4/30/2018

SINOPSIS Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 4 PART 1

SINOPSIS Something in the Rain / Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Pretty Noona Who Buys Me Food Episode 3 Part 4

Setelah tangannya tiba-tiba digenggam oleh Jin-ah, Joon-hee kehabisan kata-kata dan dia langusng cegukan.


Tak lama kemudian, Jin-ah ikut cegukan.. tapi tak sekeras Joon-he, maka dia masih bisa menutupinya dengan cara meminum soju langsung dari botolnya.


Hari makin larut dan kini tiba saatnya untuk pulang. Kang dae-ri, mendapatkan tebengan dari atasannya Joon-hee dan Jin-ah, ditawari tebengan oleh rekan kerjanya Joon-hee.


Tapi kemudian, Joon-hee mencari-cari alasan supaya Jin-ah bisa pulang dengannya. Di bilang, ada barang dari kakaknya yg dititip untuk Jin-ah.. langsung menangkap maksudnya, Jin-ah menyatakan bahwa diai memang sangat membutuhkan barang tersebut. Maka akhirnya, mereka bisa pulang berdua tanpa dicurigai oleh yg lainnya.


Dengan sangat kikuk, mereka berjalan berdampingan melewati gang yg begitu sepi. Setelah situasi dirasa aman, akhirnya mereka dapat bernafas lega..


Mereka meperbincangkan kejadian barusan. Saling berdebat, tentang genggaman tangan, hingga padda akhirnya Joon-hee bertanya: “Kenapa mau genggam duluan?”

“Karena aku pingin genggam duluan. Masa mau tunggu sampai tua? Kau tidak mengerti betapa pentingnya timing antara si wanita dan pria...” jawab Jin-ah

“Hubungan kita sekarang adalah wanita dan pria?” tanya Joon-hee dengan tatapan yg berbinar-binar

“Ya.. gitudeh..” jawab Jin-ah


Joon-hee megajak Jin-ah minum kopi.. tapi karena, Jin-ah ahlinya bikin kopi,  maka dia mengajak Joon-hee minum kopi buatannya di kantor saja.


Dalam perjalanan mereka terus bergandengan tangan, tapi ketika bertemu dengan satpam, seketika mereka bertingkah kikuk dan mengatakan, kalau mereka datatng untuk kerja lembur.


Jin-ah masuk ke ruang kantornya untuk bikin kopi, sementara Joon-hee masuk ke ruang kantronya untuk beres-beres.

Meskipun berada di tempat yg beda, tapi keduanya sama-sama menunjukkan ekspresi kegirangan layaknya anak kecil...


Ketika menunggu kedatangan Jin-ah, yg muncul malah temannya Jun-hee dalam kondisi yg telah mabuk berat. 


Tak lama kemudian, Jin-ah datang.. tapi Joon-hee memberinya kode,  untuk bersembunyi dulu. Dan selama Jin-ah sembunyi, temannya Joon-hee terus mengoceh tentang mantannya Joon-hee saat masih WAMIL dulu, yg katanya sangat cantik dan membuat Joon-hee ‘klepek-kelepek’ dan patah hati berat, ketika ditinggal.


Setelah usaha keras untuk membujuknya.. akhirnya, Joon-hee berhasil menyeret temannya untuk pulang. Dia terpaksa, meninggalkan Jin-ah sebentar untuk mengantar temannya sampai naik taksi.


Jin-ah iseng, menelpon Jun-hee.. mengatakan kalau dia takut, ditinggal sendirian. Mendengarnya, seketika membuat Jun-hee berlari kembali secepat yg dia bisa.. dan lewat jendea, Jin-ah tersenyum cekikikan melihatnya.


Saat Jun-hee datang.. Jin-ah sengaja berdiri ditempat gelap untuk mengaketkannya... dan rencananya itu, sangat berhasil..


Berikutnya, mereka duduk berhadapan. Jun-hee, ingin duduk di sebelah Jin-ah, namun Jin-ah bertingkah seolah dia marah karena ‘celotehan’ temannya Jun-ee tadi, tentang mantan pacarnya.


Joon-hee membela diri, dengan mengutip kalimat yg pernah dikatakan oleh Jin-ah: “Bukankah kau yang bilang pada saat saling menyukai, harus menggebu-gebu, panas membara itulah yang dinamakan cinta? Bukankah katanya harus panas membara bagaikan api? Jika tidak berarti tidak mempedulikan pasangan. Kau pernah bilang begitu, 'kan?” 

“Kau menghafal omonganku tanpa kurang satu patah kata pun?”

“Tentu saja. Masa kau tidak tahu seberapa telitinya aku sebagai seorang pria?! Sini kutunjukkan!”


Joon-hee menunjukkan hasil kerjanya pada Jin-ah.. bahkan, dia sempat mengajarkan Jin-ah, caranya menggambar karakter. Pada momen itu, mereka berdua terlihat sangat romantis...


Mereka berdua, buru-buru pulang kerumahnya masing-masing dan bersiap untuk video call-an,


Kepada satu sama lain, bilangnya sudah pulang daritadi.. padahal, jelas-jelas mereka baru saja sampai dirumahnya masing-masing..


Mereka pun lanjut mengobrol via telpon semalaman.. entah apa saja yg mereka bicarakan, tapi wajah mereka tak henti-hentinya menunjukkan senyuman yg berseri-seri.


Di pagi hari, Jin-ah terperanjat kaget.. dia bangun kesiangan, dalam kondisi telpon yg telah habis baterai namun masih menempel di kupingnya.

Dia bersiap ke kantor, sambil menggerutu pada ibu yg tak membangunkannya. Tapi dengan santai, ibu bilang kalau biasanya Jin-ah menyetel alarm.. jadia ketika dia tak bangun pagi, ibu kira.. Jin-ah memang ingin bangun siang saja.


Karena dikerjar oleh waktu yg terus berjalan dan Jin-ah tak boleh terlambat kerja, maka hari ini.. dia pinjam mobil, milik ayahnya. 

Tapi..baru jalan di parkiran, Joon-hee telpon dan bilang kalau dia akan mengantarnya. Maka, Jin-ah bergegas memarkirkan kembali mobilnya, tapi pada Joon-hee dia bilang kalau dia sedang berjalan turun dari kamarnya.


Tanpa Jin-ah sadari, ternyata Joon-hee telah berada di parkiran...


Jin-ah hanya bisa tersenyum kesal sekaligus malu, karena mengetahui fakta bahwa nyatanya.. Jun-hee melihat seluruh tingkahnya barusan.


Melihat sikap Jin-ah membuat Joon-hee komentar: “Duh. Menggemaskan sekali...”

“Sudah cukup! Jangan menggodaku seperti itu?!”

“Kalau aku menjemputmu tiap hari, kamu bisa sering-sering melihatku..”


Awalnya manyun, akhirnya Jin-ah bisa tersenyum.. dia pun bertanya: “Apa, aku beneran menggemaskan?”

“Kamu percaya, apa yg kukatakan?”

“Lepaskan (genggama tangan)!!!”

“Gak akan kulepas. Susah payah baru berhasil kugandeng...”

“Tapi... Kita seperti ini benar tidak apa-apa?”

“Harusnya sih, gapapa..”

“Kamu tidak takut?”

“Memang kita berbuat salah apa? Dan jangan terlalu khawatir. Jika ada masalah, kita selesaikan saja secara langsung...”

“Sungguh... pria yg bisa dipercaya..”

“Ah sepertinya Noona sudah terperangkap dalam pesonaku...”
Comments


EmoticonEmoticon