5/19/2018

SINOPSIS My Mister Episode 12 PART 1

Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 12 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 11 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 2

Selesai bertanding sepakbola di pagi hari, Dong-hoon duduk di depan Bar Jung-hee sambil menikmati sebotol soju. Ki-hoon lalu datang dan duduk disebelahnya. Dia melihat luka di tangan Dong-hoon, maka dia bertanya itu kenapa?


“Luka, waktu aku kerja...” jawab Dong-hoon singkat 


Teringat pertengkarannya dengan Yeon-hee tadi malam. Dong-hoon jongkok, tepat dihadapan Yeon-hee dalam kondisi tangan yg berdarah karena habis menonjok pintu, dia berteriak, menanyakan: “Mengapa kamu melakukannya? Mengapa mengapa mengapa?!"


“Katakanlah kau ingin bercerai. Tapi teganya kau menyelingkuhiku? Apa standarmu serendah itu? Apa kau sebodoh itu? Kau pikir bakal lebih mudah menceraikanku jika kau berselingkuh dengannya.. seandainya aku dipecat, dan aku menjadi tunawisma? Kau pikir kau bisa bersama dengannya? Terus nasib Ji Seok bagaimana? Jika Ji Seok penting bagimu, kau harusnya tak melakukannya...” cecar Dong-hoon


Yeon-hee menangis, “Aku minta maaf..” hanya itulah kata yg keluar dari bibirnya

“Jika kau memikirkan anak kita kau pasti takkan tega menghancurkan ayahnya seperti ini. Teganya kau...”


Kembali ke realita, Dong-hoon bersikeras membantu Jung-hee mencuci piring, meski Jung-hee melarangnya.. karena dalam kondisi tangan yg terluka, Dong-hoon malah cuci piring tanpa menggunakan sarung tangan.

“Tak bisakah aku mencuci piring terserah aku bagaimana caranya?!”

“Tidak. Ibumu nanti memarahiku...”


Kembali teringat pertengkarannya semalam.. kepada Yeon-hee, Dong-hoon menjelaskan alasan sikapnya yg terlihat begtu ‘sempurna’ selama ini:


“Kukira kau akan marah pas pulang kerja, lihat rumah berantakan. Jadi aku mencuci baju dan membersihkan rumah sepulang kerja. Tapi sesampainya kau di rumah, kau langsung mempelajari berkas klienmu..., jadi aku tidak bisa membesarkan volume TV karena aku tidak ingin mengganggumu. Kapanpun kau menginginkan sesuatu, aku selalu membelikannya buatmu. Dan saat kau bilang kau mau dinas, aku percaya sama kau. Tapi aku tidak tahu ternyata kau selingkuh dengannya...” ungkap Dong-hoon 


Balik ke realita.. para ajusshi hendak pergi tanding sepakbola. Sebelumnya, mereka sempat berbincang sederhana.. tentang mobil Ki-hoon dan mobil mewah yg kebetulan lewat di hadapan mereka. 


Semalam, Yeon-hee pun tak mampu meredam beban yg selama ini dia simpan dalam pikirannya, “Kau adalah prioritasku! Kau yg pertama untukku!” teriaknya

“Kau selalu mengungkit hal itu. Kenapa itu hal penting?”


“Tentu penting! Jika kau orang pertama bagiku, maka aku juga harus... menjadi yang pertama bagimu. Cinta bukan urutan kedua. Kalau aku urutan kedua bagimu, apa itu artinya cinta? Apa aku bahkan, ada di urutan kedua bagimu? Kau selalu bahas mau beli mobil besar. Kau ingin beli mobil besar, biar kau bisa ajak jalan-jalan keluarga besarmu. Kenapa keluarga yang berisikan 3 orang harus beli mobil sembilan kursi? Setiap kali aku tanya kau dimana, kau pasti makan sama keluargamu. Bisa-bisanya kau bilang kau makan dengan keluargamu? Padahal aku tak ikut makan juga. Aku pergi ke rumah ibumu buat masak kimchi setelah aku melahirkan. Aku tahu kau paling senang kalau aku dekat dengan ibumu. Jika aku memperlakukan ibumu dengan baik.. kukira kau pasti memihakku suatu hari nanti. Kita tidak kasih uang ke ibuku... tapi kita kasih uang 30 juta won ke ibumu buat pindah rumah. Aku ingin membuatmu mencintaiku.. maka aku bersikap baik pada ibumu dan dan kerabatmu. Tapi tidak pernah sekalipun kau memihakku... “Aku benci kompleks ini. Dan aku benci semua orang yang bergaul denganmu. Ini tidak adil, karena orang-orang tidak tahu. Mereka tidak tahu betapa kesepiannya aku karenamu!”


Para ajusshi akhirnya berangkat, Jung-hee keluar hanya mengantarnya sampai depan pintu bar dan melambaikan tangannya pada mereka...


Dalam perjalanan menuju lokasi pertandinga, Dong-hoon satu mobil dengan Ki-hoon. Dengan melihat raut wajahnya saja, Ki-hoon menyadari bahwa Dong-hoon berbeda hari ini, “Kau bertengkar sama Kakak Ipar?” tanynya

“Bertengkar apaan. Hari ini aku takkan bertengkar dan berkelahi” jawab Dong-hoon. Tapi kemudian Ki-hoon mulai membual tentang dirinya yg akan bertengkar dengan seseroang hari ini, lalu menghajar orang yg membuat Dong-hoon terluka, esok harinya. Maka dia bertanya sekali lagi, “Kau ada masalah apa?”


“Nyetir sajalah kau” tukas Dong-hoon

“Kau tak mau cerita?” tanya Ki-shoon

“Memangnya aku adikmu, apa?!” tukas Dong-hoon

“Sungguh, aku belum pernah dengar kau memanggilku, ‘Ki Hoon-AA’... seperti itu lagi padaku. Seolah-olah kau akan segera mati. Masalah apa sebenarnya? Tanganmu luka semua...” cecar Ki-hoon

“Apa aku harus cerita semua masalah kerjaku sama kau?!”ujar Dong-hoon


Setelah menemani neneknya seharian, Ji-an tak sengaja membacara tulisan neneneknya di buku yg tersimpan di meja samping tempat tidur..


.... Kurasa akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang saat nanti ku menutup mata. Aku sudah tenang sekarang karena orang sebaikmu ada di sisi Ji An ...


Meski tak mengatakan apa pun, tapi jelas terlihat.. bahwa Ji-an sangat tersentuh karenanya~


Ketika para ajusshi turun untuk pemanasan, Dong-hoon malah menyendiri dalam mobilnya, mengingat lagi kejadian malam kemarin..


Yeon-hee cerita, bahwa sebenarnya dia ingin keluarga kecilnya pindah tempat tinggal, “Pasti semuanya akan berubah kalau kita pindah ke daerah lain.... Tapi tiap kali aku melihatmu diam saja saat aku bahas mau pindah rumah... akhirnya aku menyerah saja...”


Kemudian, sambil menangis terisak, Yeon-hee mengutarakan penyesalannya: “Aku sadar perkataanku ini tak bisa dimaafkan. Aku sadar aku orang jahat atas perbuatanku. Setelah aku tahu, rupanya kau sudah tahu... aku serasa ingin mati. Aku tidak percaya akan perbuatanku sendiri. Aku ingin mati karena aku membenci diriku sendiri... dan karena aku merasa sangat menyesal padamu”


Dong-hoon dibangunkan, karena sebentar lagi saatnya tim mereka untuk main. Namun sesaat setelah bangun-pun, yg ada dipikiran Dong-hoon, hanyalah kata-kata dari Yeon-hee..


“Aku tahu apa yang paling kau takutkan... dan apa yang ingin kau hindari. Kau tidak berusaha mempertahankan pernikahan ini karena cintamu padaku. Ya, 'kan? Jika kau ingin tetap merahasiakan soal ini dari ibumu dan Ji Seok, maka aku akan melakukannya... Jika kau tidak tahan lagi hidup bersamaku dan ingin mengakhiri ini... maka aku siap. Aku akan melakukan apapun keinginanmu. Aku tidak ingin kau sengsara hanya karena kau ingin mempermudahnya bagiku...” ungkap Yeon-hee


“Namun aku tidak tahu caranya mengakhiri hubungan ini... yang telah kita pertahankan selama 20 tahun. Aku harus mulai darimana? Kukira aku bisa melewati semua ini asal kau tidak tahu aku tahu. tapi sekarang sudah terlalu berat. Bagi kita berdua...” tutur Dong-hoon


Kembali ke realita, saatnya untuk bertanding sepakbola. Semuanya berjalan dengan lancar.. terlepas dari beban pikiran yg begitu berat, yg tengah meyakiti batin Dong-hoon.


Dalam perjalan pulang, Dong-hoon hanya diam dengan ekspresi murung-nya. Sekali, dia tersenyum ketika seorang ajussi melambaikan tangan padanya.


Tak sengaja, dia melihat Ji-an yg tengah berdiri di bahu jalan untuk menyebrang. Tapi dia tak menghampirinya, atau pun menyapanya.. hanya melwatinya begitu saja..


Di kantor, tim Dong-hoon berkumpul untuk menyelesaikan berkas Evaluasi Inspeksi Keamanan. Untuk salaah satu gedung yg tengah mereka periksa, Dong-hoon menegaskan: “Jangan ubah apa pun. Ini sudah benar”

“Tapi kita akan ditegur kalau kita tak memeriksa rekonstruksinya..” sanggah Deputi Song

“Insinyur struktural hanya membuat evaluasi struktural. Jangan jadi sok politis. Fokus saja ke aspek teknis!” tegas Dong-hoon


Dong-hoon menerima pesan dari ‘tim sukses’-nya. Dan diam-diam, Ji-an terus memantaunya...

‘Kita ganti hotel buat berjaga-jaga, Daeyoung Hotel, Kamar 1403 jam 7’

‘Tapi aku harus menyerahkan laporan inspeksi ke kantor distrik besok’

‘Apa itu yang penting sekarang?’


Meski sempat galau, akhirnya Dong-hoon mendatangi hotel yg diminta. Disana, dia lansgung ditegur karena sikap gegabahnya terhadap Joon-young, “Jika hal seperti itu terjadi, kau seharusnya memberi tahu kami. Bisa-bisanya kau menerobos masuk ruang CEO dan meninjunya?”

“Aku mohon maaf...” ucapnya singkat


Tak membahas masalah itu berlarut-larut, mereka lanjut mendikusikan pegawai yg akan dipilih untuk di wawancara nanti. Dan pilihannya jatuh pada Deputi Song..


Pada waktu yg bersamaan, tim sebelah pun tengah berkumpul dan mendiskusikan hal yg sama. Mereka memilih Deputi Yoo, untuk di wawancara nanti.


Mereka pun pulang.. dan kebetulan yg luar biasa, karena mereka bertemu di lift. Suasana terasa begitu ‘panas’, karena hawa saling-sindir antara direktur.

“Tak kusangka aku bertemu denganmu di hotel ini. Kalian sudah banyak latihan?”

“Memangnya harus perlu latihan?!”


Dong-hoon serta ‘saingannya’, mengantar para direktur hingga memasuki mobilnya masing-masing, lalu pergi..


Tak seperti pendukungnya.. kedua calon direktur, malah terlihat begitu santai dan kalem. Dong-hoon bertanya: “Kau baik-baik saja?”

“Manajer sendiri?”

“Ini sebentar lagi selesai. Menurutmu siapa di antara kita berdua yang menang?”

“Anda..”

“Terimakasih karena kau bilang begitu...”
Advertisement


EmoticonEmoticon