5/17/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 5 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Wok of Love Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 5 Part 2

Sae-woo sangat menyayangi kudanya, yg dia beri nama Buster. Lucu.. sekalligus agak aneh, karena di awal episode.. kita mendengar suara narasi Buster yg bercerita: “Aku adalah kuda jantan. Dia mulai memberiku acar lobak sejak usiaku 15 tahun. Kuda usia 15 tahun sama dengan manusia usia 50 tahun. Usia 15 adalah saat kamu belajar rasa manis dan asam. Kehidupan seperti rasa acar lobak. Dia (Sae-woo) makan jajangmyeon, dan aku makan acar lobak. Kami tidak terpisahkan...”

....... EPISODE 5 .......


Melanjutkan adegan terakhir dari episode sebelumnya, ketika Seo-poong diam saja melihat Sae-woo yg tengah berusaha naik pagar jembatan, Buster menggerutu kesal: ‘Jauhkan saja perempuanku dari jembatan ini! Bawa dia ke tempat aman, Bedebah!’

Namun Poong, tak memiliki kemampuan untuk mendengar dan memahami apa yg dia katakan..


Meski demikian, pada kahirnya Poong berhail menghentikan Sae-woo, dengan menawarinya makan Fortune Cookies. 

Mereka pun saling bertanya, isi kertas ramalannya apa dan keduanya bilang, mereka terlalu gugup untuk melihatnya..

“Menurutmu kue ini akan menyuruh kita bunuh diri?” tanya Sae-woo dengan polosnya

“Tidak mungkin...” jawab Seo-poong


Mednengar bicaraan mereka, membuat Buster kesal: ‘Astaga, kalian akan mati jika isinya menyuruh bunuh diri?!’ gumamnya


Poong bertanya: “Kesulitan apa yang membuatmu datang kemari?”

Tapi sebelum Sae-woo menjawabnya, Poong menarik kembali pertanyaan itu dan berkata: “Lupakan saja. Kita berdua di atas jembatan. Jangan saling menanyakan itu..”

“Baiklah. Kita jangan menanyakan itu..” ujar Sae-woo


Chil-seong tengah berlatih ‘bela-diri’, sambil mendengar berita di TV tentang penangkapan Dan Seung-gi (ayahnya Sae-woo)


Kemudian, dia membaca koran.. dan berita utamanya, masih tentang Dan Seung-gi. Chil-seong berpikir keras, karena dia merasa.. kalau dia mengenali nama itu..


Kembali ke jembatan, Poong bertanya: “Kamu lapar?”. Namun Sae-woo diam saja, maka dia bertanya lagi: “Apa itu pertanyaan sulit?”

Dengan sedihnya, Sae-woo menajwab: “Kurasa aku tidak seharusnya lapar. Ayahku mungkin sangat mengkhawatirkan aku hingga dia tidak bisa minum air..”

“Itu artinya kamu lapar..” ujar Poong, yg kemudian bertanya, “Bisakah kamu melepaskan helm itu?”

“Tapi aku masih takut kepada dunia..” jawab Sae-woo

“Baiklah. Kamu bisa melepaskannya saat kamu tidak terlalu takut. Aku lapar. Aku menjadi lapar. Ayo turun...” ajaknya

“Kamu bisa turun dahulu. Aku suka di atas sini...” ujar Sae-woo


Takut.. jika Poong meninggalkan Sae-woo sendirian, maka Buster tiba-tiba mengamuk, mengerang dan meronta-ronta, ‘Hei. Jangan coba-coba meninggalkan dia di sini! Jika kamu lakukan, akan kubunuh kamu! Dia belum makan berhari-hari, dan telah memakai itu berhari-hari seperti orang gila! Maafkan aku. Bagaimanapun, aku khawatir dia akan menyakiti diri sendiri. Ayolah. Ajak dia turun bersamamu!’


Poong agak ngeri melihatnya, dia mengira kalau kuda itu sedang kelaparan. Maka kepada Se-woo dia mengatakan: “Meski kamu tidak lapar, kamu harus memberi makan kudamu!”

Maka, Sae-woo bertanya pada Buster: “Kamu lapar?”. Namun sikapnya itu, membuat Poong mengernyit heran, dan bertanya: “Sedang apa kamu? Dia tidak bisa memahamimu. Dia seekor kuda!”

“Kamu tidak dengar dia bicara selama ini? Dia sangat cerewet...” ungkap Sae-woo yg kemudian meminta Poong membuatkan jajjamyeong untuknya, karena dulu dia pernah berjanji untuk membuatkannya.

Poong yg tak mengenali Sae-woo, bertanya heran: “Kapan aku bilang begitu?” 

Sae-woo tak ingin menjelaskan lebih lanjut, dia hanya minta dibuatkan jajajjamyeong dan diberi acar lobak yg banyak.


Dalam kantornya, Chil-seong memeriksa seluruh berkas  identitas para peminjam uangnya. Sepertinya, dia sangat penasaran akan nama ‘Dan Seung-gi’ yg terasa familiar di telinganya...


[ Anak pertama Dan Seung Gi dan Jin Jeong Hae, Dan Sae Woo ]

Tentu saja nama itu familiar, karena nama itu tertulis pada amplop undangan yg diberikan Sae-woo~~


Poong membawa Sae-woo ke kedainya.. Disana, mereka sempat terdiam di depan pintu masuk. Sae-woo bertanya: “Kamu akan membelikannya untukku di sini?”

“Akan kubuatkan untukmu”

“Di sini?”

“Kamu adalah pelanggan pertamaku..”

“Aku tidak punya uang”


“Kamu pelanggan pertama yang makan di restoranku. Kamu tidak boleh makan gratis. Kamu boleh berutang dan kembalilah besok untuk membayarnya”

“Aku juga tidak akan punya uang besok”

“Lantas berutang saja dan kembalilah hari berikutnya”

“Saat itu pun aku tidak akan punya uang”

“Lantas kapan kamu akan punya uang?”

“Untuk sementara, aku tidak akan punya”

“Baiklah. Kamu bisa berutang untuk sementara waktu. Pokoknya, kamu tidak boleh naik jembatan itu hingga utangmu lunas. Jangan berpikir soal mati tanpa membayarku kembali, ya?”

“Baiklah...”


“Omong-omong, kamu tidak bisa melepaskan itu? Bagaimana kamu akan makan dengan helm itu?” tanya Poong

Namun Sae-woo enggan membukanya, dan malah mengingatkan Poong untuk memberinya acar lobak yg banyak..


Mereka pun masuk kedalam kedai. Sae-woo duduk, menunggu Poong yg masuk dapur untuk menyiapkan makanannya.


Chil-seong yg kebetulan tengah berada disana, menatap Sae-woo dengan aneh. Dia kemudian menghampiri Poong yg tengah menguleni adonan di dapur.

“Ini pelanggan pertama kita. Jika kamu tidak sibuk, tunggulah di meja..” ujar Poong

“Aku?” tanya Chil-seong

“Tidak ada orang lain... Kalau tidak mau, tidak usah..” ujar Poong

“Aku harus melakukan apa?” tanya Chil-seong

“Kamu belum pernah makan di restoran? Pasti pernah, dong....” tukas Poong


Chil-seong memerhatikan Sae-woo, lalu komentar: “Dia tidak tampak waras. Dia tidak normal...”

“Tanyakan kudanya kalau begitu.. Kudanya bisa bicara...” tukas Poong

Chil-seong bertanya: “Mau kupanggil bawahanku?”

“Kukira.. 'premanmu' akan mulai bekerja besok...” ujar Poong

“Kamu berjanji mengajarkan bawahanku keterampilanmu dengan sabar. Kamu sudah berjanji!” tegasnya

Poong tak mau berdebat, dia pun mengingatkan Chil-seong tentang tugasnya: “Kamu bahkan tidak menyajikan air kepadanya. Dia akan pergi, kalau gini caranya..”

“Baiklah.. Aku akan menyajikan air...” jawab Chil-seong dengan pasrah.


Ketika dihampiri. Sae-woo tengah sibuk melihat brosur kantor pinjaman uang milik Chil-seong.

Maka Chil-seong bertanya: “Anda butuh pinjaman pribadi?”

“Bukan urusanmu!” jawab Sae-woo dengan ketus


“Jadi, Anda ingin pesan apa?” tanya Chil-seong

“Chef-nya sudah tahu!” tukas Sae-woo yg kemudian minta dibawakan acar lobak
Advertisement


EmoticonEmoticon