5/06/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 12 PART 1

SINOPSIS A Poem A Day Episode 12 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 11 Part 4

“Apa? Ya, sampai jumpa disana,” kata Bo Young setelah Jae Wook mengajaknya bertemu.


Setelah itu, Bo Young menerima telepon dari Min Ho yang juga mengajaknya bertemu. “Ada apa? Aku tidak bisa sekarang. Aku ada janji lain.”


“Kalau begitu, datanglah ke kafe depan rumah sakit setelah selesai. Aku akan menunggumu disana,” kata Min Ho. Bo Young merasa heran karena Min Ho terdengar sangat serius, tapi ia juga penasaran apa yang ingin dikatakan Jae Wook.


Bo Young menghampiri Jae Wook dan bertanya apa yang ingin dikatakannya. “Aku... tidak akan membiarkan lukaku membelengguku lagi. Bukankah aku pernah bilang padamu? Aku pernah berkencan dengan rekan kerjaku dan mengalami masa sulit sebagai hasilnya. Aku tidak ingin mengalami hal serupa lagi, sebab itu aku menolak Woo Seonsaeng,” kata Jae Wook.


“Tapi tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, aku tidak bisa melepaskanmu. Aku... sangat menyukaimu,” lanjut Jae Wook.


Bo Young: “Ye Seonsaeng..”
Jae Wook: “Aku tahu kalau aku menjadi tidak tahu malu setelah menyakiti hatimu begitu. Tapi, bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?”
Bo Young: “Kesempatan? Maksudnya... kita berkencan?”


Jae Wook tersenyum dan berkata, “Ya.” Bo Young memukul pipinya dan terasa sakit. “Woo Seonsaengnim.” Bo Young bilang ia tidak percaya dan merasa itu hanya mimpi, tapi ternyata rasanya sangat sakit.


“Kalau begitu, ini sungguhan?” tanya Bo Young masih tidak percaya. Jae Wook tersenyum. “Daebak. Terima kasih. Terima kasih sudah membuka hatimu untukku. Aku akan memastikan kau tidak akan terbelenggu oleh lukamu. Aku... sangat bahagia sekarang.”


Jae Wook tersenyum manis melihat respon Bo Young yang begitu manis.


Min Ho berlari dengan terburu-buru sampai tertabrak motor. Buku puisinya ikut terjatuh. Min Ho berusaha bangkit dan menghela napasnya.


A Poem A Day Episode 12- Lagu Cinta yang Malang untuk Pemuda Sebelah Rumah.


Min Ho menjalani pemeriksaan, dan Joo Yong bilang tulangnya baik-baik saja. Ia bilang Joo Yong terlihat sangat profesional sekarang. “Tentu saja. Aku dikenal sebagai radiografer terampil disini. Kau beruntung aku sudah berjaga malam,” kata Joo Yong bangga. Min Ho bilang tugas malam sangat sulit. “Sebagai gantinya aku dapat libur besok. Benar-benar libur. Yes!”


Joo Yong ikut senang karena Min Ho sudah mendapatkan bukunya dan menyarankan agar Min Ho segera menyatakan perasaannya. “Aku mengerti. Aku perg,” pamit Min Ho.


Min Ho mengirim pesan bahwa dia tidak jadi menemui Bo Young. ‘Aku baru membaca pesanmu. Baiklah, kita bicara lain waktu,’ balas Bo Young.


Min Ho duduk di kursi tunggu dan bergumam, “Kenapa tadi mereka bersama? Dan kenapa Bo Young menangis?” Ia mengingat saat Bo Young kesal pada Jae Wook karena Gyu Min, “Tidak mungkin mereka bisa berbaikan setelahnya. Inilah yang terbaik. Daripada menyatakan di bawah kecemasan, lebih baik menunggu waktu yang tepat.”


Yoon Joo berjalan pulang setelah berbelanja dan merasa ada yang kurang, Ia kemudian panik sendiri karena yang dia lupakan adalah memakai bra. Ia menutupi dadanya dan berjalan lebih cepat


Yoon Joo kemudian melihat Bo Young sedang bermain di taman dan tertawa sendirian. “Kenapa dia seantusias itu?” gumam Yoon Joo heran.


Sampai di rumah pun, Bo Young masih tertawa sendiri. Ia kemudia bangun dan saling berkirim pesan dengan Jae Wook. Jae Wook bertanya apakah Bo Young sudah sampai di rumah dan apakah ingin berangkat bersama besok.


“Daebak. Kami pasti benar-benar berkencan,” kata Bo Young dalam hati dengan sangat bahagia. Ia setuju untuk berangkat bersama Jae Wook.


Yoon Joo melihat Bo Young yang sedang heboh sendiri dan bertanya, “Dengan siapa kau bertukar pesan sampai sebahagia itu? Kau punya kekasih, ya?” Bo Young menyangkal. “Kau tersenyum lebar tapi tidak bertukar pesan dengan kekasihmu? Kau kelihatan sangat antusias sejak tadi, jadi kusangka kau mulai berkencan.”


Bo Young tersenyum dan menggeleng. Dia mengiyakan ajakan Yoon Joo untuk menonton film dan minum bersama. “Mungkin seharusnya aku memberitahu yang sebenarnya” gumamnya setelah Yoon Joo pergi. “Tidak. Ye Saem terluka setelah berkencan di tempat kerjanya. Jika orang-orang mengetahui kami berkencan dan mulai menggunjingkan kami, dia mungkin akan menutup dirinya lagi. Tidak bisa. Aku harus merahasiakannya.”


“Apa aku berlebihan ya?” gumam Bo Young sambil memperhatikan pakaiannya. “Tapi setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk hari pertama kami jadian.” Min Ho tiba-tiba muncul dari belakangnya.


Bo Young bilang ia berangkat lebih awal untuk mempersiapkan seminar dan bertanya apa yang Min Ho lakukan. Min Ho bilang ia akan pergi keluar untuk mencari makanan karena hari ini ia sudah mendapat izin tidak bekerja  dari Myung Cheol.


Bo Young bersyukur karena cedera di kaki Min Ho tidak parah. Ia lalu bertanya apa yang ingin Min Ho katakan semalam. “Itu.. nanti akan kukatakan. Tapi, apa yang terjadi padamu? Aku melihatmu dengan Ye Seonsaengnim di kafe semalam. Dan kau menangis. Apakah ada yang terjadi?” kata Min Ho. Bo Young bilang Jae Wook memberikannya beberapa saran atas sikap kasarnya


Bo Young lalu menerima pesan dari Jae Wook bahwa dia sudah sampai. Ia pun pamit pergi, tapi Min Ho berinisiatif akan mengantar Bo Young sampai halte bus. “Tidak, kau cedera. Makanlah lalu cepat pulang untuk istirahat,” kata Bo Young. Min Ho setuju. “Aku pergi.”


“Hampir saja,” gumam Bo Young lega.


“Bo Young-ku hari ini kelihatan sangat cantik,” gumam Min Ho.


Bo Young menyarankan agar merek menjalani hubungan rahasia, agar orang lain yang bekerja bersama mereka tetap merasa nyaman. “Terserah padamu saja,” kata Jae Wook. Bo Young bilang ia tidak khawatir karena Jae Wook bisa mengontrol emosinya dengan baik, tapi dia malah sebaliknya.


“Bolehkah aku memberimu sa..(ngiik) Bukan, maksudku, bolehkah aku memberimu saran karena sayang padamu? Bersikaplah seperti biasanya. Hari ini sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah. Begitulah kontrol pikiran bisa berakhir,” kata Jae Wook.


Bo Young meletakkan tangannya di depan wajahnya dan berkata, “Mode datar.” Mereka berdua kemudian tertawa.


“Kebahagiaan oleh Na Tae Joo.”


“Ini bukan tentang di mana kita kemarin.”


“Dan bukan soal di mana kita esok.”


“Namun, tentang dimana kita hari ini. Dan juga... dirimu.”


Myung Cheol memberitahu pada timnya bahwa hari ini Min Ho tidak masuk kerja. Ia lalu menanyakan apakah timnya sudah siap untuk kontes CPR petang ini. Shi Won bilang mereka selalu berlatih setiap kali luang.


Nam Woo mengangkat tangannya dan bertanya apa itu kontes CPR. Yoon Joo bilang itu adalah acara yang digelar di rumah sakit setiap tahun.


Yoon Hee menambahkan bahwa setiap departemen harus berhadapan dengan pasien serangan jantung dan mendemonstrasikan bagaimana paramedis harus merespon. Myung Cheol bertanya situasi apa yang dipersiapkan departemen mereka.


“Latar tempatnya di arena es di Olimpiade lalu. Kami menonton pertandingan, lalu seorang atlet mengalami serangan jantung, jadi kami melakukan tindakan pertolongan yang diperlukan. Bagaimana?” kata Bo Young. Myung Cheol kurang setuju, karena olimpiade sudah berakhir bulan lalu. Ia lalu menanyakan pendapat Jae Wook.


Jae Wook: “Bolehkah aku..”
Myung Cheol: “Ya, beri dia saran.”
Jae Wook: “Memberinya pujian? Aku menyukai ide itu Aku menganggapnya menarik. Kita sudah selesai? Kalau begitu, permisi.”


Yoon Joo merasa heran karena mesin saran seperti Jae Wook malah memberikan pujian. Semua orang kecuali Bo Young bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya.


Shi Won lalu masuk ke ruangan Jae Wook untuk mengembalikan tesis yang dipinjamnya. Tapi Jae Wook tidak juga merespon dan sibuk menulis. Shi Won memanggil nama Jae Wook berkali-kali, barulah Jae Wook menoleh.


Shi Won sangat terkejut karena ternyata Jae Wook sedang sibuk menggambar hati. “Heol. Kau sedang menggambar hati. Kenapa mendadak menggambarnya?” tanya Shi Won.


Jae Wook terkejut dan hampir salah tingkah. Ia lalu beralasan kalau mereka baru saja membicarakan tentang CPR, jadi ia merasa terinspirasi dengan hati. Shi Won menatapnya curiga.


Bo Young berinisiatif untuk membawakan boneka dummy yang berat dari ruang pelatihan.  Jae Wook datang dan berkata bahwa dia akan ikut bersama Bo Young untuk mengambil bonekanya. Ia beralasan kalau dia sekalian akan membeli kopi untuk semua orang.


Shi Won yakin Jae Wook mulai berkencan karena suasana hatinya sedang baik dan tadi menggambar hati. Semua orang terkejut. Shi Won bertambah yakin karena  Jae Wook bahkan membelikan mereka kopi. Semua orang belum terlalu yakin dengan dugaan Shi Won.


Sambil membawa peralatan, Bo Young berpesan agar Jae Wook tidak bersikap seperti itu lagi. “Jangan khawatir. Mana mungkin mereka menyadarinya kalau aku bersikap seperti biasanya?” kata Jae Wook yang sama sekali tidak menyadari perubahan sikapnya. “Kurasa kau yang harus mengontrol pikiranmu. Kau terus menatapku dengan penuh cinta.”


Bo Young: “Aku?”
Jae Wook: “Ya. Aku sungguh khawatir seseorang akan menyadarinya. Aku kan menyuruhmu bersikap seperti biasanya. Jangan membuat terlalu kentara kalau kita berkencan.”


Jae Wook lalu mengambil peralatan yang ada di tangan Bo Young dan membawanya sambil tersenyum. “Haruskah kukatakan padanya kalau dia yang lebih kentara? Dia membuat Park Seonsaengnim curiga.” gumam Bo Young. Ia lalu berjalan menyusul Jae Wook.


“Tidak bisa. Kalau kulakukan, lalu dia menutup diri lagi? Oh.. tidak boleh. Tidak, tidak” batin Bo Young.

7 komentar

  1. Huwaaaah sedih liat minho:'(

    BalasHapus
  2. Pasangan kocak, yg satu kaku, yg satu romantis.... Like deh ini drama.... Buat yg buat sinopsis smangat terus ya....fighting

    BalasHapus
  3. Kok kasian ya sama Minho... .😥😥😥

    BalasHapus
  4. Lanjut lg dooong kk.. Bsk senin ep 13 nya udh tayang... Lucu bgt nie drama, keren sm puisi, cerita n akting smua pemain nya. Sukaaaa bgt. Like 1jt x.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon