5/07/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 12 PART 3

Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 12 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 12 Part 2

Shi Won menyebut Departemen Klinis sangat bekerja keras untuk menampilkan kontes CPR. Yoon Joo setuju dengannya.


Myung Cheol heran karena  Jae Wook menonton kontes tersebut, padahal Jae Wook pasti sibuk. “Aku ingin menontonnya,” kata Jae Wook sambil mengedipkan matanya pada Bo Young. Myung Cheol tidak mengerti.


Yoon Joo berbisik dan menduga kalau Jae Wook datang kesana karena merasa hampa setelah bertengkar dengan kekasihnya. “Benar. Jelas dia sedang berkencan,” kata Shi Won dan Bo Young bisa mendengar percakapan mereka. Bo Young lalu permisi ke toilet.


Keluar dari toilet, Bo Young menemukan seorang petugas kebersihan yang pingsan karena serangan jantung. Ia segera meminta diambilkan defibrillator yang ada di samping lift dan memberikan CPR.


Joo Yong yang sedang belajar merasa terganggu dengan suara game yang dimainkan Min Ho dan Dae Bang. Ia lalu menutup pintu kamarnya lagi. Dae Bang merasa bersalah karena seharusnya ia tidak mengganggu Joo Yong yang sedang belajar demi meraih 900 poin TOEIC, karena sebelumnya meraih 890.


“Apa maksudnya? Skornya 270, kok. Sama seperti ukuran sepatuku,” kata Min Ho. Dae Bang kesal karena Joo Yong sudah berbohong padanya. “Aku melihatnya sendiri. Dia selalu menonton film dan drama. Dia juga sibuk berkencan dan tidak belajar.” Dae Bang bertambah terkejut, karena sebelumnya Joo Yong bilang ia tidak pernah berkencan.


Min Ho mengatakan bahwa Joo Yong menyebut Dae Bang sangat plin plan. Dan Dae Bang bilang bahwa Joo Yong menyebut Min Ho seperti anak kecil. Mereka masuk ke kamar Joo Yong dan menemukannya sedang tertawa terbahak-bahak sambil membaca komik.


Dae Bang dan Min Ho bertambah kesal. Mereka berdua lalu menyerang Joo Yong.


Nam Woo kesal karena tidak diizinkan ikut makan malam bersama tim, karena disuruh menjaga Min Ho. Ia bertambah kesal, karena Min Ho malah minta dibawakan minuman, yang berarti keadaannya baik-baik saja.


Nam Woo kemudian melihat Mi Rae yang sedang dimarahi karena menjatuhkan ayam ke dalam air. Ia terkejut, karena Mi Rae memanggil pria itu dengan sebutan bos. Mi Ra kemudian melihat Nam Woo disana.


Mi Rae mengakui bahwa dia hanya bekejera paruh waktu di restoran orang lain, bukan milik keluarganya. Nam Woo bilang Mi Rae tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Mi Rae bilang ia tidak mau Nam Woo tahu kalau ia kesulitan dan bekerja paruh waktu. Ia malu karena masih menjalani kehidupan yang menyedihkan seperti dulu.


Nam Woo tersenyum dan mengajaknya makan malam. Tapi Mi Rae bilang ia tidak punya waktu untuk itu, karena harus pergi ke tempat bekerja paruh waktu berikutnya. Ia lalu pergi.
Flashback..


Nam Woo mendaftar bekerja paruh waktu di restoran tempat Mi Rae bekerja. Bos meminta Mi Rae untuk mengajari Nam Woo bekerja.


Tangan Nam Woo terluka dan Mi Rae tampak sangat khawatir. Mereka sepertinya jatuh cinta sejak pandangan pertama.


Mi Rae memakai rok untuk kencan pertamanya dengan Nam Woo. Ia bilang itu adalah gaun yang dibelikan ibunya saat ia masuk universitas. Nam Woo memujinya sangat cantik.


Di bus, Nam Woo bilang mereka harus berhenti di halte selanjutnya. Tapi ia melihat Mi Rae tertidur. Ia menarik kepala Mi Ra dengan hati-hati dan menyandarkannya di bahunya. Ia terlihat sangat senang.


Saat turun dari bus, Mi Rae bertanya kenapa Nam Woo tidak membangunkannya. “Aku merasa kau lebih butuh tidur disbanding nonton film,” kata Nam Woo. Mi Rae bilang Nam Woo pasti ingin menonton film. “Tidak apa-apa. Aku lebih bahagia menontonmu tidur, daripada menonton film.”


Nam Woo akan mengajak Mi Rae membeli makanan, tapi Mi Rae menerima telepon dari mantan bos dari restoran lain yang memintanya bekerja menggantikan pegawainya yang sakit.  “Tidak, jangan pergi. Ini satu-satunya hari liburmu,” kata Nam Woo sambil memegang tangan Mi Rae. Mi Rae meminta maaf karena ia tetap harus pergi, apalagi bos itu berjanji akan memberikannya uang lembur. Ia mengecup pipi Nam Woo lalu pamit pergi.


Nam Woo tersenyum bahagia. “Tunggu saja. Aku akan segera mendapatkan pekerjaan, sehingga kau tidak perlu bekerja lagi selamanya,” gumam Nam Woo.


Nam Woo lalu melihat Mi Rae sedang bekerja sebagai kasir di mini market.


Myung Cheol sangat senang, karena tim mereka memenangkan juara pertama. Ia berterima kasih pada Bo Young yang menyelamatkan nyawa tadi. Ia kemudian merasa heran, karena untuk pertama kalinya ia melihat Jae Wook berinisiatif untuk mengajak minum lebih dulu.


Shi Won berbisik pada Myung Cheol bahwa Jae Wook merasa haus, karena bertengkar dengan kekasihnya. Tapi, Myung Cheol masih belum sependapat dengannya. Yoon Hee lalu mengajak mereka berfoto dengan pialanya.


Shi Eun mengajak mereka berfoto dengan menggunakan aplikasi yang bisa membuat mereka terlihat imut. Jae Wook bertanya dimana dia bisa berfoto. “Kau mau ikutan?” tanya Shi Won heran.


Jae Wook lalu mengambil posisi tepat di sebelah Bo Young.


Jae Wook terus saja menatap foto Bo Young dan bergumam bahwa dia akan mengantarnya pulang nanti. Tanpa ia sadari, di belakangnya ada Myung Cheol dan Shi Won.


Shi Won yakin tadi Jae Wook baru saja melakukan video call dengan kekasihnya. “Tadi perempuan? AKu tidak bisa lihat, karena terlalu jauh,” kata Myung Cheol. Shi Won bilang ia melihat wajah perempuan berambut panjang dan feminim. “Benarkah? Dia sungguh memiliki kekasih?”


“Apa yang sedang kita lihat ini?” tanya Myung Cheol terkejut ketika kembali ke ruang karaoke. Ia sampai mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa ini nyata?”


Semua orang sangat terkejut melihat Jae Wook mengiringi Bo Young bernyanyi dan alat music kecik. Sekarang, Myung Cheol yakin kalau Jae Wook memang sudah mulai berkencan.


Mi Rae tampak merapikan barang-barang di etalase mini market.
Flashback..


Mi Rae sangat senang, ketika menerima gaji dari bosnya. Ia menghitung uangnya, lalu menerima telepon dari ibunya.


“Ya, Ibu. Ada apa?” katanya. Ia terkejut karena keluarga mereka akan kehilangan uang deposit rumah mereka, karena ayahnya melakukan kekeliruan. Ibunya bilang mereka bisa menjadi gelandangan.


Nam Woo menunggu kedatangan  Mi Rae di depan rumahnya dan membawakannya makanan. “Tidak perlu. Kau saja yang makan,” kata Mi Rae murung. Nam Woo bilang Mi Rae harus makan untuk memulihkan tenaganya.


Mi Rae: “Kau tidak lelah? Kita berdua menjalani kehidupan melelahkan. Kita hanya sibuk bertahan hidup. Kau juga pasti sama lelahnya denganku. Kau tidak perlu menjagaku.”
Nam Woo: “Mi Rae-ah..”
Mi Rae: “Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak punya waktu dan tenaga untuk berkencan. Kita… akhiri sampai di sini saja. Nanti, saat kehidupan kita menjadi lebih baik, mari kembali bersama lagi. Aku akan bekerja keras. Jadi aku tidak akan terlalu miskin saat bertemu lagi denganmu. Jadi, kau juga bekerja keraslah.”


“Mi Rae! Kim Mi Rae!” panggil Nam Woo.


Mi Rae menangis tersedu-sedu di tangga masuk rumahnya.


Nam Woo membelikan makanan untuk Mi Rae, tapi ia bingung pesan apa yang harus ia tulis. Ia sampai meremas kertasnya beberapa kali, hingga akhirnya ia menulis, ‘Mi Rae, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku akan segera mendapat pekerjaan, percayalah padaku’.


Keluar dari toko, Nam Wooe menerima telepon dari ibunya. “Ya, Ibu. Apa? Pindah? Apa maksud ibu?” Ibunya bilang ayah Nam Woo sudah tidak mendapat pekerjaan apapun di lokasi konstruksi dan restoran tempatnya bekerja tutup. Orang tuanya berencana untuk bekerja membantu di lading milik kerabat mereka. “Apa?”


Nam Woo melangkah dengan lesu. Ibunya bilang akan menggunakan deposit rumah untuk membayar hutang, walaupun itu belum cukup. Ia bertanya apakah Nam Woo bisa tinggal di asrama pelajar saja sampai lulus kuliah.


Nam Woo melihat Mi Rae yang masih sibuk bekerja. “Aku tidak punya waktu atau tenaga untuk berkencan. Aku bahkan tidak bisa meringankan beban orang tuaku,” gumam Nam Woo. Ia lalu melihat Mi Rae keluar toko.


Saat kembali, Mi Rae menemukan tas makanan dan membaca pesan dari Nam Woo yang sudah diganti menjadi, ‘Mi Rae, tetaplah sehat. Aku mendoakan kebahagiaanmu’. Ia melihat sekeliling, tapi tidak bisa menemukan Nam Woo.
Advertisement


EmoticonEmoticon