7/11/2018

SINOPSIS My Mister Episode 16 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 16 BAGIAN 2


Karena kesaksiannya bertolak belakang, maka pihak Ji-an dan Joon-young diinterogasi dalam satu ruangan yg sama..

Joon-young menyerang Ji-an, dengan fakta bahwa seluruh ide kejahatan, berasal daari Ji-an dan bukan atas perintahnya.

“Toh kau tak punya mental untuk cari ide soal rencana apa yang akan berhasil. Karena satu-satunya hal yang bisa kaupikirkan ialah... memanfaatkan perusahaan subkontraktor untuk mencoba menciptakan skandal penyuapan...” tukas Ji-an dengan sinisnya


“Memang aku ada salah apa sama kau? Kaulah yang mendatangiku duluan karena kau membutuhkan uang... dan kau sendiri yang menyadap Park Dong Hoon! Dan kau menyukai dia! Kau ini sekarang pasti begini, karena aku membuat orang yang kausukai menderita!!!” cecar Joon-young dengan intonasi tinggi

Ji-an terseulut emosinya, dia pun berkata: “Kenapa kau terus berkata ‘kau suka dia! Kau suka dia!‘ seolah kau meermehkanku karena aku menyukainya?! Pasti karena kau berpikiran sempit saat kau menyukai seseorang, ya? Apa kau tahu apa artinya bagi seseorang jika mereka menyukai seseorang?!”


Mendengarnya, membuat Joon-young marah. Dia pun berteriak meminta pengaccaranya untuk menuntut Ji-an atas tindakk pemerasan, pencemaran nama baik dan hal lainnya yg bisa dituntut!!!


Kembali ke kantornya, Joon-young lansgung masuk ruangan untuk mengambil sekantong uang yg akan dia gunakan untuk menebus rekaman suaranya..


Ji-an bertanya pada Yeon-hee, “Kenapa kau berselingkuh? Aku penasaran saja... Kenapa kau menyelingkuhi orang seperti Ahjussi?”

“Aku bisa memberimu 100... malah 1000 alasan. Tapi entah apa ada alasan sungguhan di antara 1000 alasan itu...” jawab Yoen-hee


Dalam perjalanan pulang, Yeon-hee menelpon Dong-hoon: “Semua akan selesai jika ada rekaman suaranya..., tapi komputer mereka dicuri. Menurut Ji An, orang-orang Joon Young yang mencurinya, tapi sepertinya komputer itu juga tak ada di mereka...” jelasnya

“Tak apa... Kita hanya perlu mendapatkan informasi dari ponsel tak terdaftar itu...”

“Bagaimana pertemuanmu dengan Direktur Park?”

“Dia setuju tidak menuntut apapun...”

“Baguslah. Aku sudah hampir sampai rumah. Nanti kita bicara di sana...”


Setelah telponnya diputus, Yeon-hee berbicara pada Ji-an, menjelaskan kalau posisi Ji-an sudah aman sekarang, karena Direktur Park tak akan menuntun apa pun.

Namun Ji-an, malah membahas hal lain, “Di antara hal-hal yang sering dikatakan Ahjussi... menurutku inilah satu hal yang paling baik yang dia katakan. ‘Ada yang mau kautitip beli apa?’.. Hal yang biasa dia katakan padamu saat dia meneleponmu pas mau pulang...” tuturnya


Yeon-hee mengantar Ji-an hingga gepan ar-nya Jung-hee. Stelah itu, dia pamit dan melanjutkana perjalanan pulang..


Sebelum tidur Ji-an bertanya pada Jung-hee: “Kenapa kau tidak penasaran? Soal apa yang akan kulakukan bersama Ahjussi dan istrinya?”

“Yang kupedulikan, yang penting kau sudah pulang. Aku senang kau sudah disini...” jawba Jung-hee


Ji-an mengucapkan sesuatu menggunakan bahasa isyarat dan tanpa diberitahu, Jung-hee bisa menebak itu artinya ‘terimakasih’

“Katanya, barang-barangmu ada sama Chul Yong. Haruskah kuminta dia, membawa barangmu kesini?” tanya Jung-hee

“Nanti saja, kalau aku sudah ada tempat tinggal sendiri...”

“Kenapa? Kau tak mau tinggal sama aku?”

“Kalau aku tinggal di sini... Ahjussi pasti takkan bisa datang ke sini. Semenjak aku tinggal di sini, dia tak pernah kesini...”


Gwang-il sibuk memindahkan seluruh file rekaman kedalam USB. Sobatnya terus mendesaknay untuk ‘menjual’ USB itu pada Joon-young, yg bahkan rela mebayar dalam jumlah besar..


Esok paginya, Ji-an tengah beberes menjemur pakaian. Tiba-tiba ponslenya berdering.. ada telpon masuk dari panti jompo, yg seketika membuat wajah Ji-an menjadi pucat...


Dong-hoon tengah bekerja dan bercanda bersama dengan para pegawainya dalam ruangan, hingga tiba-tiba Ji-an menelponnya untuk mengabarkan: “Nenekkku... meninggal...”


Sesaat kemudian, mereka tiba di ruang penyimpanan jenazah. Ji-an sangat terpukul, hingga dia tak mampu melihat wajah neneknya sendiri..


Ketika kain putih dibuka, dan wajah pucat nenek terlihat.. JI-an tak kuasa menahan tangisnya.. dia terduduk lesu sembari menangis terisak. Dong-hoon yg berada disampingnya, berusaha menguatkannya dengan berulang kali mengatakan ‘Tak apa.. tak apa..’ 


Dong-hoon membantu Ji-an bangkit, lalu Ji-an sendiri yg menguatkan dirinya untuk menghampiri dan memeluk sang nenek untuk yg terakhir kalinya..

Menggunakan bahawa isyarat, Ji-an bilang: “Karena Nenek selalu ada di sisiku, aku bahagia. Terima kasih sudah mengisi hidupku. Karena sudah menjadi nenekku... terima kasih. Terima kasih..”


Ji-an mengadakan ritual pemakanan yg sangat sederhana.. yg hanya dihadiri oleh Dong-hoon, Ki-hoon, Sang-hoon dan Jung-hee..


Melihatnya membuat Ki-hoon iba.. atas dasar keinginannya pribadi, dia menelpon ibu untuk mengambilkan uang simpanannya dan segera mengirimkannya ke rekening Ki-hoon sekarang juga..


Semua uangnya, dia gunakan untuk mempersiapkan acara pemakaman yg sangat mewah. Dia membeli banyak karangan bunga, untuk mewakili tiap anggota klub  futsal Hoogye..


Mereka pun diminta datang untuk memberikan penghormatan kepada neneknya Ji-an, padahal tak ada satu pun dari mereka yg mengenalnya secara dekat, namun mereka melakukannya dengan tulus..


Tak lama kemudian, datanglah Ki-bum bersama dengan Yeon-hee. Melihatnya, Ji-an hanya bisa bilang: “Maafkan aku..”

“Kenapa harus minta maaf..” sahut Ki-bum, yg kemudian pamit karena harus menuju kantor polisi untuk memberikan kesaksiannya


Sebelum pergi, Ki-bum sempat berbicara dengan Dong-hoon, “Terimakasih.. terimakasih.. terimakasih...” ucapnya berulang kali
Advertisement


EmoticonEmoticon