5/19/2018

SINOPSIS My Mister Episode 12 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 12 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 12 Part 4

Pagi hari, ketika Ki-hoon dan Sang-hoon tengah bersiap untuk berangkat kerja.. tiba-tiba, datang Yoo-ra dalam kondisi lesu, masih mengenakan pakaian tidurnya.

“Kau bisa menculikku?” tanyanya, namun Ki-hoon mengabaikannya


Maka Yoo-ra melanjutkan kalimatnya, “Aku terlalu malu kalau mau berhenti syuting... dan aku tidak mau dikenal sebagai orang yang kabur karena tak punya rasa percaya diri. Selama enam bulan saja kau menculikku.... Bisakah kau menculikku? Dan rahasiakanlah kalau aku minta bantuanmu seperti ini..”

“Memangnya kau mau jadi tukang bersih-bersih?” tanya Ki-hoon ketus

“Aku serius....” ujar Yoo-ra


“Aku juga serius!” tukas Ki-hoon,  “Jika kau terus datang ke sini sambil menangis... kau bisa-bisa nanti menikah denganku. Bukankah itu menakutkan bagimu?”

“Aku tak peduli kalau kau menculikku dan kalau kita punya anak. Asal aku bisa kabur”

“Pakailah tekad semacam itu... buat memperjuangkan peranmu dan....Kenapa kau tidak bisa melakukan itu?”

“Tidak bisakah kau menculikku? Apa kau tahu sekencang apa detak jantungku ini?”


“Tinggal berhenti saja, kalau begitu. Awal-awal, aku rela menanggung kesalahan, tapi kali ini... memang membuktikan kaulah akar masalahnya. Memang cuma segitu kemampuanmu. Jika kau ingin menjadi artis hebat, setidaknya terimalah kau dimarahi begitu. Berhenti saja, dan coba cari peran yang lain. Dan jangan datang kemari! Aku benci kau datang ke sini sambil menangis tiap hari!” tutur Ki-hoon dengan ontonasi tinggi, yg akhirnya membuat Yoo-ra memilih untuk berjalan pergi sambil menangis terisak


Sikap Ki-hoon, membuat Sang-hoon komentar: “Padahal kukira kau merindukannya...”


Setelah mengetahui pergerakan tim Joon-young, Ki-bum langsung menelpon Ji-an: “Hei! tim pengawasan internal sudah punya fotomu dan Park Dong Hoon!”

“Cepat hapus. Hapus sebelum ada yang lihat!”

“Sudah kuhapus. Tapi mereka terus mengirimkannya sampai emailnya terbuka”

“Awasi saja kotak masuknya...”

“Sampai kapan?”

“Nanti kukasihtahu”


Deputi Song, sangat senang karena akan diwawancara sebagai partisipan dalam proses pemilihan Dong-hoon sebagai Direktur.

“Jangan gugup dan mempermalukan dirimu sendiri. Jawab saja pertanyaan mereka...” ujar Ddong-hoon


Sementara itu, kita melihat Ji-an yg tengah mencoba untuk menghubungi Yeon-hee...


Joon-young dan Direktur Eksekutif Wang bertemu dengan Presdir, guna melaporkan perkembarangan proses pemilihan direktur yg baru. 

Presdir menegaskan, bahwa mereka tak boleh terlibat apa pun dan mesti membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Karena kedua calon, adalah pegawai yg telah lama mengabdikan diri di perusahaan, dan jelas terbukti kesetiannya..


Selanjutnya, Joon-young pergi menemui Yeon-hee yg telah menunggunya di rooftop. 


YEON-HEE: “Aku sudah bilang ke Dong Hoon semuanya. Sekarang, tak ada lagi yang perlu kukatakan padanya. Jika aku memberitahu mereka semua perbuatanmu, tamatlah kau. Tapi aku tidak akan bertindak sejauh itu karena masa lalu, jadi kau menyerahlah. Skandal? Kau gila? Aku saja sudah malu setengah mati karena menyukai orang sepertimu...” 

JOON-YOUNG: “Memangnya cuma aku yang jahat? Aku melakukan semua itu agar bisa menikahimu”

YEON-HEE: “Jangan membuatku tertawa. Kau dari awal mana ada niatan menikahiku. Dan kita sudah putus sekarang. Jadi kenapa kau masih mencoba menghancurkan Dong Hoon? Ini semua pasti karena keserakahanmu”

JOON-YOUNG: “Kau bilang begitu karena kita sudah putus? Jika kau menyalahkan semuanya padaku... apa perasaan jadi tenang?”

YEON-HEE: “Hentikan, kubilang! Hentikan mencoba menghancurkan Dong Hoon. Aku tidak tahan melihatmu kau menghancurkan Dong Hoon juga setelah kau menghancurkanku!”


Tiba-tiba, datanglah Ji-an, “Aku menyuruhnya kesini buat memperjelas semuanya!” ungkap Yeon-hee


“Berhenti menuruti perintahnya. Jangan dekati Dong Hoon, dan mengundurkanlah diri dari kantor ini!”

“Kalau aku berhenti sekarang, malah Park Dong Hoon yang rugi. Dia bilang dia akan menghadapinya tanpa menghindari masalahku”

“Masalah apa?”

“Kami sudah melakukan sesuatu”

“Apaan? Katakan!”

“Kenapa? Kau khawatir kami tidur bersama? Lucu sekali. Padahal kau yang selingkuh duluan.. Ada rumor di kantor kalau kami sedang menjalin hubungan. Ada foto juga!”

“Foto apa? Apa pemicu rumor itu? Akan kuadukan semua perbuatanmu, kalau kau menjebak mereka. Aku akan membongkar kalau kita selingkuh, makanya... kau menyuruh wanita ini buat mendekatinya... dan kau juga yang membuat Direktur Park dipecat. Hentikan ini sebelum aku membongkar semuanya. Kau juga hentikan ini”


“Jadi bagaimana ini? Uang pemberianmu sudah terlanjur kupakai” tanya Ji-an pada Joon-young

“Kau sendiri maunya bagaimana? Kalau aku menyuruhmu berhenti, kau mau berhenti?” tanya Joon-young

“Tentu saja berhenti, dengan baik-baik..” jawab Ji-an, yg kemudian berjalan pergi


Menyindir Yeon-hee, Joon-young berkata: “Kau tak mampu beritahu Dong Hoon soal wanita itu? Tentu kau tak bisa, karena kalau kau memberitahunya... pasti kau tak ada kesempatan kembali bersama... Dong Hoon kalau dia tahu kau tahu juga soal wanita itu. Kaulah yang lebih pengecut daripada aku!”


“Aku mungkin saja pengecut, tapi aku bukan sampah sepertimu. Lagipula kami tak bisa hidup bersama. Kau tahu hidup macam apa yang... dijalani olehku dan Dong Hoon? Dong Hoon sampai tak sanggup pulang ke rumah menemui... wanita yang tidur sama orang yang dia benci dan aku juga tidak tahan menanggung rasa bencinya terhadapku.  Aku hanya... ingin memastikan Dong Hoon tidak melihat perbuatan ini sebagai ulahmu.  Jadi aku menerima semua caci makinya... dan menerima semua rasa bencinya... sebagai hasil kesalahanku. Aku menunggunya menceraikanku setelah perasaan sayang dia terhadapku sirna. Hanya menunggu saat itulah yang bisa kulakukan demi Dong Hoon. Inilah hukumanku... karena dengan bodohnya menyukaimu... dan mengkhianati Dong Hoon!” papar Yeon-hee


“Kenapa semua wanita di hidupnya Park Dong Hoon seperti ini? Kau pikir wanita itu mendekati Park Dong Hoon karena aku? Aku juga dibodohi oleh wanita itu!” ujar Joon-young, yg kemudian berjalan pergi


Dalam perjalanan pulang, Joon-young menelpon pegawainya, “Suruh divisi pengawasan internal jangan membuka email anonim. Bilang ke mereka kalau itu perintah CEO!” perintahnya dengan kesal


Ternyata.. sikap Yeon-hee barusan, telah terencana secara matang, karena sebelumnya Ji-an memberitahunya bahwa Dong-hoon dalam bahaya, maka mereka mesti menghentikan Joon-young, sekarang juga!

Yeon-hee menelpon Ji-an, dia bertanya: “Kau sungguh menyukai Dong Hoon?”

“Ya” jawabnya singkat tapi tegas


“Baiklah. Pokoknya, terima kasih... karena sudah menelponku duluan..” ucap Yeon-hee, yg kemudian menangis terisak


Hari berubah gelap, seesampainya di depan rumah.. Ji-an melihat Gwang-il yg tengah duduk menunggunya.

“Nenekmu kausembunyikan dimana?” tanya Gwang-il

“Kita tidak punya alasan bertemu lagi..” ujar Ji-an dengan ketus


“Aku datang karena aku merindukanmu. Tapi kau tidak merindukanku?”

“Kau itu sampah, sama seperti ayahmu. Kau ingin menemuiku tapi tidak punya alasan. ‘Bagaimana caraku menemuinya?’, ‘Haruskah aku datang dan memukulnya?’, Dasar bajingan bodoh!”

“Jalang gila kau! Memangnya aku memukulmu karena merindukanmu? Yang benar karena aku membencimu. Jalang yang membunuh ayahku. Jalang yang tidak pernah minta maaf. Wajar aku membencimu!”

“Jadi, perasaanmu lega setelah memukuliku?”


Perdebatan mereka, membuat ajusshi tetangga temannya Sang-hoon, memehatikan mereka. 


Gwang-il hendak berjalan pergi, tapi sebelumnya dia sedikit cerita: “Jalan ke rumahmu ini mirip dengan bukit itu. Bukit yang kunaiki sambil menggendongmu... saat kau pingsan karena dipukul ayahku. Aku tak bisa mengambil keputusan. ‘Haruskah aku membunuhnya... atau haruskah aku bunuh diri?’....”


Sambil membantu Ki-hoon dan Sang-hoon ibu bertanya: “Kapan hasil kenaikan jabatannya Dong Hoon keluar?”

“Kami juga tak tahu...”

“Belakangan ini suara dia tak ada semangat. Apa ada masalah? Ibu tak enak mau tanya sama dia”

“Berhenti meneleponnya. Memang apa spesialnya jadi direktur?”

“Siapa yang bilang begitu? Ibu cuma khawatir... dia nanti kecewa kalau tak berhasil...”

“Si Hyung yang malah lebih khawatir sama Ibu, karena... takutnya Ibu kecewa. Jangan khawatirkan dia.”


Berikutnya, ibu mengunjungi Jung-hee sambil membuatkan sarapan untuknya, “Sepertinya ada yang dirahasiakan oleh mereka. Aku penasaran apa si Dong Hoon lagi ada masalah. Suaranya lesu sekali pas aku teleponan sama dia..” keluh ibu

“Dong Hoon baik-baik saja. Si Ki Hoon malah yang lagi ada masalah sama cewek. Dia menyukai seseorang..” ungkap Jung-hww


“Si wanita itu tahu dia tukang bersih?”

“Tahu..dan Jangan bilang-bilang, ya. Aku cerita tentangnya..”

“Dia seperti apa orangnya?”

“Tak tahulah”

“Dia orangnya aneh?”

“Pokoknya, Dia serasi sama Ki Hoon”


Dalam perjalanan, Ki-hoon terlihat begitu gusar.. dia turun dari mobil, tanpa cerita pada Sang-hoon, dia akan pergi kemana..


Ternyata, dia pergi menemui Surtradara Ahn yg tengah makan di sebuah kedai, bersama dengan kru-nya. Dia duduk disebelahnya, dan lansgung berkata: “Awalnya aku tidak percaya. Sungguh tak percaya. Tak kusangka ada orang yang sepertiku. Hei, bolehkah aku memelukmu? Aku mau menangis rasanya. Seakan aku melihat bayanganku sendiri. Kita, janganlah begini. Berhentilah menargetkan orang yang tidak bersalah. Aku tahu kenapa kau begitu. Sungguh tahu!”


“Tapi, jika kau tahu betul akting dia bagaimana--”

“Tidak! Pikirkanlah soal apa yang ingin kukatakan sekarang. Aku tahu semuanya!”

“Tahu apa?”

“Akulah satu-satunya orang yang tahu betapa bajingannya dirimu! Kau baru menyadari betapa jeleknya naskahmu... setelah film-mu mulai syuting, 'kan? Kita semua seperti itu. Kita tak bisa langsung tahu pas baca naskah. Tapi kita langsung mengerti selama syuting. 'Mampuslah aku!', Kau pikir wanita itu akan mengubah hasilnya? Jangan pakai alasan dia tidak bisa akting, kau harusnya fokus saja menyutradarai!”


Tak mampu meredam emosinya, Ki-hoon hendak menghajar Sutradara Ahn, sambil teriak: “Kalau sikapmu begini, kau akan menjadi sepertiku! Jangan pakai dia jadi aktrismu!”
Advertisement


EmoticonEmoticon