4/19/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 8 Part 3

Dae Bang terkejut saat mendengar dari temannya bahwa Jae Wook mungkin akan menjadi Kepala Pusat Terapi. Temannya bilang ia mendengar itu dari bagian HRD. Dae Bang mengkhawatirkan nasib Myung Cheol. “Mungkin dia harus mengundurkan diri. Kudengar Ye Seonsaengnim sudah menerima tawaran itu. Dan Direktur bilang dia juga bisa memilih staf sesuka hatinya,” kata teman Dae Bang.


Dae Bang semakin khawatir, karena itu berarti para staf juga tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada mereka. “Bagaimana nasib mereka?” gumamnya lalu pergi.


Myung Cheol dan Shi Won yang ternyata juga berada disana mendengar pembicaraan Dae Bang dan menjadi shock.


Dalam perjalanan kembali ke Pusat Terapi, Myung Cheol merasa kesal karena dia sudah mendedikasikan hidupnya disana tapi kemudian disuruh pergi begitu saja. Ia akan menemui Direktur, tapi Shi Won melarangnya karena hal itu belum pasti jadi kalau Myung Cheol bersikap gegabah bisa membuat kondisi semakin buruk.


Shi Won bilang itu mungkin saja tidak benar dan meminta Myung Cheol tidak mengkhawatirkannya. Ia bahkan bersedia meninggalkan rumah sakit bersama Myung Cheol, jika hal itu memang benar. Myung Cheol merasa terharu dan berpesan agar Shi Won tidak memberitahu staf lain.


Joo Yong baru saja mengantar pasien keluar setelah pemeriksaan. Ia kemudian melihat Dae Bang dan merasa penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh seniornya kali ini.


Dalam hatinya, Dae Bang ternyata sedang bingung antara harus memberitahu Shi Won tentang perubahan Kepala dan staf pemulihan atau tidak, karena beritanya masih belum pasti. Tapi di isi lain dia ingin memberitahu agar Shi Won bisa bersiap-siap.


Joo Yong mendekati Dae Bang dan bertanya ada masalah apa. “Tidak, bukan apa-apa. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Anakku Joo Yong, Joo Yong,” kata Dae Bang lalu pergi.


Sementara itu di Pusat Terapi, Yoon Joo sedang menangani Choi Yoon Mi yang tadinya harusnya diterapi oleh Bo Young. Pasien sedang hamil 28 minggu dan kakinya mengalami kecelakaan. Yoon Joo merasa khawatir karena pasien bahkan tidak boleh minum obat. Ia menjelaskan prosedur terapi bagi ibu hamil, lalu memulai terapinya.


Jae Wook baru saja selesai memberikan terapi pada pasien dengan nyeri punggung, sedangkan Min Ho dan Nam Woo merapikan slingnya. Ia bilang rasa sakit mengubah propriocetor dan mempengaruhi pergerakan pasien. Ia bertanya apakah Min Ho tahu apa itu Proprioceptor.


“Pro.. apa? Aku tidak tahu,” jawab Min Ho. Jae Wook melhat ke arah Nam Woo yang menjawab dengan benar bahwa maksudnya adalah reseptor. Jae Wook membenarkan Nam Woo dan menyebut Min Ho tidak tahu hal mendasar seperti itu. Jae Wook mengingat bahwa Min Ho telah membuat kesal Bo Young. Tiba-tiba ia memiliki ide untuk menanyakan IPK Min Ho.


Min Ho: “Apa? Itu...” (Min Ho menyebutkan angkanya, tapi amat sangat pelan)
Jae Wook: “Apa katamu? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas.”
Min Ho: “Ehem.. 1,8.” (dengan suara pelan)
Nam Woo: “Katakan dengan lantang kalau IPK-mu 1,8.”
Min Ho: “Hei, diam kau.”


Myung Cheol datang dan bertanya kenapa mereka ribut sekali. Min Ho bilang tidak ada apa-apa. “IPK Shin Min Ho Seonsaengnim akhir semester lalu 1,8,” kata Jae Wook. Myung Cheol heran apakah itu nilai IPK atau minus mata. Min Ho bilang tidak seharusnya Jae Wook bicara selantang itu. “Kenapa tidak? Kau kesal karena aku mengatakan sesuatu yang tidak kau tidak inginkan terungkap?”


“Aigoo.. Ye Seonsaengnim kukira hanya bagus dalam memberi saran, ternyata pintar menyindir juga. Bukan begitu?” tanya Myung Cheol pada Shi Won. Tapi Shi Won malah pergi begitu saja sambil fokus pada ponselnya.


Di toilet, Jae Wook bicara dalam hati, “Ye Jae Wook, boleh aku memberimu saran? Jangan ikut campur. Kau membalaskan dendam untuk Woo Seonsaeng? Hal yang barusan kau lakukan pada Shin Min Ho Seonsaeng tidak seperti dirimu.” Ia berbalik, tapi kemudian kembali menatap cermin dan bicara sendiri.


Jae Wook: “Ye Jae Wook, boleh aku memberimu saran lagi? Jangan menyesaliyang sudah terjadi. Kenyataannya bahwa Shin Min Ho memang bersalah. Boleh aku memberimu sar..”
Bibi CS: Maaf? Aku ingin memberimu saran. Tolong minggir agar aku bisa membersihkan cerminnya.”
Jae Wook: “Maafkan aku.”


Myung Cheol menghampiri Shi Won dan protes, karena tadi dia diabaikan. Dia merasa itu berarti Shi Won sudah mendukung calon Kepala baru. Shi Won bilang saat itu ia mendapat K-talk, tapi Myung Cheol tidak percaya dan mengecek ponsel Shi Won. Myung Cheol minta maaf ketika tahu bahwa Shi Won tidak berbohong. Ia bilang ia menjadi sensitif karena kabar itu dan Shi Won kembali memintanya agar tidak khawatir.


Myung Cheol berjalan membungkuk karena dia sedang tidak murung. “Berjalanlah dengan tegak,” nasehat Shi Won dan Myung Choel langsung menegakkan tubuhnya dan masuk ke ruangannya.


“Apa ini?” keluh Shi Won ketika membaca pesan dari Dae Bang yang terus berganti antara jadi bertemu atau tidak. “Dia ini aneh sekali.” Dae Bang kembali mengganti keputusannya. “Sialan! Dia pasti sudah tidak waras!”


Myung Cheol yang sensitif mendengar itu dan membuka pintunya. “Ah, aku barusan mendapat K-talk,” kata Shi Won sambil menunjukkan ponselnya.


Di halaman, Yoon Joo diajak makan siang bersama oleh Yoon Mi dan ibunya. Ia ingin menolak, tapi mereka duduk bersama. Yoon Joo akhirnya duduk bersama dan mengatakan bahwa makanannya seperti perjamuan karena menunya bermacam-macam.


Yoon Mi bilang suaminya yang membelikan itu. “Astaga, kelihatannya dia sangat peeduli pada Anda,” kata Yoon Joo ikut senang. Ibu Yoon Mi mengatakan bahwa menantunya sangat menyayangi putrinya sampai dia sendiri tidak bisa berkata-kata. “Aigoo.. hal baik kalau dia penyayang.”


Pria supermarket datang membawaair minum, tapi ia langsung bersembunyi ketika melihat Yoon Joo ada disana.


Bo Young sedang mengajari Nam Woo untuk melepaskan magent pada pasien yang sudah selesai menjalani terapi. Ia kemudian melihat hidung Nam Woo mimisan dan menyuruhnya menundukkan kepala.


Bo Young lalu membantu memasangkan tissue di hidung Nam Woo dan menyuruhnya beristirahat dulu. Nam Woo pergi. Bo Young melihat kapas yang ada di tangannya dan merasa itu seperti permen kapas. Ia emngingat kembali saat memakan permen kapas bersama Jae Wook.


Nam Woo kembali lagi dan bertanya kenapa Bo Young memakan kapas. Bo Young sadar dan mengeluarkan kapas dari mulutnya. “Apa? Aku tidak tahu,” kata Bo Young. Nam Woo berpesan agar Bo Young jangan sampai kehilangan kewarasannya, lalu keluar lagi.


“Ah, aku pasti gila. Gila. Kenapa aku memakannya?” gerutu Bo Young pada dirinya sendiri.


Yoon Joo memesan 1 Americano dan 2 jus kiwi di kafetaria.


Yoon Joo masuk ke kamar rawat Yoon Mi dan memberikan jus kiwi sebagai tanda terima kasih atas makan siangnya tadi. Ia melihat Bo Young juga ada disana dan ia masih bersikap sinis. Kemudian, pria supermarket datang. Ia masuk begitu saja, karena tidak melihat Yoon Joo sebelumnya.


Yoon Mi memperkenalkan pria supermarket itu yang ternyata ada suaminya. Yoon Joo dan pria itu tampak canggung, tapi kemudian mereka saling memberi salam. Yoon Joo ingin mengatakan sesuatu, tap kemudian dia menoleh ke arah perut Yoon Mi.


Bo Young melihat ke arah Yoon Joo dan suami Yoon Mi. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh.


“Kau sudah menikah lagi? Aku tidak tahu,” kata Yoon Joo. Pria itu meminta maaf karena membuat Yoon Joo berada dalam posisi seperti itu. Ia bilang istrinya kecelakaan, jadi ia membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia bilang ia tidak bermaksud menemui Yoon Joo lagi, karena Yoon Joo bilang padanya tidak mau bertemu dengannya lagi. “Tidak apa-apa. Aku lega kau bahagia. Istrimu kelihatannya baik.”


Pria itu bertanya apakah Yoon Joo sedang berkencan belakangan ini. Yoon Joo menggeleng. “Sudah tiga tahun sejak perceraian kita,” kata pria itu yang ternyata adalah mantan suami Yoon Joo. “Yoon Joo, kau juga... akan segera menemukan pria yang baik.”


“Ya, pasti,” kata Yoon Joo dengan senyum terpaksa, karena sebenarnya ia sangat sedih. “Aku pergi dulu.” 


Mantan suaminya memanggilnya lagi dan meminta Yoon Joo memberitahu alasannya kenapa dulu dia minta bercerai. Dia bilang dulu mereka tidak pernah bertengkar atau memilki masalah apapun, jadi dia pikir mereka sangat bahagia. Dia bilang dulu dia sangat terkejut, ketika Yoon Joo tiba-tiba minta bercerai.


Yoon Joo menarik napas berat dan berkata, “Aku sudah memberitahumu.Aku hanya tidak ingin terus hidup seperti itu. Perasaanku sudah berubah, itu saja.” Pria itu sebenarnya tidak percaya, tapi kemudian dia mendapat telepon dari istrinya. “Masuklah. Istrimu pasti bertanya-tanya kau ada dimana.”


“Unnie,” panggil Bo Young sedih. Mereka kemudian duduk bersama.


Bo Young menangis dan merasa bersalah karena seharusnya Yoon Mi adalah tanggung jawabnya. Ia meminta maaf karena sudah membuat Yoon Joo bertemu dengan seseorang yang tidak diinginkan. Yoon Joo bilang itu bukan salah Bo Young, karena dia memang memberi terlalu banyak tugas.


Yoon Joo meminta Bo Young agar berhenti menangis. Bo Young juga meminta maaf karena bicara dengan kasar pagi tadi. Ia bilang masalahnya tidak terlalu serius, tapi ia terlalu sensitif. “Aku baik-baik saja. Jadi, berhentilah menangis,” kata Yoon Joo sambil tersenyum dan mengusap kepala Bo Young. “Orang-orang akan berpikir kaulah yang bertemu dengan mantan suamimu. Jangan menangis.”

6 komentar

  1. Lanjut part 3,4 & Preview ep 9 ny #JanganLama2 makasih :)

    BalasHapus
  2. Lanjut part 3,4 & Preview ep 9 ny #JanganLama2 makasih :)

    BalasHapus
  3. Semngatt min... Lajut trusss sinopsis nya.. Alaaappyuuuu.... Misss yu...

    BalasHapus


EmoticonEmoticon