5/21/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 PART 2

SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 Part 1

Dae Bang berkata bahwa dia merasa harus bekerja dua kali lebih keras, karena kemarin harus absen selama beberapa hari karena cedera. Ia mengambil alat dari tangan Joo Yong dan bilang akan bekerja tiga kali lebih keras. “Ah, seharusnya 4 kali. Tunggu. Bukankah harusnya 5 kali lipat? Tidak, 6 kali lipat,” gumam Dae Bang bimbang dan Joo Yong memilih pergi.


Pasien terdengar sangat lemah, dan senang karena dokter bilang kondisinya sudah membaik. Ia juga lega karena Dae Bang sudah sembuh. Ia meminta Dae Bang untuk mengambil beberapa jus buah persik. Joo Yong akan menolaknya, tapi Dae Bang buru-buru mengambilnya dan berterima kasih. “Ini jus persik favoritku,” kata Dae Bang senang.


Saat beristirahat, Joo Yong merasa kalau Dae Bang sangat dekat dengan pasien tadi. Dae Bang bilang pasien sudah dirawat disana lebih dari 3 bulan dan mereka sering bertemu. Joo Yong bilang mereka dilarang menerima hadiah dari pasien.


“Itu benar. Tapi memberikan jus persik ini adalah cahaya bagi hidupnya. Awalnya aku menolaknya, tapi dia sangat sedih. Dia bilang aku sudah seperti putranya sendiri, jadi ingin melakukan sesuatu untukku. Jadi aku menerimanya dan membelikan makanan ringan sebagai gantinya,” jelas Dae Bang.


Joo Yong: “Tapi Seonbaenim, bukankah kau alergi persik?”
Dae Bang: “Benar.”
Joo Yong: “Jadi, kau akan membuang ini?”
Dae Bang: “Tentu tidak. Aku bimbang apakah harus diberikan pada orang lain, tapi akhirnya kubawa pulang dan disimpan di kulkas. Jadi, aku punya banyak di rumah. Mungkin suatu hari, alergiku akan lenyap. ”


Tim Fisioterapis sudah sampai di lokasi dan akan mencoba bermain APV. Hanya yang memiliki SIM yang boleh mengendarainya, jadi yang tidak punya hanya akan membonceng.


Jae Wook ingin menawarkan Bo Young agar naik bersamanya. “Tidak,” kata Min Ho memotong ucapan Jae Wook. “Woo Seonsaeng bisa kubonceng. Aku tidak ingin mengendarainya sendirian.” Bo Young menolak. “Kenapa? Apa ada alasan kau harus dibonceng oleh Ye Seonsaengnim?” Bo Young terpaksa setuju.


Mereka bersiap mencoba APV-nya.


Ketika yang lain sudah berangkat, Nam Woo masih belum jalan sama sekali, padahal Shi Won tampak sangat bersemangat. Shi Won menyuruh Nam Woo segera berangkat. “Cepat berangkat? Tidak peduli secepat apapun, kita akan tetap di belakang. Apa gunanya,” kata Nam Woo.


Shi Won menyuruh Nam Woo turun dan dia yang akan mengemudi. Ia menasehati agar Nam Woo tidak pesimis. Ia lalu menjawab ponselnya, “Ya? Apa? Anda tidak bisa mendadak menaikkan depositnya senilai 30 juta won. Bisakah Anda turunkan untuk kami? Aku mengerti.” Sekarang Shi Won berpikir kalau semua memang tidak ada gunanya.


Bo Young ketakutan, karena Min Ho mengendara dengan terlalu cepat dan ugal-ugalan. Jae Wook berusaha menyusul mereka.


“Kehidupan Bagaikan Penggunaan Rekening Bank oleh Kim Shi Tak.”


Pandangan Shi Won dan Nam Woo terlihat kosong, padahal mereka sedang berkendara.


“Bayar uang pokok, bayar bunga, dan jika melewati masa tenggat, bayar bunganya.”


“Penggunaan rekening bank dapat dibatalkan jika terasa terlalu membebani. Namun ketika hidup menjadi terlalu melelahkan, mungkinkah bagi kita membatalkannya di tengah jalan?”


“Jika kita mengkalkulasikan tahun-tahun kita hidup dan mengembalikannya pada sisa usia kita, dapatkah kita membatalkannya?”


“Akankah kita mendapatkan dana pembatalan?”


“Kehidupan bagaikan sangkutan hutang dalam waktu yang panjang.”


Myung Cheol, Yoon Hee, Yoon Joo dan Shi Eun merasa heran ketika melihat Min Ho dan Jae Wook berkendara dengan sangat kebut. Myung Cheol menyebut mereka Raja balapan. “Kalau mereka pecundang  balapan,” kata Yoon Joo ketika melihat kedatangan Shi Won dan Nam Woo.


Mereka berempat terkejut, karena Shi Won terus saja mengemudi ke arah danau. Yoon Joo berteriak menyuruh mereka berhenti. Shi Won dan Nam Woo berhasil berhenti tepat waktu, tapi masih belum sadar bahaya yang akan mereka hadapi tadi. “Kalian berdua, sadarlah!” kata Myung Cheol.


Jae Wook mengambil jalan lain dan berhasil menghadang Min Ho. Ia bertanya apakah Bo Young baik-baik saja. “Ya,” jawab Bo Young lega.


Setelah mengembalikan APV, Bo Young bertanya kenapa Min Ho marah dan bersikap kejam padanya. Ia bertanya apa kesalahannya. “Aku begini karena sia-sia. Sia-sia! Setelah Ye Seonsaengnim menolakmu, aku menghabiskan waktuku mendengarkan keluh kesahmu, bahkan mengajakmu ke pantai untuk menghiburmu. Waktu yang kuhabiskan untuk mengkhawatirkanmu itu sia-sia,” kata Min Ho.


“Setelah kau menghabiskan begitu banyak waktuku yang berharga,  setelah kau membuatku mengkhawatirkanmu, kau mengubah pikiranmu dan mengencaninya diam-siam. Itu menjengkelkan! Aku benci melihatnya!” kata Min Ho lagi.


“Kalian tidak masuk?” panggil Myung Cheol. Min Ho lalu masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Sementara itu di rumah sakit, Dae Bang berusaha menahan tidak buang air besar di jam kerjanya. Joo Yong hanya tertawa. Tapi kemudian ia mencium bau yang tidak enak. “Pergilah! Cepat pergi!” kata Joo Yong. Dae Bang lalu berlari pergi.


Joo Yong lalu membuka pintu agar udara segar masuk. Ia kemudian menerime telepon bahwa ada pasien dalam kondisi kritis dan ia diminta datang.


Joo Yong sampai di ICU dan sangat terkejut, karena pasien yang sedang kritis adalah pasien bernama Park Chul Jin yang suka memberikan jus persik untuk Dae Bang. Setelah berusaha keras, dokter lalu memberikan pernyataan bahwa pasien meninggal.


Joo Yong ikut sedih.


Myung Cheol merasa heran karena Min Ho tidak mau makan makanan enak yang ada di hadapan mereka itu. Yoon Hee bilang Min Ho ingin tidur saja di mobil.


Yoon Joo kemudian memberi kode bahwa selain Min Ho, masih ada 2 orang lagi yang tidak berselera makan. Myung Cheol meminta Nam Woo agar menyadarkan dirinya dan segera mendapatkan pekerjaan dan menyemangati Shi Won yang pasti akan mendapatkan pinjaman lain untuk depositnya.


Shi Eun menggunting cabai dan Nam Woo tanpa sadar memakannya. Shi Eun bilang cabai itu sangat pedas. “Pedas? Tidak peduli sepedas apapun cabai, tidak akan mengalahkan rasa sakit kehidupanku,” kata Nam Woo sambil terus mengunyah. “Apa gunanya itu..” kata Nam Woo lalu berhenti bicara karena mulai merasa pedas.


Shi Won mengambil tissue dan daging, lalu akan memakannya. Jae Wook memanggilnya dan memberikan makanan yang benar dan bilang kalau Shi Won bisa sakit perut kalau makan tissur. “Sakit perut? Kehidupanku sudah penuh kesakitan. Apa gunanya?” kata Shi Won. Myung Cheol kesal dan menyuruh mereka berdua tidur saja di mobil seperti Min Ho.


Bo Young keluar dan menyadari kalau dia di posiis Min Ho, maka dia juga akan merasa marah. Ia lalu menghampiri Min Ho yang sedang tidur di dalam mobil. Ia mengetuk kacanya dan Min Ho membukanya.


Bo Young menyuruh Min Ho makan, tapi ditolak. Ia kemudian meminta agar Min Ho tidak marah lagi. “Kubilang pergi!” kata Min Ho. Bo Young berharap kalau Min Ho mengerti bahwa dia sangat menyukai Jae Wook.


Min Ho membuka pintu mobil dan tidak sangaja membuat Bo Young terjatuh. Ia tekejut, tapi tetap mengabaikannya. “Sudah kusuruh kau pergi!”


Jae Wook berdiri tidak jauh dari sana dan melihat kejadian itu, tapi ia tidak berkata apa-apa dan membiarkan Min Ho masuk ke dalam restoran.


Jae Wook menghampiri Bo Young, merapikan pakaiannya dan menanyakan keadaannya. “Aku baik-baik saja,” kata Bo Young.

2 komentar

  1. Lanjutttt part 3 & 4, semangattt !!! Banyak pending yaaa?? setia kok nunggu ny :), jgn mengecewaQn pembaca ok3 ;) di tunggu sinopsis2 Drama yg lain ny & Drama yg baru :*

    BalasHapus


EmoticonEmoticon