4/19/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 7 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 7 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 7 Part 3

Keesokan harinya, Min Ho menggerutu karena di hari libur, dia malah harus membantu Jae Wook gara-gara Bo Young. Ia bingung karena seharunya Bo Young menyadari bahwa Jae Wook sama sekali tidak tertarik padanya.


Min Ho menoleh ke arah pintu asrama dan tampak terpesona dengan Bo Young. “Kenapa kau tercengang seperti itu? Kenapa? Aku terlihat sangat cantik jika berdandan? Jantungmu berpacu?” tanya Bo Young percaya diri.


Min Ho: “Ya. Sedikit berpacu.”
Bo Young: “Apa? ‘Tentu bercanda!’ Pasti begitu, kan?”
Min Ho: “Aku tidak bercanda. Jantungku memang berpacu sungguhan.”


Bo Young terkejut dan Min Ho berusaha menyangkal. “Itu karena kau kelihatan sangat jelek,” kata Min Ho berbohong. Apa-apaan make up dan gaun gila ini? Ye Seonsaengnim tidak tertarik padamu.” Bo Young lalu menceritakan apa yang semalam dikatakan Jae Wook kepadanya.


Di rumah sakit, Joo Yong mengeluh karena ia harus bertugas di akhir pekan. Dae Bang ternyata menceritakan kasusnya kemarin di forum radiologi dan ternyata banyak Seonsaengnim yang merasakan hal yang sama. Ia bilang ia akan membuat Pedoman 3 macam cara menghadapi pasien brengsek. 


Dae Bang bilang ia akan membuat pedoman respon atas tuduhan pelecehan seksual, lawan merendahkan dengan bicara informal dan menjadi sasaran tindakan kekerasan.


Jae Wook memulai praktek terapi kepada Bo Young yang menjadi model pasiennya, dan Min Ho berperan sebagai kameramennya. Lama-lama, Min Ho semakin tidak nyaman. Ia bahkan merasa seperti sedang membuat pengantin baru dan bukannya video terapi.


“Sebentar Ye Seonsaengnim. Aku tidak bisa merekam ini lagi,” kata Min Ho setelah mematikan kameranya. Jae Wook terkejut. “Maksudku, Bo Young tersenyum terlalu lebar. Hei, apa pasien akan tersenyum seperti itu kalau sedang kesakitan?”


Bo Young berbohong dan berkata kalau dia tidak tersenyum. Min Ho lalu memprotes make up yang dipakai Bo Young.


Min Ho lalu duduk di antara Jae Wook dan Bo Young. Ia bilang ia yang akan bersikap sebagai pasien, sedangkan Bo Young merekamnya. Jae Wook setuju. “Sana! Cepat sana!” usir Min Ho kepada Bo Young.


Bo Young merasa kesal.


Dae Bang mempraktekkan kalimat yang dia tulis di pedomannya untuk menghadapi pasien yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual.


“Wah, kau mengingat persis kata demi kata,” kata Joo Yong takjub. Dae Bang bilang sebelumnya harusnya ia mengatakan itu, lalu pergi. “Sampai kapan dia akan terobsesi seperti itu?”


Setelah selesai rekaman, Min Ho mengajak Jae Wook untuk minum karena dia tidak membawa mobil jadi dia akan minum banyak. Jae Wook bilang masih terlalu awal untuk minum, jadi dia mengajak mereka ke suatu tempat. Ia yakin Bo Young akan menyukai tempat itu.


“Aku akan menyukainya?” gumam Bo Young senang setelah Jae Wook masuk ke mobilnya. “Lihat, kan? Kau masih bilang dia tidak tertarik?” kata Bo Young pada Min Ho. Min Ho menggerutu bahwa seharusnya ia m engajak mereka makan saja tadi.


Bo Young akan duduk di depan, tapi Min Ho menghalanginya dengan alasan dia gampang mabuk darat. “Sialan,” gerutu Bo Young pelan.


Jae Wook ternyata mengajak Bo Young ke Museum Literasi Yoon Dong Joo. Ia tahu tempat itu dari internet semalam. Bo Young bilang ia sangat suka diajak kesana, karena dia baru tahu kalau museum literasinya sedekat itu. Jae Wook lalu menjauh untuk menjawab ponselnya.


“Kau senang? Kau tersenyum seperti orang sinting. Si cengeng Woo Bo Young, residivis cinta, mantan tahanan cinta,” ejek Min Ho. Bo Young kesal dan mengingatkan agar Min Ho tidak mengungkit masalah itu di depan Jae Wook. Jae Wook lalu mengajak mereka masuk dan Bo Young langsung menyusulnya. “Menggelikan sekali. Bagaimana kalau mereka akhirnya berkencan sungguhan?”


Jae Wook bertanya sejak kapan Bo Young menyukai puisi. “Setiap kali aku sedih atau mengalami kesulitan selama masa sekolah. Puisi membuatku terhibur,” jawab Bo Young. Jae Wook bilang ia juga merasa terhibur dengan puisi yang dikirimkan Bo Young.


Min Ho bilang ia malah terhibur dengan humor tubuh Bo Young. Bo Young panik. Min Ho lalu mengirimkan foto Bo Young kepada Jae Wook. Bo Young penasaran foto apa yang dikirimkan Min Ho. 


“Ini imut sekali,” kata Jae Wook yang sama sekali tidak diduga oleh Min Ho. Bo Young jadi senang. Min Ho bilang itu mengerikan. “Mengerikan apanya? Aku merasa ini imut. Setiap kali aku merasa sedih, aku akan melihat ini dan tertawa.”


Bo Young berbicara dengan imut dan minta agar fotonya dihapus. Jae Wook menolak dan menjauhkan ponselnya.


Min Ho melongo. Dia sudah salah langkah.


Di luar museum, Bo Young menangis setelah membaca Prolog karya Yoong Dong Joo. Ia bilang kehidupan Yoon Dong Joo amat memilukan dan merasa heran bagaimana dia bisa melewatinya. Jae Wook bilang Bo Young memiliki ikatan emosi yang kuat karena mudah menangis. Min Ho menyebut si cengeng Woo Bo Young yang terkenal dengan air matanya


Min Ho dan teman-teman yang lain memberikan kejutan ulang tahun untuk Nam Woo di tempatnya bekerja sambilan. Mereka semua setuju untuk pergi ke klub setelah jam kerja Nam Woo berakhir. Nam Woo bilang ia lupa hari ulang tahunnya, karena dia harus bekerja dan itu membuat Bo Young menangis.


Bo Young sedih karena Nam Woo sampai lupa hari ulang tahunnya sendiri karena sibuk bekerja. “Kalau aku saja sedih begini, bayangkan bagaimana ibumu, Nam Woo,” kata Bo Young. Min Ho bilang ini bukan pemakaman dan tidak seharusnya Bo Young membuat suasana menjadi suram.


Nam Woo menolak pergi ke klub. “Aku ingin menemuimu ibuku. Ibuku...” isak Nam Woo lalu buru-buru pergi. Min Ho kesal karena mereka gagal ke klub.


Min Ho juga menceritakan saat Bo Young menangis di hari pernikahan teman sekelas mereka.


Gara-gara menangis terlalu keras, semua orang berpikir bahwa Bo Young memiliki hubungan terlarang dengan mempelai pria. Min Ho bilang saat itu sangat kacau jadinya.


Jae Wook: “Aku sangat iri.”
Min Ho: “Apa? Anda iri?”
Jae Wook: “Ya. Aku tidak terikat dengan emosiku, jadi tidak bisa menangis. Aku merasa seolah aku akan sangat lega jika dapat menangis terisak sekali saja. Kupikir bagus karen Woo Seonsaengnim sering menangis.”


Min Ho tidak terima dengan pendapat Jae Wook dan bahkan menyebut Bo Young sebagai teroris. “Boleh aku memberimu saran? Jangan menyebut dia teroris. Aku iri padanya. Si cengeng Woo Bo Young Seonsaengnim,” kata Jae Wook yang lagi-lagi diluar dugaan Min Ho.


Bo Young tersipu karena Jae Wook menyebutnya seperti itu. Jae Wook bilang itu cocok dengan Bo Young, lalu pergi. Bo Young menjulurkan lidahnya pada Min Ho, lalu bergegas menyusul Jae Wook. Min Ho bertambah kesal.


“Kecemburuan karya Jung Ho Seung.”


“Rintik hujan hanya mencintai daun yang kering.”


Dalam perjalanan pulang di mobil, Jae Wook dan Bo Young sama-sama ingin menekan tombol yang sama. Mereka terkejut dan Bo Young langsung menarik jarinya dan tersipu. Jae Wook hanya tersenyum dan dia yang menekan tombolnya.


“Aku merasa sangat... sangat cemburu.”


“Hingga aku berbaring di atas dedaunan yang kering itu sampai hujan berhenti.” Puisi itu terdengar di radio yang didengarkan di dalam mobil. Kemudian penyiar mengatakan bahwa selanjutnya mereka akan mendengar lagu dari John Lennon yang berjudul ‘Jealous Guy’.


Bo Young merasa senang karena radio bahkan menghadiahi mereka dengan puisi. Jae Wook bilang ia juga merasa bahagia.


“Bahagia? Ada juga berisik sekali. Aku ingin minum alkohol. Kenapa juga sih kami harus pergi sejauh ini untuk minum?” batin Min Ho menahan kesal.


Min Ho menghabiskan bergelas-gelas anggur.


Bo Young menyiapkan makanan untuk Jae Wook yang kemudian menyebutnya sebagai sosok yang penuh perhatian dan selalu mempedulikan orang lain. “Anda benar! Bo Young ini nomor satu di Korea soal mempedulikan orang lain,” kata Min Ho yang sudah mulai mabuk. Ia juga bercerita saat Bo Young membuatkannya kimbap yang sangat besar, mencuci mobilnya, membuatkan makalah kuliahnya dan menuliskan puisi untuknya.


Jae Wook: “Kalian berdua pasti sangat dekat.”
Bo Young: “Ya, kami dekat. Makanya, aku menjaganya. Kami teman sedekat itu.”
Min Ho: “Lelucon apa itu?! Kita dekat? Tidak. Kami tidak pernah dekat. Tidak pernah. Bo Young memiliki cinta sepihak kepadaku. Bo Young bahkan menyatakan perasaannya kepadaku. Tapi, aku langsung menolaknya saat itu juga. Karena dia benar-benar bukan tipeku, aku langsung menolaknya.”


Bo Young kesal dan memprotesnya. “Kenapa, si cengeng Woo Bo Young? Kau residivis cinta. Mantan tahanan cinta. Aku sangat memben...” ucapan Min Ho terhenti karena dia tiba-tiba tidak sadarkan diri. Bo Young merasa malu, sedangkan Jae Wook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan meminum air esnya.


Bo Young mengucapkan terima kasih atas tumpangannya, lalu Jae Wook pergi.


Jae Wook memperhatikan Bo Young dari kaca spion mobilnya.


Setelah memastikan mobil Jae Wook sudah jauh, Bo Young memukul Min Ho dan menyebutnya sudah tidak waras, karena mengungkit masalah itu. Min Ho menahan tangan Bo Young yang akan memukulnya lagi. “Hei, jangan menyukai dia,” kata Min Ho. Bo Young bingung. “Kau tidak dengar? Jangan menyukai Ye Jae Wook.”


“Hei, Shin Min Ho. Apa sebenarnya yang kau..” ucapan Bo Young terhenti karena Min Ho tiba-tiba menariknya dalam pelukannya.


“Jangan menyukai dia.. Ye Jae Wook,” kata Min Ho.


Advertisement


EmoticonEmoticon