6/27/2018

SINOPSIS Suits Episode 7 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Suits Episode 7 BAGIAN 1


Saat masih menjadi jaksa, Kang Seok mendadak kebingungan dan panik karena bukti rekaman yang akan ia perlihatkan malah rusak. “Penuntut, Anda akan melanjutkannya?” tanya hakim ketua saat rekaman tetap tidak bisa ditampilkan.


Suits Episode 7 - Apakah Sarung Sungguh Tidak Diperlukan untuk Pisau yang Disebut Keadilan?


Hari ini, Kang Seok mendengar pertanyaan serupa dari Ha Yeon yang ditujukan pada Yeon Woo. Dan Yeon Woo memutuskan untuk menyerah. Ha Yeon menutup sidangnya, lalu berkata pada Yeon Woo, “Go Yeon Woo, aku berharap banyak padamu, tapi kau terlalu naif bahkan lemah.”


Setelah memperhatikan Yeon Woo sejenak, Kang Seok lalu pergi meninggalkan ruangan.


Se Hee menanyakan keadaan Yeon Woo yang tatapannya masih kosong. Yeon Woo bilang ia baik-baik saja dan berterima kasih atas kedatangan Se Hee. Se Hee ingin bertanya apa yang Yeon Woo lakukan di akhir persidangan tadi, tapi ia membatalkan niatnya.


Se Hee menyuruh Yeon Woo kembali masuk dan bisa mentraktirnya lain kali. Se Hee menoleh ke belakang dan memperhatikan Yeon Woo yang sudah berbalik pergi.


Kang Seok berkata bahwa Yeon Woo baru saja menunjukkan pada dirinya dan semua mitra bahwa Yeon Woo tidak cukup kompeten menjadi bagian dari Firma Kang & Ham. Yeon Woo semakin kecewa, tapi ia tidak tinggal diam. Dia bilang dia ingin menjadi pengacara yang melindungi hidup klie dan bukan menjadi pengacara kompeten yan mengorbankan siapapun demi bisa menang.


Kang Seok berkata bahwa dia memang pengacara yang sangat kompeten, tapi ia tidak setuju kalau Yeon Woo ingin melindungi kehidupa orang lain. “Kenapa? Karena aku palsu dan penipu?” tanya Yeon Woo. Kang Seok bilang itu tidak masalah, tapi jika Yeon Woo menggunakan emosinya maka Yeon Woo tidak akan bisa melindungi siapapun.


“Jika kau tidak percaya diri, jangan tarik pedangmu untuk memulai. Tapi, jika kau sudah menarik pedangmu, kau harus menebasnya sekaligus. Kau harus melakukan salah satunya. Kau masih tidak mengerti bagaimana membuat keputusan yang baik dan pilihan yang tepat. Bagaimana kaubisa melindungi orang lain?” kata Kang Seok.


Kali ini Yeon Woo terdiam dan tidak membantah lagi. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan Kang Seok dan kembali ke ruangannya sendiri.


Yeon Woo duduk di bilik kerjanya dan menemukan gambar kelinci dari Ji Na. Rupanya gambar itu terjatuh dari dinding bilik ke atas meja, sehingga Yeon Woo baru melihatnya. Ia menatap gambar itu dan buru-buru pergi.


Di jembatan penghubung dua gedung, Yeon Woo berhasil menemukan Ji Na. Ia meminta maaf karena terlalu fokus untuk menang. Ji Na mengatakan bahwa ia sudah dipermalukan dan membuatnya khawatir orang akan berpikir aneh tentangnya.


Ji Na bilang terlalu banyak pikiran di kepalanya, hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa dirinya terganggu oleh Yeon Woo. Ia bertanya apakah Yeon Woo menceritakan kisah kelincinya pada Se Hee. Yeon Woo bilang itu hanya kebetulan. Ji Na bilang jika itu hanya kebetulan seharusnya Yeon Woo melanjutkan persidangan tadi dan bukan berhenti di tengah-tengah.


Ji Na bilang mereka berdua telah merusak persidangan karena sama-sama terbawa emosi. Ji Na menolak telepon dari ibunya, lalu pergi meninggalkan Yeon Woo begitu saja.


Yeon Woo menatap kepergian Ji Na, lalu melihat lagi gambar kelinci yang ia dapatkan. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Sementara itu, Geun Sik datang ke ruangan Kang Seok dan mematikan musik dari piringan hitam yang sedang didengarkan Kang Seok. Ia bilang pemenang datang untuk merebut trofi.


Kang Seok melihat keluar dan melihat Da Ham sudah tidak ada disana. “Tiga hari,” ujar Kang Seok pada Geun Sik. Geun Sik tersenyum.


Geun Sik: “Seminggu.”
Kang Seok: “Tiga hari.”
Geun Sik: “Lima hari.”
Kang Seok: “Sehari.”
Geun Sik: “Sehari?”


“Bukankah cukup satu jam untuk meyakinkan dia bekerja untukmu?” tantang Kang Seok. Geun Sik berdesis dan menerima tawaran tiga hari dari Kang Seok. Ia lalu mengangkat kedua tangannya smabil melangkah pergi.


Keesokan harinya, Yeon Woo mengingat kembali perkataan Ji Na semalam. “Go Yeon Woo, jangan gunakan emosi mulai hari ini. Dan singkirkan juga rasa keadilanmu yang lemah,” katanya pada diri sendiri.


Yeon Woo melihat sebuah sepatu kerja sudah siap disana. Ia lalu berangkat ke kantor dengan sepedanya.


Yeon Woo melewati truk makanan di depan kantor dan melihat Kang Seok. Ia mensejajari Kang Seok dan bertanya, “Kenapa wanita itu tidak meminta Anda membayar? Aku bahkan tidak pernah mendapat diskon.” Ia kemudian mengatakan bahwa ia sudah meninggalkan semua emosinya di rumah. 


Seorang pria menyapa Kang Seok dan dengan orang ini Kang Seok berjabat tangan dengan senyuman. Kang Seok memanggilnya dengan sebutan Wakil Kepala Jaksa Oh Byeong Wook. Ia juga menyuruh Yeon Woo memberikan salam padanya.


Dari Jaksa Oh, akhirnya Yeon Woo mengetahui bahwa dulu Kang Seok adalah seorang jaksa yang sangat hebat yang nyaris tidak membiarkan siapapun memenangkan kasus  “Jangan pernah membawa kasus ke pengadilan. Tentu saja, itu jika kau tidak yakin untuk menang’,” kata Jaksa Oh menirukan ucapan yang sering dikatakan Kang Seok dulu.


Kang Seok tersenyum bangga atas dirinya sendiri. Jaksa Oh meminta Kang Seok membatalkan rencananya malam ini dan pergi bersamanya. Kang Seok setuju. “Kau adalah mentor terbaikku. Aku akan mengirim jadwal dan tempatnya. Sampai nanti,” kata Jaksa Oh.


Setelah Jaksa Oh pergi, Yeon Woo bertanya Kang Seok cemberut dan terlihat tidak nyaman. “Tentu saja. Kau tahu hasil terbaikmu hanya membebaniku?” kata Kang Seok menyindirnya secara langsung, lalu pergi lebih dulu.


Da Ham menuduh Kang Seok sudah merencanakan semuanya terkiat keinginan Geun Sik untuk mempekerjakannya sebagai sekretarisnya. Kang Seok meminta agar Da Ham bersama Geun Sik selama tiga hari untuk menyenangkannya.


Da Ham menolak dan merasa dijual tanpa bayaran. Kang Seok membujuknya agarberakting selama tiga hari kedepan. Da Ham merasa senang karena disebut sebagai aktris. “Akting? Jika begitu, sepertinya aku tidak punya pilihan. Tapi apa judul film ini?” kata Da Ham setuju.


“Entahlah. King Kong?” kata Kang Seok.


Da Ham pergi ke ruangan Geun Sik dan melihatnya sedang batuk dan memukul-mukul dadanya. “Dia memang king kong. Artinya, akulah pahlawan wanita menyedihkan yang duduk di telapak tangannya,” gumam Da Ham.lalu masuk.


Geun Sik menjentikkan jarinya, tapi Da Ham melarangnya dengan berkata, “Jangan lakukan itu. Itu milikku.” Da Ham berdesis dan akhirnya menyerah, “Ya tiru saja.” Geun Sik bilang ia akan memberitahukan tugas sekretaris.


Geun Sik: “Pertama...”
Da Ham: “Pertama, aku bukan barang Pengacara Choi. Kedua, bahkan jika aku bawahannya, aku terkejut dengan perilaku impersonal, represif, dan ilegalmu terhadap wanita. Aku akan melaporkannya pada Nyonya Kang dan asosiasi.”


Da Ham akan pergi, tapi Geun Sik menahannya dengan mengatakan bahwa Geun Sik hanya salah paham. Da Ham bilang itu adalah kontrak lisan dan dia bisa menyetujuinya dengan syarat tertentu. “Misalnya, hanya untuk hari ini?” kata Da Ham.


Geun Sik lalu mengeluarkan 2 buah tiket dari saku jasnya. Da Ham yang tadinya tidak peduli, menjadi sangat tertarik.


Da Ham: “Apa itu...”
Geun Sik: “Ya. Kursi VIP untuk pertunjukan Ballet Mariinsky. Mendadak aku jadi ingat penampilannya di Saint Petersburg di hari terakhir Bulan Oktober 2008. Aku tidak bisa melupakannya karena..”
Da Ham: “Mungkin karena kau pergi sendirian. Setuju. Apa syaratnya?”


Setelah menonton pertunjukan, Geun Sik meminta Da Ham agar mau minum segelas vodka dan kaviar bersamanyadi bar mewah. “Vodka? Kau bahkan tidak bisa minum,” kata Da Ham. Geun Sik tertawa kecil dan berkata bahwa dia akan minum soda saja.


Geun Sik bersedia minum jika Da Ham memaksa, tapi Da Ham bilang itu tidak perlu. Da Ham bilang ia setuju untuk menonton pertunjukan, tetapi menolak makan bersama. “Baiklah. Tapi... kau harus mengikuti aturan pakaiannya,” kata Geun Sik.
Advertisement


EmoticonEmoticon