6/29/2018

SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 7 PART 3

SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 7 BAGIAN 3


Mi-so memberikan catatan masa kecilnya kepada Sung-yeon, sambil berkata: “Semoga itu membantu ingatanmu pulih...”


“Sebenarnya, aku sering menyalahkan Young Joon. Jika bukan karena dia, aku tidak akan mengalaminya. Tapi perasaan itu perlahan lenyap karena tahu kamu bersamaku saat itu...” jelas Sung-yeon

“Maskudnya?” tanya Mi-so

“Kita bisa berbagi cerita seperti ini. Kini, aku berterima kasih kepadanya...” jawab Sung-yeon


Ponsel Mi-so berdering, ada telpon dari Young-joon yg mengajaknya bertemu sekarang juga. Katanya sih, ada urusan ‘daurat’...


Sung-yeon mengantar Mi-so, dan tentunya Young-joon tak suka hal itu, “Kamu tidak perlu mengantarnya...” ucapnya sinis

“Tidak bisa. Kamu tahu aku pria yang santun...” tukas Sung-yeon


“Lalu kenapa kamu tidak pergi jika santun? Kami sibuk karena ada hal darurat di perusahaan!” ujar Young-joon

“Banyak sekali situasi daruratmu hari ini. Karena wakil pimpinannya tidak kompeten, ya?” sindir Sung-yeon

“Justru sebaliknya. Wakil pimpinannya terlalu kompeten hingga selalu diserang. Kamu tidak tahu rasanya diserang karena terlalu kompeten, ya?” seindir Young-joon


Sung-yeon mengalah, dia pun pamit. Lantas, Mi-so berkata: “Hati-hati dijalan, oppa..”


Young-joon kaget, “.. oppa?.. kenapa kamu memanggilnya begitu?”

“Toh kami bukan kolega...” jawab Mi-so dengan cueknya


Young-joon bilang: “Aku lapar. Buatkan aku ramen! Ini situasi darurat!” 

“Apa?!”

“Siapa aku? Aku bertanggung jawab atas semua keputusan di Grup Yumyung. Seluruh keputusanku, berdampak pada hidup pegawai dan keluarga mereka!” 

“Terus?”

“Dan aku tidak bisa fokus bekerja karena rindu ramen. Apa yang lebih darurat daripada ini? Jadi, aku ingin ramen sekarang!”


Sesaat kemudian, mereka telah beradai di sebuah kedai ramen. Tapi Young-joon bilang, bukan ramen ini yg dia inginkan!

“Ini juga bukan situasi yang kuharapkan. Kenapa Anda mengganggu kami terus?” tukas Mi-so, “Saya tahu, anda tidak akur dengannya. Tapi saya harus membantu dia memulihkan ingatannya..”


“Kubur ingatan masa lalumu! Kita harus mengejar masa depan! Sampai kapan kamu sibuk dengan ingatan masa lalumu? Itu sudah berlalu. Apakah itu masih berarti bagimu?! Cukup berarti hingga mengecewakan pria yang kamu goda (‘some’)?”

“.. some..???”

“Kata itu terkesan kurang serius, tapi tidak ada kata yang lebih tepat untuk merangkum perasaan itu. Aku menyukaimu, begitu juga sebaliknya. Kita saling menggoda selama ini. Benar? Kamu juga mengakuinya, bukan? Kita saling menggoda... Tapi apa? Teman masa kecilmu? Kamu ingin mengingat masa lalumu?”


Mi-so speechless, dia bingung mesti merespon bagaimana, “Kurasa tempat ini tidak tepat untuk membahasnya...” ucapnya gugup

“Kamu yang mengajakku kemari!” tukas Young-joon


Young-joon mengantar Mi-so pulang.. kemudian mengatakan: “Sekretaris Kim.. Aku ini pintar, tampan, kaya raya, dan kompeten. Kumohon, berhentilah menolakku dan menikahlah denganku. Kali ini, berbeda dari saat aku melamarmu sebelumnya. Waktu itu... Kuakui aku melakukannya karena tidak mau kamu berhenti. Tapi situasi sudah berubah. Aku serius!  Jadi, kita hentikan permainan ini dan mari menjalin hubungan sekarang...”


Mi-so menatapnya haru, tapi kemudaian dia berkata: “Kurasa, ini salah..”


“Apa maksudmu? Bukankah selama ini kita menjalani hubungan ‘some’?” tanya Young-joon

“Iya.. bisa dibilang begitu..” jawab Mi-so sambil tersenyum

“Lalu kenapa kamu tidak mau kita berpacaran?” tanya Young-joon


“Anda mengatakannya karena cemburu dan tidak ingin kalah. Aku tidak ingin memulai hubungan dengan cara ini. Suasana dan situasi ini. Aku tidak menyukainya. Pokoknya, kurasa waktunya tidak tepat!” jelas Mi-so yg kemudian berjalan masuk rumahnya


“Tidak! Harus sekarang! Ini waktu yg paling tepat!” teriak Young-joon, yg lantas menggerutu: “Sudah berapa kali dia menolakku?”


Sampai dalam rumahnya, Mi-so pun menggerutu heran: “Kenapa dia selalu mengajakku berpacaran?”


Esok paginya, staff kantor menyiapkan segala peralatan dan makanan yg akan mereka bawa ke tempat workshop. Semuanya sangat bersemangat, terutama Sekretaris Seol yg telah membeli semua keperluan dan datang paling pagi.


“Itu sempurna! Kerjamu sangat kompeten jika bukan pekerjaan dari kantor. Seandainya kamu bekerja sekeras ini, kamu pasti sudah lama setara dengan Sekretaris Kim..” puji yg lainnya


Sesaat kemudian, datanglah Gwi-nam yg mengenakan setelah jas lengkapnya.. padahal yg lain, hanya mengenakan pakiaan kasual.

“Aku percaya workshop adalah bagian dari pekerjaan...” jelasnya dengan gaya bicara yg terdengar ‘bijak’


Ketika satu per-satu masuk kedalam mobil, Gwi-nam menarik tangan Ji-ah dan mengajaknya bicara. Dia menegaskan, bahwa tujuannya ikut.. adalah untuk mengawasi Ji-ah,


“Kamu tahu setelanku hanya satu dan apartemenku yang kecil begitu tragis... Maksudku, aku tidak mau kamu membocorkan kesederhanaanku...” jelasnya

“Kenapa orang lain tidak boleh tahu? Itu masalah besar bagimu?” tanya Ji-ah

“Ya, masalah besar! Orang pikir aku pekerja keras yang tampan dan aku dijuluki pegawai pria paling menarik di kantor ini. Jelas aku tidak mau citraku rusak!” jawabnya


Mereka pun berangkat.. dan ditengah perjalanan, sempat mampir di area istirahat untuk mengisi perut yg lapar.


Semuanya memesan makanan, sementara Gwi-nam.. sibuk sendiri membaca berkas kerjaannya. Se-ra yg duduk disebelahnya, hendak menyuapinya makanan yg dia beli. Tapi Gwi-nam menolak, hingga tak sengaja.. makanan berbumbu saos itu, terjatuh di jas-nya.


Panik.. membuat Gwi-nam keceplosan, “Ini setelanku satu-satunya!”

“Apa katamu? Ini setelanmu satu-satunya? Kukira kamu punya 10 setelan yang mirip...” sahut Se-ra

“Hmmm.. Ya, memang, tapi aku menyayangi setiap setelan seakan-akan setelanku hanya satu...” jelas Gwi-nam dengan kikuknya


1 komentar


EmoticonEmoticon