5/17/2018

SINOPSIS My Mister Episode 11 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 11 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 1

Pulang dari kantor, Dong-hoon sengaja menghentikan Ji-an yg jalan di depannya dengan bertanya tentang sandal miliknya yg kemarin diberikan Ji-an, tapi hari ini menghilang entah kemana..


“Aku malu, jadi sandalnya kubuang! Aku tersadar ketika kau memukulku..”  jawab Ji-an


“Jadi kau membuangnya? Apa aku tidak cukup baik buat menerima sandal darimu? Apa aku memperlakukanmu seperti itu?”

“Memangnya kau mau pakai sandalnya?!”


Menghela nafas panjang, lalu Ji-an berkata: “Pas kerja besok, pecatlah aku di depan semua orang. Katakan aku telah menggodamu dan bukan hanya kali pertama saja. Katakanlah itu di depan semua orang. Katakanlah kau sudah memperingatkanku setelah aku mencoba menciummu... tapi aku salah mengartikan rasa ibamu dan aku malah tambah menggodamu. Katakan semuanya pada mereka. Karena aku takkan mengatakan apapun. Karena memang begitu kenyataannya. Sungguh tak nyaman bekerja  di satu kantor yang sama, dan sepertinya perusahaan ingin menyingkirkanku, jadi pecatlah aku. Karena tak ada yang perlu kutakutkan..”


Namun Dong-hoon menegaskan: “Aku tidak mau memecatmu!”, lalu menjelaskan: “Aku terlalu tua, untuk memecatmu hanya karena kau menyukaiku dan aku muak memikirkan aku akan memecatmu dan mengabaikanmu ketika kita berpapasan di jalan. Banyak orang yang tak nyaman kuhadapi. Jadi aku tidak mau, kau juga jadi orang yang kuhindari. Aku tak bisa, karena aku merasa kasihan pada diri sendiri karena menghadapi orang-orang seperti itu. Juga, walau aku tidak berbicara dengan satu orang tertentu saat aku sekolah tapi ketika bertemu orang tuanya dan mengobrol, kami bukan orang asing lagi. Begitulah aku.....”


Ji-an hendak pergi, namun Dong-hoon berkata: “Aku akan datang melayat nenekmu, jadi sebaiknya kau juga datang melayat ibuku!”


Melanjutkan kalimatnya, dia pun menuturkan: “Hentikan tingkahmu. Jangan merajuk karena hal itu. Aku akan memperlakukanmu sama seperti Kadiv Song dan Asisten Kim, jadi perlakukanlah aku juga seperti itu. Dan baik-baiklah sama orang. Bukankah sudah dasarnya memperlakukan orang dengan baik? Kenapa kau bertingkah seperti itu? Apa ada orang yang berbuat dosa yang tak bisa dimaafkan terhadapmu? Aku tahu karyawan lain tidak memperlakukanmu dengan baik. Aku akan memastikan mereka akan berubah, jadi... berperilakukah lebih baik mulai sekarang. Aku akan melihatmu menyelesaikan masa kontrakmu... dan aku akan mendengar kabar kau bekerja keras di perusahaan lain. Dan kemudian, 10 atau 20 tahun kita bertemu lagi... aku akan menyambutmu dengan hangat. Aku tidak akan menghindarimu karena aku merasa tidak nyaman. Aku akan menghadapimu dengan senyuman. Begitu saja. Kumohon. Kita begitu saja...”


“Belikan aku sandal lagi!” pinta Dong-hoon, yg kemudian berjalan pergi meninggalkan Ji-an yg tak mampu berkomentar apa pun.


Dalam perjalan pulang, Dong-hoon ditelpon Yeon-hee: “Kau makan di luar hari ini?”

“Tidak, aku sebentar lagi pulang...”


Mereka makan bersama.. lalu beres-beres rumah, tanpa ada obrolan apa pun dan suasananya terasa begitu hening..


Berikutnya, Yeon-hee mengajak Dong-hon minum bir bersama-sama. Sepertinya, Yeon-hee ingin mengatakan sesuatu... tetapi Dong-hooon sengaja menghindarinya..


Joon-young mengetahui kisah hidup Ji-an, dari seorang detektif suruhannya, yg menceritakan betepa kejamnya mendiang ayah Gwang-il.. begitula dengan Gwang-il sendiri. Namun baru-baru ini, Gwang-il berhenti menggenggu Ji-an karena utangnya telah terlunasi..


Yoo-ra mengunjungi kedai Jung-hee dalam kondisi setengah mabuk. Dia pun minta minuman lagi, lalu tersenyum sambil mengatakan bahwa dia sangat iri pada orang-orang yg berada disini, karena segalanya telah berakhir bagi mereka, “Aku juga ingin semuanya berakhir bagiku. Entah aku berhasil atau tidak, aku ingin ini semua berakhir...”


“Ini belum berakhir buatku. Aku masih punya dua anak yang belum menikah..”

“Mereka bisa urus itu sendiri. Itu 'kan hidup mereka”

“Hidup mereka juga hidupku”

“Maksudnya hidupmu lebih berat daripada aku?”

“Maaf...”


Jung-hee duduk disampingnya, lalu berkata: “Kalau hidup yang paling berat, aku juaranya. Mau bertanding denganku?”


Mereka pun bersulang, sambil menunjukkan senyuman getir.. penuh kepedihan didalamnya..


Setelah semuanya pulang, Jung-hee membasuh wajahnya.. dan tiba-tiba, hidungnya mimisan. Dia menangis, namun tetap mengatakan, bahwa dirinya baik-baik saja..

 “Jika kau bisa cuci baju, itu artinya kau masih sadar...” ujarnya berulang kali


Pada waktu yg bersamaan, Sang-won telah kembalii ke kuil tempatnya  tinggal, dan dia pun tengah membasuh wajahnya...


Setelah menjemur cuciannya, Jung-hee berbaring sambil berkata: “Hidupku masih normal. Sekarang aku akan tidur seperti mayat...”


Sementara Sang-won.. sebelum tidur, dia bedoa dengan sangat khusyuk di pojokan ruangan..


Esok harinya, Dong-hoon menemani Yeon-hee belanja bahan makanan. Ketika hendak pulang, Dong-hoon merasa terganggu dengan kotoran di kaca depan mobill, maka dia pun membersihkannya dengan tissue. 


Dia minta bantuan Yeon-hee untuk mengambilkan lap dalam laci.. namun tak sengaja, Yeon-hee menjatuhkan tiket parkir hotel, yg seketika membuat suasana terasa begitu kikuk.

Dong-hoon bergegas mengalihkan pembicaraan, dengan bilang bahwa dia akan memabwa mobil ini ke tempat cuci, semetnara Yeon-hee bekerja nanti..


Sesampainya di rumah, suasana masih terasa begitu dingin. Dong-hoon mengeluarkan belanjaan dari kresek lalu memasukkannya kedalam kulkas..


Tiba-tiba, Yeon-hee berlutut.. da menangis sambil berkata” “Sayang, aku minta maaf. Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Aku salah!”


Awalnya, Dong-hoon diam saja.. tapi kemudiaan dengan intonasi yg penuh emosi, dia bertanya: “Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya? Kenapa harus dia? Kenapa, kenapa, kenapa?!”

“Maaf.. Maaf.. Aku sungguh minta maaf..”

“Teganya kau begitu sama dia? Teganya kau?!”


Ji-an yg tengah menguping pembicaraan mereka, seketika langsung terkaget-kaget karenanya...


Keesokan paginya, Ji-an mengunjungi neneknya.. yg langsung bertanya kepadanya tetang Dong-hoon. Mendengar nama Dong-hoon memuat mata Ji-an berkaca-kaca, karena teringat apa yterjadi padanya tadi malam..


“Kau itu ibunya Ji Seok. Kau itu ibunya! Setelah kau selingkuh dengan bajingan itu... sama saja itu artinya aku mati. Karena menurutmu tidak masalah aku diperlakukan seperti itu. Itu artinya kau berkata aku tidak berharga, dan aku seharusnya mati saja...”ugkap Dong-hoon pada Yeon-hee


Melihat Ji-an yg hampir manngis, maka nenek bertanya: “Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Dia (Dong-hoon) baik-baik saja. Dia juga bertanya kabar Nenek. Dia selalu mentraktirku makan... dan dia banyak membantu kerjaanku. Kurasa dia sebentar lagi naik jabatan”

“Tapi kenapa kau menangis?”

“Karena aku senang. Karena aku dekat dengan orang seperti dia. Aku senang...”
Advertisement

1 comments:

Akhir ny di lanjuttt part ny :) makin seru yaaa ;) lanjuttt ep 12 ny ;), #JanganLama2 di tunggu sinopsis2 yg lain ny :* Makasih :*


EmoticonEmoticon