5/01/2018

SINOPSIS Live Episode 12 PART 4

Advertisement
SINOPSIS Live Episode 12 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Live Episode 12 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Live Episode 13 Part 1

Saat berpatroli, Hye Ri melihat seorang pejalan kaki yang cara berjalannya mirip dengan tersangka. Mereka bertiga lalu memperhatikan pria itu.


“Tapi postur tubuhnya normal dan dia berambut panjang. Dia bukan orang yang kita cari,” kata Sam Bo.


Hye Ri mengajukan diri untuk menyetir karena Nam Il sudah melakukannya seharian, tapi Sam Bo melarang. “Kita sudah sukarela tambah shift hari ini, tapi dia tidak. Aku tidak suka dia,” kata Sam Bo.


Nam Il menerima pesan dari istrinya, ‘Sayang, pesanan kita banyak. Cepatlah kemari’. Hye Ri mengeluh lapar dan minta mampir untuk membeli makanan, tapi Sam Bo menyuruhnya menahan laparnya dulu. Karena Nam Il tidak membalas pesannya, istrinya menelepon, tapi Nam Il tidak juga mengangkatnya. Saat melihat kalau istri Nam Il yang menelepon, Sam Bo bilang mereka akan memasang selebaran di motel besar di Persimpangan Wooma dulu, baru Nam Il bisa pulang. Ponsel Nam berdering lagi dan Hye Ri menyuruhnya mengangkatnya.


Nam Il lalu menghentikan mobilnya dengan kasar, lalu keluar untuk menjawab ponselnya. “Aku sudah SMS jangan buka restoran hari ini! Hei, kapan aku pernah menyuruhmu tutup restoran selain hari ini? Memangnya kau saja yang khawatir dengan anak-anak? Aku juga. Ada kasus pemerkosaan di wilayah hukum kami dan dia memperkosa sambil membunuh. Kau itu juga seorang ibu yang punya anak. Bisa-bisanya kau menyuruhku membantumu padahal banyak korban pemerkosaan anak? Kau tidak tahu? Karena sekarang kau sudah tahu, jadi kau tidak usaha telepon aku lagi!” kata Nam Il.


Sam Bo keluar dari mobil dan bertanya apa yang terjadi. Nam Il bercerita bahwa istrinya sedang hamil anak ketiga dan membuka restoran untuk menambah penghasilan. Ia bilang itu atas nama istrinya, karena Polisi dilarang memiliki pekerjaan lain. “Beritahu rekanmu agar dia tidak salah paham, tapi jangan beritahu yang lain,” kata Sam Bo yang juga menyuruh Hye Ri untuk menjaga rahasia itu. Ia juga mengajukan diri  untuk menyetir. Nam Il merasa terharu.


Song Yi membawakan makanan untuk ayahnya. “Ayah kelewatan hari itu. Minta maaflah,” kata Song Yi. Yang Chon diam saja. “Untuk berjaga-jaga, aku terus mengunci jendela dan pintu.”


“Apa kau tahu pengemudi bisa mengendalikan itu? Mana bisa itu membuatmu aman?” kata Yang Chon. Song Yi lalu menunjukkan aplikasi 112 yang ada di ponselnya dan bilang kalau malam itu dia memegang ponselnya untuk berjaga-jaga. Ia bilang disana penuh dengan CCTV.


Yang Chon bertanya apakah Song Yi putus karena memar dan goresan di tangannya. Song Yi bilang memar itu karena dia main bersama teman, sedangkan goresannya karena kucing. “Aku ingin putus, karena aku menyukai orang lain. Dia melihatku jalan dengan pria lain kemarin,” kata Song Yi. Yang Chon terkejut. “Dia itu pria yang baik.” Yang Chon bilang sebagian besar kejahatan terjadi bukan karena orangnya jahat, melainkan karena marah.


Song Yi menghapus air matanya. Yang Chon juga bilang tidak seharusnya Song Yi selingkuh dan si pria tidak boleh menyentuh tanpa seizin Song Yi. Ia bilang ia tahu kalau tindakannya menghajar pria itu tidak benar.


“Maaf karena aku menghubungi 112. Makanlah roti yang kubelikan,” kata Song Yi pada ayahnya yang akan masuk ke kantor. Yang Chon kembali dan mengambil rotinya.


Yang Chon: “Jangan temui dia lagi. Dan jangan pernah selingkuh lagi. Jawab.”
Song Yi: “Baiklah. Jaga diri.”
Yang Chon: “Kau juga.”


Yang Chon memberikan roti itu kepada rekan satu timnya dan bertanya apakah tersangka menggunakan kartu kreditnya. “Tidak,” jawab Detektif Jo. Detektif Jang lalu datang dan memberitahu bahwa Detektif Lim sudah mendatangi kedua gunung tersebut untuk mengecek CCTV dan mengidentifikasi dua tersangka dan menginterogasi mereka.


“Mereka berdua punya alibi dan akhirnya dibebaskan. Apalagi CCTV cuma menyimpan data selama seminggu atau dua minggu. Jadi tidak ada data dari 3 minggu sebelumnya atau lebih. Apa organisasi olahraga mau memberikan informasi?” kata Detektif Jang.


Hari sudah pagi dan Yang Chon masih bekerja. Jang Mi bergabung bersamanya dan bertanya apakah yang Chon tidur semalam. “2 jam. Kau?” kata Yang Chon. Jang Mi juga tidur selama 2 jam.


Myung Ho mengintruksikan bahwa di area berikutnya, ia akan pergi ke sauna dan Sang Soo akan ke rumah sakit. Han Pyo menambahkan bahwa dia akan ke warnet.


Sang Soo sampai di sebuah gedung dan memasang selebarannya. Tersangka juga masuk ke rumah sakit yang sama.


“Ah!” kata Yang Chon tidak jadi menyuapkan makanannya. “Auh! Auh!” katanya sambil memukul wajahnya dengan sangat keras. Detektif Jang dan Jo menatapnya dengan heran. “Jika kita sudah berkali-kali memeriksa dan tidak ada yang membeli sepatu itu, lalu si pelaku mendapat sepatu dari mana?! Apa sepatunya dari langit atau muncul dari bawah tanah?!” Ia memakai jaketnya dan menggebrak meja. “Berarti dia bukan pelanggan, tapi pemilik toko!”


Detektif Jang dan Jo mengambil jaket mereka dan buru-buru menyusul Yang Chon yang sudah pergi lebih dulu.


Yang Chon bilang ia akan mendatangi toko-toko olahraga di dekat Gunung Somyeong. Detektif Jo mengerti dan ia akan pergi ke toko di sekitar Gunung Baekun bersama Detektif Jang. Yang Chon akan mengambil mobilnya, tapi terhalang oleh mobil lain.


“Aiyoo! Mobil siapa yang parkir disini?! Mobil siapa ini?!”keluhnya. “Siapapun!” Tapi tidak ada jawaban, dan berusaha mendorong mobil itu.


Sambil menyetir, Jung Oh yang sudah kembali berpatroli bersama Nam Il, memperhatikan para pejalan kaki untuk mengidentifikasi sesuai sketsa wajah tersangka yang dipasang di dashboard.


Hye RI juga sedang berpatroli, tapi kemudian akan pergi untuk menangani kasus perampokan. Ia meminta agar setelah ini mereka tidak menerima laporan kasus lain, karena ia juga ingin membantu menangkap tersangka pemerkosa berantai.


Saat sedang menyapu, istri tersangka menemukan label nama Jang Han Bit, lalu menyimpannya.


Ia kemudian membuka sebuah kotak dan menemukan banyak label nama pelajar lainnya. Ia juga melihat beberapa sepatu olahraga disana.


Ia kemudian mengambil selebaran tersangka di papan informasi dan mengecek dengan pakaian suaminya yang sedang dijemur. Ia menyadari bahwa jaket biru dan masker kuning milik suaminya sama dengan pakaian yang dipakai tersangka. Ia terduduk lemas.


Tersangka melihat selebaran tentang dirinya lalu masuk ke dalam toilet dimana Sang Soo sebelumnya juga masuk kesana.


Tersangka terkejut karena melihat ada Polisi, sehingga ia terlihat gugup. Karena gerak-geriknya mencurigakan, Sang Soo mengikutinya dan memperhatikan cara berjalannya.


“Permisi!” panggil Sang Soo dan menyusul tersangka ke dalam lift. Tapi tersangka menendang Sang Soo hingga terjatuh. Sang Soo berhasil masuk ke dalam lift, tapi tersangka yang ahli bela diri berhasil mengalahkannya dan meninggalkannya di dalam lift.


Sang Soo memberi laporan di radio panggilnya bahwa dia menemukan tersangka dan meminta rekannya di area terdekat agar waspada. Ia berhasil keluar di lantai 1 dan tersangka berlari tepat melewatinya. “Kami sekarang ada di Gedung Chayeong! Kirim bantuan!”


“Tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan memakai pakaian olahraga putih! Tersangka menuju ke persimpangan dekat Gedung Chayeong,” Sang Soo berlari mengejar tersangka. “Kuulangi, tersangka ditemukan!”


Advertisement


EmoticonEmoticon