5/21/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 6 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS Wok of Love Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 6 Part 2

Di pagi hari, Poong masih tertidur lelap.. lalu masuklah Dal-hee yg baru selesai mandi, mencoba untuk membangunkannya dengan suara lembutnya.


Tapi menyedihkan, karena momen manis itu.. ternyata, hanyalah ada dalam mimpinya Poong..


Pada realitanya, kini Dal-hee tengah telponan dengan Seung-ryong yg sepertinya, hendak membantunya membuka praktek dokter mandiri.

“Jika kamu membuka praktik di dekatku, kita bisa sering bertemu dan itu akan menyenangkan”

“Di sana tidak ada praktik bedah plastik yang lain, bukan?”

“Buka saja praktik di lantai tiga. Aku sudah membayar depositonya. Jangan pinjam dari bank. Kamu memilikiku...”


Poong datang ke kedai, sambil membawa peralatan bambunya. Para ajusshi gengster yg lebih dulu ada disana, kompak menatapnya sambil tersenyum ‘picik’..


Jelas terlihat, bahwa Poong sangat ingin melupakan amarahnya, atas kejadian ‘penculikan’ kemarin. Tapi dia menahannya, karena teringat perjanjiannya dengan Chil-seong, untuk melatih para ajusshi itu memasak, hingga mereka mampu membuka kedainya masing-masing.


Sendirian saja, Sae-woo pergi menjenguk ayahnya di lapas. Suasana terasa begitu hening, hingga ayah membuka topik pembicaraan dengan bertanya: “Kamu sudah makan?”

“Entahlah...”

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Entahlah...”

“Bagaimana suamimu?”

“Entahlah...”

“Kenapa kamu terus mengatakan 'entahlah'?”

“Entahlah...”


Ayah merasa kesal, “Na O Jik (suami Sae-woo), bedebah itu! Ayah kira dia mencintaimu. Cinta apanya?! Bedebah itu bahkan tidak datang ke pernikahannya!”

“Jangan menjelekkan dia...”

“Kamu harus sadar. Kenapa kamu harus mendaftarkan pernikahanmu sebelum menikah? Ajukan gugat cerai!”

“Cerai?!”

“Iya, kamu harus bercerai!”

“Aku tidak mau bercerai. Ayah saja yang bercerai!”

“Hanya karena ini menimpa ayah, dia tidak datang ke pernikahan itu, bahkan meninggalkan negara ini. Dia tidak layak menjadi suamimu. Sudahi hubungan kalian sekarang! Berapa uang yang kamu miliki?”

“Entahlah...”

“Kamu memercayai ayah, bukan?”

“Tentu saja”

“Ayah sudah memanggil pengacara dan akan berjuang untuk keluar, jadi, tunggulah beberapa bulan. Ayah akan segera keluar. Ayah tidak melakukan kesalahan apa pun. Ayah dikhianati oleh seseorang. Tapi meski begitu, akan butuh waktu untuk keluar dari sini. Hanya beberapa bulan. Bertahanlah selama beberapa bulan. Ayah akan membuktikan bahwa ayah tidak bersalah dan membuatmu dan ibumu kembali hidup seperti biasanya. Kamu harus tetap kuat, ya? Berapa uang yang kamu miliki sekarang?”

“Aku meminjam uang...”

“Dari siapa? Kamu meminjam uang dari siapa? Kamu bilang teman dan keluarga tidak ada yang menawarkan bantuan. Siapa yang meminjamkan uang?”

“Cahaya dan Bayangan (nama kantornya Chil-seong)”

“Apa itu?”

“Bank... Dia pria baik”

“Pria? Ayah tidak pernah mendengar bank itu. Jangan pernah mengambil pinjaman pribadi. Mengerti?!”

“Ayah.. Aku ke peramal....” ucap Sae-woo, yg kemudian menunjukkan kertas dari fortune cookies-nya


[ Lihat bintang di atas dan jangan lihat kaki di bawah ]

“Siapa yang memberimu itu?” tanya ayah

“Seseorang... Dia pria baik...”


“Dia pria yang meminjamimu uang? Dia memberimu itu?”

“Bukan, ini beda orang..”

“Pria yang sering datang ke akademi anggarmu?”

“Bukan, ayah tidak mengenalnya”

“Bagaimana kamu bisa tahu dia orang baik?”

“Aku tahu saja”

“Kamu tahu apa soal pria?”

“Aku cukup tahu”

“Siapa yang lebih baik?”

“Pria yg memberiku fortune cookies..”

“Kenapa?”

“Entahlah...”


“Apa gunanya fortune cookies? Pria yg meminjamimu uang-lah yg lebih baik...”

“Begitukah? Benar juga, sih..”

“Kamu suka keduanya?”

“Iya..”

“Berjanjilah satu hal kepada ayah. Jangan lupa makan...”

“Ayah juga akan makan dengan teratur?”

“Tentu saja. Ayah baru saja makan. Tempat ini menyajikan sup yang sangat enak. Sungguh. Kamu harus makan dengan teratur dan bersemangat di saat seperti ini. Mengerti?”


Chil-seong sedang cukuran.. tapi dia terus teringat pada sosok Sae-woo..


Semalam.. setelah dipinjami uang olehnya, Sae-woo mengucapkan terimakasih. Maka Chil-seong menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi Sae-woo menolaknya dengan ramah.


Meski dilarang, namun Sae-woo terus memanggil Chil-seong dengan sebuat Tuan Cahaya, “Dunia penuh cahaya, bukan hanya utang...” jelasnya sambil tersenyum


Mengingat Sae-woo, secara tak sengaja hampir membuat Chil-seong melukai kulit dagunya saat bercukur...


Di dapur, mereka diam saja karena tak ada pelanggan yg datang. Salah satu ajusshi minta Poong mengajari mereka caranya memasak jajjamyeong,

Namun dengan ketus, Poong menegaskan: “Tempat ini bukan akademi memasak, Ini bisnis.! Aku tidak akan membuat jajangmyeon hanya untuk mengajari kalian. Aku hanya akan membuat yang pelanggan pesan!”

“Kita nyaris tidak mendapatkan satu pelanggan dalam sehari. Jika begini, kami tidak akan pernah belajar membuat jajangmyeon..”


Bersamaan dengan itu, terdengar suara pelanggan yg memesan tangsuyuk dan jjampong. Namun ternyata, pelanggannya adalah si nenek gelandangan.. maka Maeng-dal memilih mengabaikannya saja, “Dia bukan pelanggan!” ujarnya

“Aku pelanggan di sini. Aku akan membayarnya. Kamu lihat? Aku punya uang!”

“Harganya 12 dolar...”

“Beri aku diskon 2 dolar!”

“Jangan berharap! Keluar saja sana!”


Poong sangat menghargai pelanggannya, dia bahkan sengaja membuat porsi kecil, supaya sesuai dengan harga yg mampu dibayar oleh si nenek..

Dia membagi tugas untuk para ajusshi, dari mulai bagian potong memotong, hingga bagian memasak. Tapi mereka yg keras kepala dan sok-tahu, mengatakan bahwa pembagian tugas itu, tidaklah penting.. karena menurutnya memasak itu hal yg sangat sepele.
Advertisement


EmoticonEmoticon