6/12/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 8 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 8 BAGIAN 3


a_2

Seorang diri.. Poong meminum sebotol soju. Pada waktu yg bersamaan, ita melihat Sae-woo pun tengah mium bir di atas jembatan Sungai Han.

a_3

a_4

Tak sengaja, Poong melihat sebuah fortune cookies yg tersimpan di piring dekatnya. Dia membukanya dan terselip sebuah kertas bertuliskan: ‘Aku tidak mau diterima hanya karena mengenal pemilik bangunan ini. Aku tidak akan bekerja sebagai manajer’

a_5

a_6

a_7

Detik itu juga.. Poong lansgung tersadar, bahwa Sae-woo adalah wanita bertopeng yg bertemu dengannya di Jembatan kala itu...

a_8

a_9

a_10

Ternyata.. sebelum pergi, Sae-woo sempat membuat fortune cokies di dapur. Dia menghabiskan waktu yg cukup lama untuk membuat adonan, hingga menuliskan pesannya di secarik kertas...

a_11

a_12

a_13

Teringat betapa kerasnya dia membentak Sae-woo tadi, maka Poong berlari secepat yg dia bisa untuk mencari Sae-woo ke seluruh tempat yg bisa dia datangi..

a_14

a_15

Sementara itu, kita melihat Seol-ja yg tengah ‘kencan’ dengan Maeng-dal. Mereka boncengan naik motor gede.. dibawah terangnya langit malam yg begitu romantis dan berhenti di sebuah hotel..

a_16

Dalam salah satu kamar hotel, kita ppun melihat Sam-sun yg tengah bermesraan dengan seorang wanita pelayan hotel...

a_17

Di lobby, Nyonya Jin tengah memohon kepada seroang temannya untuk meminjamkan uang padanya.

“Maukah kamu setidaknya meminjamkanku 15.000 dolar? Aku tahu kamu punya 15.000 dolar. Maukah kamu meminjamkanku?”

“Kamu bicara seakan 15.000 dolar adalah 1.500 dolar. Kenapa tidak kamu jual saja tasmu?”

“Aku tidak bisa menjual ini. Kamu mau membeliku saja? Aku akan melakukan apa pun”

a_18

a_19

Tak sengaja, Ny. Jin melihat Seol-ja.. dia kaget, seakan dia mengenalnya. Tapi dia tak menghampirinya dan hanya memerhatikannya saja..

a_20

a_21

Akhirnya Poong menemukan Sae-woo. Dengan nafas yg terengah, dia menggerutu: “Kamu seharusnya memberitahuku. Kamu seharusnya bilang kita pernah bertemu di jembatan ini!!!”

“Kenapa kamu marah kepadaku? Aku bahkan tidak bekerja untukmu...” ujar Sae-woo dengan santainya

a_22

Poong mengambil kaleng bir milik Sae-woo kemudian meminumnya. Sae-woo hendak berjalan pergi, namun Poong menahannya: “Kamu mau ke mana?”

a_23

a_24

“Lepaskan tanganku..”

“Jangan pergi!”

“Lepaskan...!”

a_25


“Tahukah kamu berapa kilometer aku berlari untuk bisa kemari? Aku berlari seperti orang gila meski kehabisan napas karena takut kehilanganmu!”

“Siapa pula yang menyuruhmu  begitu?”

“Bukankah kamu sebaiknya menemaniku sampai aku menghabiskan bir ini? Kamu tidak punya tata krama”

“Memangnya tata kramamu baik dengan mengambil birku?”

“Kamu menolak untuk melepas helmmu. Aku khawatir kamu benar-benar sudah mati”

a_26

“Maaf karena aku masih hidup bahkan setelah melepas helm itu. Maaf aku telah diterima melalui koneksi”

“Kurasa dunia tidak menakutimu lagi”

“Itu bukan urusanmu”

“Di mana kuda cerewetmu itu? Saat memakai helm itu, kukira kamu jauh lebih cantik. Astaga. Kukira kamu jauh lebih muda. Kamu pelanggan pertamaku. Aku sudah lama menunggumu untuk membuatkan makanan enak. Ini memang aneh, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu”

a_27

Sambil berjalan menuju kamar, Seol-ja bertanya kepada Maeng-dal: “Kenapa tidak ke rumahmu saja daripada menghabiskan uang di hotel mahal semacam ini?”

“Berhemat memang baik. Tapi kini aku sedang terburu-buru”

“Astaga, tempat ini terlihat sangat mahal”

“Ini malam pertama kita bersama. Aku tinggal bersama dua orang yang kamu lihat tadi”

“Berarti, kamu harus menyuruh mereka pergi”

“Mana mungkin aku menyuruh pemiliknya pergi?”

a_28

Seol-ja kaget, “Kamu tidak punya rumah?” tanyanya

“Tidak. Tapi itu tidak penting. Tidak bisakah kita bicara di dalam?” ujar  Maeng-dal

a_29

“Kamu berbuat apa saja selama hidup? Kamu tidak bisa memasak. Kamu tidak punya rumah, mobil, dan pekerjaan. Kamu hanya punya sepeda motor dan uban prematur itu!” gerutu Seol-ja yg kemudian berjalan pergi

a_30

“Jangan begini kepadaku. Kamu terlalu kejam jika pergi sekarang!!!” teriak Maeng-dal, namun sedihnya.. dia di acuhkan..

a_31

a_32

Gagal tidur bersama dengan Seol-ja, Maeng-dal memilih tidur bersama dengan Chil-seong.

“Kamu dingin” ucap Chil-seong

“Aku tidak bisa tidur sendirian hari ini..” ujar Maeng-dal

a_33

a_34

“Kudengar, mereka menyuruhmu keluar, tapi kamu tetap di sana karena aku menyuruhmu membeku sampai mati. Dasar bodoh! Maeng Dal. Kamu ingat ucapan Nietzsche?” tanya Chil-seong

“Meski hari ini adalah hari terburuk, matahari akan terbit esok hari..” jawabnya dengan suara lirih..

a_35

Poong bertanya pada Sae-woo: “Apa isi tulisan kuemu malam itu?”

“Tulisannya, lihatlah bintang di atas dan jangan lihat kaki di bawah” jawabnya, yg kemudian bertanya balik: “Bagaimana dengan milikmu? Apa isi tulisannya?”

a_36

a_37

“Entahlah. Aku sudah membuangnya..” jawab Poong dengan suara yg terdengar gugup

“Sungguh? Sebelum melihatnya?” tanya Sae-woo

“Ya..” jawabnya singkat

“Kamu tidak penasaran?” tanya Sae-woo

“Aku membuangnya karena takut akan terwujud. Karena itu tidak semestinya..”  jelas Poong

a_38

“Kamu bertingkah sok keren.. tapi melihat selembar kertas saja tidak bisa. Kamu laki-laki, bukan?” tukas Sae-woo

a_39

Advertisement

1 comments:

Yang ini juga sama... Cuman judulnya aja isinya kosong.. G ada tulisannya..
Bagaimana ini cingu?


EmoticonEmoticon