5/06/2018

SINOPSIS My Mister Episode 10 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 10 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 10 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 1

Meski Yoo-ra bilang tak usah, tapi Ki-hoon bersikeras untuk pergi menemuinya...


Sayangnya.. niatannya itu, tak diidukung keadaan. Karena mobilnya, terhalan oleh mobil lain, maka dia tak bisa berangkat..


Di kantor, Dong-hoon berbincang dengan pegawainya yg cerita tentang makan makan semalam. Ji-an ikut bersama mereka, tapi dia pulang di tengah acara makan..


Lalu kemudian, dia cerita tentang Deputi Kim yg katanya menyukai seseorang di kantor ini. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan, karena ceweknya sudah punya pacar..

Lantas Dong-hoon komentar: “Kenapa dia jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah punya pacar?”

“Karena dia belum menikah”

“Dia seperti anak kecil saja saat mengatakan kalau dia suka sama wanita itu”

“Dia bilang dia gila karena wanita itu, Khayalan dia semakin menjadi-jadi itu makanya dia seperti orang gila”

“Perasaan seperti itu bisa hilang kalau kepalanya dipukul. Habis itu, pasti dia tak ada perasaan lagi”

“Anda jangan bilang-bilang, ya. Kalau aku cerita...”


Kemudian, Dong-hoon menghampiri meja kerja Ji-an, hanya untuk bertanya: “Kau kerja sambilan juga malam-malam?”

“Ya...” jawabnya singkat

“Jangan sampai kelelahan...” ucap Dong-hoon


Ketika Gwang-il tengah makan siang, datang seorang pria yg menghampirinya dan langsung menanyainya tentang hubungannya dengan Dong-hoon, dan alasan mereka bertengkar tempo hari..


Ternyata.. pria itu, ada suruhannya Joon-young. Maka dia pun menceritakan segala hal yg telah dia investigasi, baik itu kepada Joon-young mau pun Gwang-il.


Malam harinya, Joon-young mengajak Ji-an bertemu di sebuah kaafe. Mereka sengaja datang terpisan, supaya tak menimbulkan kecurigaan..


Jon-young menunjukkan foo Dong-hoon yg tengah membantu neneknya Ji-an. Maka kemudian, Ji-an menjelaskan: “Aku tengah merencanakan bagaimana aku harus mendekatinya dan membuatnya merasa kasihan padaku dengan memanfaatkan kisah keluargaku yang menyedihkan. Aku anak pencari nafkah buat nenekku yang bisu dan tuli, dan tinggal di kontrakan kumuh. Setelah itu, dia mulai punya pandangan berbeda akanku. Seperti anak anjing yang malang”


“Tapi kenapa kau baru mengatakan ini sekarang? Kau padahal sudah tahu dia menemui rentenir itu buat melunasi utangmu, dan bertengkar dengannya. Dan dia tidak terluka karena main sepak bola. Pasti karena kau terharu! Makanya kau merahasiakan ini dariku. Karena takutnya ini akan membahayakan Park Dong Hoon”


“Kenapa itu membahayakannya?”

“Coba saja tanya orang lain. Manajer apa yang membayar utang karyawan wanita... dan bahkan sampai merawat neneknya?”

“Kami tinggal satu kompleks, dan dia tahu hidupku berat... jadi dia membantu nenekku yang tidak bisa jalan. Malah orang akan memujinya karena dia orang baik.. Apa kau benar-benar berpikir cara ini bisa jadi jurus pamungkasmu? Kurasa mereka (pihak lawan) juga tahu orang-orang membicarakanku. Jadi aku yakin mereka sudah menyusun ini semua. Semua orang tahu Park Dong Hoon itu orang baik. Dan dia tidak pernah meneleponku atau SMS, jadi apa yang kaumaksud dengan "hubungan" itu? Kami juga tak pegangan tangan, atau pelukan. Jadi bagaimana kau bisa membuat rumor kami menjalin hubungan?”

“Kenapa kau jadi mulai banyak bicara? Apa kau mulai menyukainya karena kau selalu mengupingnya?”


Mengalihkan pembicaraan, Ji-an menyadari ada seseorang yg tengah memotret mereka dari luar: “Sepertinya ada orang di sini. Jangan berbalik! Kubilang jangan berbalik, nanti mukamu terfoto!”


Bergegas, Ji-an berlari mengejar orang itu.. dia berhasil merebut kameranya, namun orangnya berhasil lolos begitu saja..

“Sepertinya pihak lawanmu menyuruh orang membuntutimu!” ujar Ji-an


Tapi ternyata.. orang yg memotretnya barusan, adalah Ki-bum. Ini semua termasuk dalam rencananya..

“Kau harus pulang, dan susun alasanmu. Dia akan sangat berhati-hati mulai sekarang. Jangan pakai kameramu lagi. Pakai ponsel saja”

“Kasih tahu dulu apa rencanamu. Kenapa kau ceroboh di dekat Park Dong Hoon?”

Ji-an tak menjawabnya dan memilih untuk berjalan pergi begitu saja..


Dong-hoon telah sampai dalam lift apartemennya, namun perasaannya terlihat beitu gusar. Maka dia pun memutuskan untuk pergi lagi..


Dia berbincang dengan pemilik kedai langganannya, yg tenryata.. juga mengalami permasalahan dalam rumah tangga yg serupa, yakni diselingkuhi oleh istrinya.

Setelah sekian tahun mencoba bertahan, akhirnya dia memutuskan untuk bercerai dengan istrinya..


Ji-an lewat di kedai tempat Dong-hoon tengah berada.. dia tak berani menghampirinya, karena menyadari bahwa ada seseorang yg tengah memantau gerak-gerik Dong-hoon..


Saat Dong-hoon berjalan pulang, Ji-an pun berjalan melewatinya, namun dia sengaja mengabaikannya,

Maka Dong-hoon bertanya: “Kenapa kau mengabaikanku lagi? Kenapa kau marah? Apa lagi sekarang?”


Berpikir sejenak, lalu Ji-an menghampiri Dong-hoon dan bilang: “Kau bisa pukul belakang kepalaku? Kau bilang perasaan rindu terhadap seseorang... akan hilang begitu kepala mereka dipukul. Aku ingin mengakhiri perasaan ini, jadi pukullah aku!”


Dong-hoon kaget dengan sikap Ji-an, maka dia memilih untuk berjalan pergi... namun Ji-an bergegas mengejarnya, lalu berkata: “Sungguh menyedihkan! Aku merasa sangat menyedihkan karena penasaran... kenapa kau tidak memakai sandal pemberianku... Dan aku merasa menyedihkan karena keluyuran terus tiap malam!”

“Pulanglah kau. Kenapa pula kau keluyuran?”


“Pukullah aku! Agar aku bisa mengakhiri ini semua! Kenapa? Kau tidak mau aku mengakhiri perasaan ini? Kau menyukaiku?!” teriak Ji-an

“Kau itu gila!” bentak Dong-hoon

“Ya, benar! Aku memang gila! Jadi pukullah kepalaku! Agar aku bisa sadar! Agar aku bisa sadar dan malu karena menyukai orang sepertimu! Pukullah, agar aku bisa menghentikan perasaan ini. Jika kau tidak memukulku, aku akan mengira kau menyukaiku. Maka aku akan memberitahu semua orang! Kalau Park Dong Hoon menyukai Lee Ji An!” teriak Ji-an


Tak mampu mengontrol emosinya, alhasil Dong-hoon benar-benar memukul Ji-an hingga membuatnya terjatuh ke aspal.


Setelahnya.. Ji-an tak mengatakan apa pun, atau bahkan mengerang kesakitan sekali pun. Dia lansung bangkit.. dan berjalan pergi meninggalkan Dong-hoon..


Advertisement

3 comments

Akhir di Uplaod jga ditunggu2 kelanjutan sinopsis ny :) lanjutt ep 11 ny ;) makasih :) di tunggu sinopsis2 selanjut nyaaa #JanganLama2 :) SEMANGATTT bwt sinopsis ny ;) lanjut jga sinopsis A Poem A Day ep 12 part 2,3, 4 & Preview ep 13 ny :)

Akhir di Uplaod jga ditunggu2 kelanjutan sinopsis ny :) lanjutt ep 11 ny ;) makasih :) di tunggu sinopsis2 selanjut nyaaa #JanganLama2 :) SEMANGATTT bwt sinopsis ny ;) lanjut jga sinopsis A Poem A Day ep 12 part 2,3, 4 & Preview ep 13 ny :)

Iya ditunggu kelanjutannya


EmoticonEmoticon