4/25/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 PART 2

Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 Part 3

Dae Bang berpesan pada seorang pasien anak agar tidak menelan sesuatu yang aneh lagi. Ia lalu mempersilakan mereka pergi dengan sangat ramah.


Joo Yong melihat hasil rontgen dan merasa aneh, karena anak usia 3 tahun bisa menelan koin sebesar itu. Dae Bang bilang membesarkan anak memang tidak mudah. Joo Yong setuju. Ia lalu pamit ke ruang VIP untuk melakukan X-ray.


Joo Yong: “Aku dengar dia adalah pria hebat yang mendukung rumah sakit ini dengan banyak uang.”
Dae Bang: “Wah, kurasa Joo Yong, Joo Yong kami cukup ahli sampai pantas menangani VIP. Ah, perasaan apa ini? Apakah aku begitu terharu dengan perkembangangmu sebagai seorang senior yang mengajarimu? Haha.. Atau aku bangga? Terharu? Bangga? Haha.. Terharu? Bangga? Haha..”


“Kelihatannya Joo Yong, Joo Yong sudah pergi. Haha..” kata Dae Bang saat menyadari bahwa Joo Yong sudah tidak ada disana.


Joo Yong datang ke ruang VIP sambil membawa mesin X-ray nya, lalu meminta pasien berbaring menyamping. Pasien tampak meragukannya karena Joo Yong masih muda dan bertanya berapa banyak pengalaman Joo Yong. “Saya sudah bekerja selama setahun,” kata Joo Yong. Pasien tidak suka karena ia ditangani oleh anak baru yang mungkin melakukan kesalahan. Ia meminta sekretarisnya untuk memanggil orang lain.


Pasien mengeluh karena dia sudah banyak memberikan uang untuk rumah sakit, tapi ia ditangai oleh ‘bayi’. Joo Yong yang tadinya sudah akan pergi, berbalik dan berkata, “Bayi? Bukankah Anda sudah melewati batas? Aku mungkin hanya memiliki pengalaman kerja setahun, tapi saya bekerja sangat keras. Aku terluka karena Anda meremehkan kemampuan seseorang hanya didasarkan pada usia.” Ia lalu pergi.


Di kafetaria, Nam Woo dan Min Ho sangat terkejut saat Bo Young bercerita bahwa dia sudah mengungkapkan perasaannya dan Jae Wook mengajaknya membicarakan hal tersebut nanti. Bo Young takut Jae Wook akan marah padanya. Nam Woo setuju dengan pemikiran Bo Young bahwa Jae Wook akan marah.


Dengan takut-takut, Bo Young menghampiri Jae Wook. Jae Wook bilang ia sangat marah, karena Bo Young mengungkapkan perasaannya seperti itu. Ia memberi saran pada Bo Young agar bersikap lebih bijaksana dengan menunggunya mengakui perasaannya pada Bo Young lebih dulu.


Jae Wook membuat tanda cinta di jarinya, lalu sebuah poster bergambar Bo Young muncul dengan tulisan ‘Pegawai Tetap, Woo Seonsaengnim! Aku mencintaimu!” Bo Young tersenyum bahagia.


Jae Wook menjentikkan jarinya dan balon-balon beterbangan. Bo Young semakin bahagia.


“Woo Seonsaengnim. Maksudku, Bo Young-ah, aku menyukaimu,” kata Jae Wook yang kemudian mengeluarkan sebuah cincin. “Jadilah milikku.”


Bo Young sangat terharu dan langsung mengambil cincinnya. Ia berusaha mengusir air matanya.


“Aku terharu walaupun hanya membayangkannya. Bahkan meski itu tidak masuk akal,” kata Bo Young tersadar dari lamunannya. Tapi Nam Woo bilang, Jae Wook mengajaknya bicara nanti adalah pertanda bagus, karena mesin saran seperti Jae Wook jika tidak suka, makan akan langsung menolak. “Kuharap itu benar. Tapi dia mungkin memikirkan cara untuk menolakku.”


Nam Woo juga bilang mungkin saja Jae Wook sedang menyiapkan sesuatu yang bagus. “Contohnya?” tanya Bo Young lalu mengkhayal lagi.


Bo Young membayangkan dirinya sedang berdansa sangat romantis dengan Jae Wook.


“Ah... ciuman...” kata Bo Young malu sendiri sambil menarik baju Nam Woo. Nam Woo langsung mengkhawatirkan buayanya. “Maaf.” Nam Woo yakin Jae Wook menyukai Bo Young dan jika hubungan Bo Young berjalan lancar, ia meminta agar diberi pekerjaan di rumah sakit itu.  “Ah, tidak tahulah,” kata Bo Young tersipu lalu pergi.


Nam Woo lalu menyadari bahwa Min Ho murung. Ia meminta maaf karena imajinasinya tidak terkontrol. Ia bilang sebelum bangkrut dulu, ia masuk sekolah kreatifitas yang membuatnya memiliki imajinasi yang tingg. “Lupakan. Sudah kukatakan. Aku berharap yang terbaik untuk si cengeng Bo Young,” kata Min Ho.


Nam Woo menyarankan agar Min Ho tidak sok keren dan merekomendasikan lagu tentang seorang pria dengan luka emosional karena menyukai wanita yang sudah dimiliki oleh pria lain. ”Hei, kau mau aku menarik buayamu sampai lepas. Tutup mulutmu,” kata Min Ho lalu pergi


Atasan memarahi Joo Yong karena kasus pasien VVIP tadi dan menyuruhnya menulis laporan detail tentang apa yang terjadi dan minta maaf. Walaupun Joo Yong sudah mengatakan bahwa pasien menyebutnya ‘bayi’, atasan bilang ia tidak punya pilihan lain karena itu adalah pasien VIP yang jika menarik sokongan dananya, maka akan menyebabkan masalah besar bagi rumah sakit.


Joo Yong terpaksa menulis laporannya. Dae Bang bilang seharusnya pasienlah yang meminta maaf. Ia juga tidak terima jika Joo Yong disebut bayi dan bahwa kemampuan orang hanya diukur dengan pengalamannya. Joo Yong berharap semua orang bisa sama rasionalnya dengan Dae Bang. IA llau pamit pergi.


Nam Woo memasangkan earphone ke telinga Min Ho dan memutarkan lagu tentang pria yang mencintai istri pria lain. Min Ho kesal dan melepaskan earphone itu. Nam Woo bilang orang harus mendengarkan lagu patah hati saat putus cinta. Min Ho menyuruhnya pergi.


Tapi Nam Woo malah menyanyikan liriknya dengan suara dibuat-buat. “Sebaiknya hentikan!” kata Min Ho kesal.


Bo Young memperhatikan Jae Wook yang sedang memberikan terapi.


“Aku oleh Kim Yong Taek.”


“Dengan memikirkankamu.”


“Bila aku menatap pegunungan pada hari hujan di Bulan Mei.”


“Aku sepenuhnya kehabisan oksigen.”


 “Tolong miliki aku sebelum aku kehabisan oksigen.”


Joo Yong sudah meminta maaf kepada pasien dan dia terlihat lesu.Dae Bang menyemangatainya dna mengajaknya minum bersama nanti. Dae Bang berjalan mundur, hingga masuk ke tempat sampah  ada di belakangnya.


DaeBang menggelinding bersa,a tong sampah hingga jatuh melewati tangga dan kakinya terbentur pegangan tangga yang terbuat dari besi. Dae Bang berteriak kesakitan.  


Joo Yong menunggu Dae Bang menahan rasa sakitnya, karena patah tulangnya akan segera sembuh setelah operasi. “Tetap saja aku takut. Hei, Joo Yong, Joo Yong!” kata Dae Bang yang kemudian masuk ke ruang operasi.


Min Ho menolak ikut makan malam perusahaan, karena suasana hatinya sedang buruk. Walaupun itu perpisahan Kepala, Min Ho merasa dirinya hanya peserta pelatihan yang tidak punya urusan apa-apa. Nam Woo menatapnya curiga.


Nam Woo: “Kenapa suasana hatimu buruk? Karena Bo Young dan Ye Seonsaengnim tampak saling menyukai?”
Min Ho: “Tidak. Sudah kukatakan padamu, aku berharap yang terbaik untuk si cengeng Bo Young.”
Nam Woo: “Bohong! Katakan yang sejujurnya. Kau takut tidak sanggup melepaskan si cengeng Bo Young?”


Nam Woo lalu menyanyi tentang pria yang mencintai wanita bersuami lagi, “Aku menatapnya melalui celah dari tiraiku.” Min Ho yang kesal membungkus Nam Woo dengan tirai itu. “Hei, hei, hei! Buayaku copot! Buayaku. Buayaku.”
Advertisement


EmoticonEmoticon