4/19/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 PART 1

SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 7 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 Part 2

A Poem A Day – Episode 8 – Titik Dimana Tidak Bisa Kembali


Jae Wook keluar dari apartemen dan akan pergi bekerja. Di dalam mobil, ia memikirkan saat Min Ho bercerita bahwa Bo Young pernah menyatakan cinta padanya, namun ia menolaknya.


Sementara itu di asrama, Min Ho merasa kepalanya sakit. Ia mengambil air minum, lalu bertanya bagaimana ia pulang semalam, karena ia tidak ingat apapun. Joo Yong dan Nam Woo kompak tertawa, dan membuat Min Ho bingung.


“Jangan menyukai Ye Jae Wook,” kata Nam Woo menirukan ucapan Min Ho semalam sambil memeluk Joo Yong dari belakang. Joo Yong lalu menirukan suara Bo Young dan minta dilepaskan. Ia lalu mendorong Nam Woo.


Nam Woo berkata, “Jangan menyukai Ye Jae Wook.” Ia dan Joo Yong tertawa terbahak-bahak. Min Ho bertanya apa yang mereka lakukan. “Apa lagi? Kami hanya mengulang adegan yang kau lakukan pada Bo Young semalam.”


Ternyata semalam, Nam Woo dan Joo Yong melihat apa yang dilakukan Min Ho pada Bo Young.


“Apa? Omong kosong!” kata Min Ho tidak percaya. Tiba-tiba dia meremas kepalanya, “Ah!” Joo Yong bilang sepertinya Min Ho sudah ingat apa yang terjadi semalam. Joo Yong bilang seharusnya Min Ho tidak melakukan itu, walaupun dia tahu apa alasannya.


Nam Woo tertawa lagi, “Benar. Kau jelas-jelas cemburu, Shin Min Ho. Kau menyukai si cengeng Woo Bo Young, kan?”


“Tidak! Aku tidak gila sampai menyukaimu,” kata Min Ho. Dia bilang dia melarang Bo Young menyukai Jae Wook agar Bo Young tidak terluka karena penolakannya. Bo Young masih marah karena Min Ho mengungkit masa lalunya, padahal sebelumnya ia sudah melarangnya.


Bo Young: “Lalu kenapa kau memelukku?”
Min Ho: “Itu... Itu... karena aku tidak bisa mempertahankan keseimbanganku. Bagaimanapun, aku minta maaf soal itu.”
Bo Young: “Baiklah, syukurlah. Aku sudah mengerti maksudmu, jadi jangan ikut campur dalam kehidupan cintaku lagi. Aku akan menghadapi penolakan maupun rasa sakit apapun yang menghampiriku.”


Bo Young pergi lebih dulu. “Wah! Baiklah! Lakukan semaumu!” teriak Min Ho.


“Apa-apaan itu?” gumam Yoon Joo bingung yang melihat sebagian kejadian tadi.


Bo Young melihat Jae Wook yang sudah ada di depan pintu lift. Ia merasa Jae Wook akan menganggapnya gampangan, jika ia menyatakan perasaannya. Ia sampai di depan lift dan mereka saling menyapa.


Mereka berdua masuk ke dalam lift dan Yoon Joo menyusul. Yoon Joo salah paham dan mengira bahwa Bo Young kembali menyukai Min Ho yang merupakan anak dari direktur sebuah rumah sakit. Ia terus mendesak Bo Young sampai menawarkan bantuan segala. “Sudah kubilang bukan begitu! Tolong hentikan!” pinta Bo Young. Yoon Joo terkejut.


“Boleh aku memberimu saran? Tolong jangan berisik di area publik,” kata Jae Wook. Yoon Joo mengiyakan, sedangkan Bo Young masih merasa malu.


Keluar dari lift, Yoon Joo menarik Bo Young dan memarahinya karena merasa dipermalukan di depan Jae Wook tadi. Ia tidak peduli saat Bo Young mengatakan bahwa sebenarnya Bo Young-lah yang dipermalukan. Ia juga sudah tidak mau dipanggil ‘unnie’ lagi oleh Bo Young.


Di pusat terapi, Bo Young berpapasan dengan Min Ho dan sempat terus-terus mengambil arah yang sama.  Bo Young lalu menghampiri Shi Eun dan Yoon Hee yang belum mengisi ulang sarung bantal sanitasi, tapi mereka tidak peduli dan bilang bahwa itu tidak darurat, serta sibuk dengan ponselnya. 


Tapi begitu Shi Won yang menyuruh, mereka langsung pergi untuk melakukannya. Shi Won bilang para pemagang itu tidak mau mendengarkan Bo Young.


“Jika kau tidak memperlakukan seniormu dengan benar, kau berharap diperlakukan sebagai senior oleh para juniormu? Sangat tidak tahu malu,” kata Yoon Joo sinis lalu pergi. Shi Won bertanya apa yang terjadi, tapi Bo Young bilang tidak ada apa-apa. Nam Woo menghampiri Shi Won dan mengajaknya kunjungan ke kamar rawat.


Shi Won menduga kalau Yoon Joo sedang marah pada Bo Young. Nam Woo juga menduga hal yang sama dan menduga pasti Bo Young mengalami masa sulit, karena tinggal di kamar asrama yang sama. Ia yakin Yoon Joo memiliki banyak uang, tapi ia heran kenapa Yoon Joo memilih tinggal di asrama.


“Dia kena tipu atas semua uangnya, saat berinvestasi di perusahaan peralatan medis yang direkomendasikan seniornya,” kata Shi Won. Nam Woo bertanya apakah penipunya sudah ditangkap. “Belum, tapi dia berjanji akan membunuhnya kalau sampai ketemu.”


Di lorong, Yoon Joo sangat senang saat seorang perawat bernama Seo menyapanya, karena mereka sudah lama tidak bertemu. Tidak jauh dari sana terliat seorang pria yang sebelumnya memperhatikan Yoon Joo di supermarket.


“Anda sudah memikirkan tentang investasi yang saya tawarkan? Oh, benarkah? Bagus. Kalau begitu, mari bertemu besok,” kata pria itu yang kali ini tidak melihat Yoon Joo.


Bo Young menghela napasnya setelah melihat jadwal terapinya yang begitu penuh. Bo Young meminta agar Yoon Joo menangani satu pasien saja, karena dia harus membaca ulang materi yang akan disampaikannya dalam konferensi siang nanti.


Yoon Joo bilang Jae Wook sedang sibuk, jadi dia yang mengatur jadwalnya. Tapi ia menolak untuk menangani pasien Bo Young karena dia bilang sebagai senior dia sudah berpikir keras untuk mengatur jadwalnya.


“Kusarankan kau mengubahnya. Sudah kubilang padamu untuk mengaturnya secara adil,” kata Jae Wook yang tiba-tiba datang. “Woo Bo Young Seonsaengnim memiliki 8 pasien, sedangkan Kim Seonsaengnim hanya 4. Tolong ambil alih pasien Park Yeon Soo.” Yoon Joo beralasan bahwa sangat sulit menenangkan anak-anak. “Kalau begitu, ambil alih pasien Choi Yoon Mi saja.” Yoon Joo bilang pasien itu sedang hamil, sehingga memerlukan penanganan ekstra. “Boleh aku memberimu saran?” Yoon Joo menolak. “Meski begitu, tetap kulakukan. ‘Jangan mencari tumpangan gratis’. Kau tidak bisa memilih pasien sesuka hatimu.”


Dengan kesal, akhirnya Yoon Joo bersedia mengambil alih pasien anak dan wanita hamil itu sekaligus. “Senang? Sudah puas?” katanya lalu pergi.


Bo Young meminta maaf karena sudah membuat masalah, lalu akan pergi. “Woo Seonsaengnim, maukah kau makan siang bersamaku nanti?” ajak Jae Wook. Bo Young bertanya apakah hanya akan ada mereka berdua. “Ya. Mari makan siang bersama nanti. Aku akan mentraktirmu makanan enak.” Bo Young setuju.


Ketika Jae Wook akan kembali ke area terapi, ia berpapasan dengan Min Ho yang terlihat canggung. Min Ho dan Nam Woo lalu memberikan jalan pada Jae Wook.


Nam Woo menduga ajakan makan siang Jae Wook adalah sebuah kencan. Min Ho bilang ia tidak peduli.Nam Woo tersenyum licik dan memeluk Min Ho dari belakang, lalu berkata. “Jangan menyukai Ye Jae Wook. Jangan makan bersamanya, si cengeng Woo Bo Young.” Min Ho sampai menyemburkan air yang ada di mulutnya dan berkata bahwa dia tidak menyukai Bo Young.


Jae Wook mengajak Bo Young makan di restoran dan menyuruhnya makan yang banyak. Bo Young bertanya apakah ada yang ingin Jae Wook katakan kepadanya. Jae Wook bilang tidak ada yan khusus dan bahwa dia hanya ingin menyemangati Bo Young yang terlihat sedang sangat kesal sejak Min Ho menceritakan kisahnya malam itu


Bo Young bilang Min Ho mengatakan hal yang tidak dia ingin sampai terungkap dan itu membuatnya kesal. Ditambah lagi Yoon Joo melihat mereka bertengkar pagi tadi dan menjadi salah paham. Ia berterima kasih karena Jae Wook sudah mencemaskannya.


Jae Wook bilang ia seakan melihat dirinya sendiri. Ia bercerita bahwa dia dulu bekerja di rumah sakit yang sama dengan kekasihnya, dan saat mereka berpisah, orang-orang mulai membicarakan mereka dan itu membuatnya stres.


Bo Young bilang ia tidak akan peduli pada staf yang membicarakannya. Tapi dia hanya tidak ingin orang yang ia sukai di masa depan menganggapnya gampangan karena pernah menyukai Min Ho sebelumnya.


“Boleh aku memberimu saran? Jangan khawatir tentang itu. Orang yang disukai Woo Seonsaengnim.. Bukan, orang yang akan kau sukai di masa mendatang akan tetap berpikiran positif tentang hari-harimu di masa lalu,” kata Jae Wook. Bo Young berharap orang yang disukainya, yaitu Jae Wook, juga akan berpikiran seperti itu.


“Oh, imutnya! Aku tidak tahu mereka membuat permen kapas seperti itu. Imut sekali,” kata Bo Young takjub lalu mengecek ponselnya. “Ini kepala. Tunggu sebentar.”


Setelah menerima telepon dari Myung Cheol yang minta segera dikirimkan sebuah file, Bo Young melihat bayangan seseorang di tanah. Bo Young menoleh.


“Wah, apa ini? Seonsaengnim membeli ini?” tanya Bo Young tidak percaya.


“Bukan untukku. Ini untuk Woo Seonsaeng,” kata Jae Wook sambil menyodorkan permen kapasnya. Bo Young terkejut dan tertawa senang. “Aku sudah bilang ingin menyemangatimu.”


“Untukmu karya Lee Jong Hwa.”


“Kau adalah segalanya.”


“Setiap langkah menuju kepadamu. Setiap lagu tercipta untukmu. Dan aku dibutakan oleh sinarmu.”


“Aku hanya dapat melihatmu di tengah kerumunan orang di pusat perbelanjaan. Aku melihatmu pada setiap bunga di sepanjang jalan.”


“Aku melihatmu dalam kopi yang hendak kuminum. Aku dapat membayangkan dirimu di sepanjang perbukitan dimana matahari terbenam.”


“Segala sesuatu di dunia ini sekarang tampak berbeda. Dan ‘menunggu’ tidak ada lagi dalam kamusku.”


“Aku selalu di dekatmu.”


Comments


EmoticonEmoticon