5/03/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 Part 1

Yoon Joo menjelaskan terapinya pada Seok Jin. “Seonsaengnim sangat cantik,” puji Seok Jin.Yoon Joo berterima kasih. “Apa mungkin kau punya kekasih?” Yoon Joo bilang tidak punya. “Lalau bagaimana kalau kita berkencan? Bagaimana kalau petang ini? Aku sudah memutuskan petang ini.”


Yoon Joo meminta maaf karena ia tidak mau membuat rumor dengan makan malam bersama pasiennya. Seok Jin mengerti dan langsung berdiri, sehingga membuat Yoon Joo terkejut. Yoon Joo bertanya kemana Seok Jin akan pergi


“Aku mau keluar rumah sakit. Aku sudah memutuskan. Kau bilang kau tidak mau makan dengan pasienmu. Aku akan bicara lagi denganmu setelah kelur,” kata Seok Jin.


Seok Jin minta izin keluar, namun tidak diperbolehkan. Ia bilang itulah satu-satunya cara agar Yoon Joo bersedia makan bersamanya. “Kalau tidak mengeluarkanku, aku akan menyelinap pergi. Aku sudah memutuskan,” kata Seok Jin pada perawat.


Yoon Joo mengkhawatirkan kondisi kesehatan Seok Jin, jika pindah rumah sakit secara tiba-tiba. Dia terpaksa menerima ajakan Seok Jin untuk makan malam. Tapi ia memberi syarat bahwa mereka hanya akan makan di restoran rumah sakit. Seok Jin setuju dan mereka akan makan malam besok. 


Bo Young mengirimkan pesan padda Gyu Min bahwa dia sangat ingin Gyu Min datang untuk terapi. Min Ho bilang Gyu Min bahkan tidak membaca pesannya, tapi Bo Young bilang ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. 


Bo Young merasa sudah salah menilai Jae Wook. “Benar, kau salah menilainya. Hei, sudah jelas kalau Ye Seonsaengnim itu berdarah dingin. Gunakan kesempatan ini untuk melupakannya sepenuhnya,” kata Min Ho bersemangat.


Nam Woo menatap curiga pada Min Ho. Mereka lalu mendapat pesan di grup.


Jae Woo juga menerima pesan dari Myung Cheol di grup. ‘Jika ada yang masih di rumah sakit, kirimkan padaku statistik akhir bulan ini’. Jae Wook membalas pesan itu dan akan mengirimkan datanya.


Nam Woo menyebut bahwa Jae Wook adalah pekerja keras dan itulah yang membuatnya sukses. Bo Young bilang pekerja keras saja tidak penting. Ia marah dan minum dalam satu tegukan.


Bo Young menghadang, sehingga Jae Wook langsung menghentikan mobilnya dan keluar.


Jae Wook: “Apa yang kau lakukan?”
Bo Young: “Aku yang seharusnya bertanya apa yang Seonsaengnim lakukan? Bisakah Anda bekerja dengan damai setelah menekan seorang pasien untuk menghentikan terapinya? Pergi dan minta maaflah pada Gyu Min. Katakan padanya bahwa Anda menarik kata-kata Anda dan minta maaf.”


Jae Wook ingin mengatakan sesuatu, tapi Bo Young terus bicara panjang lebar dan tidak memberikan kesempatan pada Jae Wook untuk membela dirinya. Bo Young bilang ia akan melakukan yang terbaik untuk terapi Gyu Min dan meminta Jae Wook agar tidak membatalkan terapinya. Ia lalu pamit pergi.


“Woo Seonsaengnim,” panggil Jae Wook, tapi ia tidak bisa mengejarnya karena ada mobil mengklakson di belakang mobil Jae Wook.


Min Ho dan Nam Woo mencari-cari Bo Young yang pergi tanpa membawa tasnya. Mereka kemudian dikejutkan dengan teriakan, “Ye Jae Wook!”


Sambil membawa botol minuman, Bo Young bermain mesin pukul tapi ia tidak bisa melakukannya. Ia kemudian mencobanya lagi, tapi sasaran pukulnya malah memantulkembali hingga mengenai kepala Bo Young.


Min Ho meminjam boneka bola milik orang yang di sebelahnya dan menggelindingkannya ke arah Bo Young. Bola itu tepat berada di bawah kepala Bo Young, sehingga ia tidak terbentur.


“Shin Min Ho, tidak heran kau jagoan dai klub bowling kita,” sorak Nam Woo gembira. Mereka berdua lalu menghampiri Bo Young dan membantunya bangun.


“Gyu Min... harus datang terapi. Bagaimana caraku meyakinkannya?” Bo Young mengigau. Nam Woo menyuruhnya berhenti bicara karena Gyu Min tampak seperti adik Bo Young. Nam Woo menggerutu bahwa Bo Young selalu saja ikut campur urusan orang lain.


Secara tidak sengaja, Bo Young menyandarkan kepalanya ke bahu Min Ho dan Min Ho membiarkannya.


“Betapa Bodohnya Dirimu oleh Shin Hyung Geon.”


“Kau tidak bisa meludahkan permen karetmu kapan saja kau mau. Jadi kau memasukkannya ke tempat sampah setelah membungkusnya dengan tissue. Betapa bodohnya dirimu.”


“Akan lebih cepat jika kau mengendap keluar dari pintu anjing, tapi kau justru mengambil rute yang jauh untuk menggunakan pintu utama. Betapa bodohnya dirimu.”


“Saat kau melihat seorang pria dengan wajah tertutupi arang.”


“Kau membungkuk padanya meski tidak perlu. Betapa bodohnya dirimu.”


Setelah memberi salam kepada petugas kebersihan, Bo Young melihat seorang kakek yang menyisir rambut istrinya yang menjadi pasien di rumah sakit.


“Kau menangis terisak seorang diri karena gurumu yang tegas dimutasikan, ketika orang lain tidak menangisinya.”


“Betapa bodohnya dirimu.”


“Memang apa hebatnya hal itu?”


“Kau berjongkok di depan bunga dandelion dan menatapnya dalam waktu yang lama. Betapa bodohnya dirimu.”


Min Ho tersenyum sendiri saat membaca buku kumpulan puisi berjudul ‘Topi Beroda’ yang dibelikan Bo Young untuknya.


“Tidak peduli betapa banyak bualan penuh kebohonganku.”


“Kau mengangguk-angguk bersamaku dengan mata terbuka lebar.”


“Betapa bodohnya dirimu.”


“Saat kau memanggilmu ‘bodoh’, kau hanya tersenyum. Sungguh... sungguh bodohnya dirimu.”


“Lalu, bagaimana denganku?”


“Aku begitu menyukaimu hingga mengikutimu kemanapun, seolah aku adalah bayanganmu.”


“Apa aku ini?”


Min Ho mencari secara online buku puisi ‘Musim Hujan yang Indah’, tapi memang sudah terjual habis. Joo Yong penasaran dan menghampirinya. Nam Woo juga bertanya apa yang Min Ho cari itu. Min Ho menutup laptopnya dan bilang itu adalah buku yang ingin Bo Young baca, tapi sudah tidak dicetak lagi.


“Oh, ini cinta. Cinta,” goda Joo Yong. Min Ho hanya tersenyum. “Tapi, apa maksudnya ‘Musim Hujan yang Indah’ itu?” Nam Woo bilang sebelum keluarganya bangkrut 10 tahun lalu, ia mempelajarinya di kelas puisi. Ia bilang artinya adalah hujan yang indah turun di saat yang tepat. “Oh, kalau begitu, puisinya pas untuk Shin Min Ho. Dari yang kudengar melalui Nam Woo, ini waktu yang sempurna untuk menyatakan perasaan.”


Min Ho: “Waktu yang sempurna untuk menyatakan perasaan?”
Nam Woo: “Benar. Bo Young kan sedang sangat kesal pada Ye Seonsaengnim saat ini. Dia tidak lagi memiliki perasaan apapun apda pria yang pernah disukainya. Memangnya ada waktu yang lebih pas dari sekarang? Jika kau ragu-ragu, kau akan kehilangan kesempatanmu. Cepat nyatakanlah.”
Min Ho: “Benar. Lebih baik aku menyatakannya sekarang juga.”


Joo Yong: “Sungguh?”
Min Ho: “Bercanda. (ngiik) Ini bukan waktuyang tepat. Bo Young kan habis ditolak. Ketika mentalnya sudah penuh sepulihnya dan dia memiliki perasaan serius terhadapku, saat itulah aku akan menyatakannya.”


Min Ho menyuruh kedua temannya tidur saja, karena mereka bertengkar lagi. Ia sendiri membuka laptopnya lagi.
Advertisement


EmoticonEmoticon