5/10/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 13 Part 3

Min Ho ternyata datang bersama Nam Woo yang kesal karena Min Ho tidak bilang mereka akan pergi kemana, karena seharusnya ia memakai pakaian resmi. Min Ho bilang Nam Woo tidak punya pakaian resmi.


Nam Woo hampir membuka jaketnya dan ternyata dia tidak memakai baju. Ia bilang ia punya baju bermerk yaitu baju buayanya yang saat ini sedang dijemur. Ia mengkhawatirkan bajunya dan berpikir untuk menghubungi Joo Yong untuk mengangkat bajunya dari jemuran.


Min Ho mengambil amplop berisi tiket pertunjukannya dengan sangat bahagia, karena Bo Young memikirkan dirinya ketika ia sendiri tidak bisa menonton pertunjukkan yang sangat ia inginkan itu.


Nam Woo: “Mungkin kau hanya menelepon di saat yang tepat, ketika dia seharusnya menonton pertunjukan ini bersama orang lain. Hidup seperti itu. Semakin kejam kau berpikir tentang hidup…”
Min Ho: “Cukup. Hidup tidak seburuk itu. Berpikirlah yang masuk akal. Bo Young tidak punya  kekasih.”
Nam Woo: “Baiklah, ayo masuk.”


Saat mengeluarkan tiketnya, Min Ho tidak sengaja menjatuhkan kertas catatan dari Jae Wook untuk Bo Young.


“Oh, apa itu?” tanya Nam Woo penasaran sat Min Ho sedang sibuk melihat denah tempat duduknya. Ia berjalan mendekati kertas catatan itu. “Whoa, aku menemukan 10.000 won!” ujarnya bahagia.


Kertas catatan itu berada di dekat sepatu Nam Woo, tapi perhatiannya lebih tertuju pada uang tersebut. Min Ho ikut senang dan mengatakan bahwa terkadang hidup juga memberikan kejutan yang indah. “Mungkin kau benar. Apa aku terlalu pesimis? Aku sangat bahagia. Aku menemukan 10.000 won,” kata Nam Woo.


Seorang wanita datang dan mengatakan bahwa uang itu adalah miliknya yang terjatuh. (ngiik) Ia menengadahkan tangannya dan minta uang itu dikembalikan. Nam Woo tersenyum  dan memberikan tiket itu.


“Seharusnya sejak awal uang itu tidak kutemukan. Kenapa uang itu datang padaku lalu pergi lagi,” kata Nam Woo yang kembali menjadi pesimis. Min Ho tidak bisa berkata apa-apa. “Hidup memang sangat kejam. Selalu seperti ini.”


“Hey, itu tidak benar,” kata Min Ho lalu mengajak Nam Woo masuk ke ruang pertunjukan musikalnya.


Setelah memberikan tiket itu pada Min Ho, Bo Young kembali ke rumah sakit. Ia bertanya pada perawat jaga apakah Kabid. Kim masih ada di kamar rawatnya. “Ya, dia ada disana,” jawab perawat itu.


Bo Young menahan air matanya, lalu membuka pintu kamar Kabid. Kim. Ia terlihat sangat terkejut.


Di dalam ia melihat Jae Wook yang sedang memberikan terapi kepada Kabid. Kim. Ia mendengar Jae Wook berkata, “Aku tahu apa yang Anda pikirkan. Tapi, sama seperti Anda memberikan harapan kepada banyak pasien, aku berusaha melakukan hal yang sama untuk Anda. Jangan pikirkan apapun dan singkirkan semua kekhawatiran.”


Kabid. Kim menangis terharu dan menganggukkan kepalanya. Kini, ia terlihat lebih bersemangat dalam menjalani terapinya. Bo Young tidak jadi masuk dan memilih duduk di luar rumah sakit, lalu memakai earphone-nya.


“Dalam perjalanan pulang ke rumah.”


“Aku menyerahkan hatiku pada matahari terbenam.”


“Dan aku memikirkan tentang hal yang kau lakukan dan merasa sedih karena terlalu banyak pikiran.”


“Karena tidak ada cara untuk mengetahui.”


“Apa yang akan terjadi esok.”


“Aku hanya bisa memeluk punggungmu dan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja.”


“Aku rasa ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, ketika aku mulai tidak sabar.”


“Aku merasa sedih atas beban berat yang sudah lama kau rasakan.”


“Aku harap sesuatu yang baik akan terjadi  padamu besok.”


“Karena kau berhak mendapatkannya.”


“Aku harap kau melepaskan semua bebanmu dan menjadi bahagia lagi.”


“Aku sungguh-sungguh berdoa untuk itu.”


“Pulang ke Rumah oleh Kim Yoon Ah.”


Jae Wook keluar dari rumah sakit dan melihat Bo Young. Mereka kemudian saling tersenyum bahagia.


Myung Cheol bilang seharusnya Shi Won dan Yoon Joo bersyukur karena punya atasan seperti dirinya yang romantis karena membawa mereka melihat bunga sakura. Ia lalu pergi mencari toilet. “Romantis apa? Kenapa aku harus selalu pergi ke festival ini dengan kalian berdua?” keluh Yoon Joo. Shi Won bilang itu karena Yoon Joo tidak punya orang lain untuk pergi bersamanya.


Mereka berdua lalu melihat sekumpulan orang yang tampaknya masih pelajar. Shi Won bilang mereka terlihat terlalu muda untuk menjadi mahasiswa.


“Hei, bukankah itu putra Kepalanya? Dia minum!” kata Yoon Joo terkejut karena pelajar dilarang minum alkohol. Shi Won melihatnya dan ikut terkejut. Kemudian Myung Cheol kembali dari toilet.


“Apa yang kalian lihat?” tanya Myung Cheol. Kedua bawahannya bilang tidak ada apa-apa dan melarangnya menoleh ke belakang. “Ada banyak orang asing di belakangku. Karena ini amsa globalisasi, kita harus mengajarkan anak kita berbahasa Inggris dengan baik. Park Seonsaeng, ajari anakmu agar mereka menjadi pintar seperti putraku.”


Myung Cheol lalu menoleh ke belakang karena sangat berisik. Yoon Joo dan Shi Won menahannya dan mengajaknya bersulang dan bernyanyi. “Sepertinya mereka masih anak-anak, tapi sudah minum. Aku penasaran apakah orang tuanya tahu. Itulah kenapa pendidikan sangat penting. Lihatlah Jin Sung. Kami membuatnya belajar sejak dia kecil ,” kata Myung Cheol. Kemudian terdengar keributan lagi.


Seorang pria asing mengira Jin Sung sengaja memukulnya, padahal sebenarnya Jin Sung hanya sedang bercanda dengan teman-temannya dan tubuhnya terdorong mengenai pria asing itu. Myung Cheol merasa tidak bisa tinggal diam karena mereka terlihat seumuran dengan putranya. Ia menoleh dan terkejut.


Jin Sung: “Ayah?”
Myung Cheol: “Hei, apa yang kau lakukan disini?!”


Myung Cheol lalu menarik Jin Sung pergi dan bilang akan memarahinya. Semua orang melihat ke arah mereka berdua.


Yoon Joo merasa sudah salah karena menganggap Jin Sung sebagai siswa teladan. Ia lalu pergi lebih dulu karena busnya sudah datang. Shi Won lalu menghubungi istrinya.


“Halo, ini aku. Batalkan pemesanan DVD Bahasa Inggrisnya. Aku rasa kita tidak membutuhkan pendidikan dini. Bagaimana aku tahu? Aku melihat sendiri di depan mataku tentang kegagalan pendidikan dini. Pokoknya, batalkan itu,” kata Shi Won lalu menutup ponselnya. “Aigoo.. sangat sulit menjadi excellent father .”


Setelah menonton pertunjukan musikal itu, Nam Woo bilang ia sudah pernah menonton pertunjukan yang sama. Ia bilang 10 tahun lalu sebelum keluarganya bangkrut, ia dan keluarganya selalu menonton muikal setiap akhir pekan.


Min Ho bilang Nam Woo bisa kembali hidup seperti itu jika bekerja keras. “Walaupun hidup itu kejam, kau tidak bisa menyerah begitu saja. Kau harus bekerja keras,” katanya. Nam Woo setuju untuk menjadi lebih optimis dan berjabat tangan. Ia lalu menerima telepon dari Joo Yong.


“Hei, Joo Yong. Kaosku…. Benarkah? Oh, baiklah. Sampai jumpa,” kata Nam Woo lalu tertawa. “Joo Yong bilang dia pergi ke atap untuk mengambil jemuran, tapi kaos buayaku hilang.” Min Ho terkejut. “Haha.. aku tidak tahu apakah itu terbang atau dicuri.” Sekarang dia sedih. “Aku menyerah. Aku menyerah. Aku menyerah dalam hidup. Semangat? Apa gunanya?”


Melihat Nam Woo nelangsa seperti itu, Min Ho lalu mengajaknya minum. “Minum? Apa gunanya? Aku akan pulang sendiri jalan kaki. Pergilah tanpaku.”


Nam Woo melangkah dengan lesu. “Hei, hei, Nam Woo,” panggil Min Ho, tapi Nam Woo tidak peduli.


Jae Wook meminta maaf karena baginya saat ini merawat Kabid. Kim lebih penting. Bo Young mengerti dan berharap keadaan Kabid. Kim segera membaik. Jae Wook bilang mereka berdua harus merawat Kabid. Kim jika ingin hal itu terwujud. Ia kemudian menggenggam tangan Bo Young.


Jae Wook bilang ia akan mengantar Bo Young sampai depan pintu gedung asrama. Ia juga bilang kalau bersama Bo Young mengobati kelelahannya. Ia membuka lengannya dan meminta Bo Young memeluknya. “Jadi, ayo kita seperti ini sebentar lagi,” katanya.


Min Ho turun dari mobil dan merasa melihat sesuatu tidak jauh dari sana. Dengan cemas, ia menoleh ke belakang.


Mata Min Ho langsung berkaca-kaca, ketika melihat Bo Young sedang berpelukan dengan Jae Wook.


Advertisement

1 comments:

gomawo utk artikelnya
http://fauziaherbal.com/obat-herbal-polip-hidung/


EmoticonEmoticon