6/18/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 12 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 12 PART 2


Sam-soon berlari ke dapur, dia bersembunyi di balik para koki yg tengah bekerja. Namun Dong-sik terus mengejarnya, sambil berteriak menyuruhnya keluar..



Master Wang marah, karena dapurnya jadi tempat kegaduhan. Dia menyuruh pegawainya untuk menyeret Dong-sik keluar, namun Dong-sik yg emosi tiba-tiba memecahkan panci besar menggunakan kepalanya, yg sontak membuat orang-orang ketakutan padanya.



“Jangan bersembunyi seperti pengecut. Tunjukkan dirimu. Memangnya, kau melakukan kejahatan?!” teriaknya sambil sesekali memegang kepalanya yg dirasa nyeri, “Ini peringatan. Kita lihat saja berapa lama kamu bersembunyi. Aku pasti akan kembali!” tegasnya yg kemudian berjalan pergi.


Master Wang heran, “Siapa bedebah itu?!” ujarnya



Poong menempelkan selebaran bertuliskan ‘dibutuhkan pegawai’, di depan pintu kedainya, sambil mengerang kesakitan karena pergelangan tangannya, makin bengkak.


Dari jauh, Sae-woo berjalan ke arahnya.. dan bersamaan dengan itu, Dal-hee datang menemuinya.


“Apa yang terjadi padamu? Ayo kita ke dokter. Tanganmu bengkak. Kenapa tidak ke dokter? Ini perbuatan Seung Ryong?” tanya Dal-hee dengan begitu resah

“Pergilah..” ucap Poong dengan datarnya

“Maafkan aku. Kurasa aku tidak bisa mempunyai anak, membuka klinik, dan menikah sekaligus. Itu sebabnya aku melakukan itu...” jelas Dal-hee




“Kau.. Kapan kali terakhir kau mencintaiku?” tanya Poong, “Kamu tidak mungkin melakukan itu jika mencintaiku. Kenapa kamu berjalan ke altar jika tidak mencintaiku? Karena merasa kasihan juga?” cecarnya

“Ya...” jawabnya singkat

“Baiklah. Mau diapakan properti kita? Kamu saja yang memutuskannya..” ujar Poong


Dal-hee menarik tangan Poong, dan mengajaknya ke Dokter. Tapi dengan tenangnya, Poong berkata: “Jangan datang kemari sesuka hatimu. Hubungan kita sudah berakhir!”


Diam-diam.. Sae-woo menguping pembicaraan mereka, kemudian dia bergegas masuk kedalam kedai, supaya tak ketahuan oleh Poong.



Sae-woo melihat ibunya yg tengah sibuk mengupas bawang bombay.. ibunya terisak, membuat Sae-woo jadi bersedih..


Dalam ruangan Chil-seong, para ajushii gengster tengah berkumpul.. mereka mendengar cerita Dong-sik, dan punya pendapatnya masing-masing. 

Ada yg menyebut Dong-sik bego, karena bertindak gegabah seorang diri.. tapi adapula yg memujinya, dan minta diajak.. kalau-kalau nanti, Dong-sik akan ‘beraksi’ lagi. Alasannya, karena menurutnya.. Semua peselingkuh harus dipermalukan di tempat kerja mereka.


Dong-sik mengeluh: “Rasanya kepalaku akan retak...”, kemudian dia bertanya: “Omong-omong, jika kepala kita terbentur panci, kita ke dokter ortopedi atau ahli bedah saraf?”



Maeng-dal dan beberapa ajusshi, bersikukuh mengatakan kalau Dong-sik harus mendatangi dokter ortopedi karena kepala dilindungi oleh tenggorak yg pada dasarnya adalah tulang, tapi sisanya menegaskan bahwa dia harus memeriksakan diri ke ahli bedah saraf, karena di kepalanya ada otak yg banyak sarafnya.

Mereka berdebat cukup lama, hingga tiba-tiba.. masuklah Seol-ja yg hendak mengantar pesanan makanan.


“Siapa yg pesan jajamyeon?” tanyanya kesal

“Dia..” jawab para ajusshi, sambil menunjuk ke arah Maeng-dal


Seol-ja menaruh piring makanannya di meja, sambil berkata: “Berdarah atau tidak. Kita harus ke ahli bedah saraf jika mengalami cedera kepala. Dasar, Kalian bodoh!” ejeknya

“Jangan menghina teman-temanku!” tegas Maeg-dal

“Kenapa kamu menggunakan pesan antar, padahal kami tepat di bawahmu?” tanya Soel-ja

“Antarkan saja jika aku memesan!” ujar Maeng-dal


Sae-woo hendak duduk disebelah Poong, tapi dengan angkuhnya, Poong malah bertanya: “Kamu mau ngapain? Bukannya, kita sudah tak saling mengenal sekarang?”


Belum sempat Sae-woo bicara, Poong pamit.. dia bilang, dia harus bekerja.

“Rapi.. kamu tak punya pelanggan satu pun!” teriak Sae-woo yg kemudian mengajak Poong, untu pergi ke dokter bersama dengannya, “Tanganmu tampak lebih bengkak daripada kemarin. Ayo kita ke dokter...”

“Kenapa? Bukankah.. Kamu yang seharusnya ke dokter mata!’ ujar Poong

“Aku? Kenapa?” tanya Sae-woo dengan polosnya


“Kamu sering mengedipkan mata ke tiap pria saat mabuk?” tanya Poong dengan sinisnya

“Itu kebiasaanku saat mabuk...” jawab Sae-woo sambil tertawa

“Berkedip itu terlalu mesum...” ungkap Poong

“Mesum? Aku baru tahu soal itu..” ujar Sae-woo

“Kedipan mata membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi dan usaha. Begitulah cara memikat. Simpanse dan monyet pun tidak bisa. Hanya manusia yang bisa. Hanya manusia yang memohon untuk cinta dan perhatian. Hanya mereka yang memohon...” jelas Poong


“Tapi kamu melakukan sesuatu yang lebih buruk dariku!” keluh Sae-woo (maskdunya ciuman mendadak tadi malam)



Sae-woo menjelaskan: “Aku kurang bisa memutuskan hubungan dengan orang lain. Jadi, kita anggap saja apa yang terjadi sebagai khilaf. Anggap itu hal biasa. Lagi pula, itu memang kesalahan. Itu suatu kesalahan. Bukan?”



Dengan gugup, Pong menjawab: “Oke..”

“Kita hanya perlu memastikan tidak mengulanginya...” ujar Sae-woo

“Oke..” balas Poong, masih dengan suara yg tergagap

“Kamu tidak bisa lebih antusias? Kamu tampak sangat marah...” keluh Se-woo

“Oke, baiklah!” tegas Poong, yg kemudian menggerutu: “Tapi tunggu sebentar... Ke-khilaf-an? Ya, baiklah. Anggap saja seperti itu. Kita anggap itu sebagai tindakan khilaf!”


Sae-woo menatap Poong, sambil tersenyum dia memangilnya: “Chef....”

“Aku bukan chef-mu!” jawab Poong dengan sinisnya

“Kamu bisa izinkan aku bekerja sebagai pelayan?” tanya Sae-woo

“Pergilah!” tukas Poong


Master Wang mengetahui bahwa Dong-sik adalah pegawai kedai di sebrang jalan. Tapi dia penasaran, kenapa Dong-sik datang kemari.. membuat keributan.. dan memarahi Sam-sun?

Niatnya cari aman, maka Sam-sun berbohong dengan berkata: “Aku makan semangkuk jajangmyeon di sana, dan memberi dia beberapa kritik. Dan karena itu, gangster atau chef tersebut berani datang ke dapur kita dan menyebabkan kekacauan besar...”



Master Wang menceritakan insiden ini kepada Yong Sajang. Kesal berbalut dendam, dia pun menegaskan: “Aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan menghabisi Poong, bos gangster, dan semua bawahannya!!!”


Di dapur, Poong mencoba untuk mengagkat wajan.. tapi tangannya terasa begitu lemas, dan dia tak bisa melakukannya,

Advertisement


EmoticonEmoticon