4/26/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 9 Part 3

Setelah mengatakan bahwa dia akan mengembalikan flashdisc Bo Young dan mengajaknya jalan-jalan, Jae Wook menerima telpon dari seniornya yang bernama Min Chul. “Apa?” tanya Jae Wook terkejut setelah Min Chul mengatakan bahwa Kepala Park meninggal karena serangan jantung.


Jae Wook datang ke rumah pemakaman dan melihat foto Kepala Park.


Kepala Park terlihat hadir di persidangan malpraktek, dimana Jae Wook hadir sebagai saksi yang memberatkan tersangka.


“Kau sebahagia itu keluar dari pekerjaanmu?” tanya Min Chul. Jae Wook mengiyakan dan menanyakan keadaan Kepala Park. “Kau tidak dengar? Beliau keluar. Setelah kesaksianmu yang ditentang rumah sakit, beliau dibenci atasannya karena mencoba melindungimu dari menerima tindakan tidak adil. Pada akhirnya, beliau keluar karena tidak tahan lagi. ”


Min Chul tahu kalau Jae Wook pasti sangat sedih, karena Kepala Park sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Min Chul lalu melihat ke luar, dan Jae Wook mengikuti arah pandangannya.


Mantan kekasih Jae Wook juga datang untuk melayat. Jae Wook terlihat tidak nyaman.


Jae Wook mendengar pembicaraan para staf dari rumah sakit lamanya yang mengatakan bahwa dokter yang merebut kekasih Jae Wook hanya ingin membalas dendam pada Jae Wook, karena sekarang dokter itu memutuskan hubungannya. Mereka juga bilang sekarang si wanita ingin kembali pada Jae Wook. Jae Wook tidak mempedulikan mereka.


Jae Wook lalu mengirimkan pesan pada Bo Young bahwa pertemuan mereka dibatalkan.


Bo Young yang saat itu sedang menangis karena ikut merasakan kesedihan Yoon Joo tentang mantan suaminya, membalas pesannya, ‘Tidak apa-apa. Kalau begitu, sampai jumpa di rumah sakit besok.’


“Bagaimana kabarmu?” sapa mantan kekasihnya. Jae Wook pergi, tapi wanita itu menahan tangannya. “Jae Wook-ssi, mari bicara.” Jae Wook melanjutkan langkahnya. “Aku ingin bicara.”


Jae Wook: “Jika kita bicara, lalu apa yang akan terjadi? Orang-orang akan mulai menggunjingkan kita lagi.”
Wanita: “Jae Wook-ssi..”
Jae Wook: “Aku sungguh membenci ini. Aku tidak suka menarik perhatian di tempat seperti ini. Aku tidak suka rasa sakitmu menjadi tidak masuk akal. Kepala Park yang begitu berharga untukku, aku tidak ingin mengantar kepergiannya selain dengan rasa duka.”


Sebelum bertemu dengan Bo Young di kafe, Jae Wook menerima telepon dari mantan kekasihnya yang mengajaknya bertemu. “Sudah kukatakan kalau kita sudah berakhir. Aku tidak akan menjawab teleponmu lagi. Itulah yang harus kulakukan,” kata Jae Wook lalu menutup ponselnya. Ia lalu menghubungi Bo Young, “Woo Seonsaengnim, bisa kita bertemu sebentar? Ya, kalau begtiu aku akan menunggu disana.”


“Baiklah. Mari tidak melakukan kesalahan yang sama lagi,” gumam Jae Wook.


Jae Wook termangu sendirian di kafe, setelah menolak Bo Young.


Bo Young duduk di halte, tapi membiarkan saja busnya berlalu. “Apa yang sudah kulakukan pada seseorang yang luka di hatinya belum sembuh?” batinnya merasa bersalah.


Bo Young lalu menerima pesan dari Myung Cheol yang meminta maaf karena sudah membuat Bo Young berharap menjadi pegawai tetap. Mata Bo Young berkaca-kaca. 


Min Ho menghubungi Nam Woo dan menyuruhnya pulang, karena ia merasa bosan.


Nam Woo bilang ia harus tetap disana dan belum bisa pulang. Ia memberitahu bahwa Myung Cheol tidak akan pindah. “Gara-gara itu, Bo Young juga tidak akan menjadi pegawai tetap,” katanya.


Min Ho: “Apa? Hei, apa si cengeng Bo Young baik-baik saja?”
Nam Woo: “Mana bisa baik-baik saja. Dia pulang lebih dulu.”
Min Ho: “Apa? Oh, benarkah?”
Nam Woo:”Hei, aku harus pergi. Aku tutup teleponnya.”


Min Ho tadinya ingin membeli minum, tapi kemudian ia menyadari lampur kamar Bo Young yang masih gelap. “Apa yang si cengeng Bo Young lakukan? Apa dia sedang menangis dalam kegelapan? Ah, lupakan. Apa peduliku? Aku yakin Ye Seonsaengnim akan menenangkannya. Benar, aku mendoakan kebahagiaanmu. Berbahagialah,” gumamnya.


Min Ho akan masuk lagi ke dalam asrama, tapi dia khawatir Bo Young sedang minum untuk mengusir kesedihannya, lalu pingsan di suatu tempat. 


“Sudah kuduga akan begini. Kau minum karena gagal menjadi pegawai tetap?” tanya Min Ho yang berhasil menemukan Bo Young di taman dekat asrama mereka. Bo Young bilang ia kehilangan kesempatannya sekali lagi. “Kau baik-baik saja?”


“Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku menderita, karena begitu membenci diri sendiri,” kata Bo Young sedih. Min Ho bilang itu bukan kesalahan Bo Young, jadi tidak perlu membenci diri sendiri. “Kau tidak tahu. Aku sangat egois. Kepala akan dipecat, sebab itu beliau pindah ke rumah sakit lain. Jadi dia mencari pekerjaan lain, tapi dibatalkan hari ini. Tapi aku tidak mengetahui hal itu dan memakinya.”


Min Ho: “Kau kan memang tidak tahu.”
Bo Young: “Aku memang egois. Itu sebabnya aku pantas ditolak oleh Ye Seonsaengnim.”
Min Ho: “Apa?”
Bo Young: “Bahkan meski tahu Ye Seonsaengnim tidak mau berkencan dengan rekan kerja, aku mengakui perasaanku padanya karena memikirkan diri sendiri. Aku bahkan tidak memikirkan perasaan Ye Seonsaengnim dan dengan egois melakukan apapun yang kuinginkan.”


“Puncak oleh Yoo Ahn Jin.”


“Aku merasa malu untuk mengatakannya hingga sekarang. Aku hanya menangis untuk diriku sendiri.”


“Tangisanku yang paling menyakitkan, masih muncul untuk diriku sendiri.”


“Berapa banyak usiaku harus bertambah agar dapat memiliki hati yang lapang dan harus seberapa luas puncak hatiku sebelum aku dapat menangis untuk orang lain?”


“Mataku hanya dapat melihat diriku sendiri pada hari-hari yang paling berat.”


“Telingaku hanya dapat mendengar tawaku pada hari-hari paling bahagia.”


Min Ho mendekatkan dirinya pada Bo Young yang tertidur, lalu menarik kepalanya perlahan ke bahunya.


“Aku tidak pernah menyadari betapa tidak sempurna hatiku.”


“Aku merasa malu dan juga segan.”


Jae Wook bicara sendiri saat Bo Young sudah tertidur, “Kau egois? Akulah yang benar-benar egois. Sekalipun telah memutuskan ingin melihatmu bahagia, mendengar antara kau dan Ye Seonsaengnim tidak berjalan lancar, membuatku merasa lega.”


Advertisement


EmoticonEmoticon