6/12/2018

SINOPSIS My Mister Episode 13 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 13 BAGIAN 3


a_2

Setelah ditemui oleh Joon-young, si detektif sewaan lansgung menemui Gwang-il untu bertanya seputar ‘sosok’ orang yg membantu Ji-an selama ini.

a_3

Namun sangat mengejutkan, melihat respon Gwang-il yg memilih untuk diam, seakan tengah melindungi Ji-an.

a_4

a_5

Si detektif itu terus mendesaknya, “Tolonglah aku. Banyak uang yang kuinvestasikan ke perusahaan itu... Jika CEO itu tidak bisa mempertahankan pekerjaannya... aka aku akan kehilangan semua uang itu! Nanti aku akan membalas pertolonganmu. Aku janji! Nanti akan kuhancurkan wanita itu demi kau. Tapi aku harus menangkap bajingan itu dulu, baru... kubunuh wanita itu, ya?”

Namun eskpresi Gwang-il tak berubah sedikit pun.. dia malah bersekongkol dengan rekannya, merea bertingkah.. seakan mereka memang tak mengenal, siapa orang yg dicari-cari oleh si detektif itu...

a_6

Berpindah ke sebuah kedai minum.. kita melihat kakak-beradik Park yg tengah termenung.. duduk.. dalam keheningan.

a_7

a_8

Beberapa saat berlalu, hingga kemudian kita mendengar lagi ocehan Ki-hoon yg terus mencela Yeon-hee.. namun, Sang-hoon bersikap sebaliknya. Dia malah menyuruh Dong-hoon memaafkan Yeon-hee..

“Kenapa dia harus menghiburnya? Memangnya dia ada salah?!” tukas Ki-hoon penuh emosi, “Berpisah saja dengannya!” teriaknya

“Dia hanya perlu bertahan!” ujar Sang-hoon dengan mata yg berkaca-kaca, “Adik Ipar... pasti sangat menderita menikah dengan keluarga miskin. Karena aku, kakak tertua, sangat tidak kompeten... Kalian akhirnya begini. Semua ini salahku. Aku merasa bersalah...” jelasnya

a_9

Kebetulan, masuklah ahjumma pelayan.. yg seketika lansgung menjadi sasaran pelampiasan amarah Ki-hoon yg sangat tak terkendali.

a_10

a_11

Dong-hoon muak dengan situasi ini, dia ppun menyuruh si ahjumma untuk keluar, kemudian dia berteriak, “Kau menghiburku itu sudah cukup! Aku ini sudah serasa mau mati, jadi kenapa kau malah memperbesar masalahnya? Karena inilah... karena inilah, aku tak bisa cerita sama kalian. Ini saja sudah berat bagiku! Aku yang seharusnya marah dan menangis sekarang! Jadi kenapa kau malah bertingkah?! Apa menurutmu kau lebih menderita daripada aku sekarang?!”

Sikap Dong-hoon yg akhirnya, mau mennunjukkan emosinya, ternyata berhasil membuat kakak dan adiknya merasa sedikit lega, “Aku ingin kau menangis tersedu-sedu! Sangat tersedu-sedu! Sampai ada ingus dan air mata mengalir di wajahmu! Aku ingin kau menangis seperti itu! Tapi nyatanya kau tidak seperti itu... itulah yang membuatku sedih!”

a_12

a_13

“Melihat kau tidak bisa memperlihatkan perasaanmu... itulah yang membuatku sedih. Aku takut sekali kalau kau memendamnya sendirian selamanya..., terus tiba-tiba nanti kau mati karena sakit!”

Beberapa saat berlalu.. Dong-hoon makin terbuka dengan perasaannya, dia pun bercerita: “Ingat apa pesan Ayah? Dulu dia sering bilang, ‘tak apa, ini bukan masalah besar’...  Tapi, Sekarang tidak ada orang yang mengatakan itu padaku. Makanya aku berkata pada diriku sendiri...”


a_14

a_15

a_16

Mendengarnya.. seketika membuat Ji-an teringat, perkataan Dong-hoon padanya kala itu..

“Masa lalu... bukanlah hal penting. Jika kau menganggap ini bukan hal penting, maka itu bukan hal penting...”

a_17

Ketika hari semakin larut... Sang-hoon berjalan keluar kemudian menelpon Yeon-hee. Dia tak kuasa menahan tangis, sambil mengucap kata maaf.. “Kau pasti menderita selama ini sendirian. Aku sungguh... sungguh minta maaf. Kau tahu... karena adikku tak cerita ke siapa-siapa soal ini, dan dia menderita sendirian.. membuatku sangat sedih. Dong Hoon sangat menyayangimu, Adik Ipar..”

a_18

a_19

Di waktu bersamaan, Ki-hoon menelpon Yoo-ra.. sambil menagis, dia berkata: “Hari ini... jiwa seseorang sudah benar-benar hancur... dan hatiku juga sakit”

“Apa kau sekarang lagi berakting?’ tanya Yoo-ra dengan polosnya

“Aku sungguh berharap aku lagi akting. Aku berharap aku orang yang jago akting sedih begini. Kuharap semua ini cuma film...” tutur Ki-hoon, tapi Yoo-ra tak menangkap maksudnya. Dia malah balik bertanya, mengenai alasan Ki-hoon yg tak mengangkat telpon darinya seharian ini.

a_20

a_21

a_22

Ki-hoon enggan cerita, dan itu membuat Yoo-ra sangat kesal hingga mengumpatnya dengan beragam kata-kata kasar.

“Kau keren, Choi Yoo Ra. Sampai jumpa besok...” ucap Ki-hoon, yg kemudian lansgung memutus telponnya

a_23

a_24

Dong-hoon duduk sendirian.. meski sebenarnya, jauh dari tempatnya berada.. masih ada JI-an yg menemaninya, dengan cara mendengar suara nafasnya yg begitu lesu.

Ji-an berniat mengirim pesan untuk Dong-hoon: ‘tolong, hubungi aku..’, namun entah mengapa.. jari kecilnya itu, sangat sulit untuk menyentuh pilihan ‘kirim’

a_25

Pada waku yg bersamaan, Ki-bum yg tengah asyik nongkrong di warnet, lansgung terperanjat kaget.. ketika menyadari bahwa ada beberapa orang yg sedang mencarinya.

a_26

Bergegas, dia mengenakan topi.. lalu berjalan pergi, sambil berpura-pura menelpon ibunya. Namun sial, karena para pria misterius itu melihatnya.. maka drama pengejaran pun dimulai.

a_27

a_28

a_29

Sambil melarikan diri, Ki-bum sempat menghubungi Ji-an, untuk memberitahunya: “Hei, aku ketahuan! Kaburlah!”

b_1

b_2

Gwang-il dibantu rekannya, bergerak cepat dengan mengamankan seluruh barang elektronik yg tertinggal di kamarnya Ki-bum.

b_3

b_4

Maka, disaat polisi tiba.. tak ada barang apa pun yg tertinggal disana~~~

b_5

Ji-an mengetahui kondisi Ki-bum, dan dia sangat sadar bahwa dia tak bisa terus berdiam diri dalam kamarnya seperti ini.

b_6

Setelah sekian lama ragu, akhirnya Ji-an mengirimkan sebuah pesan untuk Dong-hoon yg isinya: ‘Semoga besok, wawancaramu lancar. Itu bukan masalah besar, kok’

b_7

b_8

Dong-hoon membaca pesan itu. Dia tak membalasnya, tapi dia hanya mengucap kata ‘terimakasih..’

“Pikirmu dia bisa mendengarmu? SMS terima kasih saja ke dia!” tukas Ki-hoon

b_9

Bertiga.. mereka berjalan pulang.. Dong-hoon cerita, bagaimana caranya Ji-an membuat dia bersemangat hanya dengan kalimat-kalimat sederhana, yg terdengar biasa untuk orang lain, namun ternyata.. sangat spesial untuknya.

‘Ketika kau merasa ingin mati... janganlah mati. Karena kau orang yang baik. Tetaplah semangat..’

b_10

Dong-hoon: “Kenyataan ada seseorang yang menyemangatiku seperti itu... membantuku bernapas..”

b_11

Ki-hoon dan Sang-hoon kembali bertanya padanya, apa Dong-hoon tak ingin berterimakasih pada Ji-an (?)

Dan lagi.. sikap Dong-hoon masih sama. Dia memilih untuk mengucapkan kata terimakasih itu secara langsung, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya, Ji-an bisa mendengarnya..

b_12

Dalam kamarnya, Ji-an tak kuasa membendung air matanya. Dia pun menangis terisak.. setelah mendengar ucapan terimakasih dari Dong-hoo....
Advertisement


EmoticonEmoticon