6/23/2018

SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 6 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 6 BAGIAN 3


Saatnya pulang kantor, Pak Jung mengajak Se-ra dan Ji-ah makan ayam bersamanya. Se-ra lansgung menolak tanpa alasan jelas, sementara Ji-ah tak bisa ikut karena dia harus mengunjungi agen properti untuk menjadi tempat tinggal dekat sini. 


Tak lama kemudian lewatlah Gwi-nam.. Se-ra dengan agresif langsung mengajaknya untuk makan ayam bareng, membuat Pak Jung mendumel, “Barusan, katanya gak mau ikut..”

“Kapan aku bilang begitu..” ujar Se-ra, “Kamu akan ikut, bukan? Ayo kita lampiaskan stres kerja hari ini..” ajaknya

“Menurutku, bekerja itu cara terbaik melampiaskan stres. Tiada yang lebih baik daripada hasil kerja yang sempurna saat melampiaskan stres...” jawab Gwi-nam, yg kemudian berjalan pergi meninggalkan Se-ra yg lanjut berdebat dengan Pak jung


Ji-ah menemukan tempat yg cocok untuk dia tinggali. Agen properti, menjelaskan fasilitas tempat itu, kemudian sedikit bercerita mengenai penghuni kamar di rooftop, “Ada seorang pemuda yang tinggal di kamar atap dan dia membuat kebun selada serta tomat ceri kecil. Dia rajin dan hemat. Dia sangat gigih dan bersemangat. Sewa bulanannya mulanya 500 dolar dengan deposit 10.000 dolar. Dia membujuk tuan tanah mati-matian dan menawarnya hingga 420 dolar...”


Merasa penasaran, akhirnya JI-ah naik ke rooftop. Namun betapa terkejutnya dia, karena disana ada Gwi-nam yg tengah sibuk menjahit kanjing jas-nya.


Gwi-nam ikutan kaget, “Sedang apa di sini? Kamu menguntitku?” cecarnya

“Hah? Enggak kok..” sanggah Ji-ah

“Oke baiklah.. setelan jas-ku memang cuman ada satu. Apa anehnya itu, hingga kamu mengikutiku?” ujar Gyu-nam

“Sungguh... Aku tidak menguntitmu. Aku sedang  mencari tempat tinggal. Aku ingin tinggal di apartemen studio ini..” jelas Ji-ah


Tak mau perdebatannya makin ruwet, Ji-ah pamit pergi. Namun Gwi-nam tak rela, kalau imej tentang dirinya yg keren dan pekerja keras rusak hanya karena ‘nyinyran’ dari Ji-ah. Maka dari itu, dia meminta Ji-ah untuk tutup mulut dan merahasiakan hal ini..

“Ah.. jangan khawatir..” sahut Ji-ah, tapi sebelum pergi dia masih penasaran tentang kancing Gyu-nam, maka dia pun menanyakannya secara langsung.


Ternyata.. untuk berjaga-jaga, Gwi-nam memiliki stok kancing cadangan se-toples penuh dan dia memperlihatkannya dengan sangat bangga..


Hari berubah gelap, sambil jalan kaki berduaan, Young-joon bertanya: “Hidangan enak apa yang ingin kamu makan hingga kita pergi sejauh ini?”

“Kita akan pergi ke tempat kesukaanku...” jawab Mi-so, sambil menunjuk ke arah kedai daging bakar bernama ‘kkobdaekineun kara’


Young-joon mendesah, “Itu membuatku ingin pulang...” keluhnya

“Kalau begitu, pulang saja...” sahut Mi-so

“Aku akan pergi ke tempat yang kamu tuju. Sudah kukatakan aku akan menuruti keinginanmu...” tegas Young-joon


Jelas sekali, kalau ini adalah kali pertama Young-joon makan berduaan di temapt yg seperti ini. Tingkahnya begitu kikuk.. kakinya yg panjang, membuatnya tak sengaja mendenang meja. Untunglah, tak ada barang apa pun yg terjatuh atau tersenggol olehnya.


“Omong-omong, kamu menyukai kedai ini?” tanya Young-joon

“Bukannya suka, tapi aku sering kemari Bukannya suka, tapi aku sering kemari. Dahulu keluargaku terlilit utang, jadi, kami tidak mampu pergi ke restoran daging...” jelas Mi-so

“Begitu rupanya. Ayahmu orang seperti apa?” tanya Young-joon


“Dia musisi rock. Dia gitaris sebuah grup musik. Aku pernah bercerita dia ditipu saat mengelola toko alat musik di Nagwon Arcade, bukan?”

“Kamu pernah bercerita. Kamu bilang itu alasanmu bekerja saat remaja...”


“Benar. Sejak saat itu, untuk mencari uang pendidikan kakakku, Ayah nekat bekerja di situs konstruksi dan terluka. Dia meminjam uang dari lintah darat untuk membuat musik dan populer, walau malah populer di kalangan lintah darat. Semua terjadi karena dia bekerja di tempat yang tidak sesuai. Tapi kini dia melakukan yang dia inginkan dan impian kakak-kakakku tercapai. Jadi, itu bagus..”

“Pernahkah kamu membenci keluargamu?”

“Tidak. Lagipula mereka tidak sengaja”


“Kata orang, mengorbankan diri sendiri itu bernilai. Tapi sebenarnya tidak. Orang akan kehilangan jati diri karena menderita dan berkorban. Bagaimanapun juga, hal terpenting adalah diri sendiri. Jangan lupa bahwa dirimulah yang paling berharga dan utama dalam situasi apa pun..”


Mendengar perkataan Young-joon, malah membuat Mi-so tertawa. Maka Young-joon bertanya, “Kenapa?”

“Sepertinya sembilan tahun memang sangat lama. Komentar dari orang ‘narsis’ seperti Anda justru menjadi penghibur untukku sekarang..” jelasnya

Meski tak suka disebut ‘narsis’, namun Young-joon tak terlalu mempermasalahkannya. Dia malah menawarkan diri untuk membakarkan kulit, serta melakukan apa pun yg ingin dilakukan Mi-so.


Dalam perjalan pulang, Young-joon bertanya: “Berikutnya.. apa yg ingin kamu lakukan?”

“Entahlah..” jawab Mi-so, yg tiba-tiba tertarik pada sebuah mesin boneka


“Kamu masih menyukai boneka, ternyata..” komen Young-joon

“Memang.. aku pernah cerita, kalau aku suka boneka?” tanya Mi-so

“Kamu menulisnya di lembar survei bahwa kamu ingin dihadiahi boneka dari orang yang kamu sukai..” jelas Young-joon

“Benar juga. Aku memang menulisnya. Bolehkah aku mencobanya?” tanya Mi-so

“Tentu saja..” jawab Young-joon


Mi-so mencoba berulang kali, tapi dia tak pernah berhasil mendapatkan nboneka satu pun. Gegerget melihatnya, Young-joon mendorong Mi-so dan mengatakan bahwa dia ingin mencobanya sendiri..

“Ini lebih sulit dari dugaan Anda. Tidak mudah mendapatkannya...” jelas MI-so

“Aku sudah paham teorinya saat melihatmu” tukas Young-joon dengan pedenya


Namun pada kenyataannya, Young-joon pun gagal, membuat Mi-so tertawa dan berkomentar: “Teori dan praktik bermain berbeda...”


Masih penasaran, Young-joon terus mencobanya lagi dan baru berhenti karena kehabisan uang receh. Saking terobsesinya, dia sampai terpikir untuk membei mesin itu, namu Mi-so melarangnay dan menyurhnya untuk segera pulang, karena besok mereka harus bekerja..


Sebelum benar-benar berpisah, beberapa saat mereka saling tatap sambil menunjukkan senyuman terhangatnya..


Besok paginya.. sebelum berangkat kerja, Mi-so berbicara pada boneka sapinya: “Sapi Pekerja Keras, hari ini jaga rumah dengan baik, ya...”


Ponselnya berdering, ada telpon masuk dari Reporter Park yg hendak menjawab pertanyaannya kemarin. Setelah dicaritahu, ternyata pada tahun 1994 memang ada kasus penculikan anak selama 4 hari.. dan korbannya adalah putra dari Gyup Yumyung, “Kejadiannya di area pembangunan, yg kini menjadi Yumyung Land. Yumyung Group menghalangi semua reporter untuk meliput. Tidak ada informasi, kecuali putranya kelas 4 SD ketika itu. Aku sudah menyelidiki dan ternyata putra sulungnya memang kelas empat saat itu...” jelasnya


Seketika, Mi-so teringat obrolannya dengan Young-joon, yg jelas-jelas.. mengatakan bahwa dia duduk di bangku kelas 4 SD pada masa itu..
Advertisement

1 comments:

Pasti luka dikaki young joon akibat peristiwa penculikan itu...😕mungkin??


EmoticonEmoticon