4/25/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 Part 4

Teman Jae Wook yang berprofesi sebagai profesor berterima kasih karena Jae Wook yang merupakan role model pada muridnya bersedia menjadi pembicara padahal pasti sedang sibuk. Dia bertanya kenapa Jae Wook tidak mencoba mengajar, padahal banyak mendapatkan tawaran


“Aku menikmati merawat pasien,” kata Jae Wook. Temannya bilang fokus pada pekerjaan adalah hal yang bagus. Tapi kemudian dia mengingatkan agar Jae Wook mulai mempedulikan kehidupan pribadinya juga.


“Kapan kau akan berkencan lagi?” tanya temannya. “Lupakan masa lalumu yang menyakitkan dan temukan seseorang yang tulus menyukaimu, begitu pula sebaliknya. Temukan belahan jiwamu. Tidak adakah seseorang seperti itu dalam hidupmu?” Jae Wook terdiam. “Apa ini? Dilihat dari caramu tidak membantah, pasti ada seseorang. Jika ada seseorang seperti itu, genggam dia tanpa keraguan. Kapan kau akan membuka hatimu lagi?”


“Boleh aku memberimu saran? Tolong jangan mengkhawatirkan kehidupan kencanku. Ini adalah masalah pribadi. Aku pamit,” kata Jae Wook lalu pergi.


Dae Bang sudah berbaring di meja operasi dan menyuruh Joo Yong tetap keluar walaupun mengkhawatirkan dirinya. Tapi Joo Yong bilang dia datang untuk melakukan pemeriksaan X-ray. “Apa? Haruskah? Tidak? Haruskah? Tidak?” kata Dae Bang bingung. Joo Young bilang Dae Bang harus melakukan operasinya.


“Bukan itu maksudku. Aku bertanya-tanya apakah bisa meminta staf lain atau tidak. Joo Yong, Joo Yong, kau belum melakukan banyak C-arm. Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Aku sudah putuskan. Kau mau orang lain. Panggilkan Jung Seonsaeng dan Kang Seonsaeng. Panggil seseorang dengan pengalaman lima tahun. Joo Yong, Joo Yong, kau itu masih bayi,” kata Dae Bang.


Saat dua perawat datang, Dae Bang juga menolak karena mereka baru bekerja selama 3 tahun. Ia minta didatangkan 2 perawat yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun. Setelah itu Dokter Kim yang baru menjadi fellow pekan lalu juga ditolak. Dae Bang minta dipanggilkan Kepala. Tapi mereka tetap menjalankan tugasnya.


“Tidak.. Kenapa para bayi ini menangani operasiku? Haruskah aku menjalani operasi ini? Tidak? Harus? Jangan lakukan,” kata Dae Bang yang kemudian tertidur karena obat bius. 


Dae Bang sadar dan bertanya apakah operasinya berhasil. Dokter Kim dan perawat yang tadi ditolak itu masih kesal. Mereka tidak mau memberitahu apakah operasinya berhasil atau tidak, karena mereka masih bayi. Mereka kemudian pergi dan Joo Yong datang. Dae Bang bilang Joo Yong pasti datang karena mengkhawatirkannya.


“Tidak, aku datang untuk minta maaf. Maaf, karena seorang bayi sepertiku melakukan C-arm,” ata Joo Yong. Dae Bang meminta maaf karena bersikap terllau sensitif. “Kenapa minta maaf? Ini salahku karena kurang berpengalaman. Aku datang untuk memeriksa kondisimu, tapi sepertinya kau baik-baik saja. Kalau begitu, bayi ini pamit sekarang.”


Dae Bang: “Tunggu! Jangan pergi Joo Yong, Joo Yong. Aku kan sedang sakit. Tidak bisakah kau menemaniku?”
Joo Yong: “Kenapa harus? Minta saja pengasuh berpengalaman untuk menjagamu sampai sehat. Seonbaenim, kau tadi mirip dengan pasien VIP yang hanya peduli soal pengalaman.”


Joo Yong melepaskan tangan Dae Bang, lalu pergi. “Joo Yong, Joo Yong! Kembalilah!” Tapi Joo yong tidak peduli. “Aku mengerti alasannya marah,” gumam Dae Bang.


Tim fisioterapis makan malam tanpa Min Ho dan Jae Wook. Myung Cheol kemudian menjauh untuk menerima teleponnya.


Shi Eun bilang Kepala sangat antusias malam ini,tapi Yoon Hee bilang Bo Young-lah yang lebih antusias. Shi Won menggoda Bo Young yang pasti sangat bahagia, karena akan diangkat sebagai pegawai tetap.


Bo Young tersipu dan mengakui kalau dia bahagia. Nam Woo mengajak mereka bersulang lagi, kemudian Myung Cheol kembali dengan lesu. Mereka mengajak Myung Cheol ikut bersulang karena itu adalah ucapan selamat karena Myung Cheol pindah ke rumah sakit yang lebih baik.


“Tidak usah. Barusan aku mendapat telepon, dan aku tidak akan pindah ke rumah sakit lain. Kelihatannya Wakil Presdir disana memberikan posisi itu kepada adiknya. Aku tidak akan merusak suasana. Aku akan meninggalkan kartu kreditku disini, jadi nikmatilah minuman kalian,” kata Myung Cheol lalu pergi meninggalkan bawahannya yang masih terkejut, terutama Bo Young. Shi Won mengejarnya. 


Yoon Joo bilang itu berarti Bo Young kehilangan kesempatan lagi untuk menjadi pegawai tetap. “Tapi.. tapi...” kata Bo Young hampir menangis.


Myung Cheol menghubungi temannya lagi dan memintanya agar membujuk direkturnya, tapi tidak bisa. Shi Won ada disana dan mendengar itu. Shi Won lalu berjalan bersama mengantarkan Myung Cheol ke halte bus.


Myung Cheol merasa kecewa karena tadinya dia sangat senang bisa bekerja di tempat yang membutuhkannya, tapi sekarang ia harus tetap di rumah sakit yang tidak menginginkannya. Dia merasa kacau dan tidak tahu cara mengatasinya. Dia lalu naik ke bus.


Yoon Joo mengeluhkan Myung Cheol yang seharusnya memberikan kabar yang sudah terkonfirmasi dengan benar. Bo Young setuju, karena ia sudah berharap terlalu tinggi. Yoon Joo menyebut Myung Cheol egois karena pindah kerja demi kebaikan dirinya sendiri, bahkan sampai melukai Bo Young.


“Apa maksudmu beliau egois? Kepala bukan orang seperti itu! Direktur ingin memecat Kepala dan menawarkan posisi itu pada Ye Seonsaeng. Bahkan katanya dia bisa memilih staf sesuka hatinya. Untungnya Ye Seonsaeng menolaj tawaran itu, jadi Kepala belum dipecat. Tapi bayangkan perasaan Kepala saat mengetahui kebenaran itu. Beliau berusaha keras mencari pekerjaan lain karena tahu akan dipecat, jadi beliau sangat antusias karena berhasil mendapatkannya. Bahkan meski pekerjaannya di ujung tanduk, dia memohon pada Ye Seonsaeng agar mempertahankan kita semua,” kata Shi Won.


“Lebih dari itu, dia bahkan mengusahakan Woo Seonsaeng.  Tapi apa kau bilang? Beliau egois? Kau maish berpikir Kepala itu egois? ” lanjut Shi Won.


Yoon Joo dan Bo Young merasa bersalah.


Jae Wook menerima pesan dari temannya yang profesor tadi bahwa murid-muridnya menyukai kelas hari ini. Ia kemudian membaca lagi kiriman puisi dari Bo Young. Ia mengingat pesan temannya agar berusaha menemukan belahan jiwanya.


Jae Wook tersenyum mengingat Bo Young. Tapi kemudian ekspresinya berubah karena menerima telepon dari mantan kekasihnya yang mengajaknya bertemu, “Sudah kukatakan, kita sudah berakhir. Aku tidak akan menjawab telepon darimu lagi. Itulah yang harus kulakukan.”


Jae Wook lalu menghubungi Bo Young, “Woo Seonsaengnim, bisa kita bertemu sebentar?”


Di sebuah kafe, Bo Young mengatakan bahwa ia tidak menyangka mereka akan bertemu hari ini, karena sebelumnya Jae Wook bilang ingin bicara nanti.


“Jadi.. Woo Seonsaengnim... Maafkan aku. Aku tidak bisa menerima perasaan Woo Seonsaengnim,” kata Jae Woo menolak cinta Bo Young. Jae Wook bilang ia sudah memutuskan untuk tidak berkencan dengan rekan kerja. Ia  tadinya ingin mencari cara agar tidak melukai Bo Young, tapi ia tidak menemukan caranya dan akan canggung bila terus dibiarkan berlarut-larut. “Maafkan aku, Woo Seonsaennim.”


“Tidak apa-apa,” kata Bo Young sambil menahan tangisnya. “Aku.. seharusnya tidak membuat Seonsaennim merasa tidak nyaman dengan mengutarakan perasaanku. Maafkan aku. Kalau begitu, boleh aku pergi duluan? Sampai jumpa besok di rumah sakit. “ Bo Young lalu pergi dengan tergesa-gesa, bahkan tanpa sempat minum.


Advertisement


EmoticonEmoticon