7/11/2018

SINOPSIS My Mister Episode 16 PART 1

Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 16 BAGIAN 1


Ji-an mengunjungi neneknya di panti jompo.. menggunakan bahasa isyarat, nenek bertanya: “Suara apa yang dihasilkan saat kelopak bunga berguguran?”

“Suara yang indah...” jawab  Ji-an


Nenek melihat Dong-hoon yg menunggu mereka dari kejauhan, lalu dia bilang: “Aku merasa sangat bahagia, dan tenang. Ini pertama kalinya dalam hidup, Nenek merasa bahagia...”


Dalam perjalanan ulang, Dong-hoon serius menyetir.. membuat Ji-an berkomentar: “Kau beda, saat kau mengemudi...”

“Ya.. aku emmang orang yg berbeda..” jawab Dong-hoon yg lantas bertanya: “Tadi nenekmu bilang apa? Sepertinya dia ada mengatakan tentangku...”

“Dia berterima kasih pada Ahjussi...” jawab Ji-an


Sesampainya di kantor polisi, telah ada Yeon-hee yg berdiri menunggu mereka. 

“Temanmu mana?” tanya Yeon-hee

“Besok, dia datangnya...” jawab Ji-an


Dalam ruang interogasi.. Yeon-hee meminta maaf sekaligus berterimakasih pada Ji-an, karena bersedia menyerahkan diri dan mau bekersama dalam penyelidikan...

“Kenapa semua orang berterima kasih padaku? Jika aku jadi kalian, aku pasti membenci diriku...” ujar Ji-an


Dari kantor polisi, Dong-hoon menemui Biksu Gyeom-dok yg telah menunggunya di depan sebuah toko bunga. Dong-hoon masuk dan membelikan sebuket bunga cantik..

“Kenapa beli bunga?” 

“Mana mungkin kita tak bawa apa-apa...”


Sambil berjalan, Donghoon tanya: “Jung Hee bilang apa padamu waktu dia datang?”

“Dia bilang dia akan membakar kelenteng...”

“Terus kau kemari karena kau takut padanya?”


Tak menjawab pertanyaan itu, biksu malah curhat: “Aku tidak ingin berjalan-jalan di lingkungan perumahan ini. Lingkungan yang membuatku merasa seolah-olah aku sudah melakukan kejahatan. Lingkungan di mana... aku menentang harapan orang tua dan kerabatku.... dan menyingkirkan kekasihku. Setiap kali aku datang ke Seoul dan melewati lingkungan ini... aku merasa tak enak, dan akhirnya aku kembali. Kalau aku mengingat lingkungan ini..., aku pasti langsung membuang pikiran itu. Tapi aku seharusnya mengatasi perasaan bersalahku itu... daripada membuang jauh pikiran seperti itu. Dan aku tidak tahu apa yang harus kuperbaiki. Yah, palingan, aku nanti pusing sendiri...”


Kemudian, Dong-hoon ikut bercerita kondisinya kala itu, “Ketika kau akhirnya memutuskan menjadi biksu..., aku merasa lega. Gara-gara kau, aku selalu yang jadi nomor dua. Saat aku melihat kepalamu digundul bertahun-tahun lalu, Tiba-tiba muncullah pikiran ini: ‘Aku akan kalah dari bajingan ini’, ‘Aku pasti akan kalah darinya’. Setelah melihat kepalamu digunduli, aku tiba-tiba merasa takut. Jadi aku bergegas pergi dari gunung itu... dan berusaha terbaik untuk menjalani hidupku. Tapi aku kalah, 100 persen... ”


“Mana ada yang namanya 'menang' atau 'kalah'. Setiap orang memiliki hidupnya sendiri...” ujar Biksu Geyom-deok

“Ada seorang wanita yang paling menyedihkan di seluruh dunia. Tapi dia... menurut dia, akulah orang paling menyedihkan di seluruh dunia. Aku tidak menjalani hidup dengan baik. Aku kalah...” papar Dong-hoon

“Sekarang... menanglah...” tukas Biksu Gyeom-deok


Mereka sampai di depan bar-nya Junghee. Dong-hoon menyerahkan sebuket bunga ditangannya, lalu pamit pergi..


Jung-hee tengah mencuci piring, ketika Gyeom-deok masuk.. dia terperanjat kaget, sementara Gyom-deok terus menatapnya sambil tersenyum hangat.


Mereka duduk berhadapan, Jung-hee lasngung mendumel: “Aku pasti sudah gila. Kau pergi di kala kau masih muda..., tapi kau kembali sebagai pria paruh baya...”

“Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak sanggup datang ke sini. Padahal cuma satu setengah jam perjalanan ke sini... tapi kenapa aku tidak sanggup datang kesini selama hampir 20 tahun? Kupikir aku tak sanggup datang karena ada hal yang membebani hati nuraniku...” papar Gyeom-deok


“Jadi sekarang... tidak ada yang membebani hati nuranimu? Selama ini, aku berharap... akulah yang membuat hatimu terbebani. Dan hidup dalam kesengsaraan selama bertahun-tahun ini. Jadi, apapun yang terjadi padaku sekarang..., apa kau akan merasa terbebas dari perasaan bersalahmu? Lantas... apa lagi yang bisa kunantikan dalam hidup ini?” tutur Jung-hee dengan mata yg berkaca-kaca

“Berbahagialah... dan merasa nyamanlah...” pinta Gyeom-deok dengan suara lembutnya


Ketika Ki-hon dan Sang-hoon tengah asyik menonton TV.. Diam-diam, ibu memberikan se-amplop uang untuk Dong-hoon, “Ambil dan belil setelan baru..”

“Tuh lagi-lagi ibu melakukannya.. Kami bisa melihat Ibu! Walau aku menonton TV sekarang..., penglihatanku bisa mencakup 180 derajat!” sindir Ki-hoon

“Ibu memberinya uang biar dia bisa beli baju. Mana bisa setelah dia naik jabatan, pakai baju itu-itu terus!” ujar Ibu


“Terus kenapa Ibu kasih uangnya diam-diam begitu? Memangnya kami melarang Ibu? Ibu cuma peduli sama Dong Hoon Hyung...” keluh Ki-hoon, beda hal-nya dengan Sang-hooon yg dengan senang hati, menawarkan diri untuk membelikan jas baru untuk Dong-hoon.


Dong-hoon sendiri malah bertanya: “Ibu juga..., menganggapku sebagai orang yang menyedihkan?”

“Siapa yang bilang begitu? Ibu cuma khawatir karena kau orangnya pendiam sekali...” jelas Ibu


Ki-hoon menghampirinya dan bertanya: “Kenapa kau kemari, bukannya pulang ke rumahmu?”

“Aku lagi menunggu telepon dari istriku...” jawab Dong-hoon


Di depan detektif, Ji-an menceritakan semuanya secara lengkap dan jujur. Dimulai dari momen pertama, dia mengetahui hubungan antara  istrinya Dong-hoon dengan Jon-young, sampai segala perbuatan yg dilakukannya untuk membuat Direktur Park dan Dong-hoon dipecat.


Namun pada saat giliran Joon-young memberi keterangan.. dengan lihainya, dia membalikkan fakta dan menyebut Ji-an sebagai ‘penjahat’ picik yg memerasnya demi uang 10 juta won.

Pokoknya, seluruh kesaksian JI-ah.. berhasil di bantah oleh Joon-young, hingga membuat posisinya makin terkesan sebagai seorang korban...


Yeon-hee geram dengan situasi ini, dia pun berbicara dengan detektif yg kemudian menegaskan, bahwa kasus ini sangat sulit. Mereka tak memilikii satu pun bukti, kalau Joon-young terlibat.. karena uang yg diberikan semuanya dalam bentuk tunai...


Yeon-hee menjelaskan hal inni pada Ji-an, kemudian bertatanya mengapa Ji-an menghapus seluruh rekaman sadapan itu dari ponselnya?

“Karena ada hal-hal yang menyangkut dirimu, Ahjumma. Hal-hal yang membuat Ahjussi paling menderita...” jawab Ji-an
Advertisement


EmoticonEmoticon