5/03/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 PART 4

Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 Part 3

Shi Eun memuji rambut Yoon Hee yang baru saja diwarnai. Dari luar, Shi Won melihat lalu menghampiri mereka.


Shi Won bilang ia sudah mencari mereka kemana-mana. Ia mengeluh punggungnya sakit karena bermain bersama anak kembarnya dan meminta mereka untuk memasangkan koyo. “Lebih bagus lagi jika bisa memberi pijatan ultrasoun,” kata Shi Won.


Yoon Hee memasangkan alat terapi pada Shi Won. Tapi kemudian Shi Won berteriak karena merasa terlalu panas dan membuat alatnya terjatuh. Myung Cheol datang dan Shi Won langsung menyembunyikan wajahnya.


“Aigoo, apakah panas sekali, Pak?” tanya Myung Cheol mengkhawatirkan pasien mereka. Ia menunjukkan giginya pada Shi Eun dan Yoon Hee. “Aku Kepala disini. Maafkan aku atas ketidaknyamanannya. Aku secara resmi minta maaf menggantikan mereka.”


“Tidak apa-apa. Kenapa Anda tidak pergi saja?” kata Shi Won dengan menyamarkan suaranya. Yoon Hee berusaha menahan tawanya.


Myung Cheol sudah bersedia pergi, tapi ia melihat tanda pengenal dan kacamata Shi Won di ranjang satunya. “Bukan aku yang seharusnya pergi,” kata Myung Cheol dengan mengubah suaranya. “Tinggalkan rumah sakit ini, Park Seonsaeng!” teriaknya marah.


“Maafkan aku, Kepala,” kata Shi Won.


Myung Cheol meletakkan alat terapi tadi ke punggung Shi Won. “Panas! Panas!” teriak Shi Won. Yoon Hee dan Shi Eun berusaha keras untuk menahan tawanya. Myung Cheol pergi. “Lepaskan ini. Panas!”


Myung Cheol mengajak Shi Eun dan Yoon Hee makan malam tim dan tidak peduli walaupun mereka sudah ada acara. Ia bilang makan malam tim adalah bagian dari tugas, jadi tidak bisa dilewatkan hanya demi urusan pribadi. Mereka berdua terpaksa setuju.


“Bagaimanapun, kurasa Woo Seonsaengnim masih tetap atasan yang terbaik,” kata Shi Eun sambil memperhatikan atasan mereka yang lainnya. Yoon Hee setuju.  


Yoon Joo sangat menikmati makanannya, tapi ia menolak traktiran Seok Jin dan akan membayarnya sendiri. Ia bilang ditraktir oleh pasien termasuk larangan profesinya.


“Mari berkencan. Aku sudah memutuskan,” kata Seok Jin. Yoon Joo sangat terkejut. “Aku menyukai dirimu apa adanya.” Yoon Joo merasa itu semua terlalu cepat. “Bukankah ‘cepat’ justru adalah hal baik? Aku tidak mau membuang waktu dalam mengambil keputusan. Mari kita berkencan. ”


Yoon Joo bilang mereka akan bicara setelah selesai makan. Ia memberikan makanan ke piring Seok Jin dan menyuruhnya makan. Seok Jin tampak terkejut dan mengambil ponselnya.


“Ibu, ini aku. Sapalah calon menantu ibu,” kata Seok Jin dengan serius. Yoon Joo tersedak. “Sapalah,” kata Seok Jin sambil memberikan ponselnya.


Yoon Joo: “Menantu?”
Seok Jin: “Aku sudah memutuskan untuk menikahimu.”
Yoon Joo: “Apa?! Mana bisa kita menikah semendadak ini?”


Seok Jin bilang pada ibunya bahwa dia akan menghubunginya lagi. Ia mengatakan bahwa ia sangat menyukai kebijakan Yoon Joo saat memberikan makanan tadi. “Yoon Joo-ssi, aku sungguh-sungguh. Aku sudah memutuskan rumah pertama kita berada di Sangam dong. Dan aku memutuskan memiliki dua anak. Anak pertama akan menjadi Hakim, lalu anak kedua akan menjadi tutor di Noryangjin. Itulah keputusanku. Setelah anak-anak dewasa, kita akan pensiun di usia 60 tahun dan tinggal di sebuah rumah di Gangwon-do,” kata Seok Jin.


Yoon Joo benar-benar terkejut, apalagi ketika Seok Jin melanjutkan perkataannya dengan sedih, “Kau akan meninggal di usia 78 tahun. Lalu aku akan dikuburkan di sampingmu saat meninggal di usia 85 tahun. Itulah keputusanku.” Yoon Joo bertanya kenapa dia yang harus mati lebih dulu, tapi di sadar dan berkata bahwa Seok Jin sudah melewati batas.


Yoon Joo bilang mereka tidak cocok dan pergi, tapi Seok Jin menahan tangannya. “Tolong putuskan untuk duduk kembali,” pinta Seok Jin. Yoon Joo berteriak minta dilepaskan.


“Sudah hentikan!” kata Dae Bang yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka. 


Dae Bang dan Seok Jin saling menatap tajam. Dae Bang merasa kecewa pada Yoon Joo, karena menolak makan bersamanya dengan alasan dia adalah pasien, tapi Yoon Joo malah menerima ajakan Seok Jin. Seok Jin bilang itu karena Yoon Joo tidak menyukai Dae Bangdan menyuruhnya pergi.


“Kenapa? Kau berencana menghidupkan suasana agar bisa memeluk dan mencium Yoon Joo?” kata Dae Bang. Yoon Joo bertanya apa maksudnya. “Ahli pembuat keputusan ini sudah memutuskan. Dia memutuskan memeluk dan menciummu sebelum kau kesini! Dasar berandal!” Seok Jin tidak terima dan mendorong Dae Bang.


Dae Bang: “Barusan kau mendorongku? Mau kupukul, ya? Atau tidak? Kupukul? Tidak?”
Seok Jin: “Aku sudah memutuskan memukulmu.”


Seok Jin memukul kepala Dae Bang dan juga menyeruduknya. Mereka saling mengejek bahwa tingkat plin plan dan keahlian dalam memutuskan sudah tidak bisa disembuhkan. “Hentikan kalian berdua!” kata Yoon Joo sambil melepaskan mereka. “Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengencanimu, jadi berhentilah menggangguku!” kata Yoon Joo pada Seok Jin. “Dan aku tidak tertarik makan malam bersamamu, jadi tidak usah merasa kecewa!” katanya pada Dae Bang.


“Apa?” kata Seok Jin dan Dae Bang bersamaan. Yoon Joo mengibaskan rambutnya dan berkata bahwa dia bersikap baik hanya karena mereka adalah pasiennya. Ia lalu pergi.


Min Ho pergi ke sebuah toko buku.


Petugas akhirnya menemukan buku berjudul ‘Musim Hujan yang Indah’. Ia meniup debu tebal yang ada di buku itu dan memberikannya pada Min Ho.


“Ya, benar. Aku tidak bisa menemukannya di toko buku manapun. Terima kasih banyak,” kata Min Ho.


“Luka oleh Jung Yeon Bok.”


“Tidak ada seorang pun di dunia ini.”


“Yang tak pernah terluka.”


“Tertutupi oleh goresan setelah hari yang panjang, hanyalah kehidupan.”


“Mari berhenti menyembunyikan rasa sakit kita. Kita disebut manusia, karena kita bisa terluka.”


Jae Wook melihat Bo Young yang sedang termenung sendirian di sebuah kafe, lalu menghampirinya.


“Luka hanya dapat tersembuhkan bersama dengan luka lain.”


Jae Wook: “Katamu ada yang ingin disampaikan.
Bo Young: “Ya. Itu.. Aku mendengarnya dari Gyu Min. Dia bilang Anda berhenti dari baseball akitab cedera. Aku ingat Anda mengatakan mengubah haluan Anda saat SMA, tapi aku tidak tahu Anda terpaksa membuat keputusan tersebut akibat cedera. Maafkan karena aku berpikir sesuka hatiku dan berkata sembarangan pada Anda, tentang Anda yang tidak memahami betapa sakitnya menyerah akan impian kita. Aku sangat menyukai puisi, sehingga ingin menjadi penyair. Tapi tidak bisa karena kondisi keuanganku. Dan hal itu begitu melukaiku. Maafkan aku.”


Jae Wook ingin menyentuh Bo Young untuk menenangkannya, tapi ia mengurungkan niatnya karena mengingat pesan Bo Young agar tidak memperlakukannya dengan baik lagi ataupun menghiburnya. 


Min Ho melintas di depan kafe dan melihat kejadian itu.


Bo Young duduk sendirian di halte.


Jae Wook pulang dengan mobilnya dan melihat Bo Young ada di halte, tapi ia membiarkannya saja.


Jae Wook menerima pesan dari Gyu Min. ‘Seonsaengnim, aku Gyu Min. Aku merasa agak malu, jadi kuputuskan mengirimi Anda pesan. Aku akan berusaha keras selama terapiku, jadi tolong Seonsaengnim jangan menyerah atas diriku, seperti yang Anda janjikan. Aku tidak akan membiarkan lukaku membelengguku lagi.’


Jae Wook mencengkeram setirnya, lalu memutarbalikkan mobilnya untuk kembali menemui Bo Young. Ia menghubungi Bo Young, “Woo Seonsaengnim, ayo bertemu. Ada yang ingin kukatakan.”


Min Ho melangkah tidak bersemangat sambil membawa buku yng diinginkan Bo Young. Ia mengingat akan makna puisi yang disampaikan Nam Woo kemarin bahwa puisi itu tentang waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Ia menghubungi Bo Young, “Hei, si cengeng Bo Young. Dimana kau? Ada yang ingin kukatakan. Tidak. Aku harus mengatakannya sekarang.”


Jae Wook menuju Bo Young dengan mobilya, sedangkan Min Ho berlari.


Bo Young duduk sendirian di kursi taman. Ia kemudian berdiri ketika ada yang datang.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Bo Young.
Advertisement

1 comments:

Kira-kira siapa yang sampai duluan ya? Jae wook? Min ho? Jae wook? Min ho?


EmoticonEmoticon