguping, hanya saja suara Bo Young terlalu keras. Ia juga bilang bahwa ia sudah tidak sabar untuk melihat sisi baik Bo Young.


Min Ho lalu pergi. “Tahan...tahan... Aku harus menunjukkan sisi baikku saja, sesuai janjiku,” gumam Bo Young pada dirinya sendiri agar tidak marah. 

1 komentar


EmoticonEmoticon