5/06/2018

SINOPSIS My Mister Episode 10 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 10 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 9 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 2

Ji-an hanya bisa menangis, mendengar perkelahian Dong-hoon dan Gwang-ill yg makin menjadi-jadi...

DONG-HOON: “Kenapa kau memukuli dia, bangsat? Kenapa? Kenapa? Kenapa kau menyiksa anak yang malang? Kenapa? Kenapa?!”

GWANG-IL: “Karena dia membunuh ayahku! Jalang itu membunuh ayahku!”

DONG-HOON: “Kalau aku jadi dia, aku juga akan membunuhnya! Aku akan membunuh siapa pun yang memukul keluargaku!”


Ponsel Dong-hoon terus berdering, ada telpon masuk dari kakaknya. Tapi dia tak menghiraukannya dan malah terus bertanya pada Gwang-il, berapa utangnya Ji-an?


Gwang-il mengabaikannya.. mungkin karena dia terlalu lelah.. dia pun memilih untuk berjalan pergi meninggalkannya begitu saja..


Entah bagaimana caranya.. namun para ajusshi satu komplek, dibuat heboh karena insiden yg menimpa Dong-hoon. 


Mereka yg posisinya tengah berasa di tempat yg berbeda-beda, saat itu juga lasngung berlari menuju satu tempat untuk berkumpul.


Turun dari taksi, Dong-hoon terlihat begitu lemah.. berdiri tegak pun, dia tak mampu. Tak lama kemudian, para ajusshi mendatanginya dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.. terutama Ki-hoon yg sepertinay sangat geram hingga emosinya meledak-edak tak tertahankan..


Enggan untuk cerita yg sebenarnya, Dong-hoon memilih untuk diam seribu bahasa..


Tak lama kemudian, lewatlah mobil polisi.. Jae-chul segera menyuruh para ajusshi untuk peregangan, supaya kelihatannya mereka sedang pemanasan.


“Kalian main bola pas hari kerja juga?”

“Klub Sepak Bola Songmi-dong... bilang mereka menemukan tempat main, jadi mereka ingin main bola malam-malam”

“Bukankah klub sepak bola kalian harusnya libur dulu? Alangkah baiknya jika klub kalian itu diliburkan dulu! Tendanglah bola saja, jangan sampai berkelahi! Bisa-bisanya kami selalu menerima laporan tiap kali kalian bermain?!”

“Kami tidak berkelahi... Semuanya sudah selesai sekarang. Kami tidak bertengkar lagi!”

“Kami selalu terima laporan tiap hari Minggu.. karena kalian minum alkohol di taman bermain. Dan para pelapor ingin kalian ditangkap karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Tahu siapa yang melaporkan kalian? Istri-istri kalian!”


Sementara yg lain sibuk meyakinkan polisi kalau mereka tak berkelahi.. Ki-hoon malah berlari sambil teriak mencari-cari sosok orang yg telah bertengkar dengan Dong-hoon...


Polisi menghampirinya dan langsung menegurnya, maka terpaksa Ki-hoon harus mengehntikan pencariannya..


Di bar-nya Jung-hee, para ajusshi berkumpul.. ternyata, mereka bersikap seperti tai, bahwa tanpa mengethaui kejadian yg pasti. Awalnya.. seorang ajusshi mendengar berita perkelahian dan lansgung teringat pada Dong-hoon, yg kebetulan ketika ditelpon terus tak menjawab. 

“Kau bertengkar sama siapa? Jawablah!” tanya Ki-hoon dengan emosi


“Aku tidak sengaja menabrak bahu seseorang... saat aku berjalan keluar dari swalayan. Dan orang itu memakiku. Dan dia jauh lebih muda dariku..” jawab Dong-hoon


“Benar karena itu?”

“Terus aku berkelahi sama siapa lagi?”

“Kenapa pula kau pergi kesana?”

“Kenapa lagi? Ya buat kerja!”

“Kau dipukuli sama bocah?!”


“Tetaplah menjalani hidupmu seperti biasanya. Kau biasanya mengabaikan perbuatan orang lain. Tapi kenapa kau malah cari mati begini?”

“Kita harus menangkap bajingan itu! Jika kita membiarkan bajingan seperti itu bebas berkeliaran, dia pasti akan begitu lagi. Kita harus melihat semua rekaman CCTV... dan menangkap dia!”

“Tak usah, Hyung. Itu memang salah kami. Aku malah yang lebih banyak memukulnya..”


“Bawa bajingan itu kesini. Dan aku akan melihat sendiri jika dia lebih terluka atau tidak!”

“Sudahlah, kau ini!”

“Dia itu kakakku!”

“Bisa-bisanya kau senyum-senyum sekarang? Rasanya seperti.., semua sel tubuhku terbangun setelah sekian lama...”

“Pasti sakit sekali dihajar saat musim dingin begini..”

“Pokoknya ibumu jangan sampai melihatmu seperti ini. Besok, pasti memarmu tambah parah. Bagaimana kau bisa pulang ke rumahmu malam ini?”

“Kalau aku melihat suamiku pulang dihajar seperti itu... aku pasti tak bisa hidup!”

“Bilang saja ke istrimu kau jatuh dari tangga”


“Pikirmu istrinya bakal percaya? Lihatlah mukanya itu!”

“Kalau begitu bilang saja, kau jatuh karena jalanan licin.. Kan Jalanan sekarang sudah banyak tertutup salju...”

“Bisa tidak kasih alasan yang meyakinkan? Mana mungkin orang jatuh karena licin, tapi mukanya yang luka!”

“Bus! Bilang saja waktu kau turun dari bus, kakimu kepleset terus kau tersandung, habis itu... tapi kenapa mukamu jadinya seperti itu?”

“Kalian tak boleh ada yang pulang sampai kasih alasan yang meyakinkan!”

“Kau sendiri tak kasih alasan!”


“Sudahlah... Ada satu tempat dimana seorang pria akan terluka. Selain klub sepak bola, ya dimana lagi?”


Alhasil, Dong-hoon sengaja pulang dengan mengenakan mantel dari klub sepakbola-nya. Yeon-hee kaget melihat kondisinya yg babak belur, maka dia bertanya: “Kau kenapa?”


Dari rumahnya, seperti biasa.. Ji-an selalu mendengarkan pembicaraan Dong-hoon..


Dengan tenang, Dong-hoon cerita: “Tak kenapa-kenapa. Aku tadi main bola. Terus tadi tak sengaja aku tendang kepalanya si Ki Hoon. Terus dia mulai memaki-makiku. Dasar gila dia itu.  Sudah biasa orang terluka saat main bola. Ini karena selama ini aku selalu jadi pecundang, makanya aku jarang terluka. Ini karena aku tidak pemanasan juga, makanya aku sampai luka begini...”

Yeon-hee tak kuasa menahan tangisnya, maka Dong-hoon bertnaya: “Kenapa kau menangis?”


Yeon-hee terdiam, ingat kalau sebellumnya Ji-ann bilang.. bahwa Dong-hoon telah mengetahui semua tentangnya..


Dia kemudian mengeluarkan ponselnya.. berniat menelpon Jon-young, tapi sepertinay sangat berat untuk dia melakukannya..


Dalam kamarnya, Dong-hoon tertatih.. kesulitan untuk bangkit, karena seluruh badannya yg memar habis dipukuli tadi. Ji-an yg hanya mendengar suaranya saja.. nampak ikut gelisah dan khawatir terhadapnya.


Ibu memarahi Ki-hoon karena insiden yg menimpa Dong-hoon. Namun Ki-hoon sendiri, nampak acuh.. bahkan dia sepertinya masih belum mampu mengontrol emosinya, hampir menceritakan kejadian yg sebenarnya. Tapi disana, ada Sang-hoon yg segera menghentikannya..


Setelah mengetahui, kalau Dong-hoon terluka saat bermain bola, para pegwai pria jadai sibuk berbincang tentang cedera yg juga mereka dapat ketika bermain sepak bola yg bekasnya tak hilang sampai sekarang..


Di bank, Ji-an mengirim sejumlah uang untuk melunasi utangnya pada Gwang-il..


Gwang-il yg mengetahui hal tersebut, memilih untuk tak berkomentar apa pun. Sementara sobatnya, yg mengira kalau uang itu dari Dong-hoon, berkomentar menyebut Ji-an sangat beruntung dan Dong-hoon sangat bego, karena mau-maunya melakukan hal ini...


Deputi Park mengajak  Ji-an makan diluar bersama dengan yg lainnya. Namun ajakannya itu, benar-benar diacuhkan begitu saja..


Ternyata, deputi Park bersikap ramah pada Ji-an dengan harapan supaya rumor mengenai kedekatan Dong-hoon dengan Ji-an mereka, “Dia tak bicara sama kami semua... tapi sepertinya dia cuma dekat dengan Anda, makanya orang pada bergunjing”

“Mana mungkin juga dia mau pada ajakan pertama. Walau begitu, tetaplah berusaha bicara dengannya, ya?”

“Baiklah. Besok, aku mau ajak dia bicara lagi...”


Mereka berteriak serentak, dengan semangat mengatakan bawha mereka an berusaha sebisa mungkin untuk membuat Manajer Park menjadi Direktur Park.. dan bersamaan dengan itu, llift-nya terbuka dan tingkah mereka menjadi tertawaan orang-orang yg tentuanya membuat mereka malu dan kikuk..
Advertisement


EmoticonEmoticon