4/07/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 4 Part 3

Kepala Departemen MRI memberitahu Dae Bang bahwa Yoon Seonsaeng yang seharusnya menjadi sukarelawan besok ayahnya sakit, jadi Dae Bang harus pergi dengan orang lain. Ia bilang Dae Bang bisa pergi bersama Joon Yong.


Joon Yong mengiyakan. “Tidak, tidak. Aku akan meminta orang lain,” kata Dae Bang. Kepala menyerahkan keputusannya pada Dae Bang lalu pergi.


Sesampainya di kantor Dae Bang bingung harus mengirim pesan secara pribadi atau di grup. Akhirnya Dae Bang mengirim pesan ke grup dan bertanya siapa yang akan ikut dan dia akan pergi bersama orang yang pertama merespon. Joon Yong juga menerima pesan itu, tapi ia tidak berani membalas.


“Apa? Apa mereka semua sibuk? Kenapa mereka membaca tapi tidak merespon?” gumam Dae Bang karena tidak juga ada balasan. Padahal rekan satu departemennya saling mengirim pesan di grup lain tanpa Dae Bang dan Joon Yong.


“Ada apa dengan Kim Dae Bang? Percaya diri sekali dia?”
“Iya, kan? Siapa coba yang mau pergi bersamanya?”
“Dia akan langsung bersikap tegas begitu naik ke bus. Haruskah aku duduk dekat jendela? Atau kursi pinggir? Jendela? Pinggir? Jendela? Pinggir?”


Kemudian Dae Bang menerima pesan balasan di grup yang malah menggosipkannya. “Hong Shik, disini adalah grup dimana Kim Dae Bang Seonsaeng termasuk anggota’. Hong Shik lalu meminta maaf pada Dae Bang. Dae Bang kecewa.


Joon Yong berkata bahwa dia akan pergi dengan Dae Bang. “Kalau kau bersikeras, aku tidak akan melarang,” kata Dae Bang lalu pergi. Joon Yong merasa kasihan karena Dae Bang mendapat konfirmasi lain bahwa dia adalah orang buangan.


Nam Woo sedang belajar, ketika ada tetesan air dari atap, semakin lama tetesan airnya semakin banyak. Ia kemudian menemui pengurus asrama.


Pengurus asrama mengingatkan bahwa ruang cuci berada tepat di atas kamar Nam Woo, oleh karena itulah sewanya hanya setengah harga dan dulu Nam Woo sangat senang. “Aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi dalam dua bulan,” keluh Nam Woo.Pengurus asrama mempersilakannya pindah dan bersedia mengembalikan uang Nam Woo.


Akhirnya, Nam Woo memakai payung di kamarnya dan menampung tetesan air di kasurnya. “Ah, apa yang akan kulakukan meskiuangnya dikembalikan? Uangnya tidak banyak. Memangnya aku bisa pindah kemana?” keluh Nam Woo. “Kami punya kolam renang pribadi 10 tahun lalu. Aku harap kamar ini tidak menjadi kolam renang. Ah, hanya dua bulan. Dapatkan pekerjaan, Kim Nam Woo.”


Keesokan harinya, Yoon Joo baru saja bangun tidur, tapi Bo Young malah sudah mempersiapkan sandwich untuk smeua orang karena menurutnya semua orang tidak akan sempat sarapan. Yoon Joo menepuk-nepuk pant*t Joo Yong dan menyebutnya anak pintar. “Ah, aku harap Ye Seonsaengnim juga akan berpikrian positif tentangku,” batin Bo Young.


Joo Yong menyapa Dae Bang dan Dae Bang membalasnya dengan sangat formal, lalu masuk ke bus lebih dulu. Joo Yong penasaran kapan Dae Bang akan memaafkannya.


Melihat Nam Woo menggigil, Min Ho menyuruhnya istirahat saja, tapi Nam Woo menolak karena ia bisa mendapat kesempatan menjadi pegawai magang jika mendapat nilai bagus. Ia melarang Min Ho mengatakan pada yang lain jika ia sakit.


Shi Won mengeluh lapar dan Yoon Joo memberitahu bahwa Bo Young sudah menyiapkan sandwich yang membuat mereka sangat senang. Mereka semua kemudian masuk ke dalam bus.


“Itukah maksudnya dengan menunjukkan sisi baik? Aih, dia terlalu kentara.” batin Min Ho yang naik ke bus paling belakang.


Bo Young bilang ia tidak tahu bagaimana rasanya, tapi ia membuatnya dengan tulus. Ia lalu membuka tempat makannya dan terlihat shock.


Myung Cheol merebut tempat makannya dan menemukan bahwa yang Bo Young bawa malah tepian roti sisa pembuatan sandwich. Beberapa orang menertawakannya dan Bo Young meminta maaf.


“Kau bilang hanya akan menunjukkan sisi baikmu? Apa-apaan ini?” bisik Min Ho. Bo Young memintanya menutup mulut. “Tutup mulutmu!” kata Min Ho menirukan ucapan Bo Young. Bo Young lalu memukul kepalanya.


Nam Woo meminta tukar tempat duduk karena sangat dingin duduk di dekat jendela. Ia beralasan bahwa dulu ia terbiasa dengan jaket buatan Swiss.


Yoon Joo bilang Nam Woo dalam masalah besar, karena mudah kedinginan. Shi Won juga mengatakan hal yang sama.


Di rest area, Bo Young menyapa Jae Wook dan menawarkannya kopi, tapi ternyata Jae Wook sudah membawa kopi sendiri. Bo Young kecewa dan bergumam, “Hari ini bukan hari keberuntunganku. Sama sekali bukan.”


Jae Wook menerima pesan yang sepertinya membuat kesal dari wanita yang sama dengan sebelumnya. ‘Jae Wook, aku akan berpisah dengan orang itu. Aku ingin mulai lagi denganmu’. Ia menghela napasnya.


Dae Bang melihat banyak makanan dan bingung harus memilih yang mana. Ia kemudian melihat Shi Won dan menyebutnya teman. Tapi Shi Won sama sekali tidak mengingat siapa Dae Bang. Ia berusaha mengingat nama Dae Bang tapi terus saja salah.


Dae Bang memberitahu siapa namanya dan mengingatkan bahwa dulu Shi Won bahkan menangis di dada Dae Bang saat bercerita tentang istrinya yang berselisih dengan ibunya. Shi Won terkejut dan mengatakan bahwa dia pasti sangat mabuk saat itu dan meminta Dae Bang melupakannya, lalu pergi.


“Dia bahkan tidak punya teman. Kenapa harus bekerja keras begitu?” kata Joon Yong heran. “Dia harusnya mengakui saja sepertiku. Dia sangat memilukan.”


Min Ho menyapa Joon Yong, tapi Nam Woo mengingatkan bahwa Joon Yong melarang mereka melakukan itu. Mereka lalu pergi begitu saja. “Ya, benar. Aku tidak butuh teman seperti kalian!” kata Joon Yong kesal “Lihat, kan? Tidak ada yang salah dengan tidak memiliki teman. Mereka hanya menjadi beban.”


Sesampainya di lokasi, mereka langsung memasang tenda, spanduk dan mempersiapkan peralatan terapi.


Bo Young sengaja membawa barang berat di depan Jae Wook agar Jae Wook melihat hal baik yang dia lakukan. Min Ho menyadari hal itu, tapi Jae Wook tidak peduli. “Kau meman bekerja keras,” sindir Min Ho.


Min Ho dengan sengaja menyandung kaki Bo Young, sehingga Bo Young jatuh tepat di pangkuan Jae Wook yang sedang mengecek data.


“Sampai kapan kau bertahan di posisi itu?’ tanya Jae Wook. Bo Young langsung bangun dan meminta maaf. Bo Young kemudian memberi kode pada Min Ho agar mengikutinya.


Bo Young bilang ia akan membunuh Min Ho jika mempermainkannya lagi. Min Ho bilang Bo Young harus menunjukkan sisi baiknya dengan reaksi tubuhnya yang lucu. Bo Young kesal dan pergi.


Yoon Joo meminta Nam Woo mengangkat box besar, tapi itu terlalu berat untuknya. Ia bilang Nam Woo dalam masalah besar karena memiliki stamina yang lemah juga. “Benar, kau dalam masalah besar! Minggir!” kata Shi Won.


Shi Won berusaha mengangkat box-nya, tapi punggungnya malah keseleo. “Aigoo, punggungku,” keluh Shi Won. Nam Woo dan Yoon Joo sangat khawatir padanya dan membantunya berdiri. “Pelan-pelan!”


Shi Won duduk di kursi dan memakai alat bantu kesehatan di sekeliling perut dan punggungnya. Ia minta diberi terapi. “Kita di sini untuk memberi terapi pada masyarakat, bukan menerima terapi,” kata Myung Cheol. Shi Won memutar kursinya dan meminta maaf. “Park Seonsaeng kau di sini saja. Woo Seonsaeng pergilah dengan Ye Seonsaeng untuk kunjungan rumah.” Min Ho bilang ini kesempatan yang baik untuk menunjukkan sisi baik Bo Young.


Seorang kakek bernama Kim Yong Shik dan memaksa diperiksa. Ia tidak percaya saat Joon Yong mengatakan bahwa Yong Shik sudah diperiksa. “Sudah kubilang belum!” kata Yong Shik. Dae Bang lalu keluar dan bertanya apa yang terjadi. “Cepat lakukan!”


Seorang pria lain memberitahu kalau Yong Shik menderita demensia. Ia bilang Yong Shik belum menikah dan tinggal sendirian, putus komunikasi dengan adik laki-lakinya, tidak punya teman dan dia tidak dekat dengan tetangga. “Jadi dia itu pria menyedihkan yang tidak memiliki siapapun di sisinya. Biar aku yang membawanya pergi,” kata pria itu. Dae Bang bilang ia yang akan melakukannya karena Yong Shik mirip dengannya.


“Eun Shik. Kau adikku Eun Shik, kan?” kata Yong Shik ketika dia keluar lagi dari bus karena tidak juga diperiksa. Dae Bang kebingungan. “Benar. Kau adikku Eun Shik. Aku sangat ingin bertemu denganmu sebelum aku mati. Kau akhirnya datang.”


Dae Bang: “Ya, hyungnim. Maaf tidak menemuimu lebih awal, hyungnim.”
Yong Shik: “Kau menyesal?!” (memukul kaki Dae Bang dengan tongkatnya.”
Dae Bang: “Aigoo.. aigoo.. kenapa memukulku, hyungnim?”
Yong Shik: “Dasar berandal! Kau mencuri uangku dan kabur!”


Dae Bang melarikan diri dan Yong Shik terus mengejarnya. Semua pasien melihat mereka dengan heran, begitu juga dengan Joo Yong.


Comments


EmoticonEmoticon