5/09/2018

SINOPSIS My Mister Episode 11 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 3

Di kantornya, Joon-young kedatangan 2 orang tamu. Entah siapa mereka, tapi Joon-young menyapanya dengan ramah..


Setelah asistennya keluar, Joon-young bergegas megunci pintu. Karena ternyata 2 orang pri aitu adalah orang yg kerjanya melacak barang sadapan.


Mereke memeriksa ruangan kerja Joon-young dan juga rumahnya, sera ponselnya dan mereka menyatakan bahwa semuanya dalam kondisi aman.


Joon-young membuka posnelnya, melihat beberapa potret kejadian malam itu, ketika Ji-an di ‘pukul’ oleh Dong-hoon..


Di kantor, Direktur Yoon masih terus berusaha cari-cari kelemahannya Dong-hoon dan kebetulan, hari ini Dong-hoon tak masuk kerja...


Ji-an meninggalkan kantor lebih awal, untuk bertemu dengan Joon-young di rumahnya. 

“Kenapa Park Dong Hoon tidak masuk kerja?”

“Dia pergi ke kelenteng buat menemui temannya”

“Kenapa?”

“Karena aksiku padanya. Aku sudah menyatakan ke dia aku menyukainya”

“Terus?”


“Aku dipukul... dan Tinggal satu minggu sebelum penyisihan, dia menghabiskan waktunya di hotel mempersiapkan wawancara. Dia tidak punya waktu buat makan bersamaku, jadi aku tidak punya pilihan lain lagi”

“Nyalakan rekamannya! Nyalakan! Pasti masih kausimpan rekamannya...”


Sempat ragu, namun akhirnya Ji-an memperdengarkan rekaman permbicaannya dengan Dong-hoon malam itu..


Setelah mendengarnya, Joon-young komentar: “Aneh... Kenapa banyak wanita menyukai Park Dong Hoon? Padahal dari sudut pandang pria, dia tak ada apa-apanya. Kenapa kau menyukainya? Aku mau dengar alasanmu. Aku bertanya karena aku penasaran. Kenapa kau menyukainya?”

“Karena aku ingin menghancurkannya. Kapanpun aku... melihat orang yang baik, aku ingin menendang mereka dan membuat mereka menangis. Aku tidak punya perasaan terhadap orang jahat sepertimu... tapi orang baik malah membuatku ingin menghancurkan mereka. Mungkin aku ingin mengubah dia menjadi orang sepertiku. Haruskah aku tidur dengan Park Dong Hoon? Kita tidak punya banyak waktu. Bukankah cuma itu pilihan kita?”

“Apa Park Dong Hoon mau tidur denganmu?”

“Mau, kalau aku membuatnya overdosis”

“Silakan, kalau begitu. Mari kita lihat apa kau mampu melakukannya...”


Dong-hoon membanti biksu Gyeomduk menurunkan batu bata dari mobil bak, “Kalau tak ada aku, kau bagaimana? Kenapa pula biksu kerja begini?” candanya

“Biksu melakukan segala macam hal. Semuanya mulai dari renovasi jalan sampai memotong kayu.  Aku bahkan mengendarai forklift. Aku juga menggali lubang. Beritahu aku, kalau kau butuh melubangi jalan...”


Berikutnya mereka makan bersama dan berbincang ringan..


Setelahnya.. mereka duduk diluar... mennikmati aroma angin sejuk, sambil minum teh..

“Kurasa itu bukan penyakit. Aku sampai cemas karena kau datang karena kau mengidap penyakit yang mematikan. Mari kita hidup panjang umur...”

“Kau tak kesepian?”

“Kesepian? Sudah kubilang, banyak orang disini”

“Padahal dengan kualitasmu, kau bisa melakukan apa saja”

“Berhenti bahas itu. Aku muak mendengarnya. Kau apa kabar?”

“Hidupku sial, sampai kehidupanku selanjutnya. Aku tidak tahu mau hidup bagaimana lagi”


“Kau rupanya sudah hilang harapan lebih cepat dari dugaanku. Kukira hidupmu sudah kacau kalau umurmu 60. Kaulah alasan terbesar kenapa aku jadi biksu dan datang ke sini... ‘Yang terbaik yang bisa kulakukan adalah berubah menjadi Park Dong Hoon. Anak itu sangat rajin... Dia mungkin bisa jadi panutan yang baik...’, Tapi akhirnya, dia merasa terkhianati oleh hidup ini..”

“Kukira, jika aku mengorbankan diriku, hidup pasti akan lancar-lancar saja”

“Apa maksudmu itu? Memangnya kau siapa, bisa berkorban begitu? Kau pasti menganggapnya perbuatanmu itu pengorbanan karena kau bekerja keras... namun hasilnya tak ada, dan kau juga tak bahagia. Kenapa tidak sekalian kasihtahu Ji Seok kalau kau berkorban untuknya? Dia pasti akan mengutukmu. Bayangkan bagaimana perasaan anakmu. Siapa orang yang mau lihat kau berkorban? Anak atau orang tua mana yang menginginkan orang yang disayanginya berkorban? Tapi aku suka bagaimana kau merasionalisasi kehidupan kacaumu. Kalau begitu, coba kau suruh Ji Seok hidup seperti itu juga. Bukankah itu membuatmu marah?”


“Kenapa kau menekankan diri sendiri untuk menjalani kehidupan... yang tidak kau inginkan pada Ji Seok?”

“Kau harusnya bahagia dulu. Jangan pakai kata "pengorbanan" lagi. Entah masalah apa yang dihadapi Sang Hoon dan Ki Hoon..., ibumu pasti tidak merasa sedih pada mereka. Aku mungkin sudah mendengar ibumu memarahi mereka berdua.. tapi aku belum pernah melihatnya sedih karena mereka. Dia hanya mengkhawatirkanmu, dan kau hidup dengan baik.  Ibumu tahu Sang Hoon dan Ki Hoon akan baik-baik saja dan hidup tanpa rasa malu, apapun yang terjadi pada mereka. Tetaplah percaya diri dan fokuslah pada diri sendiri. Kau berhak begitu...”


Ki-hoon terus menatap foto-foto Yoo-ra, namun menyedihkan.. karena hingga sekarang pesannya belum mendapatkan balasan..


Merasa kesal, Ki-hoon meluapkan emosinya pada Sang-hoon dengan cara terus-terusan menggomelinya tanpa sebab yg jelas..


Sang-hoon memaklumi hal itu, jadi dia tak membawanya ke dalam hati dan bersikap cuek saja..


Di klenteng.. tiba-tiba, Biksu Gyeomduk memeluk Dong-hoon dari belakang, sambil berkata: “Ayo kita bahagia, kawan. Ini bukan masalah besar... Itu bukan masalah besar...”

Tanpa disadari, perlahan mata Dong-hon mulai berkaca-kaca. Dia tak mampu menahan tangisnya..


Ji-an bertemu dengan Ki-bum, yg memberinya beberapa laporan, lalu berkata “Itu saja yang kutemukan dari pihak pengawasan internal. Aku belum bisa fokus main game gara-gara itu. Aku juga merasa cemas sekarang. Kubilang tidak ada yang penting. Mereka belum menemukan foto kalian”

“Mereka mungkin akan menggunakannya kalau waktunya sudah tepat”


“Kau harus hentikan ini. CEO itu pasti akan tahu cepat atau lambat. Karena nenekmu sudah aman, kau berhentilah kerja disana. Orang-orang kaya itu tidak akan mengejarmu demi 10 juta won”


“Jangan khawatir. Sebentar lagi juga, aku akan dipecat. Cari tahu lebih lanjut lagi...”


Seperti biasa, para ajusshi bekumpul makan malam bersama di bar-nya Jung-hee..

“Kau pasti punya banyak uang. Kau selalu traktir kami”

“Karena kalianlah, aku tak tega menutup usahaku”

“Bukan itu sekarang masalahnya. Kau harus beli rumah”

“Aku lebih baik cari pria saja”

“Kau belum menyerah juga?”

“Aku takkan pernah menyerah...”


Lagi-lagi, Ki-hoon marah-marah pada Sang-hoon tanpa alasan yg jelas. Kali ini, dengan santai Sang-hoon menanggapinya dengan bilang: “Jika kau merindukannya, temui dia, bukannya memarahiku! Memangnya aku disini buat menerima kekesalanmu? Siapa yang tahu nomor Choi Yoo Ra? Suruh dia temui orang ini. Aku tak tahan lagi”

“Apaan maksudmu?”

“Kau selalu suruh orang mengatakan perasaannya api kenapa kau tidak memberitahunya bagaimana perasaanmu daripada melampiaskannya padaku? Kau memarahiku karena menjatuhkan makanan, berdiri diam, dan duduk. Kau memarahiku terus.. Kau selalu memarahiku karena aku main ponsel... tapi sendirinya selalu melihat ponselnya lebih dari 12 kali tiap malam. Kau melihat ponsel sambil mengemudi, terus melihat lagi, kalau pesannya sudah dibaca... dan dmemeriksanya lagi dan lagi. Dia ini pasien sakit jiwa. Terus ketika Yoo Ra balas pesan... Dia langsung bicara, ‘Dia balas’. Makanya kau harus baik-baik sama dia saat dia datang kesini waktu itu. Jangan hancurkan hidupnya dengan memarahinya seperti kau memarahiku...”

“Apa kau harus mempermalukanku di depan banyak orang?”

“Kau sendiri? Apa kau harus membentakku di depan banyak orang?”


KI-hoon merasa frustasi.. diaberjalan keluar untuk merokok. Tapi tiba-tiba ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Yoo-ra..


YOO-RA: ‘Aku sudah di rumah sekarang. Aku mau tidur. Aku lelah...’


Maka detik itu juga, Ki-hoon langusng berlari, mencari taksi untuk pergi ke rumahnya yoo-ra..


“Jika kita tidak bisa berhenti memikirkannya, bayangkan bagaimana perasaannya Ki Hoon...” ujar para ajusshi di bar
Advertisement

4 comments

Kapan lanjut min?

Kutunggu lanjutannya ya mba..

Ditunggu lanjutannya ya mba writer 😊


EmoticonEmoticon