6/17/2018

SINOPSIS My Mister Episode 14 PART 1

SINOPSIS My Mister Episode 14 BAGIAN 1



Penulis Sinopsis: Dahlia

All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA  || SINOPSIS My Mister Episode 13 Part 4

EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS My Mister Episode 14 Part 2

Dong-hoon bingung serta resah.. berulang-kali, dia menghubungi Ji-an, tapi ponselnya tak aktif lagi.



Teringat, malam itu ketika Jung-hee pernah meminta Ji-an berkunjung ke bar-nya.. maka Dong-hoon menlpon Jung-hee, dengan harapan dia mengetahui sesuatu.



Namun sekarang ini, Jung-hee tengah ingin menyendiri dan dia sengaja mengabaikan ponselnya yg terus berdering~



Berikutnya, Dong-hoon menelpon Sang-hoon. Tapi mengetahui sang kakak tengah bekerja, dia pun enggan untuk bertanya apa pun, meski Sang-hoon sendiri mempersilahkannya untuk bertanya.



Terakhir, Dong-hoon mencari nomor panti tempat Nenek Bong-ae tinggal, kemudian dia langsung menelponnya untuk bertanya seputar kabar Nenek.



Suster menjelaskan, bahwa Nenek Bong-ae masih ada disana.. lanjutnya, Dong-hoon bertenya apakah ada yg datang menjenguk nenenk hari ini? Dan suster menjawab, tidak ada...

Dong-hoon menghela nafas panjang.. dia makin bingung, karena tak ada satu pun, orang yg memberinya petunjung tentang keberadaan Ji-an.



Deputi Ahn, jalan lewat mejanya dan melihat slipper milik Dong-hoon, “Beli baru ya, pak?” tanyanya

Enggan menjawab.. Dong-hoon malah memasukkan slipper itu, kembali ke dalam kantongnya.



Tak lama kemudian, ponselnya Dong-hoon berdering.. ada telpon masuk dari Gyeom-deok yg suaranya terdengar begitu resah..


Setelahnya, Dong-hoon langsung menelponya ibunya, untuk bertanya: “Ibu tadi mampir ke tempatnya Jung Hee?”

“Ya, belum lama ini. Kenapa? Tapi Jung Hee tidak ada...” jelas ibu

“Jung Hee... pergi ke kelenteng. Buat menemui Gyeom Deok. Kurasa dia pulang dengan rasa marah. Ibu, mampirlah kesana lagi..” pintanya



Saat itu juga, ibu bergegas mendatangi bar-nya Jung-hee. Untungnya, ibu punya kunci lain.. maka bisa masuk dengan mudah, meski pintunya dikunci.

Berulangkali dipanggil, tapi tak menyahut.. ternyata, Jung-hee tengah berbaring lesu dalam kamarnya.



Bertingkah, seakan tak tahu apa yg terjadi.. ibu menyuruh Jung-hee untuk bangun dan segera membuka bar-nya, serta sarapan bersama dengannya.

Namun Jung-hee tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.. dia berteriak, bertanya apakah Ibu tak pernah merasakan hal yg sama seperti yg ia rasakan?



“Pilih saja salah satu pelanggan priamu... dan bukalah hatimu untuk seseorang itu. Kalau kau memikirkan seseorang itu... dan menemui seseorang itu... kau mungkin masih akan kesulitan, tapi kau tidak akan kesal. Kau ini... Sudah 20 tahun sejak kalian berpisah... harusnya kau sudah menikah sama orang lain sekarang! Jadi bisa-bisanya kau masih tidak bisa merelakan pria yang tak bisa kautemui? Turunlah, dan makan!” ujar Ibu yg kemudian langsung berjalan pergi, meninggalkan Jung-hee yg hanya bisa menangis terisak



Ibu mengabarkan kondisi Jung-hee kepada Dong-hoon, yg langsung memberitahukannya lagi kepada Gyeom-deok...



Di kantor, berita mengenai riwayat kriminal Ji-an... menyebar dengan sangat cepat. Para pegawai wanita menggosipkannya dengan sangat heboh.

Lantas, para pegwai pria bertanya langsung kepada Dong-hoon, apakah itu benar? Namun sepertinya, Dong-hoon memilih untuk bungkam..



Pulang kerja.. Dong-hoon sengaja mengunjungi rumahnya Kakek untuk bertanya, apakah dia tahu dimana JI-an berada?

“Dia bukan tipe orang yang bilang-bilang dulu kalau mau pergi.....” jawab si Kakek yg malah bertanya balik: “Apa Pak Manajer sendiri tahu dia mungkin pergi kemana?”



Joon-young menerima informasi tentang kaburnya Ji-an dan komplotannya.. serta lenyapnya seluruh barang bukti,

“Karena dia membawa semuanya dan kabur... dia pasti tidak ingin tertangkap...” jelasnya

“Kita harus menangkapnya sebelum polisi, apapun yang terjadi!!!” tegas Joon-young



Dalam perjalanan.. Joon-young terus menghubungi Ji-an, tapi tak ada jawaban..


Di waktu yg bersamaan.. Dong-hoon terus mencari Ji-an, bahkan dia sampai mendatangi rumahnya. Namun jelas saja, tak ada siapa pun disana.

Saat berjalan pulang, dia malah bertemu dengan tetangga Ji-an yg merupakan temannya Sang-hoon. Dia tanya apa yg Dng-hoo lakukan disini?

Tapi Dong-hoon, hanya bilang.. kalau dia hanya ingin mengecek kondisi bangunan~~


Tak langsung pulang ke rumahnya, Dong-hoon mampir dulu ke bar-nya Jung-hee. Disana dia duduk dan langsung mencoba untuk menghubungi Ji-an lagi..


Jung-hee dalam kondisi yg begitu sendu.. tiba-tiba berkata: “Sampai kapan aku harus hidup? Sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Aku berencana ingin menutup bar-ku. Mungkin kalau aku dapat kerjaan yang jam kerjanya normal seperti orang lain... Aku sepertinya akan menjalani hidupku dengan normal. Saat orang berangkat beraktivitas... aku mendengar suara langkah kaki orang-orang. Mendengar suara itu dari bawah selimutku... membuatku merasa sangat kesepian. Karena cuma aku satu-satunya orang yang tak melangkah maju. Jadi, terkadang...  aku duduk di luar, pagi-pagi sekali. Karena aku ingin merasa aku juga ikut melangkah maju dengan mereka...”



Kemudian, dia cerita: “Tadi pagi, aku ketemu seseorang. Pegawai wanita dari kantormu. Dia anak yang baik. Dia tidak pergi, dan tetap menemaniku. Dia menemaniku selama 10 menit, lalu pergi. Katanya dia berhenti dari kerjaannya di kantor. Katanya dia mau pindah... ke tempat yang dekat dengan kantor barunya. Dia bilang dia sangat senang dengan kompleks ini. Tapi saat dia mengatakan hal itu... kedengarannya dia berkata kalau dia menyukaimu..”



Di waktu bersamaan, Ji-an yg masih terus berjalan sendirian.. mendengarkan semua hal yg barusan dikatakan oleh Jung-hee.


Saat Dong-hoon berjalan pulang.. langkahnya tersendat di pertengahan jalan. Dia diam, hanya untuk melihat sekelilingnya.. lalu dia pun melanjutkan langkahnya kembali.

Hingga tiba-tiba.. ponselnya berdering. Ada telpon masuk dari nomor baru, tapi dia memilih untuk mengabaikannya.


 Tapi ponselnya berdering lagi.. dan masih dari nomor yg sama. Kali ini, Dong-hoon bersedia mengangkatnya..

“Ponselku rusak. Kalau-kalau kau mau menghubungi aku. Ini Lee Ji An...” ucapnya dengan suara kecilnya

Sejenak Dong-hoon diam, lalu dia bilang: “Aku tahu! Kau rupanya menghubungiku. Kau dimana?! Dimana?!

“Gangnam... Di tempat dekat perusahaan baruku..”

“Kalau kau berhenti, kau setidaknya harus bilang dulu padaku!”



“Kalau aku memberitahumu aku sudah berhenti kerja... kau mau merayakan pesta perpisahan untuk seorang pembunuh? Aku yakin kau pasti ingin aku menghilang secepat mungkin. Lagipula ini bukan apa-apa. Karena aku sudah menduga aku takkan bertahan lama kerja disana. Toh ini bukan pertama kalinya aku kabur seperti ini...”

“Kukira kau orang yang kuat. Kukira hal-hal seperti itu tidak akan mempengaruhimu sama sekali”

“Aku muak... dengan orang-orang yang menertawaiku...”

“Maafkan aku...”

“Buat apa Ahjussi minta maaf? Ini pertama kalinya... ada orang yang baik padaku lebih dari empat kali... kepada orang sepertiku. Seseorang yang kusukai..”

Sejenak suasana menjadi sangat hening.. keduanya berusaha keras untuk menahan tangisnya masing-masing, terdengar dari suara nafasnya..



Hinnga kemudian, Ji-an dengan tegarnya berkata: “Aku... Kini aku tak mempermasalahkan aku mau terlahir kembali atau tidak. Karena aku kelak pasti akan terlahir kembali. Tak apa... Seandainya takdir mengizinkan kita bertemu... akankah kita saling menyapa?”

“Ya..” jawab Dong-hoon, “Kalau nenekmu meninggal, hubungilah aku. Hubungilah aku...” tambahnya

“Baiklah.. sekarang kututup telponnya..” ucap Ji-an, yg sekaligus menjadi penutup obrolan pilu mereka malam ini



Comments


EmoticonEmoticon