5/26/2018

SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 PART 3

Advertisement
SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS A Poem A Day Episode 14 Part 2

Dalam perjalanan kembali dari ruang ICU, Joo Yong merasa sedih karena pasien Park Chul Jin meninggal. Ia menduga kalau Daae Bang yang lebih dekat dengan Chul Jin, pasti akan merasa lebih sedih.


Saat Joo Yong kembali ke ruang X-ray, Dae Bang bercerita bahwa pasien yang baru saja diperiksanya mengalami patah tulang lengan karena bertengkar dengan suaminya. Dae Bang merasa prihatin dan berpikir untuk tidak menikah. Tapi di sisi lain, ia juga yakin kalau pernikahannya bisa saja bahagia.


Joo Yong merasa bingung saat ingin memberitahukan kabar kematian Chul Jin, tapi akhirnya ia berani memberitahukannya. Dae Bang terkejut, karena sampai pagi tadi Chul Jin masih baik-baik saja. Ia merasa sedih, tapi ia yakin kalau Chul Jin berada di tempat yang lebih baik sekarang.


Seorang pasien datang lagi dan Dae Bang mulai bekerja. “Apa dia sungguh baik-baik saja?” gumam Joo Yong khawatir.


Saat sampai di lokasi berikutnya, Yoon Joo bilang tempatnya sangat indah. Shi Eun bilang ia dan Yoon Hee memilih tempat itu dengan hati-hati. Yoon Joo bertanya apa yang akan mereka lakukan, karena masih ada waktu senggang sebelum mereka bisa minum.

Myung Cheol mengajak mereka semua bermain dodge ball, tapi para wanita kelihatannya tidak menyukai ide itu. Yoon Joo bilang ia sudah bosan bermain dodge ball, tapi Myung Cheol tidak peduli. Sementara itu di belakang mereka, Shi Won dan Nam Woo melangkah dengan sangat lesu.


Jae Wook menghampiri Min Ho yang ada di paling belakang dan mengajaknya bicara secara pribadi. Mereka lalu pergi ke tempat lain.


Jae Wook: “Boleh aku memberimu saran? Bersikaplah sopan pada Woo Seonsaengnim.”
Min Ho: “Apa? Sopan?”
Jae Wook: “Aku tahu kalian bersikap santai satu sama lain, karena kalian teman satu kuliah. Tapi ini rumah sakit, bukan kampus. Di sini, Woo Seonsaengnim bukanlah temanmu, tapi seonbaer dan atasanmu. Jadi, tolong bersikaplah sopan.”


“Maafkan aku, tapi Bo Young bukanlah seonbae atau atasanku. Dia gadis yang kusukai,” kata Min Ho dengan percaya diri. Jae Wook terkejut. “Aku menyukai Bo Young. Anda bertanya-tanya alasanku bersikap kasar padanya? Karena aku benci melihatnya menyukai pria lain. Aku tahu, kalian berdua bekencan. Aku bahkan melihat kalian berdua berpelukan di depan mataku.”


Jae Wook bilang itu berarti dia tidka perlu menjelaskan lebih jauh, karena Min Ho sudah tahu semuanya. Ia menyarankan agar Min Ho mengakhiri perasaannya apda Bo Young. “Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Bo Young mungkin belum tahu, tapi aku akan segera menyatakan perasaanku,” kata Min Ho.


Min Ho bilang ia tidak bisa menerima Bo Young berkencan dengan Jae Wook, apalagi sebelumnya Jae Wook sudah menolak Bo Young dan membuatnya terluka. Ia khawatir, Jae Wook akan mengubah perasaannya lagi dan membuat Bo Young terluka lagi.


Jae Wook bilang ia tahu Bo Young sangat terluka saat itu, tapi ia bilang Min Ho juga tidak berhak mengatakan itu karena sebelumnya Min Ho juga sudah menolak perasaan Bo Young dan melukainya. Ia tetap meminta Min Ho mengakhiri perasaannya untuk Bo Young, karena ia tidak bisa menerima Min Ho memiliki perasaan pada kekasihnya. Ia lalu pergi lebih dulu.


Myung Cheol berkata bahwa tim yang kalah akan mentraktir makan siang dalam perjalanan pulang besok. Mereka setuju. Min Ho terus saja menatap sinis pada Jae Wook, tetapi tidak ada yang menyadarinya.


Yoon Joo yang pertama kali melempar bola. Min Ho ditim lawan dengan sigap menangkapnya dan melemparnya dengan keras ke arah Jae Wook. Tetapi, Jae Wook berhasil menghindar, sehingga bola itu mengenai Nam Woo tepat di wajahnya. Yoon Joo bertanya apakah Nam Woo terluka.


“Aku terluka? Aku terluka setiap hari selama menjalani kehidupan ini, jadi siapa yang peduli jika wajahku sedikit luka?” kata Nam Woo tidak peduli. Shi Eun berteriak kalau Nam Woo mimisan. “Mimisan?” tanya Nam Woo datar lalu menyentuh hidungnya dan barulah dia panik. “Aku mimisan. Mimisan!” Ia lalu keluar dari lapangan dan yang lain mulai bermain lagi.


Min Ho melempar ke arah Jae Wook lagi, tapi malah mengenai kaki Shi Won. Shi Won diam saja. Myung Cheol bertanya apakah Shi Won tidak merasa sakit, padahal terkena lemparan bola yang cukup keras.


“Tidak sakit? Kehidupan saja sudah menyakitkan. Jadi siapa yang peduli kalau ini sa... Hya... Sakit! Sakit sekali!” kata Shi Won yang terlambat menyadari rasa sakitnya. Permainan dilanjutkan sampai beberapa orang keluar, hingga akhirnya hanya ada Min Ho dan Jae Wook yang terus saling melempar.


Semua orang merasa heran dengan mereka berdua. Myung Cheol merasa mereka seperti sedang mengadakan pemilihan atlet dodge ball.


Sepulang bekerja, Joo Yong menawari Dae Bang untuk minum soju, tapi Dae Bang bilang ia sedang tidak berselera dan mempersilakan Joo Yong minum saja sendiri. “Aku juga tidak mau. Kupikir Seonbaenim mau minum. Kau sungguh baik-baik saja?” tanya Joo Yong. Dae Bang tetap bilang ia baik-baik saja dan menyuruh juniornya itu untuk makan.
Flashback..


Dae Bang mengingat saat dirinya masih junior yang lupa memeriksa salah satu pasien. Ia bilang pada seniornya bahwa ia akan memriksa dan mengakui kesalahannya pada pasien, tapi seniornya menyuruhnya berbohong dengan mengatakan ada masalah dengan mesinnya.


Pasien yang dimaksud datang dan mengakui kesalahannya. Pasien yang ternyata mantan radiografer merasa senang karena Dae Bang sudah jujur padanya. Sedangkan, saat pasien masih bekerja dulu, dia suka berbohong dengan mengatakan bahwa mesinnya bermasalah.


Dae Bang kemudian mendapat kartu terima kasih dari pasien itu, karena Dae Bang sudah menjadi orang yang jujur. Pasien juga berharap kalau akan ada lebih banyak pegawai yang jujur seperti Dae Bang. Dia tertawa senang.


Dae Bang mengatakan pada seniornya bahwa ia akan menyimpan kartu itu di sakunya dan mleihatnya dari waktu ke waktu. Ia merasa bersyukur karena mendapat kartu pujian, padahal seharusnya ia mendapatkan komplain atas kesalahannya.


Dae Bang membelikan kue untuk pasien tadi, lalu melihat seorang perawat berlari keluar dari kamar rawat pasien yang ingin Dae Bang datangi.


Senyum Dae Bang menghilang saat melihat seorang dokter sedang memberikan CPR pada pasien itu. Dokter itu menggelengkan kepalanya, lalu perawat melepaskan alat oksigen pasien. Dokter menyatakan pasien meninggal. Suaminya langsung memeluk pasien dan menangis, sedangkan DaeBang menjatuhkan tas kuenya.


Setelah kejadian itu, Dae Bang larut dalam kesedihannya. Senior menegurnya karena tidak juga memeriksa padahal pasien sudah siap.


Senior memintanya tidak lagi berdua atas kematian pasien itu. Ia mengatakan bahwa Dae Bang bisa saja melakukan kesalahan pada pasien lain jika terus begitu.


Melihat Dae Bang terus melamun, Joo Yong mengambilkan makanan dan menyuruhnya makan.  “Baik, ayo kita makan,” kata Dae Bang lalu mulai makan. Joo Yong masih menatapnya dengan prihatin.


Dae Bang pulang ke rumahnya. Ia mengambil jus persik hadiah dari mending pasien Chul Jin dari dalam tasnya.


Dae Bang membuka kulkasnya dan menyimpan jus persik itu bersama jus-jus yang ia terima sebelumnya. Ia menatap jus itu dengan sangat sedih.


Advertisement


EmoticonEmoticon