5/12/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 4 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 4 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Wok of Love Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 4 PREVIEW

Ketika Master Wang tengah berusaha keras melepas pisau yg tertancap di pintu, tiba-tiba muncullah Seung-ryong, “Kukira kamu tidak asing dengan pisau...” sindirnya

“Maafkan aku. Pisau ini tidak bergerak sedikit pun. Dia pasti memiliki kebencian yang kuat..”  ujar Master Wang


Chil-seong berkata bahwa, meminjam uang pada gangster bukanlah suatu hal yg benar.. maka Seo-poong bertanya: “Jadi kau menolak (memberi pinjaman)?”


Diam sejenak.. lalu Chil-seong berkata: “Dua syarat!”


Diluar, para ajusshi nongkrong di depan kedai.. mereka menyalahkan brosur lusuh yg tertempel di depan pintu: “Gara-gara kita memasang kertas lusuh itu, ada bedebah yang ingin membuka usaha di sini”


Tak lama kemudian, lewatlah Sae-woo yg mengenakan penutup kepala serangam anggar (jadinya gk ada yg kenal dia), serta membawa Buster bersama dengannya. 

Entah menagapa, namun tiba-tiba.. Buster mengamuk, ingin masuk ke kedai China, yg tentunya membuat para ajusshi ketakutan.. Sae-woo mencoba menenangkannya dan ternyata, Buster tengah kelaparan.


“Kalian punya wortel di sini?” tanyanya, namun si ajusshi tak ada yg menjawabnya.

Maka dia bertanya kembali: “Kalian tidak punya wortel? Atau kalian enggan memberikannya? Seperti inikah dunia?”

“Apa maksudmu? Kami ini tidak punya wortel!” tukas Maeng-dal


Tiba-tiba, terdengar suara perut Sae-woo yg keroncongan, membuat para ajusshi komentar: “Bukan hanya kuda.. kamu pun lapar. Kami akan memberimu air. Masuklah...”

“Aku ingin mati kelaparan. Lebih baik aku mati kelaparan..” tuutr Sae-woo dengan lirihnya


Kembali ke ruangan Chil-seong, dia tengah menjelaskan dua syarat yg diamaksudnya: “Satu, ajarkan para bawahanku cara memasak. Dua, pakai para bawahanku sebagai koki di dapur. Aku ingin para bawahanku membuka restoran Cina di suatu tempat, hidup layaknya orang lain dan menjalin hubungan, menikah, dan memiliki anak-anak juga. Aku ingin mewujudkannya untuk mereka. Aku seperti kakak bagi mereka...”

“Tidak!”

“Bantulah aku...”

“Mereka bukan koki. Mereka hanya bermain-main dengan pisau dan api. Mana bisa aku membalas dendam jika mereka tidak bisa apa-apa. Pikirmu kenapa aku ingin toko yang ini?”

“Jika tidak mau, tidak akan kuizinkan kamu membuka restoran di gedungku. Dengarkan aku. Buka restoran bersama para bawahanku, atau pergilah ke tempat lain dan balas dendam kepada hotel lain. Itu pilihanmu. Kamu boleh pergi!”


Tak ada pilihan lain, akhirnya Seo-poong setuju: “Aku akan membayar sewa bulanan. Tolong siapkan kontraknya!”


Chil-seong menghampiri para ajusshi yg sekarang tengah duduk memerhatikan ‘kotoran’ kuda yg menggunduk di teras kedai, “Seekor kuda datang dan menandai wilayahnya. Dia buang kotoran di sini!”

“Seekor kuda datang dan menandai wilayahnya? Dasar bedebah!”


“Singkirkan brosur itu!” suruh Chil-seong

“Jadi, Anda membiarkan bedebah itu membuka usaha di sini?” tanya Dong-sik

“Ya.. Aku ingin kalian bekerja lagi mulai besok!” ujar Chil-seong


Seo-poong nekat mendatangi restoran China di hotel. Di depan ada Rae-yeon yg tengah membagikan fortune cookies, namun dia melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke ruangan dapur.


Dia menghampiri Sam-sun.. Bo-ra.. dan Rae-yeon, untuk mengajaknya bekerjasama merintis restoran baru. Menurutnya, mereka berempat akan menjadi tim yg sangat hebat dan sukses.. 

Namun menyedihkan, karana tak satu pun dari mereka yg mau ikut dengan Seo-poong.


“Kurasa aku sangat bodoh. Kukira akan ada kesempatan, tapi kurasa aku salah. Aku yang bodoh!” teriak Seo-poong frustasi


Seo-poong lalu mengambil bambu yg digunakan untuk ‘menggenjot’ adonan. Sam-sun bertanya: “Kenapa kamu mengambil itu?”

“Ini milikku! Ayah mertuaku memberikannya kepadaku! Jangan khawatir. Aku tidak akan datang kemari lagi. Aku hanya datang untuk mengambil ini!” tutur Seo-poong penuh emosi.

Sambil jalan melewati Rae-yeon, dia masih sempat mengambil beberapa bungkus fortune cookies..


Berjalan keluar.. sejenak, langkahnya sempat terhenti. Dia terdiam memerhatikan dapur tempatnya bekerja selama 10 tahun kebalakang itu.. lalu kemudian benar-benar pergi meninggalkannya.


Dari hotel.. Seo-poong lalu pergi ke jembatan sungai Han. Disana dia hanya merenung tanpa mengatakan apa pun.. tapi tak lama kemudian, datanglah Sae-woo bersama kudanya.


Sae-woo mengikat kudanya di pagar, lalu dirinya berusaha untuk memanjat pagar. Seo-poong hanya memerhatikannya yg kesulitan memanjat, hingga kemudian dia bertanya: “Kamu mau mati?”

“Entahlah... Akan kupikirkan setelah aku berteriak sedikit”

“Kenapa kamu memakai (penutup kepala) itu?”

“Dunia benar-benar mengerikan, tapi memakai ini mengurangi rasa takutku”


“Sama sepertimu, aku pun takut menjalani hidupku” ujar Seo-poong yg kemudian memberikan sebungkus fortune cookies, dan bertanya: “Tapi bagaimana menurutmu jika kita makan ini sebelum mati?”


Akhirnya, Sae-woo turun, lalu mengambil kue dari Seo-poong dan mereka menikmatinya bersama-sama dalam suasana yg begitu hening.. hanya terdengar suara helaan nafasnya masing-masing..


`Ada suatu hal yg menggenggumu?`


‘Sekarang, biar kudengar ceritamu..’


‘Ceritakanlah keluh kesahmu..’


Mereka perlahan berjalan menuju pagar, sambil membaca poster-poster yg tertempel disana..


Sae-woo bertanya pada Seo-poong, “(kertas ramalan dari kue) Punyamu isinya apa?”

Tak menjawabnya, Seo-poong malah bertanya balik: “Kalau punyamu?”


Advertisement


EmoticonEmoticon