7/04/2018

SINOPSIS My Mister Episode 15 PART 1

SINOPSIS My Mister Episode 15 BAGIAN 1


Setelah Ji-an mendengar pesan dari Dong-hoon yg minta ditelpon, dia langsung terperanjat kaget. Kemudian, dia bergegas pergi keluar menuju telpon umum di dekat tempat tinggalnya.


Dia menghubungi nomor yg diberikan Ki-bum.. yg ternyata, kini dipegang oleh temannya Ki-bum. Temannya itu, berbisik menjelaskan pada Ji-an: “Dia kemarin ditangkap sama polisi. Dia menyuruhmu untuk terus bersembunyi. Katanya, asalkan kau tak tertangkap, dia akan segera bebas...”


Hingga film yg ditonton Dong-hoon selesai, Ji-an masih belum juga menelponnya. Beberapa saat, dia menunggu diluar, hingga akhirnya menyadari kemungkinan bahwa Ji-an wakktu itu pernah menghubunginya lewat telpon umum.


Maka saat itu juga, Dong-hoon mencaritahu lokasi telpon umum tersebut.. dan posisinya Ji-an, maish terus menguping pembicaraannya.


Ji-an sadar, bahwa dalam waktu singkat Dong-hoon pasti akan sampai di tempatnya.. maka dia bergegas mengemasi barang-barangnya kemudian melarikan diri ‘lagi’


Tepat ketika Dong-hoon tiba di telpon umum itu, Ji-an telah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Selama kakinya melangkah.. Ji-an terus terbebani rasa bersalahnya sendiri. Dia teringat, momen ketika Deputi Park membuat kesalahan, dan Dong-hoon menyuruhnya untuk berlutut sambil teriak minta maaf sebanyak 10 kali..


Dan ditengah jalan raya, Ji-an melakukan hal itu sambil menagis terisak. meski Dong-hoon tak mengetahuinya, tapi dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh.. tak memedulikan, lirikan mata orang yg mungkin, menganggapnya sebagai orang aneh..


Setelah melakukan pencarian cukup lama, akhirnya Dong-hoon memutuskan untuk pulang kerumahnya..

Yeon-hee melihat raut wajah suaminya yg begitu lesu, dia pun bertanya: “Kau telat pulang. Sudah makan?”

“Sudah..” jawabnya singkat

“Ada apa? Kenapa?” tanya Yeon-hee

“Bukan apa-apa. Tidurlah...” jawabnya yg kemudian langsung masuk kedalam kamar


Sejenak diam, Dong-hoon lantas menaruh ponselnya di kasur.. kemudian dia menemui Yeon-hee yg tengah duduk dalam ruang kerjanya,


“Cerita saja padaku. Aku akan mendengarnya...” ucap Yeon-hee

“Kau tahu Lee Ji An?” tanya Dong-hoon


Sejenak Yeon-hee terdiam, kemudian dia menjelaskan: “Pernah suatu hari... Joon Young kirim CV padaku. Dan dia menyuruhku untuk mencaritahunya. Aku baru tahu sesudahnya... soal apa yang dia kerjakan. Dialah yang memberitahuku orang seperti apa Joon Young itu. Dia... mencoba membuatku kembali padamu. Dari awal sudah kuduga... dia menyukaimu. Aku menyuruh dia jangan berhubungan dengan Joon Young..., dan menyuruhnya berhenti dari perusahaan. Kenyataan dia tetap berada di sisimu, meskipun dia tahu kelemahanku... membuatku resah, dan aku tak suka itu. Aku bilang ke dia kalau aku akan memberikan uang yang dijanjikan sama Joon Young. Tapi dia menolak tawaranku. Dia bilang kalau dia berhenti dari perusahaan..., si Joon Young pasti akan mencari orang lain buat menyingkirkanmu. Dia selama ini melindungimu. Dan kenyataan itu pun... membuatku tambah sengsara. Seolah rasanya aku ingin mati saja...”


Kemudian, Dong-hoon cerita: “Dia kabur sekarang. Gara-gara masalah yang menimpa Direktur Park... polisi mengincar dia. Dan ternyata dia mendatangi Joon Young... dan mengatakan walau dia di ambang kematian pun, dia akan tetap kabur. Dan dia akan terus tetap kabur. Karena kalau dia tertangkap... dia harus mengatakan semuanya kenapa dia melakukan semua ini... dan membongkar soal perselingkuhanmu dengan Joon Young. Dia tahu...  apa yang paling membuatku menderita...”


Lantas, Yeon-hee berpendapat: “Kita ungkapkan saja semuanya, sayang. Kita tak bisa membuat dia kabur selamanya... Maafkan aku. Karena aku, semuanya jadi begini. Maafkan aku...”


Sesaat kemudian, Yeon-hee berbicara di dekat telponnya Dong-hoon, yg dia tujukan supaya Ji-an mendengarnya: “Ayo kita ke polisi. Kau tak usah kabur lagi. Aku akan membantumu. Tak apa... Aku dan Dong Hoon akan membantumu keluar dari penjara. Jadi, tak usah khawatir... ayo kita ke kantor polisi. Dong Hoon dan aku... telah memutuskan untuk mengungkapkan semuanya... soal apa yang terjadi denganku dan Joon Young. Maafkan aku, Ji An-ssi. Hubungilah kami. Entah kau menghubungi aku atau Dong Hoon... Pokoknya hubungilah kami kalau kau sudah terima panggilan ini..”


Dong-hoon ragu, apakah pesan itu akan diterima oleh Ji-an. Tapi dengan sangat yakin, Yeon-hee mengatakan bahwa Ji-an pasti akan mendengarnya.. entah itu sekarang, atau nanti di lain waktu..


Dalam pelariannya, tak sengaja Ji-an tertabrak cukup keras hingga badannya berguling di aspal. Si pengemudi sangat panik dan khawatir, dia bergegas menelpon polisi untuk melaporkan insiden ini..

Tapi Ji-an malah buru-buru bangkit, dan berlari pergi.. Meski dalam kondisi kakinya yg pincang, dia tak peduli akan hal itu dan terus berlari pergi, secepat yg dia mampu.


Di depan bar-nya, Jung-hee menemani Yoo—ra yg tengah menunggu Ki-hoon untuk menjemputnya. 


Tak lama kemudian, Ki-hoon datang sendirian. Hal itu membuat para ajusshi jadi penasaran, mengapa belakangan ini.. kakak-beradik Park jarang datang kesini bersama-sama? 

Ki-hoon bilang, karena merka punya kesibukannya masing-masing. Namun para ajusshi tak menerima jawaban itu, dan mereka menduga-duga, alasannya adalah karena Dong-hoon telah sukses, makanya kakak-beradik Park lebih suka makan di restoran mahal daripada disini..


Tak mau perdebatan makin rumit, Ki-hoon bergegas pamit dan mengajak Yoo-ra masuk kedalam mobilnya.

“Kalau kalian mengkhianatiku dan sering makan ke tempat lain... Kubunuh kalian bertiga! Aku takkan mau lagi dikhianati laki-laki dua kali!!!!” teriak Yeon-hee


Dalam perjalanan, Yoo-ra mengobrol dengan Ki-hoon, “Aku penasaran kenapa kau bisa membuat aktris naik mobil seperti ini. Pak Sutradara, kau itu seksi sekali...”

“Kau jangan kebanyakan senyum, ya!” pinta Ki-hoon

Lantas, Yoo-ra bertanya: “Kenapa?”

“Dong Hoon belakangan ini lagi bersedih. Aku tak mau tersenyum kalau dia lagi bersedih. Jadi sewajarnya saja, ya..” jelasnya


“Kenapa dia sedih? Padahal dia kelihatannya senang karena sudah naik jabatan”

“Ya dia sedih saja. Dan kalau dia bersedih, dia memang sungguh bersedih”

“Kau pasti sangat sayang sama kakakmu”

“Tidak. Takkan pernah! Aku cuma terbiasa saja. Aku tak berhak memikirkan dia bersedih  karena apa, atau apa ini perlu disedihkan. Kalau ada orang terdekatmu menangis, ya kau juga harusnya ikut menangis. Jika kakakku menangis..., dia memang menangis, dan aku penasaran kenapa dia menangis. Tapi, aku ingat ke kakakku yang paling tua. Kalau dia tak menangis..., berarti tak ada masalah. Karena kakakku yang paling tua itu, selalu menangis saja kerjanya. Apapun bisa membuat dia menangis. Tapi kalau kulihat lagi ke kakakku yang satunya, dan kalau dia tak menangis... aku jadi takut dan cemas. Berarti itu masalah besar. Kami jadi takut mendekati dia. Sebelum kuduga, aku pun jadi merinding... dan reaksiku langsung beda. Dia langsung seolah-olah dia menjinakkanku”

Mendengar pemarapan panjang itu, maka Yoo-ra menegaskan: “Berarti kamu memang menyayanginya!”

“Aku tak menyayanginya!” sanggah Ki-hoon

Sebelum berpisah, Ki-hoon minta putus untuk sementara waktu, karena dirinya ingin menghibur Dong-hoon yg tengah bersedih, “Tiga hari.. hmm, dua hari saja deh..” ujarnya yg kemudian mencium Yoo-ra


Setelah Yoo-ra turun dari mobil, dia pun mendumel pada diirnya sendiri: “Aku ini orang jahat. Padahal Dong Hoon lagi sedih, tapi...”


Ketika sampai di depan rumah, kebetulan Sang-hoon tengah membuang sampah. Sang-hoon menghampirinya lalu bertanya: “Kenapa wanita itu (Ji-an) berhenti kerja?”

“Kau tahu sendiri si Dong Hoon orangnya tak suka cerita...” jawab Ki-hoon


Setelah menghela nafas panjang, tiba-tiba Sang-hoon berkata: “Tunggulah.. Aku akan kasih kalian hadiah liburan tiga hari. Saat aku bangkrut... Kupikir aku akan berjuang untuk bertahan... tapi tak ada lagi yang harus kuperjuangkan. Yang kuingat cuma makan dan buang air. Bekerja, dan makan, serta buang air...”

“Kau kumat lagi. Sudahlah tak usah bicarakan makan dan buang air. Aku muak mendengarnya!” tukas Ki-hoon


Lantas kemudian, Sang-hoon cerita sekaligus  membayangkan hal yg paling membuat mereka bertiga bahagia, “Kita bertiga dulu suka nonton film Hong Kong. Adegan dimana seperti film Hong Kong.. terukir dalam hatiku, seperti sebuah fantasi. Kita bertiga pakai jas hitam. Dan kacamata hitam... dan kita naik mobil mewah, dan menginap di hotel mahal. Hanya tiga hari, dimana kita akan merasa  seperti pemain utama film Hong Kong.. Dan kita akan menginap di hotel megah. 10 juta won, habis buat liburan! Semua itu aku yang bayar!”


Mendengarnya, membuat Ki-hoon nyeletuk: “Jadi karena itu kau menyembunyikan uang di bawah kasur? Karena inilah aku tak bisa melakukan apapun sama kau. Kaupikir kau jago main rahasiaan, tapi nyatanya payah...”

Sang-hoon begitu kaget, dia tak menyangka bahwa selama ini Ki-hoon telah mengetahui rahasianya~~


Masuk ke kamarnya, Sang-hoon bergegas memeriksa uang miliknya. Syukurlah masih utuh.. Namun tiba-tiba Ibu datang untuk menyimpan pakaian yg telah disetrika kedalam lemari. 

Dengan cueknya, ibu hanya berkomentar menyuruhnya untuk menaruh semua uang itu di bank saja. 

“Aku punya kredit yang masih nunggak... jadi orang bank pasti takkan mau buka rekeningku...” jawab Sang-hoon

“Ya kau harusnya suruh si Ki Hoon saja!” tukas Ibu

“Aku takutnya nanti uangnya dipakai sama dia. Tapi Ibu... ini rasanya nyaman saja menaruh uang seperti ini...” tambahnya.
Comments


EmoticonEmoticon