5/10/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 2 PART 2

SINOPSIS Greasy Melo Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Wok of Love Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 2 Part 3

Geng Ajusshi bertatto sayap, tiba-tiba datang dengan membawakan kue dilengkapi beberapa lilin yg tinggal ditiup diatasnya, Bersama-sama, mereka bernyanyi: ’Selamat ulang tahun untuk... kami’


Chil-seong nampak bingung, maka Maeng-dal bertanya: “Bos.. kau tak ingat ini hari apa?”


Di kue tersebut terdapat tulisan: ‘selamat membuka lembar (kehidupan) baru’


[ Tiga Tahun yg Lalu...]

Mereka berenam, berimpitan dalam satu mobil. Entah apa yg sebenarnya mereka perincangkan, tapi mereka membahas tentang upah dan pisau (agak rancu sih bagian ini?). Serta sepertinya, Chil-seong tengah dikejar oleh seseorang yg berniat mencelakainya..


Namun Chil-seong tak merasa takut sedikit pun. Dia malah membagikan uang untuk yg lainnya, lalu sempat membacakan kutipan dari buku yg ditulis oleh ‘Nietzsche’ (filosofer dari Jerman), kemudian menanyikan lagu ‘What a Wonderful World’ bersama-sama..


Namun tragis, karena tiba-tiba mereka mengalami keelakaan, nampaknya mobil mereka tertabrak dengan begitu keras hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan berputar 360 derajat.


Setelah putarannya berhenti, satu persatu dari mereka merangkak keluar dengan tenaga yg tersisa...


Bersamaan dengan itu, munculllah beberapa pria misterius (gangster?) yg turun dari mobil sedan. Mereka menyuruh semjuanya untuk pergi dan meninggalkan Chil-seong yg masih terjebak dalam mobil, “Dia memberitahumu untuk lari, demi hidupmu!”


Chil-seong.. dengan saura lemahnya, menyurh mereka untuk pergi saja meninggalkannya. Namun mereka tak mau pergi, mereka ingin menyelamatkannya, “Dia ingin hidup meski itu menyedihkan..” ujar Maeng-dal


Si ajusshi gangster, menyulut api di dekat mobil yg terbalik.. yg seketika membuat api mulai menyala. Merasa tugasnya selesai maka, mereka pun bergegas pergi meninggalkan TKP.


Geng ajusshi beratto sayap, akhirnya memilih untuk nekat menerjang api demi menyelamatkan Chil-seon dan bersamaan dengan itu terjadi ledakan yg sangat hebat disana..


Mereka dirawat bersama dalam ruangan yg sama.. Mayoritas, mengalami luka bakar serta cedera tulang, hingga membuatnya harus istriahat total di tempat tidur.


Siang itu, petugas mengantar makanan.. awalnya tak ada yg mau meliriknya, tapi ketika si petugas bilang kalau makanannya adalah jajjamyung, maka seketika mereka semangat untuk bangkit.. meski nyatanya, kondisi mereka tak mendukungnya...


Kembali ke realita.. masih dengan semangat yg sama, Chil-seong mengingatkan para sobatnya tentang kutipan kalimat dari Nietszen, yg bilang bahwa Hidup itu Suatu hal yg Luar Biasa..


Sae-won melihat menu makanan.. dan sedihnya, dia tak menemukkan jajjamyung disana~~


Dalam lift.. Seo-poong merenung dan tak sengaja, dia melihat kedai masakan China di sebrang jalan..


Mereka bertemu, Sae-won melihat cincin di jari Seo-poong, “Akhirnya.. kamu menikah juga..”

“Hmm.. bukankah pernikahanmu besok?” tanya Seo-poong

“Wah, ternyata kamu masih ingat..” ujar Sae-won

Seo-poong bertanya lagi: “Apa (makanan) yang kau inginkan?”

“Jajjamyung...”

“Jenisnya?”

“Jajangmyeon seafood saja...”


“Baiklah..” ucap Seo-poong yg kemudian berjalan pergi. Maka Sae-won bertanya: “Kamu mau kemana?”

“Tunggu saja disini...”

“Kau tidak melarikan diri, kan?”

“Kenapa aku harus melarikan diri?”

“Aku kelaparan sepanjang hari...”

“Iya, kupastikan aku tak akan melarikan diri..”


Sambil berjalan keluar, Seo-poong bertanya-tanya: “Kenapa pula.. dia kelaparan sepanjang hari?”


Di bahu jalan, terlihat seorang wanita (Jung hye – Lee Mi Sook) yg sepertinya sedang menunggu seseorang..


Tiba-tiba si nenek penjual permen karet menghampirinya dan minta dia untuk membeli dagangannya. Jung-hye menolkanya dengan halus, alasannya karena dia tak punya uang cash, punyanya cek saja.

Namun si nenek tetap memaksa, dan bilang kalau dia punya kembalian. Akhirnya.. Jung-hye membeli permen karet tersebut, tapi kembaliannya terlalu sedikit..

“Permennya terlalu mahal...”

“Jangan katakan itu. Bahkan tidak sepersepuluh dari apa yang kau beli...”


Si nenek berjalan pergi, sambil menggetu pelan: “Dia sangat bego.. Dia bahkan tidak tahu kalau itu uang palsu (hfftt... duit dari si Chil-seong itu..)”


Chill-seong menceramahi anak buahnya, “Aku.. membuka kedai ini, agar kalian berhenti jadi penjahat. Aku ingin kalian belajar membuat jajangmyeon, jadi kalian bisa membuka restoran di suatu tempat dan hidup normal selayaknya. Menjalin hubungan, menikah juga..”

Tapi para sobatnya, punya pendapat masing-masing. Ada bilang kedai ini tak akan sukses, karena makanannya tidak enak.. dan ada juga yg bilang, kalau anak zaman ‘now’ tidak suka dengan masakan China yg terlalu berminyak.


Sikap mereka, membuat Chi-seong memutuskan untuk menutupp kedai ini saja. Namun Maeng-dal membandingkan kondisi mereka dengan kondisi restooran di China di hotel sebrang, yg dikiranya sepi tak ada pengunjung juga,

“Itu tidak mungkin...” tukas Chil-seong

“Seriusan! Sumpah! Kami melihatnya sendiri..” ujar mereka.


Mengakhiri perdebatan ini.. mereka semua terdiam serentak, seketika mendengar suara pelanggan yg datang mengetuk pintu..
Comments


EmoticonEmoticon