6/17/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 11 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 11 BAGIAN 2




Si nenek gelandangan, masuk toilet.. dia melihat seorang wanita cantik yg tengah berdandan. Seakan tak mau kalah, dia pun mengeluarkan lipstick dari kantongnya. Yg dia gunakan untuk memeoles bibir pucatnya.


Ternyata.. dia dandan karena ingin bergabung dengan geng-nya Chil-seong yg tengah ‘berpesta’ dalam salah satu ruang karaoke.

Guna membangkitkan semangat, Yi-man maju kedepan dan berteriak: “Baiklah. Ayo minum untuk Geng Chilseong! Meski kita dirundung kesedihan belakangan ini, meski Poong tidak mengizinkan kita memasak, meski percintaan kita tidak berjalan lancar, mari kita bersenang-senang malam ini!”

Meski masih dirundung rasa pedihnya patah hati.. namun Chil-seong tetap berusaha bertingkah ‘bahagia’



Namun Maeng-dal, dia sepertinya agak kesal.. karena kehadiran di nenek gelandangan, yg dia anggap malah menghancurkan suasana malam ini..




Berikutnya.. adalah saat untuk bernyanyi. Para ajusshi, kecuali Chil-seong.. serentak maju kedepan. Mereka menyanyikan lagu dengan lirik galau, tapi iramanya terdengar ‘ceria’, hingga sangat cocok untuk berjoged.




Sampai di bagian reff, yg liriknya makin galau.. seketika membuat Maeng-dal teringat kembali, manisnya kecan singkat yg tempo hari dilakuinya bersama dengan Seol-ja...




Serupa dengannya.. Chil-seong yg mendapat giliran menyanyi, jadi ikutan galau karena teringat pertemuan pertama kalinya dengan Sae-woo..




Meski sama-sama galau, namun Maeng-dal berhasil mengajak Chil-seong untuk berjoged bersamanya...



Pulang ke rumah.. Sae-woo telah ditunggu oleh mertuanya, yg tanpa basa-basi, lansgung menyuruhnya menantangani surat cerai.

Sae-woo kaget, dia pun bertanya: “O Jik... Kenapa... Dia bersembunyi di mana? Kenapa aku melakukan ini bersama kalian, bukan bersama O Jik?”




Namun dengan ketus, mertuanya malah berkata: “Tingkah lakumu tidak masuk akal, hingga membuat putraku yang baik tidak mau kembali ke Korea. Kenapa kamu dengan bodohnya mendaftarkan pernikahanmu lebih dahulu? Kamu tidak punya hati nurani? Kamu pikir putraku akan tinggal bersamamu jika kamu tinggal di rumah ini? Keluarga kami memiliki firma hukum. Kami tidak akan pernah mau berbesan dengan penjahat seperti ayahmu. Kudengar rumahmu dijual kepada seseorang dan pemilik barunya menyewakannya. Kami akan memberimu rumah ini sebagai alimentasi. Jadi, ceraikan dia. O Jik meminta kami untuk memberimu rumah ini....”

Mendengarnya, membuat Sae-woo sedih: “Dia sungguh meminta kalian untuk memberiku rumah ini?” tanyanya pilu

“Ya...”

“Dia sungguh meminta kalian untuk memberiku rumah ini?”

“Benar...”




Sae-woo pergi sebentar untuk mengambil sempel-nya. Kemudian dia kembali dan lansgung menandatangani surat cerai itu..

Sikapnya, membuat sang mertua berkomentar sinis: “Begitu rupanya. Jadi, kamu selama ini bertahan karena rumah ini. Tampaknya kamu telah menantikan ini. Dasar wanita jalang licik. Tidak kusangka...”



Sae-woo berdiri, lalu mengatakan: “Sudah larut. Kalian sebaiknya menginap di sini. Aku tidak membutuhkan rumah ini. Meski aku tidak mampu mengontrak dan menjadi gelandangan, aku tidak bisa tinggal di rumah ini sebagai alimentasi. Ini adalah rumah saat aku dan O Jik saling mencintai. Kini sudah tidak lagi. Aku tidak akan bisa tinggal di sini lagi. Aku bukan pengemis. Aku pamit...”



Sambil menangis terisak.. Sae-woo berjalan pergi, dengan membawa dua koper besar, berisi barang-barang miliknya.




Pulang ke rumah.. Poong melihat Dal-hee yg tengah menunggunya di rooftop. Namun karena itu, Poong sengaja pergi lagi.. dia sepertinya masih sangat marah, untuk bertemu dengannya.




Setelah seluruh sobatnya tepar, Chil-seong masih sadar.. maka dia pun berjalan keluar, niatnya mencari udara segar.



Tak sengaja, dia papasan dengan Sam-soon yg tengah kencan dengan wanita yg sebelumnay kita lihat.. bekerja di hotel Giant.



Selain itu, Chil-seong pun.. tak sengaja berpapasan dengan Poong. 

“Hey, Poong!!!!!” teriaknya

“Aku sedang tidak ingin berdebat. Sebaiknya kita masing-masing saja!” ujar Poong



“Masing-masing? Jangan, Bung. Hei, ayo minum bersamaku!” ajaknya dengan gaya yg sok-asik. Dia pun lanjut bertanya: “Tahukah kamu betapa aku menyukaimu, Bung?”

“Mana aku tahu!” tukas Poong

“Kalau begitu, tahukah kamu betapa aku membencimu, Bung?”

“Mana mungkin aku tidak tahu itu?!”



Mereka duduk di salah satu kedai pinggir jalan. Sambil menunggu minumannya, Chil-seong bertanya: “Kamu dihajar di mana?”

“Bukan urusanmu...”

“Lihatlah dirimu. Hei, aku mau berteman dengan siapa pun yang memukulimu, Bung...”

“CEO hotel itu, Yong Seung Ryong... Kau bertemanlah dengannya!”




Tiba-tiba, Chil-seong mengajak Poong untuk adu panco, “Mau adu panco? Yang kalah harus mengabulkan keinginan yang menang...”

“Serius?”

“Serius, dong! Aku tidak akan menarik kata-kataku..”



Adu panco dimulai, tapi karan tangan kanan-nya terluka parah.. Poong minta adu panco menggunakan tangan kiri dan Chil-seong menyetujuinya.

“Kamu takut?” tanya Chil-seong




“Tentu saja tidak. Aku memegang penggorengan seharian. Chef punya tangan yang super kuat. Kamu bodoh karena menantangku...”

“Aku pernah menjadi napi tiga kali. Kamu yang bodoh!”



Dalam waktu singkat, Chil-seong berhasil mengalahkan Poong. Dia tertawa kegirangan. Kemudian menuturkan permintaannya, supaya Poong mempekerjakan para ajusshi gengster, setidaknya sebagai kurir.

“Aku tidak mau...” tukas Poong, tanpa pikir panjang

Advertisement


EmoticonEmoticon