5/19/2018

SINOPSIS My Mister Episode 12 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 12 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 3

Dong-hoon menelpon Deputi Song, bertanya apakah pekerjaan mereka telah rampung, karena jika butuh bantuan dia akan segera kembali ke kantor. 

Namun Deputi Song meminta Dong-hoon untuk pulang saja, karena mengira bahwa Dong-hoon pastinya sangat kelelahan.


Dong-hoon memutuskan untuk tetap membantu mereka menyelesikan kerjaannya. Dan tentu saja, sikapnya itu membuat mereka senang..

“Ayo kita selesaikan ini dalam dua jam, habis itu, pulang naik kereta terakhir!!!!” ujar Dong-hoon


Tiba-tiba, masuklah Ji-an yg lansgung memberikan setumpuk berkas untuk dikerjakan Dong-hoon. 


“Dia berubah. Aku padahal belum selesai menanyakan dia, apa dia siap kerja lembur..., terus dia langsung bilang dia siap...” jelas Deputi Song


Mereka pun bekerja sama, menyelesaikan seluruh laporannya hingga larut malam. 


Takut tertinggal kereta, mereka sama-sama berlari secepat yg mereka bisa, menuju stasiun subway..


Namun agak menyedihkan, karena deputi Song dan Kim tertinggal beberapa detik saja.. sementara Dong-hoon dan Ji-an berhasil masuk kedalam gerbong, selang beberapa saat sebelum pintunya tertutup.


Dengan nafas yg masih terengah, karena habis berlari.. Dong-hoon sempat memuji Ji-an: “Kau memang jago lari..”, lalu bertanya: “Kenapa kau ikutan lembur juga?”

“Kau bilang aku harus menuruti perintah rekan kerja” jawabnya singkat, “Aku merindukanmu, makanya aku menunggumu..” tambahnya


Jawab Ji-an membuat Dong-hoon menatapnya heran. Maka Ji-an lansgung tanya: “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Karena Dong-hoon diam saja, maka Ji-an sendiri yg menjawab pertanyaannya: “...‘Kenapa dia begini lagi? Padahal aku sudah... memperjelasnya kemarin’... Kau pasti berpikir begitu. Tapi nyatanya perkataanmu kemarin tidak memperjelasnya. Kau malah membuatku makin menyukaimu. Orang pasti tak berpikiran kalau kau bertindak dingin padaku. Apa yang kau katakan kemarin, membuatku makin menyukaimu. Jangan khawatir. Aku takkan kentara menyukaimu. Aku tahu pendapat orang tentangku....”


Beriktunya, giliran Dong-hoon yg bicara: “Apa kau sendiri tahu kenapa kau menyukaiku? Pasti itu karena kau kasihan padaku. Dan kau menganggapku sebagai orang yang malang...”

“Ahjussi sendiri, kenapa kau baik padaku? Bukankah itu sama saja? Kita berdua sama-sama saling kasihan pada diri kita...” ujar Ji-an


Melirik kesamping, Ji-an menyadai kehadian si pria, suruhannya Joon-young: “Padahal kukira aku sudah menyingkirkan mereka. Kau tak menyadari ada orang yang memotretmu, 'kan?” bisik  Ji-an pada Dong-hoon


Ji-an bergegas jalan menuju gerbong lainnya, meninggalkan Dong-hoon sendirian.


Dong-hoon menegur pria itu, lalu bertanya: “Boleh lihat ponsel Anda?”. Namun pria itu, langsung berdiri dan berjalan pergi.. 


Dong-hoon mencoba untuk mengejarnya, tapi dia  kehilangan jejak.. maka pada akhirnya, dia memilih untuk berdiri di sebelah Ji-an, hingga stasiun tempat mereka turun.


Berjalan mengantar Ji-an pulang, mereka melwati bar Jung-hee, dimana para ajusshi.. kebetulan tengah berkumpul disana. 

“Dia karyawan dari kantorku. Kami lembur, jadi aku mengantarnya pulang..” jelas Dong-hoon


“Dong Hoon ternyata memang kerja di perusahaan, sama karyawan wanita juga. Memang dia tinggal dimana?”

“Di belakang sekolah”

“Berarti kau harus jalan ke sana kalau begitu. Bahaya disitu kalau sudah malam.. antar dia..”

“Tak perlu. Aku bisa sendiri...”


Dengan ceria, Jung-hee berlari menghampiri Ji-an sambil berkata: “Tak apa, ayo kita sama-sama. Aku senang sekali. Aku suka jalan jauh. Ayo sama-sama..”


Mereka pun jalan barengan sambil berbincang. Dong-hoon tanya: “Ki Hoon mana?”


“Katanya dia ada janji..” jawab Jae-chul yg kemudian berita tentang pengalamannya semasa kerja, yg tak pernah tahu kalau dia punya karyawan wanita yg tinggal se-komplek dengannya. Dia mengira, karywan itu, sengaja bersemunyi darinya karena membencinya..


“Ini jalan pintas ke sekolah dasar. Tapi karena sekarang kau sudah tahu manajermu nongkrong di bar itu..., kau besok-besok, sebaiknya pulang lewat jalan lain saja”.. 

“Tapi itu lebih sulit. Jadi kau harus lewat jalan mana?”

“Lari saja. Abaikan dia kalau kau bertemu dengannya. Tidak ada jalan lain lagi ke sekolah itu.”


“Hei, Dong Hoon tidak separah itu sampai orang-orang menghindarinya” tukas Jung-hee

“Semua manajer seluruh dunia itu pada bajingan semua. Tidak ada satu pun yang waras. Ya, 'kan?” ujar Jae-chul, “Padahal dia bilang mau pulang sendiri saja..., tapi manajer gila ini malah berlebihan. Tapi menurutku ini tak benar. Kalau dia lembur..., kau harusnya kasih dia ongkos taksi. Tapi dia tidak mau keluar uang...” tambahnya

“Memangnya taksi aman?” tanya Dong-hoon

“Terus pulang sama dia, aman?” sanggah Jae-chul


Jung-hee dengan yakin, menjelaskan: “Bareng dia 'mah aman... Dulu... Maaf kalau aku mau cerita masa lalu lagi. Dulu, kita mendatangi seluruh kelenteng selama 15 hari... buat mencari orang yang kabur itu, tapi tak ada hasilnya. Bukankah biasanya ada hal yang terjadi saat pria dan wanita tinggal satu indekos? Tapi kenapa tidak terjadi apa-apa? Aku masih heran sampai sekarang. Padahal waktu itu kami umur 20-an...”


Jung-hee mendekati Ji-an, lalu merangkul tangannya sambil bertanya: “Kami dulu pernah umur 20-an. Kau tidak takut menua menjadi seperti kami?”

“Aku malah ingin mencapai umur kalian secepat mungkin. Karena hidup pasti takkan seberat sekarang...” jawabnya singkat


Sampai di depan jalan menanjak menuju rumah Ji-an, sebagian ajusshi berpisah, karena melewati jalan yg berbeda. Mereka pun pamit dan melambaikan tangannya, dengan cara yg terasa begitu hangat. 


Kemudian setelah tiba di depan pintu gerbang rumah Ji-an, mereka menyuruh Ji-an untuk melapor pada pemilik bangunan tentang pintunya yg hampir roboh..


Ki-hoon berteriak: “Chul Yong! Moon Chul Yong!”

Lalu keluarlah, seorang ajusshi yg tinggal disebelah, “Halo! Ada apa kemari jam segini?” tanyanya

“Teman kerjanya Dong Hoon tinggal di sini. Awasilah orang-orang aneh yang berkeliaran di sini” jawab Ki-hoon

“Ya, baiklah. Jangan khawatir...” ujarnya


Sebelum pergi, Jung-hee berkata pada Ji-an: “Maaf soal yang tadi, aku tadi mabuk..”


Mereka pun berjalan pergi, meninggalkan Ji-an sendiri. Beberapa saat diam saja.. tapi kemudian, dengan suara yg memang agak pelan, Ji-an berkata: “Terima kasih...”


Jung-hee mendengarnya, dia pun lansgung melirik Ji-an untuk mengatakan: “Sampai ketemu lagi. Datanglah ke bar kami kapan-kapan. Yang tadi itu. Jung Hee Bar. Masuklah. Jangan lupa kunci pintunya..”


Kemudian secara khusus, Dong-hoon berpesan: “Kalau ada apa-apa, langsung panggil Chul Yong...”


Sambil berjalan pulang, Jung-hee teresnyum, menggiat perkataan Ji-an tadi: “Kalau dipikirkan, memang benar. Waktu kita masih muda dulu..., hidup juga tak mudah..” ucapnya


Ki-hoon melihat hasil syuting Yoo-ra, yg ternyata sangatlah kacau...


Selama syuting, dia harus mengulang adegan berkali-kali.. dan hal itu, membuat dia jadi bahan cacian dan makian dari sutradanya.


Ki-hoon diberitahu, bahwa sutrada Ahn sedang makan di restoran dekat sini. Namun,, Ki-hoon mengatakan, bahwa dia ingin pulang saja, “Sungguh, aku tak percaya ada orang yg sangat mirip denganku!” ujarnya kesal


“Kenapa? Kau tak jadi berkelahi sama Sutradara Ahn? Kenapa? Padahal aku menantikan kalian bertengkar. Serius kau pulang? Kukira kau ingin membunuh Sutradara Ahn...” cecar temannya, tapi Ki-hoon memilih untuk pergi saja dan menahan emosinya malam ini
Advertisement


EmoticonEmoticon