5/10/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 Part 1

Joo Yong bilang temannya sedang menulis artikel tentang pasien yang tidak terlupakan, dan karena dia belum lama bekerja, ia bertanya apakah Dae Bang memiliki pasien yang seperti itu. “Pasien tidak terlupakan? Aku tidak yakin,” kata Dae Bang.


Seorang pasien anak perempuan baru saja keluar dan hasilnya adalah anak itu menelan 3 koin sekaligus. Dae Bang bertanya apakah pasien itu termasuk kategori tidak terlupakan. Joo Yong menolak karena kasus menelan koin cukup sering terjadi.


“Aku pernah punya pasien yang menelan cincin. Dia memakan cincin lamaran yang disembunyikan di dalam kue,” kata Joo Yong. Dae Bang bilang itu masih biasa, karena dia pernah punya pasien yang menelan kunci saat mabuk, karena menolak disuruh pulang. “Pernah juga ada bayi yang menelan mainan Darth Vader,” kata Joo Yong lagi.


Dae Bang mengatakan bahwa ada juga pasiennya yang menelan sendok the. “Apa itu mungkin terjadi?” tanya Joo Yong heran. Dae Bang menjelaskan bahwa saat pasiennya sedang menyuapkan es krim ke mulutnya, temannya memukul punggungnya dari belakang dan membuat sendok itu tertelan. Ia bilang Joo Yong bisa membuat daftar kasus seperti itu dan mengirimkannya kepada temannya.


Joo Yong merasa mereka semua pasien atas kasus konyol, jadi mereka berdua memutuskan untuk memikirkan kembali pasien yang benar-benar tak terlupakan. Mereka lalu kembali bekerja, karena ada pasien lagi yang datang.


Saat tahu kalau Kabid. Kim sudah selesai dioperasi dan akan menjalani terapi di tempat tidur, Bo Young langsung mengajukan dirinya karena salah satunya pasiennya membatalkan jadwal terapinya. Myung Cheol setuju.


Bo Young datang ke ICU dan melihat Kabid. Kim dengan sedih. Ia lalu mulai memberikan terapi pada jari-jari dan lengan Kabid. Kim.


Di ruang kerjanya, Bo Young sangat murung, tapi Shi Won malah minta dibuatkan kopi. Shi Won akhirnya akan membuatnya kopinya sendiri, karena Yoon Joo menegurnya. Yoon Joo mengerti perasaan Bo Young yang pasti sangat sedih karena orang yang dikaguminya masih belum sadarkan diri.


Menurut Nam Woo, hari ini bukan saat yang tepat bagi Min Ho untuk menyatakan perasaannya, karena Bo Young terlihat sangat sedih. 


Min Ho lalu melihat ke arah Bo Young yang sedang menerima pasien yang baru datang. “Hei, mungkin dengan pengakuanku, dia akan ceria lagi,” kata Min Ho.


“Hm.. Bo Young.. Aku menyukaimu,” kata Min Ho di sebuah restoran. “Bisakah kau menerima perasaanku?”


Nam Woo: “Tidak.”
Min Ho: “Ah, si brengsek ini. Malam ini bukan saat yang tepat, seperti yang kau bilang, jadi aku membatalkan rencana kami untuk berlatih dulu. ”


Ia terpaksa mengajak Nam Woo yang juga sedang sedih untuk berlatih di tempat dengan pemandangan terbaik itu, karena Joo Yong sedang shift malam. Ia menyuruh Nam Woo makan saja. Nam Woo bilang sebagai balasan atas makanannya, ia mengizinkan Min Ho untuk berlatih lagi.


“Benarkah? Baiklah. Ehem.. Ehem.. Bo Young, aku tulus menyukaimu. BIsakah kau menerima perasaanku?” kata Min Ho. Nam Woo yang berperan sebagai Bo Young, kembali menolak Min Ho. “Apa?” Nam Woo bilang ia menolak. “Wow, dasar brengsek.”


Nam Woo bilang tidak ada jaminan kalau Min Ho akan mendapat hasil positif nanti. “Menurut pengalamanku, dalam hidup kau tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau harus bersiap dengan kemungkinan terburuk agar tidak terlalu terluka nanti,” katanya. Min Ho mengajak Nam Woo pulang saja.


Jae Wook yang tahu alasan Bo Young murung, meyakinkan bahwa Kabid. Kim akan segera sadar. Ia berpesan bahwa terapisnya juga harus lebih kuat. Ia lalu menyalakan radio untuk membuat suasana lebih ceria, tapi semua channel malah sedang memutar lagu sedih. Ia memutuskan untuk mematikan radionya.


“Bolehkah aku memberimu saran? Kau tidak perlu berusaha terlalu keras. Aku sudah menjadi kuat hanya dengan kau ada di sisiku. Terima kasih, Ye Seonsaengnim,” kata Bo Young.


Dae Bang dan Joo Yong baru saja memeriksa pasien yang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang setelah wamil. Mereka bersyukur karena tulang pasien masih berada di tempatnya. Joo Yong bilang tentara itu mengingatkannya pada pasien yang dulu pernah diperiksanya.
Flashback..


Joo Yong menjelaskan bahwa alat yang akan pasien gunakan akan membuatnya merasa agak sakit. Tapi pasien itu malah meminta agar Joo Yong menekan kakinya dengan keras agar dianggap sebagai cacat dan dia tidak perlu menjalani wamil.


Joo Yong bilang ia malah memberikan perawatan yang baik, sehingga pasien itu menjai cukup sehat untuk pergi wamil. “Apakah itu masuk kategori pasien tidak terlupakan?” tanyanya pada Dae Bang. Dae Bang setuju, tapi ia juga menceritakan salah satu pasiennya dulu.
Flashback..


Dae Bang menangani pasien mabuk berat yang baru saja berkelahi dengan temannya. Ia meminta pasien menarik napas panjang, tapi pasien itu malah meminta dibawakan alkohol lalu menyerang Dae Bang, hingga akhirnya Dae Bang pun harus  menjalani rontgen di punggungnya.


Joo Yong kemudian mengatakan bahwa kedua pasien itu adalah pasien yang menyedihkan bukan tak terlupakan. Mereka kemudian berusaha mengingat pasien yang lain. “Kita tidak seperti dokter dan suster yang merawat pasien untuk waktu yang lama. Dan kita bertemu 200-300 pasien sehari. Bagaimana kita bisa mengingat mereka semua?” tanya Joo Yong. “Kecuali mereka spesial.”


-2 minggu kemudian-


Jae Wook memberitahu Bo Young kalau hari ini, Kabid. Kim sudah bisa datang ke pusat terapi. Yoon Joo merasa prihatin, karena Kabid. Kim berubah menjadi pasien hanya dalam semalam. Shi Won bilang jika Kabid. Kim sudah bisa datang ke pusat terapi, itu merupakan kabar yang sangat baik.


Setelah Yoon Joo dan Shi Won pamit ke ruang seminar, Jae Wook duduk dan menatap Bo Young sambil tersenyum. Ia sepertinya memahami perasaan Bo Young.


Shi Won menerima telepon dari istrinya yang meminta uang 500.000 dollar untuk satu set DVD pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini, padahal anak kembarnya baru berusia 1 tahun. Yoon Joo bilang mengajarkan anak kesehatan dan perilaku baik sejak dini adalah yang paling penting. Shi Won setuju.


Para pasien menatap kasihan pada Kabid. Kim yang datang ke pusat terapi dengan menggunakan kursi roda dan sesekali mengelap air liurnya yang menetes. Salah satu pasien bertanya bagaimana Kabid. Kim bisa mengalami infark serebral dan merasa hidup tidak adil. “Aku baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan aku dan fokus saja pada perawatanmu,” kata Kabid. Kim berusaha terlihat tegar.


Saat terapi akan dimulai, Kabid. Kim bilang ia merasa pencernaannya terganggu setelah sarapan tadi. Ia minta kembali ke ruang rawatnya untuk beristirahat. Bo Young menawarkan diri untuk membawa Kabid. Kim kembali ke ruang rawatnya.


Pasien dan wali lain juga merasa prihatin karena sebelumnya Kabid. Kim sangat memperhatikan kesehatan mereka. Mereka juga berpikir selayaknya para tukang cukur yang tidak bisa mencukur rambut mereka sendiri, ternyata dokter juga tidak bisa memeriksa dirinya sendiri.
Comments


EmoticonEmoticon